Episode 122 - Debut



Banyak hal rumit yang mungkin tidak dapat pernah dipecahkan oleh manusia, salah satunya adalah tentang perasaan.

Bisa saja kau mencintai seseorang saat ini, tapi keesokan harinya tak lagi cinta.

Bisa saja kau membenci seseorang saat ini, tapi keesokan harinya tak lagi benci.

Begitu mudah berubah, semudah membalikkan telapak tangan.

Kecuali, terdapat keyakinan dan iman yang kuat di dalam hati.

°°°


Sebelumnya, seperti biasa Dewa akan melakukan patroli di jalanan untuk menegakkan keadilan di dalam hatinya. Karena semakin lama waktu berlalu, keadilan semua orang hanya permainan kepentingan semata saja saat ini.

Jika hal itu menguntungkan baginya, maka seseorang akan memperjuangkan keadilan tersebut, tapi jika merugikannya maka keadilan itu menjadi musuh baginya.

Makna suci keadilan tak lagi suci. Baginya, sesuatu yang lebih bencana alam adalah keadilan yang disalahgunakan.

Karena itu harus ada yang berdiri untuk menjadi tiang penopang keadilan, seseorang yang di anggap sebagai simbol agar keadilan bisa berdiri tegak tanpa takut jatuh meskipun di dorong oleh satu juta pasukan.

Namun, hal itu sangat sulit dan bisa dibilang mustahil. 

Yah, walaupun sebenarnya Dewa belum pernah bertemu dengan kejadian seperti itu sebelumnya.

Di suatu siang ketika Dewa sedang berpatroli, dia menemukan pecahan tajam di jalan, karena dia merasa bahwa pecahan itu akan membahayakan orang lain jadi dia mengambil pecahan itu dan ingin membuangnya.

Tapi hal yang aneh terjadi, sesaat setelah dia menyentuh pecahan tersebut, tiba-tiba saja pecahan itu menghilang dari jari-jarinya dan seolah-olah mencair dan masuk ke dalam tubuhnya. Pada saat itu Dewa sedikit panik, tapi beberapa hari ke depannya Dewa tidak merasakan hal-hal aneh yang terjadi dalam tubuhnya, jadi dengan berlalunya waktu kekhawatiran itu menghilang dengan sendirinya.

Namun, hal aneh terjadi, pada suatu waktu tiba-tiba saja dia bisa merasakan aliran listrik mengalir di ujung jarinya ketika berpikir alangkah indahnya jika dia bisa mengisi baterai smartphone-nya yang telah habis.

Pada awalnya dia mengira ada yang salah dengan smartphone-nya karena tiba-tiba saja terisi penuh. Namun, setelah percobaan berkali-kali akhirnya Dewa menyadari, dia mempunyai kemampuan.

Pada mulanya Dewa masih tidak tahu bagaimana mengendalikan kekuatan ini, tapi setelah pelatihan yang rajin, Dewa akhirnya mampu mengendalikan sebanyak apa listrik yang ingin dia keluarkan dari dalam tubuhnya.

Dengan kekuatan ini, tumbuh rasa tanggung jawab dalam diri Dewa, dari saat itu patroli yang dia lakukan hanya setiap minggu sore berubah menjadi setiap hari. 

Dan akhirnya hari pertama debutnya akan dimulai dari berandalan yang kini berada di depannya. Meskipun Dewa tidak tahu dari mana asal berandalan itu sehingga orang-orang yang lewat enggan membantu gadis yang tampak menyedihkan tersebut, tapi Dewa tidak peduli.

Keadilan harus ditegakkan.

Dengan gerakan santai Dewa mengambil tongkat besi tipis dari pinggangnya lalu menariknya dan akhirnya berubah menjadi sepanjang 1 meter. Tongkat ini terlihat lemah dan akan patah dengan mudah, tapi Dewa tidak peduli, karena yang harus dia lakukan hanya menyentuhkan tongkat tersebut ke musuhnya dan mengalirkan listrik melalui tangannya, maka tidak akan ada selanjutnya.

"Aku peringatkan sekali lagi, lebih baik kau pergi dan tidak ikut campur dalam urusan kami." Ucap seorang berandalan seraya menghembuskan asap rokok dan memandang Dewa dengan jijik.

Dewa memicingkan matanya dan melihat berandalan tersebut dengan mata penuh penghinaan. "Aku tidak akan tinggal diam pada ketidakadilan di depan mataku."

"Hahaha, ketidakadilan? Kau pikir kau siapa? Superman? Batman?"

"Sadarlah, ini dunia nyata, pahlawan-pahlawan yang ada di film semuanya palsu dan hanya fiksi."

"Bangunlah dari mimpimu dan sadar, ini dunia nyata."

"Cepat pergi dari sini, ini tidak ada hubungannya denganmu!"

Tanpa mengatakan apapun Dewa langsung bergegas maju, tongkat besinya dengan cepat menuju berandalan terdekat dan kemudian dengan sentuhan ringan Dewa langsung mengalihkan listrik pada tongkat besi tersebut. 

Berandalan itu langsung terjatuh dan tubuhnya mengejang tak terkendali. Melihat Dewa yang menyerang temannya, berandalan lainnya langsung marah dan maju untuk menyerang Dewa.

Melihat gerakan berandalan yang persis seperti amatiran, Dewa langsung mendengus dan mendorong tongkat besinya. Dengan sentuhan ringan lainnya listrik langsung mengalir dan membuat mereka yang terkena serangan Dewa langsung mengejang seperti orang sebelumnya.

"Sialan kau!" 

Seorang berandalan lainnya melesatkan tinjunya dengan ganas, tapi Dewa dengan mudah menghindari serangan itu dan langsung menggerakkan tongkat besinya dan kejadian seperti sebelumnya terulang lagi.

Satu persatu berandalan itu runtuh dengan tubuh yang mengejang dan hanya tersisa dua berandalan yang tersisa.

"Sial! Apa-apaan kau ini, padahal ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu!" teriak seorang berandalan dengan marah sambil menyerang Dewa, tapi lagi-lagi serangan itu dengan mudah Dewa hindari dan kemudian tongkat besinya kembali menjalankan tugas sucinya.

"Ketika ketidakadilan berada di depan mataku, aku pasti akan ikut campur." Ucap Dewa dengan tenang.

"Ketidakadilan? Apa yang kau maksud? Kami hanya mau menagih hutang, apa yang salah dari menagih hutang? Dasar gila!" teriak seorang berandal terakhir.

"Hah?" Dewa langsung membeku ketika mendengar teriakannya. "Jadi kalian ingin menagih hutang ke wanita itu."

"Ya, sialan! Dan kami tahu ini adalah hari gajiannya, jadi kami langsung meminta padanya, tapi dia tidak mau membayar hutangnya." Teriaknya dengan suara memekik.

"Apakah benar?" tanya Dewa pada gadis yang kini terduduk tidak jauh dari mereka.

"Y-ya, tapi aku sudah bilang pada mereka bahwa aku pasti akan membayarnya bulan depan, dan uang gajianku bulan ini untuk membayar hal lain." Teriak gadis itu sambil melotot, keberadaan Dewa di sini membuat nyali gadis itu melayang hingga ke Venus.

"Sial, kau sudah mengatakannya hal itu berkali-kali, tapi apa yang terjadi, kau tidak pernah membayarnya!" balas berandalan dengan marah.

"Ini yang terakhir kalinya, aku berjanji bulan depan pasti akan melumat hutangku." Ucapnya tidak mau kalah.

"Aku tidak percaya ucapan rubah pembohong sepertimu, intinya hari ini kau harus membayar semua hutangmu." Balas berandal dengan pandangan jijik.

"Tidak mungkin, ada tas yang ingin aku beli." Ucap gadis itu dengan tegas.

"Sial! Dasar rubah, aku tidak peduli dengan tas atau apapun yang ingin kau beli, yang terpenting adalah kau harus membayar hutangmu." Bentaknya, jelas dia sangat marah setelah mendengar alasan tidak masuk akal gadis tersebut.

"Bukannya sudah aku katakan dari tadi, aku pasti akan membayarnya, tapi bulan depan." Gadis itu tidak mau kalah, baginya tas diskon itu lebih penting daripada membayar hutangnya.

Pemikiran gadis itu sangat sederhana, sebelumnya dia menangis tersedu-sedu agar mereka bersimpati padanya dan berkompromi untuk bisa membayar hutangnya bulan depan dan akhirnya dia bisa membeli tas idamannya, akan tetapi ternyata mereka tidak melakukan itu, namun Dewa datang dan mencoba menyelamatkannya, meskipun awalnya dia sangat skeptis karena perbedaan jumlah, tapi kini dia percaya diri setelah melihat kekuatan Dewa. 

Meskipun semua ini tidak sesuai rencananya, tapi yang terpenting adalah hasilnya sama saja.

Sebuah ide yang tidak masuk akal, tapi apa boleh buat, tidak masuk akal adalah salah satu keistimewaan wanita.

Seperti dalam kasus lain ketika seorang pria akan mengajak makan seorang wanita. Ketika ditanyakan mau makan apa, kebanyakan dari mereka akan menjawab dengan satu kata 'Terserah' tapi setelah mereka makan di tempat pilihan sang pria, ada saja tingkah wanita yang mengkodekan bahwa dirinya tidak puas.

Setelah mendengar 'obrolan' tidak ramah antara berandal dan gadis itu, kurang lebih Dewa bisa mengerti poin cerita yang sedang terjadi.

Pertama adalah gadis itu berhutang kepada para berandalan tapi tidak mau membayar berkali-kali entah dengan alasan apa saja, jadi berandalan itu datang dan memaksa gadis itu membayar hutang ketika hari gajiannya tiba, tapi gadis itu masih berdalih tidak mau membayar hutang dengan alasan yang sangat indah yaitu ingin membeli tas dan berjanji akan membayarnya bulan depan, tapi para berandalan tidak percaya.

Namun, tiba-tiba Dewa datang dan 'mengganggu' keseluruhan cerita. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dari apa yang dia lihat itu adalah ketidakadilan baginya, jadi dia langsung bertindak dan menghancurkan para berandal, tapi setelah mendengar alasan dibalik kenapa semua ini terjadi ... Dewa ingin mencari lubang dan bersembunyi di dalamnya.

"Maaf!" ucap Dewa sambil menundukkan kepalanya, dia sangat malu hingga wajahnya memerah.

"Nah, sialan! Kini kami yang mengalami ketidakadilan, kau harus membelanya, bukankah begitu, pahlawan?" ucap berandal itu sambil menekankan bagian  akhir dengan sinis.

"Ya." Balas Dewa dengan lembut.

Debut kasus pertama di patrolinya benar-benar memalukan, kesalahpahaman karena tidak mengetahui seluk beluk cerita yang sebenarnya dan hanya melihat apa yang terjadi di tempat perkara membingungkan penilaiannya.

"Jadi, nona ini, sebaiknya kamu membayar hutangmu dulu dan membeli tasnya bulan depan, bagaimana?" tanya Dewa dengan senyum masam.

"Kau ... Tidak, aku tidak mau, khusus bulan ini ada diskon besar-besaran, jika bulan depan maka gajiku tidak akan cukup untuk membayarnya." Balas gadis itu dengan sengit.

"Ini..." Dewa benar-benar terdiam setelah mendengarnya, pemikirannya benar-benar tidak masuk akal dan tidak mau berkompromi. 

"Kalau begitu, bagaimana kalau gadis ini membayar hutangnya bulan depan saja?" tanya Dewa seraya menoleh ke berandal yang berdiri dengan marah di belakangnya.

Berandalan itu mengela nafas lalu tersenyum kecut, "bukannya aku tidak mau berkompromi, tapi ini adalah tugas dari atasan." 

"Huh..." 

Dewa mengambil langkah tegas dan memegang tongkat besinya dan mendekati gadis itu.

"Kau ... apa yang ingin kau lakukan? Jangan mendekat, pergi!" jerit gadis itu setelah melihat Dewa perlahan mendekatinya.

Namun Dewa tidak memedulikannya, kemudian dia mengarahkan tongkat besi itu dengan lembut, lalu semburan listrik menjalar dan membuat gadis itu kejang seperti ikan yang keluar dari air, bahkan rambut panjangnya kini terlihat seperti sapu ijuk, Dewa sedikit kehilangan kontrol kekuatannya karena kesal.

Bagaimana tidak, debut pertamanya menjadi kejadian memalukan seperti ini, tidak mungkin Dewa tidak merasa sangat kesal sekaligus sedih.

"Nah, kau bisa mengambil uang senilai hutangnya." Ucap Dewa tak berdaya.