Episode 15 - Keping IV: Masa SMA, Keberuntungan Raslene, dan Kedatangan Ayah (1)

Seperti Alfredo, setiap orang menyimpan jarum jam dalam dirinya. Namun, saat memasuki kelas tiga SMA, aku semakin menyadari bahwa setiap jarum dalam diri seseorang memiliki kecepatan berbeda. Kecepatan itu pula yang membuat banyak perubahan bagi orang-orang di sekitarku, sementara padaku sebaliknya. Di sekolah, aku bagai satu-satunya yang menyadari hal itu, merasa terasing sambil mencoba memaklumi betapa segala hal di dunia ini amat cepat berubah.

Semisal Frans, sekarang tubuhnya jauh menjulang tinggi dan angkuh bagai gedung-gedung yang sekonyong-konyong bermunculan di Jakarta. Tubuhnya yang kukuh membuatnya semakin hobi menindas, dan kata-katanya yang banyak, hampir seluruhnya memancing pertengkaran. Agaknya, Lalumba tak pernah benar-benar ada, sebab ia hanyalah metafora dari apa yang dinamakan waktu. Dan, waktu, arus yang penuh sihir itu, adalah kawan baik perubahan.

Selain pada diri Frans, jarum jam milik Lala juga bergerak tak kalah cepat. Perempuan yang gemar berkuncir kuda dan pernah menangis ketika dulu didandani ibunya pada Hari Kartini itu, kini telah berubah. Bocah pemalu dalam dirinya telah lenyap lantaran tak ada ruang lagi dalam diri Lala untuk bocah tersebut. Sekarang, ia suka sekali memoles bedak yang membuat wajahnya terlihat seperti topeng orang dewasa. Sejak mengenal bedak, wajah Lala tampak angkuh dan jarang tersenyum.

Daniel juga berubah. Ia bukan lagi lelaki yang gemar berkhayal. Sejak jatuh cinta pada Mariam, kakak kelas kami, ia sedikit lebih pendiam dan jaga wibawa. Aku tak tahu banyak soal cinta, tetapi jika ia membuat seseorang mesti berjarak dari dirinya sendiri, aku harap tak pernah ada kata cinta dalam kehidupanku.

Perubahan yang kusadari terjadi dalam diriku adalah aku semakin pemurung. Kadang, aku juga terbukti sedikit lebih sinis dan mudah bosan. Raslene, lah, yang menyelamatkanku dari perangkap kesendirian. Namun, pada waktu-waktu tertentu di mana kami tak bersama, biasanya aku lebih suka menghabiskan kebosananku di perpustakaan dengan membaca buku-buku puisi. Entah Chairil Anwar, WS Rendra, dan banyak nama penyair lainnya. Sebetulnya, aku curiga bahwa puisilah yang membuatku mulai gemar melihat kehidupan dari sisi murungnya. Dari sisi itu, aku justru dapat merasakan keindahan hidup.

Aku sepenuhnya menyadari soal paradoks dalam diriku. Di saat aku memandang muak pada seluruh perubahan teman-temanku, justru perubahan juga terjadi pada diriku. Mungkin, kami berubah dewasa dengan cara yang berbeda, dan aku tak bisa mengatakan proses yang kualami lebih baik. Pun sebaliknya.

Tetapi, kehidupan jelas tak hanya punya sisi murung. Beberapa hal menyenangkan juga terjadi di sekolah, dan hampir semua berkaitan dengan berbagai keajaiban yang dialami Raslene. Lebih setahun ini, nama Raslene selalu lekat dengan keajaiban. Aku bisa secara sadar mengatakan keajaiban karena daya kejutnya lebih hebat daripada sekadar keberuntungan. Maksudku, ada seseorang yang bisa tiba-tiba menang lotre, atau memenangkan ajang pencarian bakat menyanyi meskipun kualitas suaranya tak diungggulkan juri, atau seorang lelaki miskin bisa saja mendadak berubah nasib karena ternyata ayah kandungnya miliuner. Tetapi, yang terjadi pada Raslene lain. Mungkin serupa seorang yang memenangkan lotre meskipun tak pernah mengikuti undian apa pun. Seolah apa yang terjadi adalah konspirasi semesta atau bahkan mungkin modifikasi takdir dari Tuhan yang maha mengejutkan.

Aku ingat, suatu sore, saat sekolahku menyelenggarakan PERSAMI (Perkemahan Sabtu-Minggu) di Cibubur, Raslene yang jengkel setengah mati terhadap Bu Sinta, Guru Geografi, melemparkan bola kasti ke arah guru tersebut. Berdasarkan perhitungan jarak, kekuatan lemparan, kondisi fisik dan mental Raslene, serta arah angin, seharusnya bola tak akan meleset dan tepat mengenai wajah Bu Sinta. Namun, kenyataan bicara lain. Bola itu meleset ke arah bawah.

Soal keajaiban yang kumaksud bukan itu. Kejaibannya, bola yang meleset itu membunuh ular kobra yang garang membuka tudungnya di belakang kaki Bu Sinta. Dampaknya, Bu Sinta yang selama ini terbukti sentimen terhadap Raslene tanpa alasan jelas, langsung mencatat Raslene dalam daftar murid kesayangannya. Tak masuk akal? Tentu saja. Karena itulah aku layak mengatakannya sebagai keajaiban. Apalagi, menurut pengakuan pengelola tempat perkemahan, tak pernah seekor pun ular berbisa terlihat di sana.

Kejadian kedua yang bisa menjadi pembenaran keyakinanku adalah ketika Raslene tak sengaja menabrak Toyota Kijang milik Pak Darsono, guru sejarah kami, yang status dudanya sama berkarat dengan mobilnya. Mobil butut bergambar Bung Karno itu dicintai Pak Darsono, layaknya para pejuang kemerdekaan mencintai persatuan dan kesatuan Indonesia. Mobil itu ringsek di bagian pintu penumpang. Alhasil, Pak Darsono menyemprot Raslene dan meminta perempuan itu memanggil orangtuanya. Namun, Raslene memohon agar ia tak perlu melakukannya dan berjanji akan mencicil ongkos bengkelnya dengan menyisihkan uang jajan. Pak Darsono menyetujui tawaran Raslene lantaran tak tahan didesak rengekan.

Seminggu kemudian, mobil butut Pak Darsono terlihat di parkiran. Tampak kinclong dibandingkan sebelumnya. Pun perubahan yang sama terjadi pada wajah Pak Darsono yang biasanya berparas kusut. Rupanya, keajaiban Raslene terjadi lagi. Entah mengapa, Pak Darsono menghampiri Raslene, mengucapkan terima kasih dan meminta Raslene melupakan soal ganti rugi.

Gosip pun beredar. Daniel, yang waktu itu belum mengenal Mariam dan cinta mengungkapkan analisisnya. Menurutnya, akibat masuk bengkel, Pak Darsono tanpa sengaja menemukan bom di mobilnya yang kemungkinan ditaruh salah seorang kelompok anti Bung Karno. Maka, kecerobohan bersepeda Raslene adalah penyelamat bagi nyawa lelaki berperawakan kurus itu.

Berbulan-bulan, sebagian murid SMA Tunas Negeri memercayai apa yang dikatakan sembarang oleh Daniel. Hingga akhirnya, Pak Darsono dikabarkan menikah kembali, sehingga kami mengambil kesimpulan baru bahwa istrinya tersebut ditemukannya selagi di bengkel. Jadi, kecerobohan Raslene adalah keajaiban bagi kehidupan pernikahan Pak Darsono yang menyedihkan.

Masih ada beberapa kejadian tak masuk akal lain yang membuat Raslene diasosiasikan dengan keajaiban. Karena mitos itulah, hiperbola selalu membututi langkah Raslene di sekolah. Raslene pernah iseng menepuk nyamuk, dan ternyata nyamuk itu jenis yang bisa menyebabkan demam berdarah. Setelah itu, Raslene dianggap sebagai pahlawan yang telah menyelamatkan nyawa seluruh populasi Sekolah Tunas Negeri.

Lebih jauh, hiperbola perihal Raslene semakin menggila. Orang-orang mulai menganggap Raslene bisa menebak soal apa yang keluar ketika ujian. Menjelang ujian, Raslene yang didesak menebak soal, terpaksa ngoceh sekenanya. Namun ternyata, yang ia tebak hampir seluruhya tepat. Lalu, Daniel-yang-belum-jatuh-cinta mulai menaikkan tingkatan hiperbola. Ia mengatakan pernah melihat Raslene meludah di jalan dan mengakibatkan lubang di aspal.

Jadi, singkat kata, sudah jadi rahasia umum bahwa sebagian murid Tunas Negeri selalu percaya pada apa yang dikatakan Raslene. Bahkan, jika pun Raslene mengatakan wajah Muklis tampan, maka bisa dipastikan seluruh murid perempuan akan rela antre untuk kencan dengan robot itu.

Bagiku, di luar hal-hal luar biasa dan hiperbola menyangkut Raslene, diterimanya Raslene yang aneh di semua kelompok pergaulan adalah keajaiban sesungguhnya. Meskipun sebagai teman baiknya, aku turut berbahagia atas semuanya. Kecuali, satu. Kedekatan Raslene dengan Frans. Aku tahu belaka, Frans mengajak Raslene berteman sebatas karena ingin mendompleng popularitas perempuan itu saja. Tak lebih.

Kalau dipikir-pikir, kekesalanku ada lantaran aku cemburu. Sejujurnya, kecemburuanku terlalu mengada-ada, karena toh aku tak berhak melarang Raslene bergaul dengan siapa pun. Kami memang intens bersama, tetapi kami tetap punya kehidupan dan pilihan masing-masing.

Berbagai keajaiban Raslene tak membuat perubahan pada dirinya. Ia tetap temanku yang dulu. Masih mengatakan dirinya punya payung terbang, masih suka menyapa lampu jalan, masih suka membahayakanku di boncengan sepedanya, dan dalam hati kecilnya, ia masih tak terlampau nyaman dengan bising pergaulan Tunas Negeri. Tetapi, tentu saja Raslene tak sepenuhnya yang dulu. Keinginan banyak murid berteman dengannya membuat Raslene kadang sulit membagi waktu. Namun, hal baiknya, waktu-waktu tanpanya itu mendekatkanku pada buku-buku puisi di perpustakaan.

**

“Sudah pulang, Penyair?” tanya Ibu, sambil duduk di sofa ruang tamu. Aku menjawab dengan kecupan di pipi kirinya. Kemudian, aku melemparkan dengan malas tubuhku di sampingnya. Sejak aku mulai membaca dan menulis puisi, di luar sesekali menulis dongeng, Ibu sering mengejekku dengan panggilan penyair. Aku sedikit jengkel, tetapi belakangan pasrah saja.

Ibu kembali menggerakkan penanya di kertas, sementara aku separuh memejamkan mata; mencoba mengusir pikiran dan jantungku yang lelah usai bermain-main dengan maut di atas sepeda Raslene.

Saat membuka mata, kulihat dahi Ibu berkerut dan gerak penanya terhenti pada awal paragraf tiga. Ibu punya persoalan lantaran biasanya, seperti berpuluh tahun terjadi, kebuntuan menulis seharusnya bisa diatasi dengan datang ke kafe favoritnya. Setahuku, tiap penulis selalu punya tempat atau sudut istimewa untuk melakukan pekerjaannya. Namun, hampir satu setengah tahun terakhir Ayah melarangnya mendatangi kafe itu. Ia meminta Ibu lebih banyak di rumah kecuali atas izinnya. Tetapi izin itu sulit didapatkan, dan memerlukan percakapan yang bertele-tele di telepon.

Hampir setengah tahun pula, Ayah memberikan kami mobil mewah beserta Pak Aswan sebagai supirnya. Meskipun, aku lebih suka menganggap lelaki bertubuh tegap itu sebagai mata-mata Ayah, sebab segala yang terjadi di rumah dan tak lepas dari pandang mata Pak Aswan, selalu sampai ke telinga Ayah. Tak jarang, hal itu berujung pertengkaran Ibu dan Ayah di telepon.

Ayah memang belum tinggal di rumah. Ia tengah berada di negeri jauh, meskipun jelas bukan untuk mencari harta karun.

Pada ulang tahunku, saat kelas dua SMP, Ayah datang dan kepala tiga belas tahunku berharap ia membawa banyak cerita seru dan kuda terbang yang bisa kupamerkan kepada Raslene. Tetapi, yang datang bukanlah petualang berambut panjang dan berkumis tak terawat dengan pakaian serupa Robinhood. Bukan lelaki berwajah penuh luka bekas pertarungan sengit menumpas monster jahat, dengan mata cerah memancarkan kebaikan. Yang datang hari itu, bukan Ayah yang kubayangkan selama ini. Ia seorang lelaki berjas yang lehernya nyaman tercekik dasi. Wajahnya licin, matanya dingin, dan ia jelas tak datang dengan menunggang kuda terbang. Ia datang dengan Mercedez hitam yang semakin membuatnya berjarak dari harapan kanak-kanakku.

Saat itu, aku tergagap. Tak sepatah kata pun yang kusiapkan bertahun-tahun dapat meluncur dari mulutku. Yang semakin membuatku kecewa, satu-satunya yang ia ucapkan adalah pertanyaan basa-basi perihal kelas berapa sekolahku. Kemudian, ia masuk ke kamar Ibu, dan pergi setelah memberikan pelukan yang terasa seperti basa-basi semata. Lalu, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi, kecuali yang kucuri dengar dari percakapan Ibu lewat ponsel yang dibelikan Ayah. Namun, dari seluruh percakapan itu, tak sekali pun kudengar namaku disebut. Juga tak sekali pun ia tertarik bicara denganku.

Lalu sekarang, setelah absen dari hampir seluruh hariku dan Ibu, lelaki bernama Anton Sumatedja itu seenaknya saja menetapkan aturan. Seolah keluarga dan perusahaannya tak ada beda. Bagiku, segala sifat otoriternya pada Ibu, Pak Aswan, dan mobil mewahnya yang tampak mengerikan daripada membanggakan, membuat rasa kagumku kepadanya hampir luntur sempurna.

Aku bangkit dari dudukku dan menuju dapur untuk menyeduh kopi. Bi Inem terlihat tengah duduk di bangku dapur yang dulu menjadi singgasana Bibi Roslinda. Berbeda dengan Bibi Roslinda, Bi Inem lebih pendiam dan tak neko-neko dalam memasak. Meskipun jelas rasa masakannya lebih unggul dari eksperimen Bibi Roslinda.

Bibi Roslinda tak lagi ada, tetapi kenangan tentangnya masih sesekali mampir di rumah ini. Penikahannya dengan Pak Slamet berlangsung sesuai jadwal yang ditetapkannya pada pengunduran dirinya dulu. Soal pernikahan itu, aku sedikit bersyukur karena royalti buku Ibu keluar pada saat bersamaan. Jadi, Ibu bisa membantu Bibi Roslinda membayar katering sehingga sang pengantin wanita membatalkan niatnya untuk memasak sendiri hidangan prasmanannya. Paling tidak, dalam pernikahan itu, aku tak perlu mencemaskan soal keselamatan perutku. Hanya satu yang aku dan Raslene—yang diajak Ibu ke pernikahan itu—takutkan. Soal betapa mengerikan kombinasi antara penyihir dan satpam gagah perkasa dalam menghasilkan keturunan. Bayangan kami, dunia para penyihir bakal berbahagia atas kehadiran bayi kecil yang berbahaya. Sementara sebaliknya bagi dunia manusia.

Selesai menyeduh kopi, aku memilih masuk kamar sebelum bertemu Raslene malam nanti.