Episode 178 - Remaja Pulau Dewa


“Selamat datang di gelanggang pertarungan Kota Tugu! Pada kesempatan yang berbahagia ini, bersama-sama kita akan menyaksikan babak penyisihan yang berlangsung antara murid-murid dalam angkatan tahun ini!” 

Seorang remaja berwajah tampan, berambut belah tengah dan berpakaian terang tampil ke hadapan. Ia baru saja mengangkat dirinya sendiri sebagai pemandu acara. Demikian jumawa pembawaannya!

Dari arah khalayak, terdengar sambutan hangat dan tepuk tangan… Walau, tak terlalu banyak adanya. 

“Sebagaimana yang kita semua diketahui, angkatan tahun ini merupakan angkatan terbaik sepanjang sejarah Perguruan Gunung Agung!” lanjut sang pembawa acara sambil menyeka ke samping rambut belah tengah. “Mengapa demikian!? Tentunya karena keberadaan seorang murid berbakat bernama… Ajiiii… Paa… mung… kaaass…!” 

Sang pemandu acara lalu mengangkat satu lengan tinggi ke udara, ibarat hendak menggenggam langit. 

“Huuuu….” Tanggapan penoton menunjukkan reaksi kekecewaan terhadap si pemandu acara yang berlebihan itu. Lebay!

“Aji Pamungkas bersama rekan-rekannya…,” lanjut si pemandu acara menanggapi ketidakpuasan hadirin. “Ca-Em, Kukame, Pantang dan Bin-Gara berhasil meraih tempat kedua dalam Kejuaraan Antar Perguruan tahun ini. Perguruan Maha Patih adalah saksinya!” 

Sebagian besar penonton terbengong-bengong mendengar penjabaran si pemandu acara. Mereka mengira-ngira siapakah nama-nama yang disebutkan, karena cukup asing di telinga mereka. Walau, beberapa saat kemudian, teriakan memenuhi gelanggang pertarungan. Siapa di antara mereka yang tak bangga atas prestasi gemilang yang diukir oleh Putra dan Putri Perguruan saat kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli. 

“Oh…? Rupanya pertandingan antara delapan ahli di atas panggung pertama telah rampung. Pemenangnya sedang diperiksa oleh tabib perguruan dan melahap ramuan penyembuhan untuk mengembalikan kemampuan seperti sedia kala. Selanjutnya, ia akan bertarung menghadapi seorang Putri Perguruan!” 

Tak lama berselang, seorang remaja lelaki melompat ke atas panggung. Dengan menenteng sebuah pacul, ia terlihat sangatlah gagah! Remaja ini pernah dikalahkan oleh Bintang Tenggara saat pertarungan untuk menentukan wakil Perguruan Gunung Agung di Kejuaraan Antar Ahli. Ia juga merupakan murid cadangan bilamana Bintang Tenggara yang saat itu terdampar di Pulau Dua Pongah tak dapat hadir di Kota Ahli. Ia adalah… 

“Gundha!” Si pemandu acara berteriak lantang. “Gundha berhasil meraih tempat untuk menantang seorang Putri Perguruan nan cantik jelita. Tubuhnya ramping, gerakannya lincah. Walau pembawaannya terkadang mudah naik darah, namun pesonanya selalu menggugah.”

Seluruh hadirin berteriak memberi dukungan. 

“Dan… beri ia sedikit lagi waktu, agar supaya payudaranya tumbuh mekar bak kembang teratai!” 

Canting Emas menoleh, dan menatap tajam ke arah si pemandu acara. Raut wajahnya berang. Kau tunggu selepas ini, aku akan menghajarmu sampai babak belur… mungkin demikian gerutu gadis tersebut di dalam hati. 

“Kita sambut… Sang Ksatria Padma dari dari Perguruan Gunung Agung… Canting Emas!” 

Canting Emas telah melompat naik ke atas panggung. Betapa ia geram mendengar si pemandu acara keparat itu. Akan tetapi, dirinya masih dapat menahan diri. Cukup tenang pembawaan Canting Emas, di kala ia menunggu sambil mengenakan seutas kalung yang melingkar di leher. 

Gundha, yang cukup mengenal Canting Emas, menyadari perubahan emosi pada gadis tersebut. Sebulir keringat mengalir di pelipisnya. Gegara si pemandu acara yang besar mulut, dirinya yang akan kena getah. Meski demikian, Gundha telah siap. Sudah sejak lama dirinya hendak menantang Canting Emas dalam pertarungan serius satu lawan satu!

Status Gundha dan Canting Emas ibarat bumi dan langit. Gundha hanyalah anak seorang petani di Pulau Dewa, sedangkan Canting Emas berasal dari keluarga ksatria. Kendati Gundha merupakan pribadi nan bersahaja, jauh di dalam lubuk hatinya masih memendam perasaan sebagai seseorang yang hina di hadapan gadis belia itu. Untuk meredakan kegundahan di hati, Gundha merasa harus berhadapan menghadapi Canting Emas. Hanya dengan cara ini ia dapat tumbuh sebagai seorang ahli yang mapan. Urusan menang atau kalah, adalah urusan lain. 

Sebaliknya, Canting Emas tiada pernah mempermasalahkan perihal status. Semua sama saja di matanya. Akan tetapi, karena memang pembawaan gadis ini yang ketus, banyak murid di Perguruan Gunung Agung yang menganggap ia sebagai sombong karena berdarah ksatria. Serba salah jadinya. 

“Pertarungan dimulai!” ujar si pemandu acara. 

“Kandik Agni; Cakra Pranayama; Segel Kala Rau!” 

Tak tanggung-tanggung, Canting Emas segera mengerahkan ketiga kemampuan Zirah Rakshasa. Dari mulut zirah keluar sepasang kapak berukuran sedang, hidung zirah menyerap tenaga alam dalam jumlah terbatas, dan mata besar mengeluarkan tirai perisai pertahanan. 

“Tanadewa!” tanggap Gundha, sambil mengayunkan cangkul dimana pilar-pilar pendek bebatuan menyeruak mengincar lawan. 

Canting Emas melompat-lompat lincah ke kiri dan kanan. Sebagaimana diketahui, pilar-pilar bebatuan hanya memiliki lintasan yang lurus sehingga sangat mudah terbaca. Akan tetapi, sepertinya Canting Emas yang memang merupakan petarung jarak dekat, kesulitan menyarangkan serangan. Kemampuan Gundha melancarkan kesaktian unsur tanah sudah jauh lebih cepat dari beberapa waktu lalu.

Canting Emas sesungguhnya sudah mengetahui kecepatan Gundha dalam merapal jurus kesaktiannya. Ia telah mengamati tiga pertarungan Gundha di dalam babak penyisihan. Meskipun demikian, di kala berhadapan satu lawan satu, baru sepenuhnya ia merasakan tekanan dari lawan tersebut.

“Srak!” Bongkahan batu berukuran besar melesat ke arah Canting Emas. Ini adalah kelebihan khas Gundha. Biasanya ahli dengan kesaktian unsur tanah apik dalam bertahan dan menyerang jarak dekat. Jarang sekali ditemukan ahli dengan unsur tanah yang dapat melancarkan serangan jarak jauh! 

Canting Emas menghindar ke samping, akan tetapi segera ia menyadari bahwa pilar-pilar batu menyeruak menyambut kedatangannya. Gudha melancarkan rangkaian jurus kombinasi!

“Ksatria Agni, Bentuk Kedua: Dhumaketu!”

Api menyala dari arah kepala, lalu melingkari sekujur tubuh Canting Emas, sehingga ia terlihat ibarat sebuah bola api. Selain itu, warna api kuning yang menyala berwarna sedikit lebih pekat. Ia berada di antara api kuning dan api jingga. Diketahui, bahwa api berwarna jingga hanya dimiliki oleh ahli yang sudah berada pada Kasta Perak!

“Wow! Apakah api yang menyala dari Canting Emas akan berubah warna menjadi jingga sebelum waktunya!?” tanggap si pemandu acara dengan nada meninggi.

Canting Emas bergerak memutar dan masih berupaya mendekati Gundha. Lagi-lagi, langkah majunya di sambut dengan bongkahan batu besar yang melesat deras.

“Brak!” Si pemandu acara melompat ke samping. Hampir saja dirinya terkena hantaman bongkahan batu besar nan melesat terbang. Siapa pun yang menyaksikan pertarungan, akan mengetahui bahwa Canting Emas dengan sengaja membelakangi si pemandu acara, kemudian memancing kedatangan bongkahan batu! 

“Bukan aku lawanmu!” hardik si pemandu acara berang. Tenda dan panggung kehormatan dimana ia sebagai salah satu Putra Perguruan berdiri, hancur berantakan. “Gundha! Awas, ya!” Si pemandu acara rupanya memarahi Gundha. Entah ia tak menyadari muslihat Canting Emas, ataukah ia berpura-pura tak mengetahui? Sejumlah hadirin menggeleng-gelengkan kepala. 

Pertarungan Gundha menantang Canting Emas terus berlanjut. Akan tetapi, sampai beberapa saat berlangsug, keduanya masih berimbang. Gundha belum dapat menyarangkan serangan, dan Canting Emas belum pula dapat mendekat.

Tetiba Canting Emas melesat cepat! Gundha menanggapi dengan rangkaian serangan kombinasi. Canting Emas menghunus sepasang Kandik Agni dan membabat pilar-pilar bebatuan yang menyeruak dari dalam tanah. Ledakan-ledakan terdengar membahana ketika kapak api itu berhantaman dengan bebatuan.

Canting Emas memaksakan diri untuk mendekat, walau jarak di antara mereka masih terpaut sekira sepuluh langkah…

“Ksatria Agni, Bentuk Ketiga: Saptajihwa!” 

Tetiba Canting Emas merapal jurus yang telah diwanti-wanti agar tiada dikerahkan di saat masih berada pada Kasta Perunggu. Terakhir kali dirinya menggunakan jurus ini, maka ia kehilangan kesadaran! 

Api yang melingkari sekujur tubuh Canting Emas bak bola api, berubah wujud. Lonjong membumbung tinggi ke atas. Lalu berubah wujud mirip sebuah kuncup bunga….

“Srash!” Kuncup bunga api tersebut lalu mendadak mekar. Seluruh permukaan panggung dilingkupi api, tiada menyisakan celah barang sedikit pun. Api tersebut perlahan mengambil wujud bunga teratai atau padma dengan delapan kelopak!

Panas terasa merambat cepat di seluruh wilayah gelanggang pertarungan. Di tribun hadirin, sejumlah penonton terlihat merapal berbagai jenis jurus untuk meredam, menahan, atau membelokkan panas api. Sebagian yang tiada kuasa, memutuskan untuk keluar meninggalkan wilayah gelanggang. Sejumlah Guru Muda yang menjadi panitia pertarungan, segera merapal berbagai jenis segel perlindungan. 

Karena panggung miliknya rusak, pemandu acara telah berpindah tempat. Ia kini berada tepat di sisi Bintang Tenggara. Merasa akan menjadi pusat perhatian yang tak mengenakkan, Bintang Tenggara berupaya mengusir pergi si pembawa acara itu. 

Di saat yang sama, Bintang Tenggara kembali menyadari akan kekurangan dirinya. Ia tiada memiliki kemampuan pertahanan yang memadai, selain melarikan diri tentu saja. Sejumlah Segel Penempatan yang dipasang di hadapan, tiada dapat menahan panas yang merambat melalui udara. Walhasil, dengan terpaksa Bintang Tenggara mendekatkan diri kepada si pemandu acara, yang membuat pusaran angin mengelilingi tubuhnya.

Perlu beberapa waktu sebelum api di atas panggung mulai mereda. Bentuk panggung sudah hampir rata dengan permukaan tanah. Perlahan, api menyibak keberadaan seorang gadis di tengah-tenah. Zirah Rakshasa di dada terlihat naik turun, wajah gadis itu pun pucat memutih, serta tenaga dalam menipis. Meski demikian, Canting Emas itu tiada kehilangan kesadaran. 

“Hm… Untaian Jiwa Suci…,” gumam Ginseng Perkasa. “Lebih cocok bila dikenakan di… ketiak.” 

Bintang Tenggara segera sadar akan seutas kalung yang melingkar di leher Canting Emas. Ia pun mengingat bahwa saat pulang dari Kejuaran Antar Ahli, mereka diperkenankan mengambil satu benda pusaka dari Lantai Perak, sebuah brankas khusus miliki Perguruan Gunung Agung. Kalung itulah yang diambil oleh Canting Emas. 

“Mungkinkah kalung tersebut membantu menjaga kesadaran pemakainya…?” aju Bintang Tenggara. 

“Ya… bisa dikatakan demikian. Walau sesungguhnya masih ada beberapa kegunaan lain yang lebih penting lagi dari pusaka itu.” 

“Aku mengetahui seseorang yang mengenakan pusaka sandingannya… Untaian Tenaga Suci…,” sela Komodo Nagaradja. Tiada yang mengetahui bahwa ia mengacu kepada Mayang Tenggara. 

“Srak!” Tetiba lantai panggung pertarungan menyeruak dan menjawab pertanyaan para hadirin serta ahli baca. Gundha rupanya menyimpan satu jurus rahasia yang memang sengaja dipersiapkan dalam menghadapi Canting Emas. Selama api membakar di seantero panggung, ia menggali dan bersembunyi di bawah panggung. 

Akan tetapi, satu hal yang berada di luar perkiraan Gundha, adalah betapa panasnya api dari salah satu Sapta Nirwana Perguruan Gunung Agung itu. Sebagian tubuh Gundha melepuh dan tenaga dalamnya banyak terkuras di kala berupaya mengeraskan tanah agar terlindung dari panas api yang turut merambat ke dalam tanah. 

Gundha kini sepenuhnya menyadari bahwa dirinya masih setingkat di bawah Canting Emas. Walau hanya setingkat, tapi sungguh pahit rasanya. 

“Brak!” Canting Emas melompat dan menerjang lawan yang tiada kuasa menghindar. Gundha pun terjatuh dari atas panggung. 



Cuap-cuap:

Flu yang mendera, demikian menyiksa. Walhasil, episode kali ini sedikit lebih pendek. Niatnya ingin menyiapkan episode bayangan, namun apa daya… Ramuan yang dilahap membuat mengantuk sepanjang hari.