Episode 2 - Satu

Perjanjian Wasiat Iblis (1)


Lewat tengah malam. Di area perkemahan Pasukan Mega Mendung yang terletak di batas Kutaraja Padjadjaran, Prabu Kertapati masih saja berdiri mematung di luar kemahnya. Mata Sang Prabu menatap kosong ke atas langit malam, yang hitam pekat gelap gulita. Suara dendang riang serangga-serangga juga hewan-hewan malam yang biasanya terhidang kini enggan bersuara, seakan mengerti betapa gundah gulananya hati sang penguasa Negeri Mega Mendung, suatu negeri kecil yang berada di kaki gunung Gede yang beribu kota di Rajamandala, tapi tersohor akan kesuburan dan keelokan alamnya.

Ki Patih Balangnipa, sang Mahapatih Mega Mendung datang menghadap dengan perasaan tidak enak kala menatap raut wajah gusti junjungannya itu, dia lalu menjura hormat, namun Prabu Kertapati tetap diam mematung dengan mulut terkunci rapat. Diatas kepala mereka bulan yang biasanya lembut bersinar putih tertutup awan hitam, begitu pula bintang gemintang yang biasanya bercahaya berkerlap-kerlip diatas hamparan beludru biru kehitaman yang maha luas tak memancarkan cahayanya sedikitpun, raib ditelan gelapnya awan seolah ikut menggalau bersama sang prabu yang masih muda tersebut. Ki Patih Balangnipa pun ikut terdiam, dengan kepala tertunduk, matanya lekat-lekat memandang bumi yang ia duduki.

Beberapa saat kemudian terdengarlah desahan nafas berat dari Prabu Kertapati, Ki Balangnipa pun mengangkat kepalanya dan sekali lagi ia menghanturkan hormatnya, dengan pandangan lesu, Prabu Kertapati menatap patihnya yang sangat setia itu “Kakang Patih… engkau tentu sudah tahu maksudku memanggilmu kemari”.

“Ampun Gusti Prabu, maafkan kalau hamba salah… Tapi kalau yang dimaksud oleh Gusti tentang rencana kita dalam peperangan tadi siang, hamba nyakseni,” jawab Patih dengan suara pelan dan segan.

“Kamu benar Kakang Patih, sungguh aku tidak mengira dengan kelihaian para pasukan Portugis itu, karena mereka ditempatkan di tempat-tempat yang tinggi di dekat garis belakang mereka dapat dengan leluasa melihat gerak-gerik kita,” ucap Prabu Kertapati yang nampak jelas kemasygulan hatinya.

“Ampun Gusti Prabu, hamba dapat merasakan kegelisahan Gusti, namun dengan hormat saya meminta agar Gusti tidak terlalu khawatir, menurut hamba sekalipun pihak Padjadjaran mengetahui maksud kita yang berperang dengan setengah hati, dalam waktu dekat ini mereka tidak akan mengambil tindakan apa-apa sebab saat ini hanya Mega Mendunglah negeri bawahan mereka di tanah Pasundan ini yang masih mendukung mereka setelah Galuh, Talaga, dan Parakan Muncang habis disapu oleh para Prajurit Islam, sedangkan Sumedanglarang dan Sancang telah menerima Islam dan memilih untuk bersikap tidak memihak,” jelas Patih.

Prabu Kertapati berpikir sejenak, ia sangat setuju dengan pendapat Patihnya itu, namun hatinya masih saja gundah gulana, apalagi kalau diingatnya bahwa orang-orang Portugis yang kini berada disekitar keluarga keraton Padjadjaran sangat pandai, ia pun kembali menghela nafas berat 

“Kamu benar Kakang Patih, namun hati saya masih tetap tidak tenang….” Prabu Kertapati menghentikan ucapannya sejenak, ia menatap ke perkemahan para pasukannya, Ki Patih terdiam menunggu Sang Prabu melanjutkan “Kakang Patih, hati saya benar-benar tidak enak! Sangat gelisah hingga membuatku ingin terus berjaga dan pulang saat ini juga ke Rajamandala, biasanya perasaan-perasaan seperti ini adalah suatu firasat buruk! Maka dari itu, Kakang Patih, aku perintahkan untuk memperketat penjagaan, dan persiapkan seluruh pasukan, kita akan langsung pulang begitu matahari terbit!”

Sang Patih pun yang paham akan kegelisahan rajanya segera menjura hormat “Daulat Gusti!”, dia beringsut meninggalkan Prabu Kertapati yang masih terdiam menatap lurus kearah Keraton Padjadjaran.

Sementara itu, di hutan dekat perbatasan Kutaraja Pakuan, Pasukan Padjadjaran dan Portugis bergerak dengan cepat namun sangat hati-hati nyaris tanpa menimbulkan suara menuju ke arah perkemahan pasukan Mega Mendung. Dengan cerdiknya mereka bergerak memutar tidak melewati jalan utama dari Kutaraja yang langsung menuju ke bumi perkemahan Mega Mendung di sebelah selatan, melainkan keluar melewati hutan di sebelah barat kutaraja dan bergerak menuju ke selatan tempat pasukan Mega Mendung berkemah.

Penyerangan itu dipimpin langsung oleh Prabu Suriawisesa, Sang Prabu memerintahkan prajurit-prajuritnya secara berkelompok bergerak diam-diam pada malam hari melalui sungai dan hutan yang tidak dijaga dan tidak Nampak oleh pasukan Mega Mendung. Mereka akan menggempur setelah panah api dilepaskan ke langit oleh Sang Prabu sendiri. Serangan akan dilakukan mendadak yang dimulai oleh gempuran Prabu Suriawisesa bersama pasukan pendobrak yang terdiri dari prajurit berkuda pilihan Padjadjaran yang ditunjuk untuk mengiringi.

Tak lama kemudian, pasukan Padjadjaran dan Portugis yang sudah sampai di bagian belakang areal perkemahan Mega Mendung segera menyebar. Ketika waktu yang direncanakan tiba, satu anak panah api segera melesat keangkasa yang nampak sangat jelas di tengah kegelapan penghujung malam itu. Kelompok prajurit berkuda pendobrak yang dimpimpin langsung oleh Prabu Suriawisesa segera menggebrak pasukan Mega Mendung yang sedang berpatroli di sana tanpa suara sedikit pun! Belasan tubuh prajurit Mega Mendung segera roboh tak bernyawa dengan bersimbah darah!

Waktu itu juga, suara ratusan bedil locok atau yang biasa disebut tombak api oleh orang-orang pribumi meletus! Asap mesiu mulai berterbangan dan aromanya segera tercium bersamaan dengan rubuhnya puluhan tubuh prajurit Mega Mendung! Suara erangan dan jerit kesakitan maupun segera terdengar, namun segera hilang tertelan suara dentuman ledakan meriam-meriam Portugis yang menyasar tenda-tenda Mega Mendung! Para prajurit Mega Mendung pun kalang kabut! 

Yang sudah terjaga segera membangunkan yang masih tertidur dan sebagian lagi membunyikn titir, namun setelah tembakan kedua dari bedil-bedil locok dan meriam-meriam Portugis, pasukan berkuda dan pejalan kaki Padjadjaran segera bergerak secepat kilat, melibas prajurit-prajurit Mega Mendung dengan pedang dan tombak mereka! Dalam sekejap, area perkemahan Mega Mendung seakan berubah menjadi Neraka! Darah membanjir menganak sungai, api berkobar memerah, menerangi daerah perkemahan tersebut!

Prabu Kertapati yang baru saja memasuki tendanya terkejut bukan mendengar suara dahsyat serangan mendadak tersebut, dia segera keluar dari tendanya dan menatap kearah selatan yang dikobari api seakan langit memerah dibuatnya. Dia pun segera memanggil Ki Patih Balangnipa, dengan tergopoh-gopoh Ki Patih segera menghampirinya “Kakang patih kita terlambat! Seandainya sedari tadi aku tidak ragu untuk mengambil sikap untuk segera pulang ke Mega Mendung mungkin hal ini tidak akan terjadi!”

Ki Patih segera menjura hormat, “Ampun Gusti Prabu, sekarang kita harus bagaimana? Saya beserta seluruh pasukan Mega Mendung siap melaksanakan titah Gusti.”

Prabu Kertapati yang ternama pandai bersiasat itu berpikir sejenak, lalu “Kakang Patih, bawalah seluruh sisa kekuatan kita untuk pulang ke Rajamandala, sisakan seratus orang pasukan balamati untuk bersamaku, aku akan mundur dan melarikan diri menuju ke Gunung Patuha, aku dengar di sana ada seorang pertapa hebat, aku akan meminta perlindungannya di sana!”

Ki Patih Nampak terkejut mendengar perintah gustinya yang diluar dugaannya itu “Apa?! Tapi… Mohon ampun Gusti, mengapa gusti tidak ikut mundur bersama saya ke Rajamandala? Kita masih menerobos serangan mereka di sebelah timur lalu membelok ke selatan untuk ke Rajamandala!”

“Tidak Kakang Patih, kalau saya ikut mundur ke Rajamandala, mereka akan ikut menyerang kita ke Rajamandala, saya tidak ingin Negeri kita hancur oleh mereka! Sekarang kita satukan seluruh sisa kekuatan kita, lalu kita jebol serangan mereka di sebelah timur, lalu kita berpisah di sana, aku kea rah tenggara dan Kakang ke arah selatan langsung ke Rajamandala!” jawab Prabu Kertapati.

“Ampun beribu ampun Gusti Prabu kalau hamba berani mempertanyakan titah Gusti, tapi menurut hamba walaupun gusti tidak ikut ke Rajamandala, pasukan Padjadjaran dan Portugis pasti akan tetap menyerang ke Rajamandala… Dan ingatlah bahwa gusti Ratu Nawangkasih sedang hamil tua putra sulung gusti!”

Prabu Kertapati tersenyum pilu sambil menepuk bahu Ki Patih “Kakang… Aku yakin mereka hanya akan mengejarku untuk menghukumku. Kalau aku tertangkap diluar Mega Mendung, maka Mega Mendung akan aman, kalaupun mereka menyerang ke Rajamandala dalam keadaan Padjadjaran seperti yang sekarang ini mereka tidak akan menduduki Rajamandala, melainkan untuk mendamaikan suasana di Mega Mendung dan memastikan sikap Mega Mendung, karena bagaimanapun mereka tetap membutuhkan dukungan dari seluruh rakyat Mega Mendung! Lain halnya jika aku ikut mundur ke Rajamandala, perang besar akan berkobar di sana. Mereka pasti akan lebih memilih untuk membumihanguskan Mega Mendung sebagai jaminan tidak akan ada pemberontakan!”

“Namun, walaupun Gusti tidak ikut mundur ke Rajamandala, masih ada kemungkinan besar tetap meletus di Rajamandala,” sahut Ki Patih yang masih meragukan titah rajanya.

“Maka aku akan perintahkan kau dan seluruh rakyat Mega Mendung untuk menyerah jika pasukan Padjadjaran menyerbu ke Mega Mendung! Kecuali, kalian boleh berperang apabila pasukan Padjadjaran berniat untuk menduduki Mega Mendung dan menjarah harta serta kehormatan seluruh rakyat Mega Mendung! Akan tetapi kalau maksud mereka hanya untuk untuk mendamaikan suasana di Mega Mendung dan memastikan sikap Mega Mendung, kalian harus menyerah tanpa syarat untuk menghindari pertumpahan darah! Ingat, kalian harus mundur dan menyerah di Rajamandala, bukan disini atau di perjalanan menuju kesana!” tegas Prabu Kertapati.

Akhirnya dengan lemas Ki Patih segera menjura “Daulat Gusti, titah Gusti akan hamba laksanakan!”

Prabu Kertapati mengangguk-ngangguk “Baiklah, sekarang lakukan apa yang telah aku perintahkan! Jangan buang waktu lagi!”

Ki Patih Balangnipa segera melakukan apa yang diperintahkan oleh rajanya, karena tindakan yang diambilnya terlambat, dari seribu orang prajurit Mega Mendung yang ada di sana, hanya tersisa enam ratus orang. Seratus orang pasukan Balamati segera menjemput Prabu Kertapati dan mundur pontang-panting ke arah tenggara, sedangkan lima ratus lainnya dipimpin oleh Ki Patih, mundur dengan cara memusatkan serangan ke arah timur untuk membukakan jalan bagi Prabu Kertapati untuk melarikan diri, kemudian mundur membalik ke arah selatan langsung menuju ke Rajamandala, sedangkan empat ratus orang lainnya banyak yang meninggal, dan yang luka-luka menjadi tawanan Padjadjaran.

Sementara itu di kubu Padjadjaran, Prabu Suriawisesa nampak sedang berada diatas kudanya sambil melihat situasi peperangan bersama dengan Patihnya dan Laksamana D’Almeida. Seorang lurah tantama menghampiri mereka “Ampun Gusti Prabu, seluruh sisa pasukan Mega Mendung menggempur pasukan kita di sebelah timur, dan di sana mereka membagi kekuatannya, satu lari ke arah tenggara dengan dipimpin langsung oleh Prabu Kertapati, sedangkan satu mundur ke arah selatan dipimpin Patih Balangnipa!”

Prabu Suriawisesa terdiam sejenak lalu melirik pada Patih dan Laksamana D’Almeida “Sepertinya pasukan yang dipimpin oleh Patih Balangnipa akan langsung menuju ke Mega Mendung… Tapi hendak ke mana pasukan yang dipimpin Adi Kertapati?” tanyanya.

“Ampun Gusti Prabu, menurut hamba Prabu Kertapati tahu bahwa yang kita incar adalah dirinya, maka ia hendak melarikan diri ke arah lembah-lembah dikaki Gunung Tangkuban Perahu dan gunung lainnya disekitar sana diluar wilayah Mega Mendung yang ditutupi hutan-hutan lebat, ia tidak ingin terjadi pertumpahan darah di Rajamandala dan seluruh wilayah Mega Mendung!”

Prabu Suriawisesa mengangguk-ngangguk “Baiklah, kalau begitu kita bagi dua pasukan untuk melakukan pengejaran, yang satu dipimpin oleh Tumenggung Aryakerta menuju ke Rajamandala tugas kalian bukan untuk menduduki Rajamandala, melainkan untuk mendamaikan dan memastikan posisi Mega Mendung agar mereka tidak berbalik memihak ke Banten dan Cirebon, pasukan kedua di bawah pimpinan Rakean Rangga Sumpena langsung mengejar Prabu Kertapati ke tenggara, kalian berangkatlah saat ini juga!”

Keesokan harinya menjelang senja hari, pasukan berkuda Balamati Mega Mendung yang dipimpin Prabu Kertapati menghentikan kudanya di daerah danau dan rawa-rawa yang berada di lembah Tangkuban Perahu setelah dari tadi subuh terus dipacu, kuda-kuda itu sudah Nampak lemas dan mulutnya berbusa saking kelelahannya dipacu-terus menerus.

Karena kuda-kuda itu sudah tidak bisa dipacu lagi, Prabu Kertapati dan seluruh prajuritnya melepaskan kuda-kuda itu ke tengah hutan. Dia lalu terdiam sejenak nampak berpikir Dia lalu melihat tempat itu diapit oleh dua tebih yang tidak begitu curam namun lebat tertutupi tumbuh-tumbuhan, dia lalu melirik pada seluruh prajuritnya.

“Dengar, malam sudah hampir tiba, kita sudah kehilangan kuda kita dan sangat kelelahan, sementara pasukan Padjadjaran akan terus mendekati kita. Jadi daripada kita terus berlari, sebaiknya kita cegat pasukan Padjadjaran disini. Aku yakin saat malam tiba mereka akan melintas di tempat ini! Sekarang kalian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama untuk berdiam di tebing sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Begitu pasukan Padjadjaran melintas di tempat ini, hujani mereka dengan panah! Setelah anak panah kalian habis, hunus tombak dan pedang kalian, kita gempur mereka sampai titik darah penghabisan!” semua prajurit Mega Mendung pun menuruti siasat itu.

Menjelang malam, tepat ketika matahari terbenam dan keadaan di hutan itu menjadi sangat gelap, rombongan pasukan Padjadjaran di bawah pimpinan Rakean Rangga Sumpena sampai di tempat itu, celah di antara tebing itu segera dipenuhi oleh ratusan pasukan Padjadjaran yang meliuk-liuk bagaikan ular raksasa. Rakean Rangga Sumpena memerintahkan pada seluruh pasukannya untuk memperlambat gerakan mereka dan berhati-hati, matanya menatap nanar keseluruh area di tempat itu dengan perasaan tidak enak dan jantung berdebar. Meskipun tidak ada yang Nampak mencurigakan di tempat itu, namun nalurinya sebagai seorang prajurit memerintahkan dirinya untuk bersiaga.

Ketika setengah dari barisan prajurit Padjadjaran itu masuk ke celah itu, tiba-tiba suara siulan nyaring yang bagaikan suara siulan burung sirit uncuing yang teramat nyaring terdengar memekakan telinga. Rakean Rangga Sumpena segera memerintahkan seluruh pasukannya bersiaga, namun terlambat! Seratus satu anak panah bersiutan melesat bagaikan kilat dari kedua tebing di kiri kanan mereka! Korban-korban dari pihak Padjadjaran pun langsung berjatuhan!

Dengan sigap Rangga Sumpena memerintahkan untuk melemparkan obor-obor mereka ke semak-semak di tebing kiri-kanan mereka. Semak-semak itupun terbakar dengan cepat, dan menjadi penerang para prajurit Padjadjaran untuk melihat para pembokong mereka. Mereka pun balas menyerang walau korban di pihak mereka sudah tidak sedikit.

Perang berkecamuk di gelapnya malam di lembah gunung Tangkuban Perahu tersebut! Darah segera bercucuran menganak sungai, suara teriakan-teriakan pemberi semangat bercampur dengan teriakan-teriakan kesakitan, tubuh-tubuh segera bergelimpangan! Karena unggul berada di posisi yang lebih tinggi dan melakukan serangan terlebih dahulu yang menelan korban cukup banyak dari pihak Padjadjaran, pasukan Mega Mendung nampak lebih unggul dalam peperangan tersebut, namun karena kalah jumlah, akhirnya mereka pun terdesak dan harus bertempur mati-matian, sedangkan Prabu Kertapati terlibat pertarungan hidup dan mati dengan Rangga Sumpena.

Akhirnya setelah sekitar lima jam kemudian, perang di celah sempit hutan lembah Gunung Tangkuban Perahu itupun berakhir. Seluruh pasukan Mega Mendung dan Padjadjaran mati mengenaskan tanpa tersisa, hanya Prabu Kertapati yang tadi mengamuk habis-habisan membantai pasukan Padjadjaran lah yang tersisa seorang diri dengan tubuh penuh luka. Setelah sesaat mengatur nafas dan menenangkan dirinya, ia mengambil kuda yang tadi dipakai oleh seorang ponggawa Padjadjaran, lalu memacunya terus kearah selatan menuju ke gunung Patuha.

Kelak tempat bekas peperangan dahsyat yang merenggut banyak nyawa ini dianggap menjadi tempat angker dan sangat mengerikan oleh orang-orang disekitar tanah Pasundan, mereka menyebut tempat ini sebagai “Lembah Akhirat”.