Episode 177 - Abdi nan Mulia



Pertemuan dengan Hang Jebat memaksa Mayang Tenggara kembali ke Pulau Barisan Barat. Dirinya harus segera menuju ke Kepulauan Serumpun Lada, yang merupakan kampung halaman seorang guru yang mengajarkan kepadanya tentang jalan keahlian. Bahkan, lebih jauh, guru tersebutlah mengajarkan kepadanya akan arti kesetiaan kepada negeri. (1)

Tokoh guru ini dikatakan telah lama wafat, akan tetapi Mayang Tenggara paham betul bahwa tiada mungkin sosok seorang yang demikian digdaya menghembuskan nafas terakhir begitu saja. Mengasingkan diri mungkin, mati mustahil. Selama ratusan tahun belakangan ini, tiada ia hendak mengganggu guru tersebut, akan tetapi kelahiran kembali Hang Jebat benar-benar memaksa dirinya mencari jejak sang guru. 

Sang Laksamana Raja di Laut, Hang Tuah, bukanlah bagian dari Sembilan Jenderal Bhayangkara. Tokoh tersebut bukan pula penguasa negeri yang duduk di puncak tahta, bergelimang harta, atau dikelilingi cinta. Ia hanyalah pribadi bersahaja yang setia kepada raja, namun terlampau digdaya bagi ukuran manusia. Bahkan Sang Maha Patih, dari waktu ke waktu, merasa terancam akan keberadaan sosok Hang Tuah. Diketahui, bahwa keris digdaya Tameng Sari, dimenangkan Hang Tuah kala berkunjung ke Sastra Wulan, dimana ia membungkam siluman sempurna yang mengamuk itu. 

Sebuah tindakan perkasa di depan hidung sang penguasa… sebuah tamparan keras ke wajah Sang Maha Patih! 

Di kala Perang Jagat berlangsung, Hang Tuah memimpin perjuangan di seluruh Pulau Barisan Barat seorang diri. Bahkan, ia mengirimkan Hang Jebat, adik bungsunya yang merupakan salah satu dari tokoh-tokoh perkasa di Pulau Barisan Barat, sebagai perwakilan ke dalam jajaran Sembilan Jenderal Bhayangkara. Tindakan ini dilakukan untuk memberikan dukungan kekuatan kepada Negeri Dua Samudera. Selain tambahan kekuatan, keputusan Hang Tuah itu juga memberi kesempatan kepada Sang Maha Patih bersama Sembilan Jenderal Bhayangkara, untuk memusatkan perhatian di empat Pulau Utama lainnya. 

Bayangkan saja, Hang Tuah menyerahkan Hang Jebat. Suatu langkah yang tiada mementingkan diri sendiri, sampai membuat ia harus berdiri di barisan depan berhadapan dengan Raja Angkara beserta pasukan siluman!

Di lain sisi, hubungan Hang Tuah dan Gemintang Tenggara sangatlah baik. Suatu hari di masa lalu, Pasukan Lamafa Langit bergerak ke Pulau Barisan Barat. Sebagai pasukan yang mandiri, Gemintang Tenggara berjuang tanpa perlu mendapat perintah, bahkan dapat menolak titah, Sang Maha Patih. Di Pulau Barisan Barat, Gemintang Tenggara lalu menitipkan putri semata wayangnya. Itikad ini bersifat politis, yaitu menukar Hang Jebat dengan Mayang Tenggara. 

Peristiwa pertukaran inilah yang menjadi alasan utama mengapa Mayang Tenggara tak akan pernah mencelakai Hang Jebat. Mayang Tenggara diasuh dan diangkat murid oleh Laksamana Hang Tuah, sedangkan Hang Jebat sepatutnya berada di bawah perlindungan Gemintang Tenggara. Dengan kata lain, Mayang Tenggara dan Hang Jebat memiliki kewajiban untuk saling menjaga. Tugas ini semakin besar di pundak Mayang Tenggara, karena ayahnya menghilang dan gurunya dikatakan wafat, kemudian Hang Jebat membelot. 

Mayang Tenggara mendarat ringan, lalu menghentikan langkah sejenak. Sungguh takdir suka bermain-main, dan permainannya tiada dapat ditebak… apalagi dikalahkan. 

“Siapakah gerangan engkau…!?” Tetiba terdengar suara menghardik. 

Mayang Tenggara tersadar dari lamunan. Ia masih berada sangat jauh dari wilayah tujuan, dan saat ini berada di wilayah selatan Pulau Barisan Barat. Di hadapannya, berdiri sembilan gapura besar yang menjulang dan membentang perkasa. Setiap satu terpisah jarak hampir satu kilometer. 

“Rimba Candi…?” gumam Mayang Tenggara pelan. (2)

“Tunjukkan segera Sijil Syailendra milikmu!?” Rupanya pertanyaan diajukan oleh seorang prajurit yang berpakaian serba resmi. Ia berada pada Kasta Perak. (3)

Mayang Tenggara acuh tak acuh. Ia mengetahui bahwa kesembilan candi yang berdiri megah berjajar, berfungsi sebagai gapura. Untuk melangkah masuk, diperlukan Sijil Syailendra atau surat izin, yang hanya diterbitkan oleh keluarga-keluarga bangsawan yang dikenal dengan gelar Wangsa Syailendra. Bagi yang memiliki surat izin, mereka diperkenankan melangkah ke dalam. Di dalam setiap candi, menanti sebuah gerbang dimensi yang akan membawa pengunjung menuju sebuah kemaharajaan besar.

“Jika tidak, segera enyah dari tempat ini!” tambah prajurit lain angkuh.

Di depan sejumlah candi, terdapat antrian yang panjang, sampai ratusan jumlah ahli yang berdiri sabar menanti giliran masuk. Sebagian besar dari mereka merupakan utusan dagang, para saudagar, yang membawa peti-peti kemas berbagai ukuran. Sebagian lagi berasal dari semerata kalangan, mulai dari pelajar, pendekar, sampai bangsawan, tua dan muda. 

Para prajurit lain, yang bertugas di depan candi, terlihat sibuk menata dan mengawasi baris antrian. Sangat tegas pembawaan mereka. Sedikit saja terjadi kesalahan, mereka tak sungkan menegur. Sementara itu, prajurit-prajurut yang berada di hadapan Mayang Tenggara saat ini, pastilah prajurit patroli yang bertugas mengawasi wilayah di luar antrian. 

Akan tetapi, sebagai catatan, ada yang sangat berbeda pada candi kesembilan. Mayang Tenggara hanya menoleh sekilas, kepada prajurit patroli juga kepada jajaran candi. Perempuan dewasa itu lalu menyunggingkan senyum, sebuah senyuman yang mana menyiratkan kesan mengejek. Ia lalu memutar tubuh, dan hendak segera melangkah pergi. 

“Huh! Perempuan sundal!” hardik salah satu prajurit karena merasa diabaikan.

“Paling ia hendak menjajakan diri di dalam wilayah kemaharajaan,” cibir prajurit lain. 

Istri dari Balaputera itu menghentikan langkah, kemudian menoleh pelan. Keduanya matanya menatap mereka satu per satu. Biasanya ia akan mengabaikan saja ahli rendahan seperti prajurit-prajurit patroli ini… Akan tetapi, tempat yang dikenal sebagai Rimba Candi ini mengubah suasana hatinya menjadi demikian muak. 

“Kalian kira aku sudi melangkahkan kaki ke dalam wilayah wangsa pengecut…?” cemooh Mayang Tenggara.

“Lancang!” Mendengar hinaan terhadap junjungan mereka, salah seorang prajurit menghunuskan tombak. Diikuti beberapa prajurit lain, mereka merangsek menyerang!

Mayang Tenggara menanggapi dengan lambaian ringan pergelangan tangan…

“Brak!” Tetiba lima prajurit patroli merasakan tubuh mereka tertarik ke bawah sehingga membuat berlutut. Meski hanya mengerahkan unsur kesaktian tanpa jurus, kekuatan tarikan kesaktian unsur daya tarik bulan terlalu deras, sehingga menyebabkan tempurung pada dua lutut kelima prajurit Kasta Perak… pecah menghantam tanah! 

Jerit dan erang kesakitan terdengar pilu. Ratusan ahli yang sedang mengantri teratur segera menoleh ke arah punca kegaduhan. Puluhan prajurit lain segera merangsek mendekat. Belasan prajurit terdepan kemudian merasakan derita yang sama, ketika dipaksa berlutut dengan tempurung kedua lutut pecah. Puluhan prajurit serta-merta menjaga jarak, tak berani mereka mendekat. 

Hampir di saat yang bersamaan, dari dalam delapan candi mengudara seorang ahli perkasa. Kesemuanya telah berada pada Kasta Emas Tingkat 5. Mereka merupakan Juru Kunci yang bertanggung jawab atas setiap candi dan gerbang dimensi di dalamnya. Aura keangkuhan terpancar kental dari diri mereka. Hanya pada candi kesembilan yang tiada terlihat seorang Juru Kunci melayang di atasnya.

“Siapakah gerangan dikau, Puan Ahli!?” Ahli Kasta Emas dari candi kelima berujar perkasa. 

Sebagai ahli Kasta Emas, tentunya mereka lebih waspada. Meskipun perempuan dewasa itu tiada menyibak aura kasta dan tingkat keahlian, hanyalah sesama ahli Kasta Emas yang dapat melumpuhkan ahli Kasta Perak semudah yang dilakukan oleh perempuan itu. Pastilah lawan kali ini memiliki cara untuk menyembunyikan peringkat keahliannya, dan sengaja melakukan tindakan tersebut karena alasan tertentu.

Mayang Tenggara, yang menjadi biang keonaran, tak mempedulikan para ahli Kasta Emas yang perkasa mengudara. Ia menatap ke sisi kanan jauh, ke arah candi kesembilan yang kusam dan kotor tiada terawat. Memang sejak awal, candi terakhir ini terlihat sepi dari antrian. Saat ini pun, tiada prajurit yang berjaga di depan, dan tiada pula ahli Kasta Emas yang menjabat sebagai Juru Kunci mengudara di atasnya.

“Siapakah gerangan dikau, wahai Puan Ahli!?” Ahli Kasta Emas lain menegaskan pertanyaan rekannya. 

“Jikalau hendak berbincang-bincang denganku, turunlah dan buktikan bahwa kalian memiliki nyali…,” ujar Mayang Tenggara santai kepada delapan ahli Kasta Emas. Sepertinya, satu-satunya candi yang menarik perhatiannya, justru candi kesembilan yang sudah lama terbengkalai di sudut jauh.

Ahli Kasta Emas merupakan pribadi-pribadi dengan harga diri tinggi. Sudah cukup jurang terjal dan tebing tinggi yang mereka lalui. Mana mungkin mereka sudi menuruti. Sebaliknya, kata-kata Mayang Tenggara justru merupakan hinaan yang tiada dapat dimaafkan.

“Lancang!” Tiga ahli Kasta Emas Tingkat 5, merangsek maju. Meskipun menyadari bahwa perempuan itu bukan ahli biasa, mereka menang jumlah! 

Daya Tarik Bulan, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan!

Jemari tangan berwarna seputih rembulan, yang berukuran raksana dengan kuku-kuku panjang, tetiba menggenggam tubuh masing-masing dari ketiga ahli Kasta Emas Tingkat 5. Serta merta tubuh mereka ditarik ke bawah…

“Duar! Duar! Duar!” Ketiga ahli menghantam tanah berturut-turut seolah sudah diatur adanya. Tanah pun serta-merta menyeruak dan debu membumbung tinggi. Tiga buah kawah nan cukup dalam segera tercipta. 

Suasana berubah mencekam! Antrian di depan setiap candi tercerai berai. Bagaimana tidak, adalah ahli Kasta Emas yang dipaksa jatuh mencium tanah. Tak ayal, mereka beranggapan bahwa sedang terjadi penyerangan terhadap Rimba Candi. Dari yang tadinya asyik menonton, kini ratusan ahli segera berlindung ke dalam candi terdekat. Kepanikan menjalar tanpa dapat terbendung!

Ketiga ahli melompat keluar dari setiap kawah di permukaan tanah. Pakaian resmi terkoyak dan berubah kotor, serta darah mengalir dari sudut bibir. Mata melotot, serta raut wajah mereka terperangah menatap perempuan dewasa yang berdiri santai tak jauh di depan. Rasa takut yang mulai menjalar, seolah sudah menggerogoti keangkuhan mereka. 

Kelima ahli Kasta Emas lain, yang masih mengudara, perlahan melayang turun. Satu per satu mereka mendarat di dekat ketiga rekan yang tampil menyedihkan. Delapan ahli Kasta Emas berdiri hadap-hadapan dengan Mayang Tenggara.

Di dalam candi kesembilan, yaitu satu-satunya candi yang tak mengirimkan perwakilan ahli Kasta Emas, seorang lelaki tua dan renta duduk bersila dalam semedi. Kemungkinan besar ia merupakan Juru Kunci dari candi yang terakhir ini. Kemungkinan ia menghabiskan waktu dalam semedi karena tak ada saudagar atau ahli yang memanfaatkan gerbang dimensi dari candi tersebut. 

Apa pun itu, aura yang lelaki tua itu pancarkan sangat berbeda. Saat ini, ahli karang belum dapat menggambarkan aura tersebut dalam kata-kata. Percaya sajalah, bahwa auranya demikian unik. Tetiba ia membuka mata, lalu menebar mata hati ke arah kerumunan ahli Kasta Emas. Di kala mendapati keberapadaan Mayang Tenggara, wajahnya lelaki tua berubah terkejut, spontan ia bangkit berdiri!

“Puan Ahli, sudi kiranya menjelaskan apakah maksud dan tujuan?” Ahli dari candi kelima, yang sejak awal membawa kesan wibawa, kembali berujar. Akan tetapi, keangkuhan masih terpancar dari sorot matanya. Bila terpaksa, maka kedelapan Juru Kunci ini tak akan sungkan mengeroyok perempuan yang membahayakan wilayah yang mana berada di bawah tanggung jawab mereka. 

“Lanjutkanlah semedimu, wahai abdi nan mulia,” tetiba Mayang Tenggara berujar santun menggunakan jalinan mata hati… kepada Juru Kunci yang baru saja hendak melesat keluar dari dalam candi kesembilan. 

Lelaki tua dengan aura unik di dalam candi kesembilan mengangguk dan membungkukkan tubuh. Ia kemudian kembali duduk bersila, melanjutkan semedi. 

Mayang Tenggara pun memutar langkah, lalu melengos pergi tanpa sepatah kata pun memberi penjelasan kepada delapan Juru Kunci yang bersiaga di hadapannya. Mereka, mungkin menyadari telah membangunkan macan, menahan diri dengan hati dongkol. 


===


Bintang Tenggara duduk tak nyaman di atas panggung, walau dinaungi tenda khusus bagi Putra dan Putri Perguruan. Mentari memanglah terik di hari ini. Ia menoleh ke kanan, dan memandangi Canting Emas berdiri perkasa. Sebuah antrian yang terdiri dari sekira delapan murid seangkatan berbaris di hadapannya. 

Di sebelah Canting Emas, Panglima Segantang pun berdiri jumawa. Di hadapannya, juga delapan murid dari angkatan yang sama berbaris rapi. 

Aji Pamungkas celingak-celinguk. Tiada satu pun murid yang berdiri di hadapannya. 

Persis di sebelah Bintang Tenggara, Kuau Kakimerah terlihat kikuk. Sekira 32 murid mengantri di hadapan. 

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Tentu ia sudah sedari tadi selesai berhitung, bahwa antrian murid-murid seangkatan di hadapannya berjumlah lebih dari seratus! 111 persisnya!

Antrian di depan Murid Utama yang menjabat sebagai Putra dan Putri Perguruan ini merupakan petanda jumlah murid yang datang hendak menantang jelang upacara akhir tahun ajaran. Dengan kata lain, masing-masing Canting Emas dan Panglima Segantang memiliki delapan penantang. Untungnya, delapan penantang tersebut nantinya akan terlebih dahulu bertarung di antara mereka, dengan menerapkan sistem gugur. Seorang murid yang memenangi rangkaian pertarungan, nantinya berkesempatan untuk berhadapan langsung dengan Putra atau Putri Perguruan yang telah mereka pilih.

Tiada yang hendak menantang Aji Pamungkas, terpampang jelas dari antrian kosong di hadapannya. Mungkin dikarenakan risiko yang terlalu besar.... Aji Pamungkas dapat bertarung jarak jauh memanfaatkan jurus-jurus kesaktian unsur angin Panah Asmara, serta jarak dekat menggunakan maha jurus persilatan Beulut Darah. Berikan kepada Aji Pamungkas sebilah toya atau tombak, lalu latih dia bertarung jarak menengah, maka tokoh yang satu ini bisa menjadi ahli paling sempurna! Ditambah dengan kemampuan indera keenam tiada banding, siapa yang hendak dipermalukan oleh Aji Pamungkas!? 

Terdapat 32 ahli yang berebut tempat, dalam mencari seorang yang akan menghadapi Kuau Kakimerah. Apakah mereka menganggap gadis mungil itu lemah…?

Bintang Tenggara kembali berhitung. Jumlah antrian penantang dirinya semakin bertambah. Saat ini sudah mencapai angka 122! Mengapakah demikian banyak murid seangkatan yang hendak menjajal diriku…? keluh Bintang Tenggara dalam hati. Apakah karena mereka merasa diriku paling lemah di antara berlima? Apakah dengan mengalahkan aku nantinya pasti diangkat sebagai anak didik dari Tri Baghawan Agung? 

“Wahai muridku, jangan menunggu lama. Habisi saja mereka satu per satu!?” ucap Super Guru Komodo Nagaradja penuh semangat. 

“Baru kali ini diriku melihat guru sesadis ini…,” tanggap yang Ginseng Perkasa. 

Perang umpat-mengumpat kembali berkecamuk! 

Mengabaikan kedua tokoh, Bintang Tenggara pasrah. Ya, sudahlah. Yang terjadi biarlah terjadi. Pada akhirnya nanti, dirinya hanya perlu berhadapan dengan seorang saja. Bintang Tenggara berupaya menghibur hati. 

Tetiba, sudut mata Bintang Tenggara menangkap seorang anak remaja turun dari panggung Putra dan Putri Perguruan. Aji Pamungkas melesat dan ikut mengantri di hadapan Canting Emas. 

“Kau tiada diperkenankan menantang!” sergah Canting Emas sebal. 

Aji Pamungkas bergerak sigap… untuk pindah mengantri di hadapan Kuau Kakimerah. 

“Hei!” hardik Canting Emas. 

Seorang Guru Muda yang berperan sebagai panitia kemudian tersadar. Segera ia menuju ke arah Aji Pamungkas. Dari kejauhan, terlihat Aji Pamungkas berdebat dengan Guru Muda tersebut. Kemudian, semakin banyak Guru Muda yang mendatangi. Tak lama, terlihat mereka memboyong tubuh Aji Pamungkas yang telah terikat temali. .

Antrian di hadapan para Putra dan Putri Perguruan akhirnya rampung sudah. Kini, sudah dipastikan bahwa murid-murid di hadapan Bintang Tenggara berjumlah 128!



Catatan:

(1) Kepulauan Serumpun Lada juga merupakan kampung halaman Panglima Segantang. Episode 15. 

(2) Di dunia paralel lain, ‘Rimba Candi’ juga dikenal sebagai ‘Gapura Sriwijaya’.

(3) sijil/si·jil/ n 1 surat gulungan; daftar; register; 2 surat tanda lulus pemeriksaan, surat tanda tamat belajar, dan sebagainya; sertifikat; ijazah;