Episode 18 - Duel di Malam Sunyi


Shinta tak bergerak dari tempatnya melihat Rahman menuju ke tengah arena. Tapi dapat kulihat Shinta sedikit mengerenyitkan keningnya, tentu dia tak mengira yang maju menantangnya adalah seorang tak dikenal dalam kompetisi ini dengan kemampuan rata-rata. Sesampainya Rahman di tengah arena, dia segera memberi penghormatan khas perguruan pada Shinta. Shinta membalas penghormatan itu sambil tersenyum kecil.

“Rahman, dari Perguruan Gagak Putih,” ujar Rahman memperkenalkan diri.

“Shinta dari Perguruan Lembu Ireng.”

Shinta tampaknya sadar daya tarik yang ada pada dirinya. Sikapnya saat memperkenalkan diri dengan senyum tipis semanis madu pasti telah membuat hati Rahman terombang-ambing. Untungnya Rahman masih bisa mengendalikan diri, begitu selesai saling memperkenalkan diri, dia langsung mengambil kuda-kuda. 

Namun di luar dugaanku, Shinta sama sekali tak mengambil kuda-kuda. Dia hanya berdiri dengan santai dengan kepala sedikit miring seakan tidak sedang berada di tengah arena pertarungan. Sepertinya Shinta terlampau meremehkan Rahman.

Hatiku sedikit panas melihat sikap Shinta, meskipun ditilik dari segi kemampuan, Rahman kemungkinan besar bukan lawan Shinta. Tapi sebagai kawannya satu perguruan yang berlatih setiap hari bersama-sama, aku merasa tersinggung melihat Rahman diremehkan seperti itu. Ingin rasanya aku segera maju ke dalam arena dan menantang Shinta menggantikan Rahman. 

Saat pikiranku tengah mengawang-ngawang mengenai ketidaksopanan Shinta, Rahman telah melesat maju sambil melancarkan serangan pertamanya berupa sebuah pukulan ke ulu hati Shinta. Tampaknya Rahman tidak setengah-setengah menghadapi perempuan seksi itu. Sayangnya, saat sejengkal lagi kepalan tangan Rahman mendarat di ulu hati Shinta, sebuah tepisan membuat serangannya melenceng. 

Shinta menepis serangan sekuat tenaga Rahman seperti tengah menepis lalat! Membuat kawan-kawan kelompokku tercekat. Tapi bisa dipastikan yang paling terkejut adalah diriku, karena pada saat itu aku merasakan fluktuasi tenaga dalam dari tubuh Shinta. Tahap penyerapan energi tingkat ketiga, sama sepertiku!

Pantas saja Shinta mampu merajai kompetisi selama dua tahun berturut-turut dan begitu meremehkan Rahman. Dia juga seorang pendekar ‘dunia persilatan’ dengan penguasaan tenaga dalam setingkat diriku. 

Gerakan Shinta tidak hanya berhenti pada tepisan saja. Begitu Rahman kehilangan keseimbangan, Shinta kembalis menghempaskan tepisan ke bahu kiri Rahman. Tentu saja dengan perbedaan kecepatan yang sangat timpang, Rahman sama sekali tak dapat menghindar. Tepisan itu tak hanya cepat, tapi juga kuat!

Tubuh Rahman terpelintir seperti gasing dan jatuh bergedebukan di lantai arena. Untungnya Shinta tidak mengalirkan tenaga dalamnya saat menepis Rahman, sehingga dia tidak sampai terluka parah. Aku dapat membayangkan apa yang terjadi seandainya Shinta menggunakan seluruh kemampuannya saat menghantam Rahman. Mungkin tulang belikat Rahman sudah hancur lebur!

Meskipun mendapat tepisan telak sedemikian rupa, Rahman sama sekali tidak berniat menyerah. Tanpa mengokohkan kuda-kudanya, dia kembali melancarkan serangan ke arah Shinta. Kali ini sebuah tendangan berputar yang mengincar perut Shinta. Tentu saja Shinta dapat mengelak dengan mudah, lalu dengan cepat dia kembali membalas serangan Rahman. Mungkin karena ingin membalas tendangan Rahman ke perutnya, Shinta melayangkan pukulan ke perut Rahman. 

Beruntung Shinta lagi-lagi tak mengalirkan tenaga dalamnya, dan untungnya lagi Rahman telah mengencangkan otot perutnya. Sehingga serangan Shinta meskipun telah membuat Rahman terpental, tapi tak sampai membuatnya luka dalam. Akibat serangan terakhir Shinta, Rahman telah kehilangan kemampuan bertarunng. 

Namun Shinta tak berniat menghentikan serangannya, dia segera menyusul dengan sebuah tendangan dengan niat melemparkan Rahman keluar arena. Satu lagi perbedaan antara kompetisi tiga perguruan ini dengan kompetisi pada umumnya adalah tidak adanya wasit di tengah arena, sehingga kedua petarung terus bertarung sampai salah satunya tidak mampu bertarung lagi, atau menyerah kalah, atau keluar dari arena. Meskipun pada saat tertentu, para tetua perguruan akan menghentikan pertarungan jika dirasa pertarungan tersebut telah melewati batas. Sehingga saat Shinta melancarkan serangan demi serangan berbahaya kepada Rahman, kami hanya bisa menahan nafas dengan tegang.

Secara refleks, Rahman berusaha menangkis tendangan Shinta. Namun entah bagaimana, mungkin karena Shinta hanya berniat menendang Rahman keluar arena sehingga kecepatan dan kekuatan tendangannya jauh berkurang, Rahman berhasil menangkap kaki Shinta dan menariknya hingga Shinta kehilangan keseimbangan. 

Entah disengaja atau tidak, arah jatuhnya Shinta mengarah pada tubuh Rahman. Meskipun Shinta segera berhasil menahan dirinya sehingga tidak benar-benar terjatuh dan menyeimbangkan kembali dirinya, tak urung tubuhnya sempat bersentuhan dengan tubuh Rahman. 

Shinta segera menarik mundur tubuhnya jauh-jauh dengan muka merah. Tampaknya dia marah karena tubuhnya telah tersentuh oleh Rahman.

“Kurang ajar!” Shinta memekik marah.

“Maaf…” Rahman segera meminta maaf sambil terbungkuk-bungkuk. Dia berusaha memberi hormat pada Shinta kemudian berjalan tertatih keluar arena. 

Namun Shinta yang merasa marah tak membiarkan Rahman pergi begitu saja. Dia melesat sambil melancarkan tendangan ke punggung Rahman. Semua orang yang menonton pertandingan tersebut termasuk para tetua perguruan langsung tercekat, apalagi diriku, karena aku dapat merasakan adanya aliran tenaga dalam pada tendangan Shinta. Aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Rahman kalau dia sampai terkena tendangan tersebut. 

Tanpa pikir panjang, aku segera melesat dengan mengerahkan tenaga dalam menangkis tendangan Shinta. Karena posisi Rahman saat itu sedang berjalan menuju arahku, maka Shinta tak dapat melihat jelas gerakanku. Tangan kananku membentuk cakar sedangkan tangan kiriku merenggut bahu Rahman dan menghempaskannya ke belakangku. Aku tak perduli jika Rahman terjatuh di belakangku, yang aku perdulikan saat itu hanyalah tendangan Shinta. Cakar tangan kananku berhasil menangkap telapak kaki Shinta. 

Benturan antara tanganku dan kaki Shinta yang mengandung tenaga dalam menghasilkan suara mendentum keras. Mengagetkan semua orang yang menonton kompetisi tersebut, bahkan para ketua perguruan yang menonton pertarungan tersebut langsung bangkit dari kursi mereka masing-masing. 

Shinta segera menarik kakinya dari cengkraman tanganku, karena aku juga tak berniat memperpanjang urusan, maka aku membiarkan kakinya lepas dariku. 

“Jangan bertindak kelewat batas…” Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja dari mulutku meluncur kata-kata peringatan pada Shinta. Memang berdasarkan informasi yang kupelajari dari Kinasih, seorang pendekar dunia persilatan tidak boleh sembarangan mengeluarkan kesaktiannya di depan orang-orang awam. Jika mereka bebas mengeluarkan kesaktiannya, lalu apa gunanya ada Pusaka Pemisah Alam? Maka wajar saja jika aku memberi peringatan pada Shinta. 

“Hmph…” Meskipun aku dapat menangkap ekspresi terkejut pada wajahnya, namun Shinta hanya mendengus kecil. Lalu tanpa mengatakan apa-apa dia segera berjalan cepat meninggalkan arena dan menghilang diantara kerumunan para murid Lembu Ireng. 

Aku pun segera meninggalkan arena dan kembali menuju tempat kelompokku berkumpul. Kulihat Rahman tampak ternganga melihat diriku, begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Saat mataku melirik ke kiri dan kanan, kulihat para murid Perguruan Kelelawar Merah dan Lembu Ireng juga terpana memandangku. Sebagian lagi pandangannya berpindah-pindah antara aku dan Shinta. Sementara para ketua perguruan segera pergi meninggalkan kursi mereka dan menuju arah Shanti menghilang. 

“Lu nggak papa, Man?” Aku pura-pura tidak menyadari keterpanaan mereka dan segera menanyakan kondisi Rahman. 

“Eh… Iya Rik, makasi Rik.” Rahman tampak seperti orang yang dikejutkan dari lamunannya. 

Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena pada saat itu jantungku tengah berdegup kencang. Mengingat aku baru saja mengungkapkan jati diriku sebagai praktisi pengolahan tenaga dalam di depan pendekar lain. Dan aku sama sekali tidak tahu latar belakang Shinta selain sebagai murid Perguruan Lembu Ireng. Jadi aku tidak tahu konsekuensi apa yang akan aku hadapi setelah pertarungan tadi. Tapi mari berharap Shinta tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Lembah Racun Akhirat.

Setelah pertarungan antara Rahman dan Shinta serta ikut campurnya diriku dalam pertarungan tersebut, tidak ada lagi murid-murid dari ketiga perguruan yang maju ke tengah arena. Mungkin mereka masih shock demi melihat bagaimana benturan antara kaki Shinta dan tanganku dapat menghasilkan suara mendemtum seperti itu. 

Namun penantian kami tidak berlangsung lama, karena setelah itu salah satu guru dari Perguruan Lembah Ireng datang dan mengumumkan kompetisi hari ini telah berakhir. Kami diminta kembali ke penginapan kami masing-masing. Awalnya kukira para ketua perguruan akan memanggilku, namun dugaanku salah, mereka seakan tak menganggap pertarungan singkatku dengan Shinta sebagai sesuatu yang besar. Sama sekali tak ada perlakuan khusus terhadapku. 

Akhirnya aku mengikuti murid-murid Perguruan Gagak Putih menuju penginapan kami. Selama perjalanan, meskipun Rahman, Dimas, Anto, Iwan, dan Yayan berusaha bersikap biasa saja, namun kami hampir tak saling bicara sama sekali. Lagipula, aku juga sedang tidak mood bicara. 

Setelah sampai di penginapan, kami segera membersihkan diri dan bersantai-santai sambil menunggu waktu makan malam. Pada saat itulah tiba-tiba kurasakan fluktuasi energi murni yang bergejolak di luar penginapan. Ini tandanya ada seseorang yang tengah merotasi aliran tenaga dalamnya dengan sengaja. Kuduga orang itu melakukannya untuk menarik perhatianku, dan usahanya memang berhasil. 

“Rik, mau kemana?” tanya Dimas melihatku tiba-tiba berjalan keluar rumah penginapan. 

“Mau nyari udara segar di luar,” jawabku sekenanya. Tanpa memperdulikan reaksi Dimas, aku segera menuju tempat asal fluktuasi energi murni tersebut. 

Meskipun aku tidak memiliki kemampuan membedakan karakteristik tenaga dalam seperti Sarwo, tapi kuat dugaanku kalau orang yang sedang merotasi aliran tenaga dalamnya itu adalah Shinta. 

Di tengah malam yang gelap karena penerangan di luar penginapan sangat minim. Aku berjalan menuju tempat terpencil dengan pepohonan lebat agak jauh dari kumpulan bangunan Perguruan Lembu Ireng. Sejak tadi, aku telah mengalirkan tenaga dalam yang berada pada tiga pembuluh energi murni dalam diriku. Serta mempertajam indera penciuman, pendengaran, penglihatan, dan perasa pada tubuhku. 

Sesampainya di tempat tujuan, fluktuasi energi murni tersebut telah menghilang. Aku juga tidak menemukan siapapun disitu. Namun aku tidak langsung beranjak pergi, karena aku tahu akan ada sesuatu yang terjadi tak lama lagi. Dan aku tak perlu menunggu lama untuk itu, desiran angin menghembus di belakang kepalaku. Sontak kurundukkan seluruh tubuhku sambil memutar sebagian tubuh atasku ke arah belakang. Shinta melancarkan sebuah tendangan berputar dari belakang tubuhku. Angin tendangannya mengibas rambutku dan membuat kepalaku sedikit berkunang-kunang karena tendangan tersebut disertai dengan aliran tenaga dalam tahap penyerapan energi tingkat ketiga. Kalau saja aku tak sigap menghindar, mungkin kepalaku sudah pecah.

Meskipun aku sudah tahu kalau orang yang menyebabkan fluktuasi energi murni disini adalah Shinta, dan kemungkinan besar kami memang akan bertarung, namun kecil dugaanku dia akan membokong diriku. Dan itulah yang dia lakukan!

Semenjak pengalamanku diculik Sadewo, di sergap Sarwo, dan bertukar informasi dengan Kinasih. Aku mempelajari kalau dunia persilatan bukanlah tempat yang menjunjung tinggi kehormatan dan berbelas kasihan. Hanya kekuatanlah yang absolut. Dan aku tidak berniat menjadi pahlawan yang berupaya mengubah dunia persilatan menjadi lebih beradab hanya untuk mati konyol pada akhirnya!

Tanpa ragu, begitu berhasil menghindari tendangan Shinta, tanganku segera membentuk cakar. Kuarahkan cakar itu menuju kerongkongan Shinta dengan menggunakan jurus tingkat dasar Iblis Sesat. Semenjak Shinta tidak setengah-setengah berusaha mencelakaiku, maka akupun tidak setengah-setengah mengincar nyawanya. Kalaupun nanti aku masuk penjara karenanya, aku percaya penjara orang awam tidak akan mampu menahan pendekar dunia persilatan sepertiku terlalu lama.