Episode 21 - Survival Instinct


Noxa mendorong kepalanya dengan keras ke tanah. Faye dan Kazu bertindak cepat memegangi kedua tangannya. Dengan tiga orang, gadis berambut putih itu tak punya kesempatan untuk memberontak. Seandainya ada tali, mereka mungkin tidak perlu melakukan hal ini dan semuanya akan jauh lebih mudah.

“Aku kira kau akan mencoba memberontak, tapi apa ini? Menyerah begitu saja?” Noxa yang duduk di punggungnya memberikan beban. 

Gadis berambut putih itu diam, tidak membuka mulut juga tidak memberikan perlawanan. Hal ini membuat Noxa sedikit mengganggu.

Rem mengambil pisau yang digunakan gadis itu sebelumnya untuk menyandera Noxa. Selain itu, tidak ada senjata lain yang ia sembunyikan di dalam jaketnya. Melawan satu kelompok hanya menggunakan sebuah pisau, Rem tidak bisa menahan diri untuk memuji tindakan gadis itu.

“R-Reina…” Suara dan ekspresi Navi yang lesu membuat perhatian semua orang kembali pada Neil. “B-bagaimana dengan Neil? Kita tidak bisa diam di sini terus.”

Bukan hanya Navi saja yang khawatir akan keadaan Neil, tapi semua orang yang berkumpul di sana. Masalah yang muncul bukan hanya kondisi Neil, tapi Baron dan gadis itu juga. Reina melepas jaket tanpa pikir panjang. Kaos putihnya yang sedikit basah karena keringat menunjukkan sedikit bagian wanitanya, tapi itu tidak penting. Ia menggunakan jaketnya untuk menutupi punggung Neil yang terluka

“Aku dan Navi akan membawa Neil ke kota. Ka—“

“Tunggu sebentar,” Rem memotong. “Melihat bagaimana tindakan Baron barusan, pergi ke kota bukan pilihan yang bagus.” Prioritas utama Rem saat ini bukan Baron atau gadis berambut putih itu, tapi Neil. Ini juga menjadi alasan kenapa dia mendapat misi yang berbeda dengan kelompok lainnya. “Noxa, karena kau yang bertanggung jawab, bagaimana? Kecuali kau ingin ikut pergi ke kota juga, aku tidak keberatan.”

Perlu waktu beberapa detik bagi Noxa sebelum membuat keputusan. Ia bisa menyerahkan gadis yang sedang mereka tahan kepada sisa anggota yang lain, tapi keselamatan Neil dan penjelasan Baron, keduanya menjadi prioritas utama.

“Faye, bagaimana kondisi Baron saat ini?” tanya Noxa tegas.

“Kondisinya tidak sadarkan diri. Meski sudah sadar, semuanya aman.”

 “Kazu, bagaimana denganmu?” Merasa semua pendapat anggota timnya sangatlah penting, Noxa memutuskan untuk bertanya pada Kazu juga.

“Maaf, aku sudah tahu dari awal.” 

Noxa menggigit bibir. Jawaban Kazu sedikit membuat gadis bertubuh kecil itu kesal. Namun, perasaan pribadinya tak bisa menyelesaikan semua masalah yang terjadi. Setelah keadaan kembali normal dan sudah baik-baik saja, banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan pada semua anggota tim, termasuk Faye.

“Rem, apa rencanamu?” tanya Noxa yang penuh keraguan. Meski jalan bisa dilihat dengan jelas, bukan berarti ia bisa mengambil pilihan itu.

“Lepaskan dia!” perintah Rem sambil memandang gadis berambut putih.

Noxa tanpa banyak bertanya bangkit dan melepaskan kedua tangan dari kepala gadis itu. Tindakannya yang tiba-tiba menjadi sangat penurut membuat Faye dan Kazu terkejut. Mereka berdua memutuskan untuk memperkuat pegangan mereka dan mengunci tubuhnya menggunakan seluruh tenaga.

“Kalian berdua, lepaskan dia!” Noxa yang merasa tidak punya pilihan, menyuruh Faye dan Kazu untuk melepaskan gadis yang sedang mereka tahan di tanah.

“…” Tidak ada jawaban. Namun, karena itu adalah perintah pemimpin mereka, maka dengan rasa terpaksa Faye dan Kazu melepas kedua tangan mereka berdua. Dengan penuh rasa waspada, Faye dan Kazu mendekati Noxa sambil tak henti menempelkan pandangan pada gadis yang hampir membunuh pemimpin mereka berdua.

Gadis itu perlahan bangkit. Ia membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor akibat debu. Kedua mata tajam memantulkan Rem yang saat ini ada di hadapannya. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa hanya demi satu orang saja, mereka semua sampai rela membebaskan gadis yang beberapa saat lalu bertindak kasar pada mereka semua.

“Kalian semua pegi urus Baron.” Rem berjalan ke depan, melewati gadis itu. “Aku ingin bicara denganmu!” Karena alasan tertentu, Rem tidak ingin pembicaraan mereka didengarkan oleh orang lain. Gadis berambut putih itu pun mengikutiku.

Masih berada di atas jembatan, mereka berdua saling berhadapan.

“Kalian terlalu baik. Suatu saat, kebaikan itu akan membunuh kalian semua!” Daripada ancaman, kalimatnya terdengar seperti sebuah peringatan. “Hanya karena kalian melepaskanku, bukan berarti aku harus membalas perbuatan kalian.”

“Kenapa tidak satu pun dari orangmu yang menembak kami?” tanya Rem. Ada setidaknya tiga orang yang mengawasi mereka semua dari kejauhan sejak awal hal ini terjadi. Namun, setelah gagal mengusir mereka semua, tidak ada seorang pun yang mencoba menembak untuk menyelamatkan gadis itu. Rem punya beberapa dugaan, tapi ia ingin mendengar jawabannya dengan pasti.

“…” Hening. “Dengan kondisi seperti ini, orang-orangku terlalu takut untuk menggunakan senjata mereka karena pelurunya bisa saja mengenaikku.” Gadis itu tersenyum menyeramkan. Jika dilihat dan dibandingkan dengan yang sebelumnya, terlihat sangat berbeda. “Untuk bisa melihat seseorang yang bersembunyi dari satu sisi jembatan ke sisi lainnya, bukan matamu itu sungguh benar-benar luar biasa? Walaupun kau berbeda denganku atau dengan gadis itu, tidak ada yang aneh jika ada orang yang menyebutmu monster juga.”

Mata yang awalnya berwarna coklat sekarang berubah menjadi berwarna putih. Gadis itu perlahan maju dengan niat membunuh. “Aku penasaran. Sampai mana batas kemampuan matamu itu!” Masih dengan senyum yang sama, gadis itu terlihat seperti orang yang berbeda.

Rem menjatuhkan pisau yang sedang dipegang dan mengangkat kedua tangan sambil bersiap. Yang satu ini bukan bagian dari rencananya. Ia bertanya-tanya, apa orang-orang seperti Neil sangat menyukai konflik seperti ini.

Perlahan berjalan sambil melebarkan langkah, gadis itu mengulurkan tangan ke arah leher Rem. Namun, Rem memukul tangan gadis itu yang rasanya sangat-sangat lemah. Semua orang yang terlatih bisa mengatakan kalau itu bukan serangan asli. 

Serangan berikutnya datang dari samping kanan. Rem mengambil beberapa langkah mundur untuk menghindari ayunan kakinya yang cepat dan panjang. Gerakannya terlalu ringan seolah-olah gadis itu terasa melayang dengan setiap gerakannya yang sangat halus. Dibandingkan dengan orang lain, gadis itu terlalu cepat untuk ditangani. Ini menjelaskan kenapa Noxa tidak berdaya saat mendapati serangan kejutan yang layaknya tidak mengeluarkan suara.

Daripada fokus menggunakan kedua tangan, gadis itu lebih sering menggunakan kedua kakinya secara bergantian, menyerang dari samping sambil mencari celah dan titik buta di mana Rem tidak bisa melihat.

Kaki kiri berganti kaki kanan. Semuanya dihindari dengan mudah oleh Rem. Dibandingkan dengan Neil yang menggunakan kekuatan fisik, gadis itu hanya bisa menggunakan serangan berkecepatan tinggi tanpa memberikan mengeluarkan banyak tenaga. 

Gadis itu berhenti, menarik napas beberapa kali. “Kenapa?” Kenapa Rem hanya menhindar atau menahan serangannya, tapi tidak pernah membalas.

“Pertarungan seperti ini tidak ada artinya,” balas Rem dengan suara rendah.

“Tidak ada rasa ketertarikan. Tidak ada rasa amarah. Tidak ada rasa takut. Hampir sama seperti robot. Kau seperti wadah yang kosong. Apa itu juga karena matamu?” Gadis itu berhadap mendapat jawaban, tapi lanjut berbicara. “Mengecewakan sekali.”

Survival Instinct. Kemampuan untuk meningkatkan instingnya dalam mengambil keputusan saat hidupnya menjadi taruhan. Karena hal ini, kecepatan adalah kekuatan utama yang dimilikinya. Di saat yang sama, gadis itu juga bisa melihat isi hati manusia dalam bentuk warna yang muncul di sekitar mereka. 

Gadis itu sekali lagi maju, berlari dengan sangat cepat. Jauh lebih cepat dari yang bisa dilakukan manusia. Pada kenyataannya, Neil sendiri bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia lainnya. Menyerah dengan kaki, gadis itu berniat menggunakan tinjunya dan menyerang secara langsung. 

Akan tetapi, itu semua masih belum cukup. Bagi Rem yang bisa melihat dengan kecepatan maksimal lima ribu frame per detik, gerakan seperti itu bukan apa-apa. Terlalu lambat sampai-sampai ia ingin menguap. 

Rem sedikit menggeser langkah kaki dan memiringkan tubuh. Dengan kakinya, ia menyelengkat membuat gadis itu terjatuh dan terpingkal ke tanah memakan debu. 

“Sudah puas?” Rem menghela. “Bagaimana kalau kau mendengarkan sedikit mendengarkan permintaanku?”

Gadis itu bangkit. Saat berhadapan dengan Rem, kedua pupil matanya berubah kembali menjadi coklat. Sama seperti yang dialami Neil. Tidak mudah untuk mengetahui hal itu hanya dengan melihat mereka secara langsung di mata. Hanya monster saja yang bisa mengatakan kalau orang lain juga adalah monster.

Gadis berambut putih itu membersihkan kembali jaketnya yang kotor. “Untuk yang pertama kalinya, ada orang yang bisa mengimbangi kecepatanku.” Dia mengucapkannya dengan sedikit perasaan kecewa. Setelah bertahun-tahun membanggakan kemampuannya itu, ia bisa dikalahkan dengan semudah itu.

Rem yang tidak tertarik mengabaikan ucapan gadis itu dan kembali ke pertanyaan sebelumnya. Mereka memiliki tiga orang sniper yang sejak awal mengawasi gerakan mereka semua di jembatan. Jika gadis berambut putih itu benar-benar menginginkan Noxa dan timnya untuk pergi dari tempat ini, mereka seharusnya memberikan peringatan awal sebelum membuat Sky Chaser mengamuk. 

“Kalian sedang menunggu, bukan?” tanya Rem yang tidak ingin berbasa-basi. “Kalian semua ingin melihat apa kita bisa membunuh Sky Chaser itu atau tidak. Karena itu kalian hanya memperhatikan dari jauh.”

“Ya, begitulah. Karena kau baru saja mengalahkanku, maka aku akan menjawabnya dengan jujur.” 

Mendengar jawaban jujurnya itu, Rem sudah mengerti dengan semua yang terjadi. 

“Kalian semua unit khusus yang selamat saat Rank S Belphegor menyerang dan menghancurkan kota.” Rem hanya bisa mendapatkan kesimpulan seperti itu. “Kenapa kalian ada di sini dan ingin mengusir kami?”

Rem hanya bisa merasakan kejanggalan pada semua yang sudah terjadi. 

“Karena kami semua sejak awal memang tinggal di sini.” Gadis itu dengan berat hati mengucapkannya. “Gedung utama OFD ada di sisi seberang dari jembatan ini. Tapi, semuanya sudah hancur dan Belphegor menghilang entah ke mana. Hanya sedikit orang tersisa yang tinggal di sisi seberang. Sky Chaser yang kalian serang itu masuk ke dalam kategori pasif. Makhluk itu hanya akan mengamuk kalau ada yang sesuatu yang mengganggu dan kalian semua baru saja melakukan hal yang paling tidak ingin kami lakukan.”

Belphegor dan Sky Chaser sama-sama Rank S. Tidak aneh jika keduanya ditakuti. Merasakan ancaman yang sama, akhirnya mereka yang tinggal di kota seberang jembatan memutuskan untuk diam dan hanya mengawasi Sky Chaser. Selama makhluk itu tidak mengamuk, maka semuanya akan baik-baik saja. Namun, bukan berarti hal itu bisa bertahan selamanya. Karena itu mereka semua ingin melihat apa Noxa dan yang lainnya bisa membunuh Sky Chaser yang sudah memiliki sayap atau tidak.

Ini juga menjelaskan kenapa pihak luar membutuhkan bantuan OFD Indonesia untuk menangani kasus Rank S yang sedang terjadi saat ini. Jawabannya adalah, karena OFD mereka sudah hancur bertahun-tahun yang lalu dan sedang dibangun ulang di kota yang saat ini masih bertahan.

Ini pertama kalinya Rem mendengarkan hal ini. Jadi, Noxa tahu tentang hal ini pun sangatlah kecil. Rem tidak tahu apa yang dibahas Noxa saat sedang rapat, tapi mungkin saja Neil menjadi topik utamanya dalam hal ini. Selain itu, ada Reina yang merupakan anggota tim Neil yang dengan sengaja diundang oleh Noxa sendiri.

“Aku minta tolong padamu untuk menyelamatkan Neil dalam masalah ini.” 

“…” Gadis berambut putih itu terdiam beberapa saat, kemudian ia membuka mulu. “Kalian datang dan mengganggu ketenangan kami. Beri aku alasan, kenapa kami harus menolong kalian?”

 “Sebagai balasannya, aku akan membantu kalian untuk membunuh Sky Chaser.”

“Melihat kalian gagal seperti ini, kenapa aku harus mengaharapkan kalau kalian akan berhasil untuk yang kedua kalinya? Ini sama saja membuang-buang waktu. Akan lebih baik jika makhluk itu tidak diganggu dan dibiarkan tinggal di jembatan begitu saja.”

Itu bukanlah jawaban yang ingin rem dengar.

“Seperti kau salah paham akan sesuatu.” Rem mendekap. Ia membuat wajah yang jauh lebih serius.

“Hmm, a-apa?” Melihat Rem yang sedikit berbeda, gadis itu hanya semakin heran.

“Seandainya saja kami tidak membunuh Outsider Rank S itu dan pulang dengan mengabaikannya, kemungkinan besar unit khusus dari Negara yang berbeda akan dipanggil kembali untuk membasminya… lalu, melihat kegagalan mereka, kalian akan mencoba untuk mengusirnya kembali. Kalain tidak memiliki kota untuk dilindungi, berbeda dengan orang-orang yang masih tinggal di kota. Setelah melihat Belphegor seperti apa, bukan hanya kalian saja yang takut dengan ancaman Sky Chaser. Tapi, mereka juga yang masih berlindung di dalam kota. Karena itu mereka akan terus mengirimkan unit khusus OFD tanpa henti sampai benar-benar bisa membasmi Sky Chaser yang ada saat ini.”

“Kau berbicara seperti itu seolah-olah semua unit yang dikirim ke sini akan mengalami kegagalan sama seperti kalian juga. Kenapa bisa begitu yakin kalau kalian akan berhasil saat ini?”

Sebenarnya Rem tidak ingin mengucapkannya, tapi ia tidak yakin bisa meyakinkannya dengan hal lain. 

“Karena kami punya Neil.”