Episode 6 - Begitulah Rumornya


[Tadi aku melihatnya, itu keren sekali ^_^]

Setelah melihat pesan dari Alice, aku sedikit terkejut. Hah? Apa yang dia lihat? Apakah saat aku dan Rito sedang mengejar copet? Coba saja aku tanyakan.

[Lihat apa?]

Tidak lama kemudian datang balasan dari Alice, seperti biasa, dia cepat sekali membalas pesan.

[Tadi saat kamu mengejar pencopet]

Ternyata benar.

[Haha, tapi sayangnya aku hanya bisa menangkap satu, yang satunya masih kabur]

[Mau gimana lagi, kan ada dua orang]

[Haha, iya sih]

[Ngomong-ngomong, kamu gak apa-apa, 'kan?]

Hmm, Alice khawatir dengan aku? Dia memang gadis yang baik.

[Iya, aku gak apa-apa.]

[syukur deh kalau begitu ^_^]

Aku dan Alice mengobrol sebentar lalu mengucapkan selamat tinggal.

Sekarang masih jam setengah delapan, aku memutuskan untuk berolahraga sebentar. aku ingin segera memiliki bentuk tubuh yang keren seperti Rito.

Yang pertama aku akan melakukan Plank. Posisinya hampir mirip dengan Push-up, namun tumpuan beban berada kedua tangan, lebih khususnya dari siku sampai telapak tangan. Luruskan kedua kaki ke belakang lalu kontraksikan otot perut. Aku melakukannya selama satu menit lalu berganti ke posisi yang lainnya.

Selanjutnya adalah Jackknife sit up, aku berbaring lurus kemudian aku meluruskan lengan ke atas, di belakang kepala, mengambil napas lalu serentak mengangkat pinggang, kedua lengan juga kedua kaki hingga tangan dan kaki bertemu.

Setelah itu aku menghembuskan napas dan kembali ke posisi awal, aku juga melakukan latihan di posisi ini selama satu menit.

Dan kemudian aku ganti ke posisi lainnya agar tidak bosan, seperti Hip Raise, Curl Up, Pulse Up dan lainnya. Itu untuk membentuk otot perut.

Sedangkan untuk membentuk otot lengan aku melakukan Push Up, Pylometric Push Up dan Rotation Push Up. Aku tidak tahu seberapa lama, tapi aku pikir semuanya total sepuluh menit.

Tapi ini belum selesai, karena tujuan aku selanjutnya adalah untuk membentuk otot lengan.

Olahraga bagiku juga sangat menyenangkan, kau tahu, ini seperti saat kau meminum air setelah kau memakan makanan pedas, itu sangat melegakan dan segar. Tapi sayangnya rasa pedas itu sangat memikat dan akhirnya kau akan memakan makanan pedas lagi, lalu meminum banyak air lagi, ini lingkaran iblis yang tidak akan terputus.

Aku menyeka keringat yang sudah mulai menetes dari wajahku dan sedikit beristirahat, ketika aku sudah sedikit agak baikan aku langsung mulai.

Aku berdiri tegak sambil membawa dua dumbbell di kedua tangan, lalu mengangkatnya sejajar dengan bahu dan menurunkannya. 

“Hei, Danny, sebenarnya kenapa kau berusaha sangat keras?”

Tiba-tiba suara Dan terdengar di dalam kepalaku.

“Hah... hah... berusaha apa?” jawabku sambil terengah-engah.

“Kau selalu menjaga pola makan, berolahraga dengan teratur, ditambah lagi kau akan latihan di waktu senggang mu.”

“Aku mau menjadi kuat, kau tahu, untuk menjadi tentara aku harus memiliki tubuh yang sehat dan kuat, karena itulah aku berlatih dan berolahraga.”

“Apa hanya itu?”

“Tentu.”

“Apa kau tidak memiliki sesuatu yang lebih besar yang ingin kau capai?”

Ada apa dengan Dan hari ini? Dia tiba-tiba mengobrol dengan normal.

“Iya. Hei Dan, kok tiba-tiba tanya begitu?”

“Tidak apa-apa, aku hanya seperti mengingat sesuatu.”

“Apa? Ingatanmu kembali?” ucapku terkejut.

Aku meletakan dummbell lalu berjalan menuju meja belajarku, menarik kursi lalu duduk.

“Sepertinya begitu, tapi aku tidak tahu pasti, ini terasa sangat samar,” ucapnya ragu.

“Apa yang kau bisa ingat?”

“Tidak tahu, ini sangat samar, yang aku ingat aku tiba-tiba di dorong oleh seseorang dan hanya itu.”

“Hanya itu?”

“Iya.”

“Baiklah, tidak usah terburu-buru, suatu hari nanti kau pasti akan mendapat kembali ingatanmu itu.”

“Entahlah, aku tidak yakin, apakah aku harus mengingatnya kembali, aku merasa itu bukan hal yang harus diingat.”


**


Di suatu tempat.

Ada sebuah pintu raksasa berwana hitam, lebih tepatnya itu bisa dibilang gerbang. Gerbang itu memiliki banyak sekali goresan tapi gerbang itu terlihat kokoh dan seakan tidak bisa dihancurkan.

"Clang! Clang! Clang!"

Bunyi logam menghantam gerbang itu terus terdengar, di depan gerbang itu terlihat seorang wanita sedang menyerang gerbang itu dengan tombaknya.

“Lerajie, sudah hentikan, gerbang itu tidak akan bisa kau hancurkan.” Ucap seorang pria tampan yang memiliki wajah macan dan sayap griffin di punggungnya.

“Tidak akan, Sitri, aku pasti akan membuka gerbang ini apapun yang terjadi.” Ucap gadis bernama Lerajie tersebut. Dia memiliki rambut panjang berwarna putih dan telinga yang lacip. Juga membawa panah di pundakknya.

“Sudah sepuluh tahun, tapi tidak ada satu lubang pun yang tercipta di gerbang itu.”

Mendengar apa yang dikatakan oleh Sitri, Lerajie mengencangkan pegangannya pada tombak itu dan menyerang gerbang itu dengan lebih kuat.

"Clang! Clang! Clang!"

Kali ini bunyi yang dihasilkan bahkan lebih keras lagi dan darah segar mulai membasahi telapak tangan Lerajie.

“Sudahlah, hentikan Lerajie.” Bentak Sitri sembari mencoba merebut tombak itu dari Lerajie.

Air mata mengalir di wajah Lerajie. Melihat ini Sitri tidak bisa tidak ikut muram lalu membawa tubuh Lerajie ke dalam pelukannya.

“Ini semua ... hiks ... ini semua karena dia, andai saja ... hiks ... dia tidak penah datang kemari, pasti ... pasti ... ini semua tidak akan pernah terjadi.” Isak Lerajie di dalam pelukan Sitri.

Setelah Sitri membawa Lerajie pergi, tiba-tiba sebuah retak kecil tercipta pada gerbang itu.


**


Setelah selesai melatih tubuhku, aku langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi, tentu saja untuk mandi.

Sepuluh menit kemudian aku sudah berpakaian rapi dan keren, aku rasa. Berdiri di depaan cermin sambil berpose sedikit. Hmm, aku memang keren.

“Apa yang kau lakukan Mr. Narsis,” ucap Dan dalam kepalaku.

“Tidak ada, aku hanya ingin mencoba berpose sedikit,” jawabku percaya diri.

“Dasar narsis,” balas Dan Ketus.

 Aku keluar dari kamar dan menuju ruang makan, aku belum sempat makan malam dan sekarang aku merasa sangat lapar. Untuk sampai ke ruang makan aku harus melewati ruang tamu.

Saat sampai di ruang tamu, aku melihat ibuku tertidur di atas meja dengan laptop yang masih menyala di depannya. Dia bekerja terlalu keras.

Aku menggoyangkan bahunya untuk bangun dan pindah ke kamar. Sesaat kemudian dia mengerjapkan matanya dan akhirnya bangun dari tidurnya.

“Bu, tidur di dalam, di sini dingin,” ucapku lembut.

“Ah ... oh, Danny, haha ... ibu ketiduran,” jawab ibuku sambil terkekeh sedikit.

Merentangkan kedua tanggannya ke atas lalu mulai berdiri. Setelah membereskan beberapa berkas dan laptopnya, dia berjalan menuju kamar. Membuka pintu kamar dan berjalan masuk, tapi sebelum dia masuk, dia berbalik dan menatapku lembut, “Habiskan makanan di meja ya.”

“YES MAAM!” ucapku keras sambil meluruskan tubuhku dan membuat posisi hormat dengan tangan kananku.

“Bagus.” Jawabnya sambil tersenyum kecil lalu menutup pintu.

Aku berjalan menuju meja makan, duduk di kursi lalu mulai menyantap makanan buatan ibuku. Ibuku memang yang terbaik. Ayam goreng yang dia masak renyah di luar tapi lembut di dalam. Nasi yang dia masak memang menggunakan beras seperti biasanya, namun entah mengapa terasa lebih gurih dan enak. Sayur yang dia masak terasa segar.

Selesai makan, aku kembali menuju kamarku. Berjalan santai sambil bersenandung pelan. Sampai di depan kamar, aku membuka pintu kamar lalu masuk. Menuju tempat tidur dan mengambil handphone-ku. Ada pesan dari Alice.

Kira-kira ada apa ya? Jarang-jarang dia mengirim pesan malam-malam begini.

[Malam Danny, kamu lagi apa?]

Ah, ternyata dia Cuma menyapa. Aku rasa dia pasti sedang tidak ada kerjaan sampai-sampai dia mengirim pesan kepadaku.

[Malam juga Alice, aku lagi santai di kamar.]

Sangat cepat, Alice langsung membalas pesan.

[Eh, kamu tahu gak, katanya besok ada anak baru di kelas kita.]

[Aku baru dengar tuh. Cewek atau cowok?]

[Katanya sih cowo, Cuma masalahnya tuh....]

[Memangnya dia kenapa?]

[Aku gak tahu pastinya ya, tapi kata temanku dia itu sangat berbahaya.]

[Berbahaya bagaiamana?]

[Katanya dia itu anak dari ketua yakuza.]

[Wow.]

Hanya itu yang bisa aku ucapkan, aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Itu yakuza. Organisasi kriminal di Jepang. Anggotanya mulai dari kalangan preman jalanan hingga pengusaha berpengaruh juga. Kelompok yakuza itu tidak peduli dengan hukum yang ada, karena mereka hanya akan tunduk dengan hukum mereka sendiri.

[Bukan Cuma itu, kata temanku, dia juga playboy.]

Playboy? Sebagai anak seorang ketua yakuza dia pasti sangat kaya, jadi tidak heran dia bisa menggaet banyak gadis, dan mungkin juga dia memiliki paras yang tampan.

[Berapa pacarnya?]

[Ada tiga, tapi ketiganya juga sangat berbahaya.]

[Berbahaya bagaimana?]

Aku benar-benar penasaran dengan anak baru ini.

[Yang pertama, adalah seorang anak dari pemimpin mafia.]

Mafia? Bagaimana mungkin anak dari yakuza dan mafia bisa berpacaran. Ini benar-benar mencengangkan.

[Lalu, yang kedua?]

[Yang kedua adalah seorang putri dari pemimpin polisi.]

Ini benar-benar tidak masuk akal, anak yakuza dan polisi berpacaran. Kalau dengan mafia aku masih dapat mentolerirnya. Tapi ini adalah polisi. Kau tahu, ini polisi.

Aku menenangkan pikiranku sebentar, menarik napas lalu mulai mengirim balasan kepada Alice.

[Lalu bagaimana yang ketiga?]

Aku mengetuk-ngetuk dinding dengan jariku sembari menunggu balasan Alice. Tidak lama, balasan dari Alice datang.

[Yang terakhir adalah putri dari seorang pemilik toko kue.]

Huft, aku menghembuskan napas panjang setelah melihat balasan dari Alice. Setidaknya yang terakhir itu gadis normal, tidak seperti yang pertama dan kedua. Mereka benar-benar berbahaya dan bukan orang yang boleh kau singgung. 

Tiba-tiba, Alice kembali mengirim pesan padaku, tanpa ragu aku membukanya.

[Tapi aku dengar dia pernah meracuni pelanggannya dengan kue yang dia buat.]

Tidak normal, pacar dari anak baru itu sangat tidak normal. Aku tidak lagi penasaran, tapi malahan agak takut, membayangkan aku akan sekelas dengan pria berbahaya seperti itu membuat bulu kuduk ku merinding.

[Haha, dia populer ya,] balasku. 

Aku tidak tahu harus membalas bagaimana.

[Haha, Begitulah rumor yang aku dengar.]