Episode 5 - Lima


Resi Gajahyana pernah mengatakan kepadanya bahwa seseorang membentuk dirinya berdasarkan kebiasaan baik yang sudah menjadi tradisi atau bertentangan dengan tradisi. Bondan Lelana sepenuhnya menyadari bahwa keputusannya malam ini tidak berhubungan dengan tindakannya yang benar atau salah, tetapi menegakkan kebenaran adalah tanggung jawab Lelana sebagai putra Majapahit. Dan bisa saja membunuh penjahat adalah tindakan yang benar menurut tradisi saat itu, tetapi juga ada kekeliruan apabila dipandang dari apa yang dia pelajari dari gurunya selama bertahun-tahun.

Dinginnya malam yang merasuki setiap bagian bilik penginapannya dan ditambah rasa lelah yang mendera, dia pun akhirnya memejamkan mata. Tak lama ia merebahkan tubuhnya di pembaringan, derap langkah para prajurit jelas tertangkap oleh pendengaran tajam Bondan Lelana. Dia segera menyelinap keluar tanpa sepengetahuan siapapun. Ia mengikuti iring-iringan prajurit yang berbaris teratur dari atap rumah penduduk. Tubuh Bondan Lelana begitu ringan menjejak atap dan sesekali berkelebat mendahului Ki Guritno yang berada di depan. Setelah sampai di tepi hutan yang banyak ditumbuhi pohon randu, Ki Guritno memerintahkan prajuritnya untuk berhenti dan Ranggawesi memasuki hutan disertai beberapa pengawal mendahului pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Guritno. Ia bertugas untuk mengamati perkampungan para penyamun yang berada di hutan sebelah dalam.

” Sedikit sekali orang yang terlihat di perkampungan. Menurutku ini mencurigakan karena terlalu lengang. Aku khawatir jika ini sebuah jebakan.” Ranggawesi setelah melaporkan hasil pengamatannya pada Ki Guritno.

”Mungkin itu ada benarnya. Akan tetapi petugas sandi telah memastikan lokasi ersembunyian mereka. Rangga, kita sebar prajurit untuk mengepung mereka. Aku akan masuk dari utara memutari rawa-rawa kecil. Kau bawa sebagian melalui pohon beringin kembar seperti yang dikatakan petugas sandi. Dengan begitu gerak mereka akan kamu ketahui meskipun mereka melalui sungai. Dan yang lainnya masuk melewati jalan setapak ini dengan menyebar,” kata Ki Guritno sambil menunjuk arah yang dia maksudkan.

“Ki lurah, bukankah kita sedang menunggu Ki Banawa?” tanya Ranggawesi kemudian.

“Aku kira Ki Banawa akan tiba pada saatnya. Dan mungkin juga Ki Banawa tidak akan berhenti di Wedoroanom melainkan segera kemari,” jawab Ki Guritno yang telah meloloskan senjatanya.

”Baiklah, ki. Hanya saja firasatku buruk tentang hal ini. Lebih baik prajurit tetap berdekatan jika melalui jalan setapak ini,” bisik Ranggawesi.

”Aku maklumi itu, Rangga. Tetapi kita tak punya pilihan lain. Ketiga jalan masuk sama-sama mudahnya untuk dihabisi. Baiklah, jika begitu tempatkan orang sebagai penghubung. Dengan demikian jika satu kelompok dari kita diserang maka penghubung akan membantu dan memberi tahu yang lain.”

”Baik ki lurah. Setidaknya kita sedikit aman dengan siasat ini,” Ranggawesi segera membagi prajurit dan memimpin sebagian ke menuju pohon beringin kembar. Ki Guritno memerintahkan prajurit yang dipimpinnya untuk berjalan lebih cepat karena mengambil jalan memutar. Bondan Lelana segera mengikuti kelompok yang mengikuti jalan setapak dengan melompat diantara dahan pepohonan tanpa suara laksana seekor tupai.

Ranggawesi yang tiba lebih dahulu masih mengamati suasana yang lengang. Api unggun terlihat di beberapa sudut perkampungan para penyamun dan hanya beberapa orang yang duduk melingkarinya. Ranggawesi melihat kerlap-kerlip dari kejauhan yang merupakan pertanda bahwa ki lurah juga telah tiba di sisi yang lain. Pada saat itu ki lurah menggerak-gerakkan lempengan emas kecil yang tadinya terselip pada pinggangnya. Lempengan ini memantulkan cahaya yang ditimbulkan oleh nyala api kecil. Mereka pun bergerak maju mendekati perkampungan itu setelah melihat tanda yang dikirimkan ki lurah. Binatang malam enggan berbisik-bisik ketika para prajurit mengendap maju mendekati sarang penyamun. Senandung malam yang biasa dilantunkan kawanan jangkrik pun seolah tergulung dalam dekapan malam.

Suara kentongan yang dipukulkan mengagetkan prajurit Ki Guritno. Tiba-tiba muncul sejumlah orang dari belakang mereka. Kepanikan melanda prajurit yang dengan tiba-tiba sudah berada dalam kepungan para penyamun.

“Jangan balas serangan mereka! Bakar apapun yang bisa kalian bakar kita bertempur dalam api. Renggutlah nafas mereka yang terakhir!” perintah Ki Guritno yang berada ditengah barisan agar lekas menyerbu masuk ke perkampungan dan membakar gubuk-gubuk kayu. Sudah kepalang tanggung bagi Ki Guritno untuk menghadapi gerombolan penyamun yang berada di belakang mereka. Satu-satunya jalan baginya adalah membakar belasan gubuk para penyamun dan bertempur di tengah api yang berkobar.

Seluruh gubuk atau rumah berdinding kayu dan beratapkan jerami dari yang berukuran kecil yang puncak atapnya setinggi tiga kali orang dewasa dengan cepat terbakar. Pasukan Ki Lurah Guritno segera bertempur dengan gagah berani dalam kepungan api yang tingginya seperti bukit kecil. Puluhan senjata pun berkelebat di antara api yang berusaha menjilati mereka..

Kawanan penyamun yang dipimpin oleh seseorang yang bernama Ubandhana ini sebenarnya belum lama melakukan kejahatan di daerah sekitar Kademangan Sumur Welut. Akan tetapi sejak kematian Mantri Rukmasara maka persediaan pun menjadi semakin sedikit. Untuk tetap menjaga kemampuan dan menunjang kekuatan yang akan membayangi kekuasaan Sri Jayanegara maka para pengikut Sastrajaya menyiapkan banyak rencana. Tujuan akhir mereka adalah merebut tahta Sri Jayanegara yang dianggap tidak berhak menjadi raja, dan menurut sekelompok orang ini seharusnya yang menjadi penguasa Majapahit adalah keturunan Jayakatwang. Demikianlah pengertian semacam itu mereka langgengkan dari waktu ke waktu. 

Ubandhana yang sudah mengetahui pergerakan pasukan kecil itu memang mempersiapkan rencana khusus untuk menyambut mereka. Dia memerintahkan anggotanya untuk bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun atau di dahan-dahan pohon. Namun dia terkejut karena sebelumnya mengira bahwa Ki Guritno akan menghadapi para penyamun yang ada di belakang mereka, tetapi ki lurah tetap memerintahkan maju dan meninggalkan penyamun yang menyergap mereka dari arah belakang. Kejutan berikutnya yang diterima Ubandhana adalah perintah membakar perkampungan yang telah dibangun untuk dijadikan sarang. 

“Benar-benar prajurit gila! Bukannya berbalik badan berhadapan dengan anak buahku tapi justru meluruk maju dan membakar semuanya!” geram Ubandhana penuh amarah.

“Aku lipat gandakan bagian kalian! Habisi dan keringkan darah para prajurit itu!” perintah Ubandhana sambil memutar-mutarkan tombak. Sorak sorai para penyamun yang menjadi anak buah Ubandhana membahana memecahkan malam yang sunyi. Tombak yang berputar sangat cepat itu segera menghantam prajurit yang berada di dekatnya. Gulungan sinar yang berasal dari tombak begitu mengerikan dan menggetarkan setiap mata yang melihatnya.

Ki Guritno mengamuk dan memutarkan gadanya dengan seluruh kekuatan. Gada Ki Guritno menghantam setiap penyamun laksana beliung menerbangkan daun kering. Berkelebat satu sosok diantara kobaran api mendekati Ki Guritno. Lurah prajurit kini menghadapi lawan yang sangat tangguh. Ubandhana dengan ganas mengayunkan tombaknya yang ujungnya melengkung seperti bulan sabit ke arah Ki Guritno. Dalam beberapa gebrakan, gada Ki Guritno terkurung tombak Ubandhana. Beberapa kali kulit Ki Guritno tersayat gerigi tajam ujung tombak Ubandhana.

Dalam waktu yang tidak lama, prajurit-prajurit ini mulai kewalahan menghadapi serangan para penyamun. Jumlah yang kalah banyak dan mereka pun belum bergabung satu sama lain makin membuat mereka terdesak oleh serangan penyamun yang ganas dan liar. Para penyamun seperti burung pemakan bangkai yang mencabik mangsanya. Mereka mengeroyok setiap prajurit dengan sadis dan menghunjamkan senjatanya sekalipun lawannya sudah mati tak berdaya.

Bondan Lelana yang sejak pertempuran dimulai sudah sibuk memberi pertolongan bagi para prajurit yang terluka. Tubuhnya lincah melesat kesana kemari menggotong prajurit yang mengalami luka-luka ke tepi perkampungan. Dia sedang berusaha mendekati Ranggawesi yang terlihat kewalahan dikepung para penyamun. Ranggawesi sudah bermandikan darah karena sabetan golok dan pedang para penyamun. Bondan Lelana membuka jalan darah dengan mengambil pedang prajurit yang sudah roboh tak bernyawa. Pedang yang digenggamnya seperti kilat yang menyambar tiap penyamun yang menghalanginya. Pedang yang terhunus itu seperti serigala yang ingin menghisap darah setiap penyamun yang mengepungnya. Beberapa orang dari kawanan penyamun yang berada di antara Bondan Lelana dan Ranggawesi pun satu persatu roboh oleh tebasan pedang Bondan Lelana.

Ranggawesi yang telah terhuyung dan bersimbah darah tampak kesulitan menghindari sebatang tombak yang meluncur deras ke arahnya. Tombak itu tepat menghunjam dada Ranggawesi. Bondan Lelana yang sedang bertarung di belakangnya pun segera menoleh karena teriakan terakhir Ranggawesi.

Seorang yang lanjut usia namun masih gagah telah berdiri angkuh menginjak kepala Ranggawesi. Dada Bondan Lelana bergemuruh karena amarah. Sebuah penghinaan besar telah dilakukan didepannya betapa dengan bengois dan biadab seseorang telah menginjak kepala seorang pemimpin prajurit yang telah tewas. Pedang pun dilontarkan ke arah orang tua itu dan Bondan Lelana melesat cepat di belakang pedang sambil melepas ikat kepalanyanya. Kaki orang tua yang berada di atas kepala Ranggawesi pun terpaksa berputar untuk menangkis lemparan pedang dari Bondan Lelana. Tangan kiri orang tua itu menyambut serangan Bondan Lelana.

Udeng Bondan Lelana beradu dengan telapak orang tua itu dan menimbulkan suara keras. Bondan Lelana merasakan denyut di pembuluh darahnya. Benturan itu memberi tahu Bondan tentang siapa lawan yang dihadapinya.

“Sebut namamu, setan cilik!” perintah orang tua itu pada Bondan Lelana.

“Apa urusanmu, setan besar?” Bondan memberi jawaban sambil melanjutkan serangan dengan bertubi-tubi dan sama sekali tidak memberi kesempatan pada orang tua itu untuk membalas. 

“Kurang ajar! Apakah engkau benar-benar bosan hidup?” teriak orang tua yang menjadi lawan Bondan.

“Bukan aku sudah bosan hidup tetapi engkau tak akan pernah tahu bagaimana setan menghadapi kematian. Diamlah dan kita bicara dengan senjata, orang tua,” desis Bondan Lelana.

“Jangan pernah menyesal dengan pertemuan ini. Matilah!” bentakan keras menyertai terjangan orang tua itu dengan garang.

Bondan Lelana dengan tangkas mengimbangi serangan dengan mengerahkan kecepatan yang dia miliki. Tak cukup dengan menghindari serangan demi serangan dari Bondan Lelana, si orang tua lantas mencabut kapak panjang miliknya. Pertarungan kedua orang yang berbeda masa ini berlangsung sangat cepat. Beberapa kali keduanya sama-sama terdorong ke belakang karena benturan dari senjata dan kaki yang terkadang beradu di udara. Ikat kepala Bondan Lelana terkadang menghentak dengan mengeluarkan ledakan-ledakan dahsyat. Suara dari ledakan itu sendiri tak ubahnya seperti serangan yang tak tampak oleh mata karena getarannya terasa hingga ke dalam dada. 

Akan tetapi, Bondan Lelana yang bertarung tanpa ketenangan akhirnya harus menerima akibat buruk. Satu tebasa menyilang tidak mampu dihindari Bondan Lelana dengan sempurna. Si orang tua segera mengirimkan satu tendangan samping dan mengenai bahu belakang Bondan Lelana. Telak mengenai Bondan Lelana tetapi sebelum jatuh, dia mencabut kerisnya dan melakukan satu gerakan jungkir balik sambil memapas kaki lawannya. Orang tua ini tak kalah cepat menarik kakinya dan berbalik menyerang dengan sabetan mendatar ke dada Bondan Lelana.

Orang tua itu segera membelokkan arah kapak ke tanah untuk menghindari kibasan udeng Bondan Lelana yang sanggup mematahkan pergelangan tangannya. Sebuah benda menggelinding pelan di dekat Bondan Lelana. Semakin meluap darahnya ketika melihat kepala Ki Guritno berada di dekat kakinya.

”Kalian akan menyusul mereka. Pergilah ke neraka!” tanpa melihat posisi pelempar, Bondan Lelana menerjang sambil menyabetkan kerisnya.

Ubandhana terkejut dengan serangan yang tiba-tiba ini. Segera ditolaknya dengan mengayunkan tombak. Gagal menembus pertahanan Ubandhana, Bondan Lelana mengurung dengan sabetan keris dan lecutan udeng yang berkali-kali menimbulkan suara ledakan. Ubandhana merasakan kedashyatan tenaga dalam Bondan Lelana yang dialirkan ke ikat kepalanya, aliran tenaga dalam ini menimbulkan efek suara ledakan yang tak begitu keras tetapi sangat menusuk gendang telinga. Laksana badai halilintar, serangan demi serangan Bondan Lelana menghujani Ubandhana tanpa jeda sedikitpun. Panjangnya tombak tidak memberi keuntungan bagi Ubandhana. Sabetan udeng mampu membelit ujung tombak, kaki kiri Bondan Lelana melayang memburu wajah Ubandhana. Dia terpaksa melepas tombaknya agar bisa sedikit jauh dari sapuan kaki Bondan Lelana namun dari bawah keris Bondan Lelana yang bebas itu bersiap menembus bagian bawah ketiak Ubandhana.

Tiba-tiba satu bayangan melesat sangat cepat dan menyerang Bondan Lelana dengan ayunan kapak panjang miliknya. Bondan Lelana membatalkan kerisnya yang mengarah ke Ubandhana demi menghadang kapak yang berdesing hebat. Keris Bondan tepat menahan serangan kapak panjang dari bayangan itu. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ubandhana untuk meraih lagi tombaknya dan berancang-ancang menusuk sisi kanan Bondan Lelana. Bondan Lelana yang mendengar desis suara tombak segera berguling membuang tubuhnya menjauhi kedua lawannya.

“Ki Cendhala Geni, nyawa anak ini menjadi milikku!” seru Ubandhana sambil memutar tombaknya dengan sangat cepat dan nampak seperti perisai cahaya yang hendak memburu kepala Bondan Lelana. Sekejap kemudian kedua orang muda ini terlibat dalam pertarungan yang sangat cepat. Tanpa terasa sudah berlangsung berpuluh-puluh jurus dan keduanya bertarung seimbang. 

“Oh engkaukah yang bernama Ki Cendhala Geni, setan besar?” Bondan Lelana menggeram penuh amarah. Keris Bondan Lelana yang mengeluarkan suara menderu itu nampak berputar, berayun dan sesekali menusuk bertubi-tubi. Ubandhana pun tak kalah garangnya, dia meladeni dengan tombaknya yang berputar-putar hingga seperti mengeluarkan gulungan sinar karena terpaan kobaran api. Sesekali dentang senjata beradu dan ketika Ubandhana memutar tubuhnya untuk menambah kekuatan hantaman, Bondan Lelana bergerak lebih lambat. Sengaja dia menerima serangan tombak Ubandhana kemudian menambah tenaga agar tombak lawannya berubah arah. Seketika itu dengan cepat Bondan Lelana segera melakukan tusukan ke ulu hati dan bagian bawah leher lawannya. Ubandhana segera melompat ke belakang dan kecepatan tusukan Bondan Lelana masih mengenai kulit lehernya.

Dia terus mengurung Ubandhana yang mulai kesulitan mengimbangi kecepatan keris Bondan Lelana. Keris Bondan Lelana terlihat seperti melakukan tarian namun dibalik itu aura haus darah tercium dari suara yang keluar karena begitu cepatnya Bondan Lelana menggerakkan keris. Serangan Bondan Lelana akan segera berakhir di pusar Ubandhana lalu Bondan Lelana mendengar desing dari arah kirinya dan dia kembali menarik kerisnya dan membuang dirinya ke samping demi menghindari serangan kapak yang sangat cepat.

Bondan Lelana kini berhadapan dengan Ki Cendhala Geni, sebuah nama yang kerap ia dengar di masa kecil. Namun kenangan itu hanya sekejap saja karena kapak panjang Ki Cendhala Geni sudah menderu-deru mengurung dirinya. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa, kapak panjang segera menjadi badai yang menghujani Bondan Lelana dengan hebat. Setiap kali Bondan Lelana berhasil berkelit, dia merasakan perih pada kulitnya karena hawa yang luar biasa keluar dari ka Ki Cendhala Geni tidak memberinya kesempatan untuk membalas serangan, serangan demi serangan hanya mampu dihindarinya. 

Merasakan hawa panas luar biasa di bagian punggungnya, Bondan Lelana segera membalikan badannya. Berputar sangat cepat sambil menggerakkan kerisnya dengan mengerahkan tenaga dalam yang sedemikian tinggi itu mampu mengangkat beberapa serpihan kayu yang terbakar untuk ikut berputar keatas layaknya sebuah gasing. Dua putaran penuh dilakukan Bondan Lelana kemudian melontarkan kayu-kayu yang terbakar itu ke arah Ki Cendhala Geni. Sekejap kemudian, Bondan Lelana sudah menyerang dari samping setelah menjejakkan kakinya pada sebuah batu yang seukuran kepala kerbau.

Serangan jarak pendek yang begitu cepat sepertinya tak dapat dihindari oleh Ki Cendhala Geni, lalu dia merendahkan tubuhnya untuk menghindari kayu-kayu yang terbakar lalu melompat menyambut serangan Bondan Lelana. Dentang senjata beradu dan bersamaan itu pula telapak tangan bertumbukan dahsyat. Keduanya terpental ke belakang, Ubandhana tidak melewatkan kesempatan itu untuk menerjang Bondan Lelana yang belum menginjak tanah. Menggunakan seluruh tenaganya, dia meloncat dan kekuatan tombak itu sekarang berlipat kemudian ditusukkan ke Bondan Lelana. Dalam keadaan melayang, Bondan Lelana mencoba menangkisnya namun begitu kuat tusukan itu hingga akhirnya tetap meluncur deras merobek perutnya bagian kanan. Ubandhana segera menyusulkan satu tendangan dan telak mengenai ulu hati Bondan Lelana.

Bondan Lelana lantas terjengkang lalu terbanting. Dengan muka memerah menahan amarah dan dari mulutnya kini darah segar deras meleleh! Raut wajah Bondan Lelana seakan-akan menjadi api yang akan membakar kedua lawannya. Berdiri dengan terhuyung-huyung, Bondan Lelana terancam tendangan beruntun dari Ki Cendhala Geni. Bondan Lelana segera menghindar dan membalas dengan keris yang digerakkan melingkar. Gerakan itu memberinya kesempatan untuk menata kembali tata geraknya namun tidak disangka sebatang tombak meluncur deras ke arahnya, bersamaan dengan itu Ki Cendhala Geni segera memburu Bondan Lelana dengan sabetan kapak yang berputar-putar seperti roda bergigi tajam.

Bondan Lelana masih sanggup menghindar dari maut dari kapak yang berusaha memmbelah tubuhnya tetapi ujung tombak telah menggores bahunya dan kibasan kapak merobek perutnya.

Ki Cendhala Geni melakukan gerakan memutar sambil melepaskan tendangan yang tepat mengenai dagu Bondan Lelana. Dia terpental dan roboh namun dengan sigap cepat berdiri dan Ubandhana melihat kesempatan emas untuk mengirimkan tinjunya.

Ulu hati Bondan Lelana tepat terhantam tinju Ubandhana.