Episode 441 - Anak Durhaka



Di tempat berbeda, beberapa saat sebelumnya. 

Suasana puncak Gunung Girinagar demikian tenteram. Angin malam itu berhembus sepoi-sepoi, membawa embun air yang menjadi sumber kesuburan tetumbuhan. Angin juga bergerak tangkas di antara bebatuan, menciptakan alunan tembang yang tiada merdu, namun memiliki kesaktian untuk menenangkan jiwa dan raga. 

Di atas sebongkah batu berukuran raksasa, seorang lelaki tua duduk bersila dalam tapa. Rambut dan janggutnya putih dan lebat, tumbuh kusut tiada terawat. Tubuhnya yang kurus kering hanya dibalut cawat lusuh, sehingga terlihat jelas jajaran tulang rusuk yang hanya dibalut kulit kusam. Dadanya naik turun, namun dalam irama yang sangat teratur. Tampaknya kesejukan puncak gunung tiada mempengaruhi. 

Tetiba kelopak mata lelaki tua itu membuka. Kepalanya mendongak dan kedua bola matanya membesar tatkala menyaksikan sang rembulan purnama memperbaiki diri. Sebentuk senyuman lega menghias di sudut bibir yang kering dan keriput. 

“Yang Mulia Basudewa Krishna, sungguh sebuah kehormatan dapat bersua dikau di tempat ini…” Suara menegur datang dari arah belakang. 

Lelaki tua itu memutar tubuh. Ia mendapati seorang lelaki setengah baya bertubuh besar lagi gagah. Sekujur tubuhnya berbalut zirah perang nan megah dan aura yang terpancar dipenuhi nuansa kewibawaan. Tokoh ini sangat tersohor dan dikenal sebagai Pitamaha Bhisma Putra Gangga. Kendatipun demikian memiliki bermartabat tinggi, di hadapan lelaki tua itu sang Panglima Perang Kurawa menundukkan kepala memberi hormat. 

“Sungguh dikau keliru, wahai ksatria yang gagah perkasa…,” tanggap sang kakek tua dengan nada datar. “Diriku hanyalah penggembala sapi. Orang-orang memanggilku sebagai Govinda…”

“Beribu-ribu ampun hamba memohon jikalau telah melakukan kekeliruan. Sepengetahuan hamba, Govinda merupakan julukan Basudewa Krishna ketika beliau kecil dan berperan sebagai penggembala sapi…” Kendati meminta maaf, tak terlihat penyesalan dari raut wajah Pitamaha Bhisma Putra Gangga. 

Kakek Govinda memicingkan mata, namun tatapannya melewati pakaian zirah, menembus raga, hingga mencapai jiwa. Sungguh dia dapat menyaksikan langsung jiwa yang menumpang di dalam raga Pitamaha Bhisma Putra Gangga.

“Dikau pernah bertandang ke dunia ini…,” tanggap Kakek Govinda mengingat-ingat. 

“Jiwa yang menumpang di dalam raga ini bernama Tantular…,” tanggap Pitamaha Bhisma Putra Gangga kembali menundukkan kepada.

“Oh…? Aku ingat. Kau pemuda yang gemar menulis…? Kau sudah tumbuh dewasa…”

Pitamaha Bhisma Putra Gangga membalas dengan sebentuk senyuman. Sudah ratusan tahun berlalu sejak jiwanya pertama kali datang ke dunia ilusi Mahabharata. Pengetahuan yang dia peroleh kala itu menjadi tonggak dalam meniti jalan keahlian, bahkan membuat dirinya meraih gelar Jenderal Keempat Pasukan Bhayangkara. (1)

“Apa yang membawamu kembali…?” Kakek Govinda melanjutkan. 

“Diriku datang karena hendak mengucapkan terima kasih sekaligus mempelajari tentang penciptaan…” 

Kakek Govinda tiada menanggapi. Ia hanya mengamati dalam diam.

“Diriku mengetahui bahwa di dunia ilusi ini, hanya dikau seorang wahai Govinda, Basudewa Krishna yang asli, merupakan satu-satunya manusia bukan ilusi. Bahkan, menurut hemat hamba, adalah dikau yang menciptakan dunia ilusi ini demi mencegah kedatangan bangsa iblis, demi melindungi sekaligus mendidik anak keturunan dikau agar tumbuh perkasa.”

Selain Ashtabharya, atau delapan istri utama, diketahui bahwa Basudewa Krishna mempunyai 16.000 istri lain. Benar. Enam belas ribu istri! Basudewa Krishna dikatakan memiliki kesaktian untuk membagi diri dan hidup bersama-sama dengan setiap satu istri. Bila itu benar, maka bukan tak mungkin bahwa keturunannya saat ini masih hidup, bahkan bisa saja merantau sampai ke Negeri Dua Samudera. Para bangsawan Syailendra, misalnya, diketahui berasal dari Anak Benua dan kini bercampur-baur serta beranak-pinak di Negeri Dua Samudera. Jika silsilah mereka dirunut, maka besar kemungkinan bahwa mereka salah satu keturunan Basudewa Krishna! 

“Sudikah kiranya dikau mengajarkan tentang penciptaan…?” ulang Pitamaha Bhisma Putra Gangga, alias Mpu Tantular alias Jenderal Keempat Pasukan Bhayangkara alias Si Kutu Buku. 

Kakek Govida tersenyum. Jemari telunjukkan mengacung kepada sebatang pohon besar di kaki gunung. “Apakah dedaunan yang terlahir kala musim semi tak akan mengering dan jatuh di musim gugur…? Dengan kelahirannya yang menyerap sinar mentari, dan kemudian memutar irama lalu menari diiringi hembusan angin… Ketika badai mengguncang setiap helai daun di pohon, maka dedaunan mencoba untuk bertahan pada dahan serta rantingnya, dan ketika dedaunan mulai menguning, mereka pun akan jatuh dengan sendirinya. Penciptaan sama seperti pohon besar itu, dan setiap manusia, hewan dan juga tumbuhan ibarat dedaunan yang tumbuh kemudian jatuh dari ranting pohon. Mereka sudah pasti mati tapi selama melekat pada pohon, sangat utama bagi mereka untuk melalui perjuangan dan mencapai kedamaian…” 

Khalayak ramai, orang awam, apalagi para ahli baca yang mudah tertipu muslihat, tentu sulit mencerna makna di balik kata-kata Kakek Govinda alias Basudewa Krishna yang asli. Berbeda halnya dengan Mpu Tantular yang terlihat seolah mencapai pencerahan. Sadar bahwa pertanyaannya ditanggapi, tokoh tersebut hendak melontarkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan… “Daur kehidupan…”

Akan tetapi, belum rampung kalimat meluncur dari mulutnya, tetiba seluruh dunia ilusi itu seolah berputar deras. Siang dan malam berkelebat silih berganti. Aliran waktu berlangsung cepat. Jiwa-jiwa melayang keluar meninggalkan raga yang ditumpangi…

Kakek Govinda adalah satu-satunya tokoh yang tiada terpengaruh oleh percepatan aliran waktu. Ia menghela napas panjang dan memejamkan mata, lalu kembali larut dalam tapa. Sebagai sang pencipta dunia ilusi tersebut, ia menyerap dan menyimpan tenaga murni yang bertebaran di alam. Tak ada yang mengetahui bahwa untuk menciptakan dunia ilusi nan teramat rinci, dibutuhkan kemampuan mata hati super tinggi serta tenaga murni nan berlimpah. 

Persiapan untuk menyusun dunia ilusi berikutnya sudah dimulai. Dia atas sebongkah batu di atas gunung, lelaki tua itu melalui hari-hari dalam kesendirian.


===


Suasana hening. Raja Bangkong IV menatap wajah Balaputera Samara, pindah kepada Balaputera Sukma, lantas beralih kembali kepada Balaputera Samara. Akan tetapi, perasaan sangat tak nyaman menghantui sang penguasa Kerajaan Siluman Gunung Perahu sehingga membuat bulu kuduk merinding, darah berdesir serta jantung berdebar-debar. Bagaimana tidak, betapa pun dia mencoba mengabaikan, tatapan mata Mayang Tenggara seolah dapat menyayat-nyayat jiwa dan raga. 

“Jadi, Khandra adalah anak didik Wira…” Suara yang datang dari Balaputera Sukma menetas keheningan. “Sungguh diriku ingin bersua dengannya.”

Mayang Tenggara mengangguk pelan. Ia lantas menatap kepada Balaputera Samara. Sorot mata istri Balaputera Ragrawira itu tiada mampu menyembunyikan raut wajah bersalah. 

“Adinda Mayang,” sapa Balaputera Samara. “Janganlah khawatir apalagi merasa bersalah. Khandra sudah tumbuh dewasa dan diriku percaya kepada keputusannya. Selain itu, kini diriku lega mengetahui setelah meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang Khandra tak mengambil keputusan yang salah hingga terjerumus ke jurang kejahatan. Terlebih lagi, dia berada di bawah bimbingan Wira.” 

Andai saja Bintang Tenggara mendengarkan kata-kata Balaputera Samara, maka kemungkinan besar dia akan menentang habis-habisan pandangan seperti itu. Di mata Bintang Tenggara, Guru Muda Khandra merupakan tokoh penipu bin licik bin culas. Balaputera Samara menutup kata-katanya dengan sebentuk senyuman yang demikian meneduhkan.

“Brak!”

“Yang Mulia…” Balaputera Samara bergegas mendekati Raja Bankong IV yang jatuh terjengkang dari bangku tempat dia bersandar! 

“Kau…” Mayang Tenggara menyentak dan menarik lengan rekannya. “Tak bisakah kau berperilaku wajar!?”

“Jadi, adalah Khandra yang kemungkinan besar dapat memberikan titik terang atas permasalahan ini…,” simpul Balaputera Sukma. Sepertinya hanya dia seorang yang mencoba mengurai benang merah kusut seputar putra bungsunya. 

“Belum tentu…,” sela Mayang Tenggara. 

“Maksudnya…?”

“Wira tak pernah berbagi pengetahuan secara utuh,” tanggap Mayang Tenggara.

“Bukan berarti kita patut mengabaikan pengetahuan Khandra.”

“Soal itu…,” Balaputera Samara menengahi, namun nada suaranya meragu. “Setelah menyaksikan langsung keadaan Wira…”

“Ada apa…?” tanggap Balaputera Sukma. 

“Keadaanya sangat mirip dengan keadaan mendiang suamiku saat pertama kali kami bertemu…”

“Maksudnya…?” Mayang Tenggara ikut tak sabar. 

“Mendiang suamiku merupakan pelarian akibat perebutan kekuasaan di tanah kelahirannya. Kendati raganya lemah akibat racun, akan tetapi jiwanya bebas berkelana meninggalkan raga.”

“Apakah kemampuan yang mirip dengan para ahli di dalam Alas Roban…?” aju Mayang Tenggara. Sebagaimana diketahui, para ahli di dalam hutan angker Alas Roban dapat mengendalikan raga binatang siluman dalam rangka bertarung. Akan tetapi, kemampuan tersebut bukanlah berpindah jiwa. Teknik yang digunakan dikenal sebagai Pumpun Mustika. (2)

“Sangat berbeda. Kemampuan mendiang suamiku benar-benar mampu melepaskan jiwa dari raga. Jiwanya juga tak memerlukan raga makhluk lain untuk ditumpangi…” 

Mayang Tenggara dan Balaputera Sukma saling pandang. Seberkas titik terang mengemuka. 

“Apa yang dilakukan setelah melepaskan jiwa dari raga?” lanjut Mayang Tenggara. 

“Jiwa yang melepaskan diri dari raga dapat leluasa bergerak, termasuk bertarung.”

“Jikalau demikian adanya, maka kemungkinan besar kemampuan tersebut dapat menelusuri keberadaan jiwa yang meninggalkan raga…,” tukas Balaputera Sukma.

“Dan setelah kuingat-ingat, mendiang suamiku juga pernah mengatakan dirinya sempat dikunjungi Wira. Bahwasanya Wira sangat tertarik untuk mempelajari kemampuan di mana jiwa dapat berkelana meninggalkan raga…”

Mayang Tenggara tersandar. Sungguh sang suami terlampau banyak memendam rahasia. 

“Dari mana asal mendiang suamimu…?” Balaputera Sukma tampaknya ingin menelusuri lebih jauh. 


===


Lancang Kuning melesat dengan kecepatan maha dahsyat! Bintang-bintang di langit tinggi bergeser dalam gerak lambat, akan tetapi lautan dan daratan bergerak sangat cepat sehingga terlihat kabur. Tak lama kemudian, alat angkutan yang membawa para ahli tiba di Sungai Sari Madu.

Di bantaran sungai, ramai ahli yang menanti. Jumlah mereka dua kali lipat dari sebelumnya dan tak terbatas pada Kasta Perak. Sebagian besar merupakan keluarga bangsawan dan pembesar perguruan. Mereka menyambut kepulangan anak, murid, saudara, bahkan kekasih hati. Kesemuanya tak sabar mendengar ceritera petualangan, suka dan duka, serta pelajaran berharga yang didapat. Yang lebih penting lagi, mereka menanti apakah ada yang membawa pulang senjata pusaka! 

Kesempatan menyaksikan keberadaan senjata pusaka yang dibawa pulang sangatlah langka. Bahkan, dalam beberapa ratus tahun ke belakang, tiada satu pun ahli yang berhasil membawa pulang senjata pusaka dari dunia ilusi Mahabharata. 

Bintang Tenggara bergegas melompat turun dari geladak perahu perang. Menempel ketat di belakang adalah Lintang Tenggara yang dibalut amarah. Kurang jelas mengapa dia marah, namun tampaknya pertarungan antara kakak dan adik tak dapat dibendung!

Di lain sisi, sesaknya kerumunan ahli di bantaran sungai menghambat langkah Bintang Tenggara. Dia menoleh ke belakang dan menyaksikan Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga pun telah tiba di bantaran sungai. Sudut matanya kemudian menangkap keberadaan rombongan dari Padepokan Kabut dengan Embun Kahyangan melangkah paling depan, lantas diikuti oleh seorang kakek tua bertubuh ringkih yang melangkah gontai di antara gadis-gadis lain. Sungguh kakek tua renta yang aneh. 

Lintang Tenggara semakin mendekat. “Adik durhaka! Jangan lari!” sergahnya. 

“Petaka Perguruan! Ada Petaka Perguruan dari Pulau Dewa!” pekik Bintang Tenggara sekuat tenggorokannya seketika tiba di tengah-tengah khalayak ramai. Bukan dia tak berani berhadapan dengan tokoh yang mengejar, namun sungguh tak ada gunanya meladeni orang gila. Mubazir!

Suasana berubah gaduh, sementara segenap ahli menoleh ke kiri dan ke kanan. Khususnya bagi para wakil perguruan, mereka mencari-cari tokoh mana yang dimaksud sebagai Petaka Perguruan. Bilamana dapat menangkap Petaka Perguruan tersebut, tentu saja merupakan jalan pintas untuk mengangkat derajat menjadi tokoh kenamaan.  

Raut wajah Lintang Tenggara berubah kecut saat terpaksa memperlambat langkah. Dia berupaya keras agar gerak-geriknya tak menarik perhatian dan menimbulkan kecurigaan. Namun terlambat, karena sejumlah ahli mulai mengerumuni. Seberapapun tangguhnya dia, akan sangat menyulitkan bagi Lintang Tenggara bila harus berhadapan dengan demikian banyak ahli secara bersamaan. 

“Lintara! Balaputera Lintara!” Tetiba terdengar teriakan memanggil. “Kemarilah!”

Lintang Tenggara dan Bintang Tenggara mengenal betul suara yang memanggil itu. Tak lain dan tak bukan, datangnya dari Balaputera Khandra. Sebentuk senyuman menghias di sudut bibir tokoh tersebut. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau ia lampaui. 

Mendengar nama depan Balaputera diutarakan, segenap khalayak yang hendak mengerumuni Lintang Tenggara sontak membubarkan diri. Tak seorang pun mau tersalah langkah bilamana berurusan dengan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Kendatipun demikian, demi mencegah hal-hal yang tiada diinginkan Lintang Tenggara terpaksa berpura-pura menanggapi panggilan Balaputera Khandra. 

Tak terlalu jauh terpisah, Bintang Tenggara muak bukan kepalang menyaksikan senyuman pada wajah Balaputera Khandra. Tokoh tersebut hanya terkesan membantu, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Entah muslihat apa yang sedang dia kemas! Bintang Tenggara meneruskan langkah. Cukup sudah baginya mengikuti Balaputera Khandra. Tak akan lagi! 

“Kau hendak ke mana, wahai anak didik kebanggaanku…?” Suara menyapa datang melalui jalinan mata hati. 

“Tidak ke mana-mana,” sahut Bintang Tenggara dingin. Hatinya tetiba bertambah sebal. 

“Ada apa dengan dia…?” lanjut Komodo Nagaradja

“Tampaknya sedang kesal,” sahut Ginseng Perkasa. 

Kedua jiwa dan kesadaran telah kembali seperti sedia kala. Keduanya pun terdengar puas dengan hasil petualangan mereka di dunia ilusi Mahabharata. 

Di bantaran sungai, rombongan Sanggar Sarana Sakti mendapat sambutan meriah, sedangkan rombongan Persaudaraan Batara Wijaya sigap memisahkan diri untuk seterusnya kembali ke perguruan mereka. Kehilangan jejak Bintang Tenggara, Lintang Tenggara memutuskan untuk kembali saja ke Partai Iblis. 

Di hadapan sebuah prasasti batu nan tersembunyi, Lintang Tenggara merapal formasi segel. Akan tetapi, belum rampung dia membuka lorong dimensi ruang, sontak jantungnya berdebar kencang dan bulir-bulir keringat berukuran biji jagung membasahi pelipis dan kening. Hari yang selama ini ia hindari, akhirnya tiba jua. 

Langkah kaki terdengar datang dari arah belakang. Tanpa perlu menoleh, Lintang Tenggara menyadari kehadiran seorang perempuan dewasa. Hari nahas telah tiba, batinnya mempersiapkan diri.

Perempuan dewasa itu lantas membuka mulut. Kata-kata nan pedas meluncur tanpa hambatan. “Anak durhaka, tiba waktunya engkau menebus dosa. Aku memiliki pekerjaan untukmu….” 



Catatan:

(1) Disinggung Dalam Episode 333 dan Episode 401

(2) Episode 141