Episode 4 - Tiga

Putra Petaka Kabangan


Di bagian lain keraton, dari sebuah kamar yang paling besar yang tak lain adalah kamar Sang Prabu dan Permaisuri, terdengar jerit tangisan bayi. Beberapa dukun beranak dan emban tampak memegangi tubuh Ratu Nawang Kasih sang Permaisuri Prabu Kertapati, beberapa yang lainnya nampak membersihkan tempat tidur sang ratu dan menyeka wajah sang ratu dengan air dingin yang dicampur daun salam. Ya permaisuri Mega Mendung ini baru saja melewati proses persalinan untuk melahirkan putra pertamanya.

“Selamat Gusti Ayu, putramu seorang laki-laki!” ucap seorang nenek yang tak lain adalah salah seorang dukun beranak dan paraji kepercayaan keluarga kerajaan yang membantu proses persalinan Permasuri, yang menghampiri permaisuri sambil menggendong bayi merah yang menangis dengan kerasnya.

Si nenek lalu menyerahkan bayi itu pada Sang Permaisuri, Ratu Nawang Kasih tersenyum lalu mencium kening si bayi. “Ah tangisnya sangat keras, bayi ini tentu akan menjadi sosok pangeran yang gagah perkasa,” sambung si nenek.

Ratu Nawang Kasih tidak menyahut, seketika senyumnya berganti menjadi wajah ketakutan dan kekalutan yang teramat sangat, ketika ia ingat akan nasib selir Prabu Kertapati yang juga hamil. Pada saat usia kandungan empat bulan, Sang Prabu menusukan pedang pusakanya pada perut selirnya! Pada saat itu pula, nyawa selir dan jabang bayi dalam kandungannya terbang menuju alam lain! Mengingat peristiwa itu, dia menjadi takut kalau-kalau Sang Prabu akan melakukan hal yang sama terhadap dirinya dan bayinya yang baru lahir tersebut.

Pada saat itu, masuklah Sang Prabu yang masih mengenakan pakaian ringkas hitam yang baru saja selesai bersemedi diruangan pusaka keraton. Para Dukun Beranak dan Emban segera membungkuk pada raja mereka. Prabu Kertapati dengan wajah dingin tanpa ekspresi terus melangkah menghampiri istri dan bayinya diatas tempat tidur.

Jantung Sang Permaisuri serasa berhenti berdetak ketika suaminya menatap bayi merah yang sedang menangis itu tanpa berkesip, dengan tenaganya yang masih lemah, dengan segala daya yang ia miliki, ia buru-buru memeluk bayi itu untuk melindunginya karena takut suaminya akan berbuat sesuatu yang tidak diinginkannya.

Pada saat itu, tiba-tiba nenek Imas, si dukun beranak itu menjura pada Sang Prabu, sambil tersenyum senang dia berkata “Gusti Prabu, selamat atas kelahiran Putra Pertamamu. Dia bayi laki-laki yang sehat dan kuat yang dilahirkan pada saat terjadi peristiwa Bulan Kabangan, tentu ia akan menjadi berkah bagi Mega Mendung karena akan menjadi Putra Mahkota yang gagah perkasa, calon penerus kerajaan Mega Mendung!”

Sebetulnya nenek tua itu juga merasa tidak enak karena mengetahui nasib selir yang dibunuh saat hamil empat bulan oleh sang prabu sendiri, apalagi bayi ini dilahirkan pada saat peristiwa Bulan Kabangan, yang menurut orang-orang tua adalah suatu pertanda malapetaka. Tetapi ia menindih semua perasaan tidak enak itu, ucapannya tadi adalah suatu permintaan halus agar Sang Prabu tidak melakukan suatu hal yang buruk pada bayi yang baru lahir itu.

Prabu Kertapati diam tidak menyahuti nenek tua yang juga membantu proses persalinannya dulu ketika ia dilahirkan oleh Ibunya. Ia hanya menatap tak berkesip pada bayi yang masih merah itu dan pada istrinya bergantian dengan wajah dingin. Lalu tanpa mengucapkan apa-apa, dia membalikan tubuhnya dan keluar dari kamarnya. Sang Permaisuri bernafas lega walaupun dia masih khawatir karena tidak dapat menebak apa yang ada didalam benak suaminya, begitu pun dengan Nenek Imas. Sementara para dukun beranak yang lainnya beserta para emban-emban, hanya melongo keheranan karena tidak mengerti dengan sikap Sang Prabu yang seharusnya menyambut kelahiran anaknya dengan sukacita.


***


Empat hari kemudian setelah Mega Mendung menguasai Sancang hanya dalam tempo setengah malam, tepat tujuh hari setelah peristiwa bulan kabangan di Mega Mendung, Prabu Kertapati sudah kembali ke Keraton Mega Mendung. Seluruh harta rampasan dari Sancang dia bagi-bagikan kepada para pendekar golongan hitam yang ia sewa, sementara barang-barang serta senjata-senjata pusaka Sancang ia simpan di ruangan pusaka keratonnya. 

Kabar penyerangan dan jatuhnya Sancang segera sampai ke pihak Banten. Jatuhnya Sancang yang merupakan Negara Islam membuat Banten gelisah, apalagi sampai saat ini mereka belum sanggup untuk menundukan Padjadjaran, sekarang ditambah Mega Mendung yang walaupun telah menerima penyebaran agama Islam namun bersikap memusuhi Banten dan Cirebon serta bernafsu untuk menguasai seluruh tanah Pasundan ini. 

Sultan Hasanudin segera mengirim dua ribu orang prajurit di bawah pimpinan Senapati Tubagus Giliwangsa untuk menyerang Mega Mendung. Namun suatu keanehan terjadi kalau tidak mau dikatakan ajaib, pasukan Banten yang jumlahnya sangat besar itu tidak dapat menembus tapal batas kerajaan Mega Mendung yang hanya dijaga oleh empat ratus prajurit! Seolah ada tembok dan benteng-benteng tak terlihat yang menghalangi pasukan Banten untuk memasuki wilayah Mega Mendung! Malah justru banyak korban yang berjatuhan di pihak Banten dalam usaha penyerbuan itu, sementara di pihak Mega Mendung nyaris tidak ada korban sedikit pun. Bahkan Senapati Tubagus Giliwangsa yang terkenal sakti mandraguna itu seolah tidak dapat berbuat apa-apa untuk menjebol perbatasan Mega Mendung!


***


Senja hari itu di Keraton Mega Mendung, Permaisuri Nawang Kasih baru saja selesai menyusui bayinya yang diberi nama Jaya Laksana, bayi laki-laki mungil itu nampak terlelap disebelahnya. Sang Ratu tersenyum menatap anak sulungnya yang baru saja terlelap itu, “Ya Gusti, hamba mohon tolong lindungi anak hamba yang tidak berdosa ini...” bisiknya dalam hati karena ia masih merasa takut pada suaminya. Sampai saat ini suaminya selalu nampak dingin dan tidak berkata apa-apa soal bayi sulungnya yang berhak untuk menjadi putera mahkota kerajaan itu, bahkan memberi nama saja tidak! Mahapatih Ki Balangnipa lah yang masih terhitung Kakak Sepupu dari Prabu Kertapati yang memberinya nama Jaya Laksana.

Sedang ia melamun sambil menatap wajah anaknya, masuklah Prabu Kertapati dengan wajah kelam membesi. Yang membuat Ratu Nawang Kasih takut adalah di pinggang Sang Prabu terselip Keris Kyai Segara Geni, keris yang biasa ia bawa hanya ketika pergi berperang!

Sang Prabu melangkah dengan cepat menghampiri bayi yang baru saja terlelap itu, dengan mata melotot! Permaisuri yang melihat gelagat tidak baik langsung melompat menerjang sang prabu untuk melindungi anaknya, kedua tangannya memegang tangan kanan Sang Prabu erat-erat yang sudah memegang hulu keris pusakanya!

“Kakang Prabu mau apa?! Jangan mencelakai anak kita, Kakang!” bentaknya dengan histeris dan air mata mulai bercucuran.

“Minggir kau! Anak itu harus kujadikan tumbal agar cita-citaku menguasai seluruh Tanah Pasundan ini tercapai!”.

“Kau gila Kakang!!! Mengapa harus sampai membunuh darah daging sendiri segala?! Sadarlah Kakang, kembalilah ke jalan yang benar, jalan yang diridhai Gusti Allah!”

“Minggir perempuan Sundal! Jangan kau sebut nama Tuhanmu lagi dihadapanku!”

“Tidak!!! Sadarlah Kakang!” ratap Nawang Kasih sambil berlutut memegang kedua kaki suaminya.

“Dengarlah, menurut bisikan Eyang di Alam Arwah, kita akan mempunyai anak lagi, kau masih bisa mengandung lagi! Dialah yang akan menurunkan garis keturunan penguasa Mega Mendung!” ucap Sang Prabu yang mencoba membesarkan hati istrinya.

“Tidak! Kau gila percaya pada mahluk sesat itu! Bagaimanapun anak ini adalah darah daging kita! Jangan kau bunuh Kakang! Ingatlah pada Gusti Allah!”

“Minggir!” bentak Sang Prabu dan... 

“Plakkk!” Ia menampar pipi istrinya, hingga istrinya terjengkang.

Dengan secepat kilat ia membuka kerisnya, sinar biru menggidikan keluar dari keris bereluk sembilan menerangi kamar itu, hawa panas menyambar bagaikan matahari tepat berada diatas kamar itu! Ratu Nawang Kasih buru-buru mencekal kaki Sang Prabu, sehingga keris yang sudah siap dihujamkan menembus jantung bayi itu terpeleset dan hanya menggores tipis kening diatas alis sebelah kanan bayi itu! Bayi itu menangis karena merasa kesakitan oleh lukanya itu, darah mengucur deras dari lukanya! Sungguh memilukan keadaan bayi itu!

“Perempuan sundal! Minggir! Jangan ganggu aku!” bentak Sang Prabu.

“Tidak, kalau kau mau bunuh bayi kita, bunuh aku dulu!” jerit Ratu Nawang Kasih

Menyaksikan keadaan istrinya yang menangis histeris sambil memeluk kaki kanannya, Sang Prabu merasa iba juga, apalagi ketika dilihatnya, bayi darah dagingnya sendiri menangis parau karena kesakitan dengan luka dikening diatas alis kanannya itu. Bagaimanapun ia masih seorang manusia yang mempunyai rasa kasih sayang pada istri dan anaknya, selama ini dia diserang rasa bimbang karena harus membunuh anaknya sendiri, selain rasa sedih dan bersalah karena sudah membunuh selirnya yang sedang hamil empat bulan.

Dia pun jatuh terduduk lemas, seluruh tubuhnya seolah tak bertulang dan kehilangan seluruh tenaganya, dengan perlahan ia menyeka darah di kerisnya, lalu mencium kerisnya dan menyarungkan kembali keris pusakanya.

“Istriku, maafkanlah aku, aku khilaf! Namun walaupun aku tidak jadi membunuh bayi kita, nyawanya tetap terancam karena aku sudah terlanjur mengadakan perjanjian dengan Eyang dari Alam Arwah di Kawah Gunung Patuha,” ucapnya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan kakang?” tanya istrinya yang masih menangis sambil menyeka darah di kening bayinya. 

Prabu Kertapati menggosok-gosokan tangan kanannya pada sebuah batu akik berwarna hijau tua sambil mulutnya komat-kamit merapal ajian, lalu dengan lembut batu akik itu dioleskan pada kening bayinya yang terluka, dan sungguh ajaib! Luka di kening itu langsung sembuh mengering walaupun meninggalkan bekas luka.

Sang Prabu terdiam sejenak, lalu ia bangun dan memanggil Ki Patih Balangnipa, serta dua lurah tantama kepercayannya Jayadi dan Laksadi, dengan tergopoh-gopoh ketiga orang ini masuk kedalam kamarnya.

“Laksadi menyamarlah menjadi penduduk biasa, aku minta kau mencari seorang bayi laki-laki yang lahir tepat pada tujuh hari yang lalu! Aku tidak peduli bagaimana caranya, kau harus segera membawa bayi itu secepatnya kepadaku sebelum tengah malam ini!”

Meskipun terheran-heran dengan perintah itu, ditambah melihat keadaan di kamar Sang Prabu tersebut, dia langsung menjura “Baik Gusti Prabu!” Ia langsung berlalu saat itu juga.

Sang Prabu kemudian menoleh pada istrinya, “Istriku, tidak aman jika bayi itu berada di lingkungan keraton. Kita harus membuangnya saat ini juga, jangan sampai ada yang tahu kalau kau membuang bayi kita apalagi Topeng Setan!” ujar Sang Prabu. Permasuri hanya bisa diam pasrah karena ia juga faham betul keadaan suaminya saat itu, daripada anaknya harus mati menjadi tumbal.

Sang Prabu lalu menoleh pada Jayadi, “Jayadi, aku perintahkan engkau untuk membawa bayi ini ke Padepokan Sirna Raga di Tagok Apu, secepatnya malam ini juga! Jangan sampai ada orang lain yang tahu, menyamarlah menjadi rakyat biasa! Ingat kau harus bergerak cepat dan melindungi nyawa bayi ini dengan nyawamu! Setelah sampai katakan pada Kyai Pamenang bahwa bayi ini adalah anakmu sendiri, jangan katakan bahwa bayi ini adalah anakku! Katakan pada Kyai Pamenang bahwa kau menitipkan bayi ini untuk dididik diberikan ilmu pengetahuan, ilmu agama, serta ilmu kesaktian!”.

Perwira muda ini menjura hormat, “Hamba, Gusti Prabu!”

Maka setelah Sang Permaisuri menulis sepucuk surat serta membuat satu tusuk cabai merah, bawang merah, dan bawang putih untuk yang diselipkan pada buntalan kain yang menyelimuti si bayi sebagai pelindung dari gangguan ghaib. Bayi itu segera dibungkus oleh sebuah kain samping bermotif batik kerajaan, Jayadi pun langsung pergi dari keraton setelah menyamar menjadi rakyat jelata.

Setelah Jayadi pergi, Sang Prabu segera menoleh pada Patihnya “Kakang Patih, Kakang aku beri satu tugas yang maha penting, aku tidak ingin rahasia tentang anakku ini ada yang tahu apalagi kalau sampai diketahui oleh Topeng Setan, maka aku perintahkan engkau untuk membunuh Jayadi dengan tanganmu sendiri setelah dia menyerahkan anakku pada Kyai Pamenang!”

Ki Patih Balangnipa agak terkejut dengan perintah tersebut, tetapi kalau sampai Sang Prabu memerintahkan ia sendiri yang melakukannya maka ia maklum kalau ini adalah suatu tugas yang sangat penting, maka ia pun menjura hormat “Daulat Gusti Prabu”.


***


Padepokan Sirna Raga adalah suatu padepokan yang didirikan oleh Kyai Pamenang di puncak bukit Tagok Apu yang masih termasuk kedalam wilayah Mega Mendung. Padepokan ini masih terbilang baru namun sudah memiliki nama yang harum dan besar di dunia persilatan tanah Pasundan sebagai perguruan golongan putih yang juga menjungjung tinggi ilmu agama Islam. Setiap murid di Padepokan ini selain diajarkan Ilmu Silat Kanuragan dan Ilmu Ajian Pukulan Sakti, juga diajari ilmu Agama Islam. 

Padepokan ini didirikan pada masa pemerintahan Prabu Wangsareja ayah mertua Prabu Kertapati atau ayah kandung dari Ratu Nawang Kasih, karena Kyai Pamenang dianggap banyak berjasa pada Mega Mendung, maka Prabu Wangsareja mengizinkannya untuk mendirikan padepokan yang bercorak islam, maka saat itu pula agama Islam mulai masuk dan menyebar di wilayah Mega Mendung. Tak heranlah kalau Prabu Kertapati mempercayakan Kyai Pamenang untuk mengasuh sekaligus menjadi guru anak sulungnya.

Saat itu mentari sudah terbenam di ufuk barat, ia hanya menyisakan segaris cahaya merah keemasan di garis cakrawala sebagai salam perpisahannya untuk hari ini yang tahtanya akan segera digantikan oleh sang rembulan serta kawanan bintang gemintang di layar beludru biru kehitaman yang akan segera tiba.

Di sebuah kamar di padepokan Sirna Raga, seorang pria paruh baya beserta seorang wanita paruh baya nampak baru saja menyelesaikan shalat maghribnya, yang dilanjutkan dengan membaca dzikir. Saat cahaya sang bagaskara telah benar-benar lenyap hari itu, mereka menyelesaikan dzikirnya untuk menununggu saatnya isya datang. “Istriku, entah mengapa beberapa hari ini perasaanku aneh, tadi malam aku bermimpi menangkap seorang bayi yang jatuh dari angkasa, bayi itu menggenggam bintang di kedua tangannya” Ucap Pria paruh baya itu yang tak lain adalah Kyai Pamenang pemimpin padepokan Sirna Raga.

Wanita tua di sebelahnya yang bernama Nyai Mantili yang merupakan istri dari Kyai Pamenang dan bertugas ntuk mengurus para murid wanita di padepokan ini menyahut “Hatiku juga merasakan suatu perasaan aneh Kakang, semalam aku bermimpi melihat almarhum guru kita memasangkan mahkotanya pada kepalamu, itu tandanya engkau akan mendapatkan suatu tugas yang berat!”

Baru saja mulut Nyai Mantili tertutup, ada yang mengetuk pintu kamar mereka, mereka pun segera keluar, di balai ruing padepokan ada seorang tamu, seorang pemuda yang nampak kelelahan sambil menggendong seorang bayi yang menangis dengan kerasnya.

Pemuda itu tak lain adalah Jayadi, lurah tantama kepercayaan Prabu Kertapati yang ditugasi untuk membawa bayinya pada Kyai Pamenang di Padepokan Sirna Raga. Setelah saling mengucap salam, Kyai Pamenang pun menanyakan maksud kedatangan Jayadi “Ada gerangan apakah Ki Dulur bertamu kemari?”

“Sebelumnya mohon maaf apabila hamba tidak sopan datang pada saat seperti ini, nama hamba Jayadi, hamba berniat menitipkan putra hamba pada Kyai dan dulur-dulur di padepokan ini untuk dididik menjadi manusia yang berbudi dan taat pada agama serta berguna bagi sesama manusia juga dengan alam sekitarnya” jawab Jayadi.

Kyai Pamenang memperhatikan seluruh gestur dari Jayadi. Sebagai orang yang telah banyak makan asam garam dunia, dia dapat mahfum kalau Jayadi adalah seseorang yang telah banyak berinteraksi dengan kalangan priyayi atau kalangan keraton, maka ia pun bertanya “Hmm… Kenapa Ki Dulur bermaksud untuk menitipkan puteranya kepada kami? Siapakah Ki Dulur sebenarnya?”

Jayadi berpikir sejenak, tapi ketika ia hendak menjawab, sebuah keris kecil berwarna hitam pekat meluncur dengan deras menembus punggungnya tepat di bagian jantung dari sebelah belakang! Kyai Pamenang dan seluruh murid-murid Sirna Raga yang berada di sana terkejut bukan main sebab mereka tidak menyadari kehadiran orang asing yang telah membokong Jayadi tersebut, Kyai Pamenang segera memerintahkan murid-muridnya untuk mengejar si pembokong itu, sementara ia segera melihat keadaan Jayadi “Ki Dulur bertahanlah!”

Tapi nafas Jayadi tingal satu dua, nyatalah bahwa keris kecil berwarna hitam itu telah dilumuri oleh suatu racun yang teramat jahat! Dengan seluruh sisa tenaganya Jayadi berkata “Kyai… Tolong rawat anak ini… Berikanlah ia… il… ilmu… yang… berman…faat…” dan terbanglah nyawa Jayadi meninggalkan raganya.

“Inalillahi Wainalillahi Rojiun…,” ucap Kyai Pamenang sambil menutupkan mata Jayadi.

Nyai Mantili segera menggendong bayi itu. “Kakang lihatlah kain batik ini, kain batik ini bukan kain sembarangan, seperti kain dari keraton!”

Kyai Pamenang pun mengamati kain batik itu. “Kamu benar Nyai, ini seperti kain batik keraton Mega Mendung!”

“Ah lihat keningnya Kakang, ada sebuah bekas luka goresan yang cukup dalam, seperti sebuah bekas luka besetan, tapi anehnya luka ini bisa kering seperti ini!” Nyai Mantili lalu menemukan sebuah gulungan surat yang diselipkan di buntalan kain yang menyelimuti bayi itu, dia langsung membacanya 

“Bayi ini bernama Jaka Lelana, mohon kepada yang memungutnya untuk merawatnya sebaik-baiknya, maaf kami orang tuanya tidak dapat membalas apa-apa kepada Kyai Pamenang yang kami hormati, semoga Gusti Allah melimpahkan rahmat dan berkahnya kepada anda...”

Kyai Pamenang terdiam sejenak sambil mengamati bayi itu. “Aku yakin bayi bukan bayi sembarangan dan bukan bayi yang berasal dari kalangan orang biasa, aku dapat melihat cahaya di keningnya!”

Pada saat itu datanglah rombongan murid-murid Padepokan yang tadi mengejar pembokong pembunuh Jayadi “Ampun guru, kami tidak berhasil mengejarnya, ia memiliki aji halimunan yang dapat membuatnya lolos dari kejaran kami, selain itu gerakannya sangat gesit”.

“Hmm… Berarti pembunuh itu bukan pembunuh bayaran biasa, ia pasti memiliki ilmu yang cukup tinggi” pikir Kyai. Tapi kemudian dia disadarkan oleh tangisan bayi yang parau itu “Astagfirullah sampai aku terlupa pada bayi ini! Nyai kita akan membesarkan bayi ini sebagaimana amanat dari pengantarnya dan dari surat itu”, jadilah bayi yang bernama Jaya Laksana yang kini berganti nama menjadi Jaka Lelana menjadi penghuni padepokan tersebut, menjadi murid dari Kyai Pamenang, seorang tokoh silat yang disegani di tanah Pasundan ini.