Episode 12 - Murid Paling Populer


Mentari terbit dari timur, menampakan sinar megahnya tanpa rasa sombong. Ayam berkokok bertaut-tauatan mencoba bersaing untuk menunjukan suara jantannya.

“Kok kok petok!” seakan ingin menunjukan pada dunia, ayam itu berkokok sangat kencang.

“Berisik!” gumam Raku yang merasa terganggu karena suara ayam itu.

“Kok kok petok!” seakan tidak peduli dengan Raku, ayam tersebut kembali berkokok sekuat tenaga.

“Diam!” ucap Raku sedikit kesal.

“Kok kok petok, ada jomblo pekok!” sahut ayam itu lagi.

“Kampret!” teriak Raku setelah mendengar kokok ayam yang sangat aneh tersebut..

Raku terbangun dari mimpinya.

Kini Raku telah bangun sepenuhnya. Siap berjuang untuk mendapat teman di sekolah barunya. Dia tidak mau menyerah begitu saja. Bukan hanya itu, dia juga ingin menemukan dan bertemu dengan teman yang telah dia dapatkan di sana, meskipun dia tidak tahu siapa nama orang itu.

Pamit kepada orang tuanya lalu segera berangkat ke sekolah.

Di perjalanan dia bertemu dengan siswa dari sekolahnya, akan tetapi saat dia hendak menyapa, siswa itu langsung lari terbirit-birit hingga jatuh terpleset karena kulit pisang yang tergeletak di tepi jalan, alhasil siswa itu terluka di bagian kepalanya, darah mengalir dan ketika ia melihat itu, siswa itu segera berteriak dan kemudian pingsan.

Orang-orang di sekitar segera berkumpul mengelilingi siswa itu lalu memanggil ambulan untuk membawanya ke rumah sakit. Mereka memandang Raku dengan tatapan jijik, seakan mereka melihat penjahat paling hina di dunia.

Raku ingin mencoba menjelaskan semuanya, akan tetapi dia tidak tahu harus berkata apa. Semua orang satu persatu mulai bubar dari tempat kejadian sambil membicarakan Raku.

Raku tidak tahu harus tertawa atau menangis setelah melihat ini, dia hanya ingin menyapa siswa itu. Namun, entah kenapa reaksinya terlalu berlebihan dan dia malah terlihat seperti sedang di ancam oleh Raku sehingga segera kabur. Tapi, sungguh sial baginya karena menginjak kulit pisang kemudian jatuh terpleset. Lebih parah lagi, dia langsung pingsan setelah mengetahui kepalanya berdarah. 

Raku melanjutkan perjalanan menuju sekolah, akan tetapi kali ini dia tidak menyapa siapapun yang dia temui, karena takut, mungkin saja kejadian itu akan terulang lagi.

Namun, mau bagaimana pun, Raku memang memiliki paras yang tampan layaknya idola dari negeri gingseng. Jadi, tidak akan aneh jika tetap ada cewek yang ingin dekat dengannya meskipun banyak rumor aneh tentang dia.

“Hai!” sapa seorang siswi dari sekolahnya.

Namun, Raku hanya menunduk dan berjalan pergi. Siswi itu tampak kecewa dan marah, dia cepat berjalan menuju sekolah mendahului Raku. Kemudian dia menyebar gosip palsu bahwa Raku adalah orang yang suka melecehkan gadis.

Cewek yang sedang marah memang berbahaya.

Alhasil, saat sampai di sekolah, tatapan para siswa lainnya menjadi lebih jijik saat melihat Raku. Reputasinya hancur bahkan tanpa dia ketahui.

Rumor tanpa dasar memang bisa sangat mematikan daripada pembunuhan. Itu bisa mematikan seseorang bahkan tanpa orang itu sadari, tapi saat dia sudah sadar pun, tidak ada yang bisa dia lakukan, kecuali pasrah atau membuktikan bahwa rumor itu salah. Meskipun terdengar mudah, namun untuk yang kedua butuh waktu dan usaha yang keras, karena opini masyarakat tidak mudah untuk dirubah.

Sampai di kelas, tidak ada seorang pun siswa yang menyapa Raku. Dia kecewa dan sedih, akan tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan, karena dia sendiri pun tidak tahu apa kesalahannya.

Bel tanda masuk kelas berbunyi, semua siswa duduk di tempat masing-masing. Pelajaran berjalan seperti biasa. Raku juga memperhhatikan pelajaran dengan seksama.

Saat waktu istirahat, Raku ingin mencoba untuk mendapat teman lagi. Dia melihat sekeliling kelas dan menganalisa siapa yang mungkin bisa dia ajak bicara.

Dia melihat ke meja di bagian kiri dekat jendela, seorang cowok dengan muka biasa saja sedang menjelaskan sesuatu pada seorang gadis yang sangat cantik, bahkan saat pertama Raku melihatnya dia langsung terpesona. Namun, ketika dia melihat mata sang gadis itu yang sangat bersinar saat mendengar apa yang dijelaskan oleh si cowok biasa itu, dia langsung tahu, dia tidak punya harapan.

Sedangkan itu, Danny saat ini sedang memegang majalah tentang kendaraan tempur sambil menjelaskannya pada Alice.

“Lihat, ini tank KAPLAN MT!” ucap Danny sambil memperlihatkan gambar sebuah tank di majalah dengan senyum yang sangat lebar, “Tank KAPLAN MT ini dirancang dengan kapasitas tembakan dan pilihan amunisi besar juga dengan kemampuan bergerak yang sangat superior!”

“Lanjut lagi, lanjut lagi!” ucap Alice sambil menaikan kedua sudut bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda.

“Haha, sabar!” Danny sangat bersemangat saat ada orang yang ingin mengetahui tentang militer juga, dia merasa tidak sendiri dan sepi, seperti sebelumnya, disaat Alice dan Danny belum seakrab saat ini. 

Meskupun Danny juga biasa membicarakan tentang militer bersama Rito, akan tetapi dia selalu menjadi pendengar, karena kadar ilmu mereka yang jauh berbeda. Namun, berbeda saat berbicara dengan Alice, yang hanya orang awam, tidak masalah meskipun pengetahuan tentang militernya tidak sedalam Rito.

 “Tank ini dilengkapi dengan menara CMI Cockerill 3105 untuk menyalakan peluru 105mm, tank ini juga memiliki transmisi otomatis penuh dan mampu mengangkut tiga awak, pengemudi, penembak dan komandan. Oh iya, tank ini adalah hasil kerjasama dari perusahaan FNSS dari Turki dan PT Pindad dari indonesia.” Danny berkata dengan hikmat.

“Oh, jadi hanya Turki dan Indonesia dong yang punya tank ini?” Alice bertanya lagi.

“Tentu saja tidak, tentu saja mereka akan menjualnya ke negara lain. Semuanya tentang bisnis!” balas Danny.

“Kalian sedang membicarakan apa?” ucap seseorang.

Saat Alice dan Danny melirik ke arah suara itu, mereka sedikit terkejut. Alice segera pucat, gemetaran, menggigil, masuk angin, baiklah itu semua bohong. 

Alice berjalan ke belakang Danny, mencoba bersembunyi.

“Tenang saja, tidak ada emosi negatif yang aku rasakan dari dia!” ucap Dan di dalam pikiran Danny. Dia langsung menjadi rileks dan menjawab, “Ini tentang tank!”

“Eh? tank?” ucap Raku sedikit bingung. Biasanya saat seorang cowok dan cewek berbicara dengan gembira, mereka akan membicarakan tentang film, musik atau olahraga. Tapi, kenapa mereka berbicara tentang tank dengan gembira? Itu yang menjadi pertanyaan besar dalam benak Raku.

“Iya, tank!” jawab Danny dengan percaya diri.

“Maksudmu tank yang buat perang itu?” tanya Raku lagi.

“Benar, tank yang itu!” balas Danny.

“Memangnya kenapa bahas tank?” tanya Raku penasaran. Dalam benaknya, mungkin saja mereka sedang membicarakan film atau novel tentang perang. 

Dia juga senang saat ada orang yang ternyata tidak menghindar saat diajak bicara.

“Eh? Hmm...,” Danny melirik ke arah Alice lalu bertanya, “Kenapa ya?”

“Hmm ... tidak tahu!” balas Alice sambil mengangkat bahu.

“Ha ha ha ha!” mereka tertawa bersama, meskipun mereka tidak tahu apa yang lucu. Namun, bagi mereka, percakapan ini sangat konyol.

“Perkenalkan, aku Danny!” ucap Danny sambil menyodorkan tangan kanannya.

Raku tertegun lalu menarik senyum simpul dan menjabat tangan Danny sambil berkata, “Aku Raku.”

“Kalau aku Alice!” ucap Alice sambil tersenyum cerah.

Raku terpesona melihat senyum itu, jantungnya berdebar lebiih cepat dari biasanya, akan tetapi saat dia mengingat bagaimana pandangan Alice pada Danny, dia segera sadar, dia tidak memiliki secuil kesempatan untuk mendapatkan Alice.

Raku tersenyum pahit lalu berkata, “Aku tahu, tidak ada seorang pun yang tidak mengenal sang dewi sekolah!”

“Haha, aku tidak sepopuler itu!” sanggah Alice.

“Benar, bahkan dibandingkan Alice, kau sendiri lebih populer!” ucap Danny.

“Eh? Benarkah?” tanya Raku dengan tidak percaya. Kalau dia populer, kenapa banyak orang yang menghindari dia?

“Benar!” jawab Danny dengan cepat.

“Tentu saja!” sahut Alice.

“Memangnya aku populer bagaimana?” tanya Raku lagi.

“Menurut rumor kau itu anak Yakuza!” ucap Danny.

“Pfftt... siapa? Aku?” tanya Raku tidak percaya. 

“Benar, bukan Cuma itu saja, katanya kau itu punya tiga pacar, yang pertama anak dari gangster, yang kedua anak dari polisi dan yang ketiga anak dari pembuat kue!” ucap Alice.

“Hah?” Raku sangat tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Jangankan tiga pacar, satupun dia tidak punya.

“Aku juga baru dengar pagi ini, katanya kau menghajar seorang siswa sampai harus masuk rumah sakit,” ucap Danny.

“Benar, katanya pagi ini kau juga melakukan pelecehan seksual dengan seorang siswi dari sekolah kita,” timbal Alice.

“....” Raku tidak tahu harus menangis atau tertawa setelah mendengar semua itu, kejadian pertama itu hanya karena dia ingin menyapa, tapi karena reaksi siswa itu terlalu berlebihan dia jadi mendapat musibah itu. Sedangkan untuk yang kedua, Raku juga ingin tahu, pelecehan seksual apa yang dia lakukan.

“Apakah semua itu benar?” tanya Danny.

“Tentu saja tidak!” balas Raku cepat.

“Lalu ... bagaimana bisa ada rumor seperti itu?” tanya Alice.

“Aku juga ingin tahu!” jawab Raku.

Suasana menjadi canggung, untung saja bel masuk berbunyi, mereke kembali ke tempat duduk masing-masing. Pelajaran berjalan seperti biasa, akan tetapi pikiran Raku masih penuh dengan tanda tanya. 

Siapa orang yang menyebar rumor itu? Dia merasa tidak memiliki musuh, bahkan dia belum kenal siapapun di sini ... kecuali dia, murid yang ditemui Raku pada hari itu.

Raku berpikir, apa mungkin dia orang yang menyebar rumor itu? 

Akhirnya, Raku memutuskan untuk mencari dia dan memastikannya.

Bel tanda habis pelajaran berbunyi.

Semua murid dengan teratur keluar dari kelas dan lekas pulang.

Raku berjalan sambil memikirkan bagaimana cara menemukan orang itu, tiba-tiba dia melihat dari tas seorang siswi, jatuh sebuah sapu tangan berwana merah muda dengan corak bunga matahari.

Raku mengambil sapu tangan itu lalu mengejar gadis itu sambil berteriak, “Hei tunggu!”

Gadis itu menoleh ke belakang, saat dia menyadari siapa orang yang memanggilnya, dia langsung berlari lebih cepat. Saat melihat gadis itu menambah kecepatan larinya, Raku juga menambah kecepatan larinya. Melihat Raku menambah kecepatan larinya, gadis itu berlari lebih kencang lagi, melihat gadis itu berlari lebih cepat lagi, Raku semakin semangat dan menambah kecepatannya juga. Melihat Raku yang dengan semangat mengejarnya, Gadis itu berlari sangat cepat dengan putus asa, hingga akhirnya dia kelelahan.

Dia berjongkok sambil memeluk kedua lututnya dan menangis lalu berkata, “Menjauh dariku!”

Raku berjalan lalu menaruh sapu tangan itu ke depan gadis itu dan lekas pulang.

Dia tersenyum pahit lalu bergumam, “Besok aku pasti akan tambah populer!”