Episode 1 - Aku Danny


Aku sering dibilang aneh karena aku bicara sendiri, biar aku luruskan, aku tidak berbicara sendiri, tapi aku berbicara dengan ‘aku’.

Terdengar sedikit aneh tapi itulah kenyataannya.

Di dunia ini ada sebuah fenomena supernatural dimana ada ‘sesuatu’ yang mencoba merebut kendali tubuhmu, dan biasanya saat itu terjadi maka sifat anak itu akan berubah. Yah tentu saja, karena roh sebelumnya telah lenyap dan ada roh baru yang mengambil alih tubuh itu, itulah yang ‘aku’ beritahu padaku.

Aku yang aku maksud adalah dia—roh yang saat itu, saat umurku sepuluh tahun, mencoba mengambil alih tubuhku ini.

“Hei, lihat tuh cewek di depan, pantatnya seksi banget.”

Suara itu adalah suara aku yang lain, terdengar dari dalam tubuhku, tapi tentu saja hanya aku yang bisa mendengar suara itu, karena saat ini akulah yang mengendalikan tubuh ini.

Sudah lama sejak saat itu, sejak dia mencoba merebut tubuhku, tapi tidak berhasil. Namun, aku juga tidak berhasil mengusirnya dari dalam tubuhku.

Jadi intinya, kita berdua, dua jiwa dengan kepribadian yang berbeda, berbagi tubuh yang sama.

Menjalani kisah hidup yang berantakan.


ENAM TAHUN YANG LALU.

Di sebuah lapangan luas pada musim panas. Aroma khas musim panas bisa aku rasakan bersama hembusan angin yang membuat hati dan tubuh menjadi hangat.

Pada hari ini, rasanya kulitku seperti terbakar oleh matahari, keringat tidak henti-hentinya bercucuran dan membasahi baju yang sedang aku kenakan, membuat aku tampak seperti sehabis mandi, angin yang berhembus tidak mampu mengalahkan kekuatan dari musim panas.

“Rock shoot.”

Seiring dengan berkumandangnya jurus, sebuah batu kecil terbang cepat menuju kaleng yang tertata rapi di sebuah meja dan dengan “bang” sebuah kaleng jatuh dari meja tersebut.

“Yeah... kena.”

Teriakan semangat memekikan telinga terdengar darinya, temanku, Rito.

Walaupun nama aslinya adalah Risky Tohir, sudah menjadi kebiasaanku memanggilnya Rito, dan diapun tidak memperdulikannya. Jadi, aku terus memanggilnya Rito. Dia tinggal tepat di sebelah rumahku, dengan kata lain tetanggaku dan karena itulah kita berteman, sesimpel itu.

Rito mengacungkan ketapelnya ke arahku, tersenyum lebar sambil berkata, “Sekarang giliranmu Dan.”

Namaku tentu saja bukan Dan, namaku adalah Danny Chandra. Namun, sebagai balasan aku memanggil dia Rito, dia memanggil aku Dan.

Aku memegang sebuah kerikil yang sudah aku siapkan sebelumnya, menempatkannya di tempat peluru dan menariknya, karet gelang yang telah dirajut memanjang dari ukuran aslinya, tanganku sedikit gemetar saat aku mulai menutup salah satu mata untuk mengincar salah satu kaleng yang ada di atas meja.

Segera, aku melepas pegangan dari tempat di mana aku menempatkan kerikil tadi dan “syut” kerikil terbang meninggalkan tempat peluru menuju ke arah kaleng.

Ini adalah kebiasaan kami berdua, kelak saat dewasa nanti kami ingin menjadi seorang anggota tentara, untuk itu, kami berdua berlatih menembak sejak saat ini, meskipun saat ini hanya ketapel.

Tapi, kami yakin suatu hari nanti kami akan memegang SS1 V1.

Kerikil tadi menyerempet salah satu kaleng, meskipun itu Cuma menyerempet tapi berhasil menjatuhkannya dari atas meja.

“Haha... berhasil.”

“Hoo~lumayan juga.”

“Apanya yang lumayan?”

“Hmm... saat diperang nanti coba kau pikirkan, bagaimana perbedaan antara tembakan yang menyerempet bahu atau mengenai jantung, mana yang lebih efektif?”

“...”

Dia benar-benar maniak militer, cita-citaku ini pun aku dapatkan karena terdoktrin dengan cerita heroik yang dia dapatkan dari internet, meskipun aku tidak terlalu percaya diri dengan kemampuan fisikku saat ini, entah kenapa aku juga ingin menjadi tentara. Doktrinnya benar-benar menakutkan.

Entah bagaimana jadinya jika dia adalah salah satu pendiri aliran sesat, aku rasa dia pasti bisa mendapatkan cukup banyak massa untuk menggulingkan kekuasaan sebuah negara.

 “Baiklah, akan aku coba lagi.”

Dengan begitu, latihan menembak dengan menggunakan ketapel ini terus berlanjut sampai sore hari.

Kulitku benar-benar terbakar sinar matahari, tapi meskipun kami sering melakukan hal ini. Namun, entah kenapa kulitku tetap putih bersih seperti giok, berbanding terbalik dengan Rito yang berubah menjadi coklat.

Ini, gen, kan?

Langit mulai berubah oranye dan dengan begitu berakhir pula latihan kami hari ini, dengan banyak percobaan, hasil akhirnya aku berhasil mengenai kaleng empat kali dan dua kali menyerempet tetapi berhasil menjatuhkannya. Sedangkan Rito berhasil menjatuhkan kaleng enam belas kali.

Dengan perut yang keroncongan karena lupa makan siang, aku dan Rito kembali menuju rumah.

Sesampainya di rumah, segera aku langsung membersihkan sekujur tubuhku dengan mandi lalu makan sepiring nasi dengan lauk sepotong paha ayam.

Itulah yang Rito sarankan padaku, untuk membuat tubuh yang ideal agar bisa menjadi tentara, aku harus banyak makan makanan berprotein.

Untuk itu, aku meminta ibuku untuk membuatkan makanan yang penuh protein. Tentu saja bukan hanya ayam, tapi juga makanan tinggi protein lainnya.

Tapi, tentu saja, untuk membentuk tubuh yang ideal tidak hanya butuh protein, tetapi juga butuh kalsium dari susu, makanan yang mengandung lemak sehat, segala jenis ikan-ikanan, kacang-kacangan dan tentu saja olahraga yang teratur.

Tidak terasa sudah pukul sembilan malam, ini adalah jam malamku, dengan begitu aku segera bergegas ke atas kasur lalu menarik selimut dan memejamkan mataku.

Entah jam berapa, tiba-tiba aku mendapat sebuah mimpi, di dalam mimpi tersebut aku berada di sebuah ruangan putih, dan aku di sini... telanjang. Tanpa sehelai benang menutupi tubuhku.

Aku melirik ke segala arah dari tempat ini.

Putih.

Tidak ada apapun di dalamnya.

Sekali lagi aku mencoba memastikan, tapi kali ini aku melihat bayangan hitam berada di hadapanku.

“Hei, kau siapa?”

“...”

“Dimana ini?”

“...”

“Ini Cuma mimpi, kan?”

“Aku akan merebut tubuhmu.”

Suara berat dan serak terdengar dari bayangan hitam itu dan dengan secepat kilat dia berlari menuju arahku.

Aku benar-benar ketakutan dan segera melarikan diri, tapi kemana? Aku tidak tahu, di sini benar-benar tidak ada apa-apa.

Tunggu, ini adalah mimpiku, kan? Apa tidak mungkin aku membuat sesuatu dari imajinasiku, lagipula inikan hanya mimpi.

Sambil berlari aku membayangkan sebuah senjata yang aku dan Rito dambakan, ya, SS1 V1.

Ini adalah senapan buatan Pindad yang mampu untuk menjebol rompi anti peluru milik USMC, itu terbukti saat uji setting senjata dalam rangkaian Latihan Rim of Pacific di Kaneohe Bay Marine Corps Base, Amerika Serikat.

Berhasil, sebuah SS1 V1 tercipta, aku membalikan badanku dan mengarahkan moncong dari SS1 V1 ke arahnya dan segera menekan pelatuknya, peluru melesat keluar mengarah pada bayangan hitam yang datang menerkamku.

Sebuah lubang tercipta di tubuhnya, tapi itu tidak menghentikan terkamannya. 

Dia masih menuju ke arahku dan membuka mulutnya kemudian menggigit pundak kiriku.

Tidak ada rasa sakit, tapi pundak kiriku, hilang—tidak, mungkin bisa disebut berpindah, pundak kiri yang dia gigit tercipta pada bayangan hitam itu sedangkan pundak kiriku berubah menjadi bayangan hitam.

Apa-apaan ini?

Kenapa dia menyerang aku?

Ini benar-benar mimpi buruk.

Benar, ini hanya mimpi, tapi masalahnya bagaimana caranya untuk bangun? Apakah aku harus mencubit pipiku sendiri di dunia mimpi ini? Tidak, itu tidak mungkin berhasil, jangankan mencubit, bahkan gigitan bayangan hitam itupun tidak dapat membangunkan aku.

Bayangan hitam itu kembali menerkamku dan sekali lagi aku menarik pelatuk SS1 V1, beberapa peluru melayang terbang menuju bayangan hitam itu dan kembali lubang tercipta pada tubuhnya tapi dia berhasil menerkam lengan kiriku lagi, kali ini pundak sampai lengan atas benar-benar berubah menjadi bayangan hitam sedangankan tubuh bayangan hitam itu mendapatkan bagian dari tubuhku yang dia serang.

Apa artinya ini? Apakah ini berarti aku akan mati saat dia benar-benar berhasil menyerang keseluruhan dari tubuhku? Dan tubuh bayangan hitam itu tetap berlubang karena seranganku, apakah itu berarti aku juga harus menyerang seluruh tubuh bayangan hitam itu? Tapi apakah aku bisa bertahan sampai aku bisa menyerang seluruh tubuh bayangan hitam itu dengan SS1 V1 ini?

Tidak mungkin.

Aku harus mendapatkan senjata one-hit-kill agar dapat menyelesaikanya dengan cepat.

Ah, bagaimana dengan bazoka? 

Aku membayangkan sebuah bazoka sembari menggunakan taktik run and attack, aku beberapa kali diserang lagi dan kali ini tangan kiriku benar-benar sudah berubah menjadi bayangan hitam, jika seperti ini terus pertarungan ini pasti akan menjadi pertarungan yang panjang, aku harus segera mendapatkan bazoka.

Tidak berhasil.

Kenapa? Kenapa tidak berhasil? Apa mungkin karena pemahamanku tentang bazoka tidak cukup untuk menciptakan bazoka di dalam dunia mimpi ini? Ah, mungkin itu sebabnya.

Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebelumnya aku pikir bayangan hitam itu akan mati dengan sebuah serangan dari SS1 V1 ini, ternyata aku harus menyerang keseluruhan bayangan hitam itu, jadi saat ini aku butuh senjata one-hit-kill dengan kekuatan yang besar seperti bazoka, tapi pemahamanku tentang senjata itu masih belum cukup untuk menciptakannya di dalam dunia mimpi ini.

Ah, seharusnya aku lebih memperhatikan apa yang Rito ceritakan.

Pertarungan ini masih terus berlanjut, dengan taktik run and attack yang aku lakukan, tapi ini tidak berguna, banyak lubang yang tercipta pada tubuh bayangan hitam itu. Namun, saat ini bagian kiri tubuhku sudah menjadi miliknya.

Entah berapa lama ini sudah terjadi, di sini aku tidak merasakan sakit atau lapar, jadi aku tidak tahu sudah berapa lama, mungkin sekitar tiga hari.

Pertarungan tidak adil ini benar-benar merugikan aku.

Bebarapa saat kemudian bayangan hitam itu berhenti menyerang.

Apa yang terjadi? Dia lelah?

“Aku berubah pikiran.”

kemudian dunia putih ini benar-benar menghilang dan aku membuka kelopak mataku.

Aku bangun dari mimpi buruk ini.

Saat aku terbangun aku merasa sakit pada mata karena hantaman sinar matahari dari jendela, aku menutup cahaya itu dengan tanganku dan perlahan bangkit.

Aku mengamati sekitar, sebuah infus terpasang pada tangan kananku dan ada beberapa buah-buahan tersedia di meja dekat kasur tempat aku tidur ini.

Ini bukan rumahku, ini sepertinya rumah sakit, tidak, ini pasti rumah sakit.

Berapa lama aku sudah tertidur?

“Hei, siapa namamu?”

Sebuah suara terdengar, aku melirik ke sekeliling tapi tidak menemukan sosok siapapun. 

Siapa itu?

“Kenapa kau mencari? Aku adalah kau, aku ada di dalam tubuhmu.”

Hah? Sebenarnya suara siapa itu? Apakah itu si bayangan hitam?

Aku tidak tahu itu suara siapa tapi aku tetap menjawabnya.

“Aku Danny.”