Episode 121 - Dewa



Apa yang paling berharga di dunia ini? 

Kekuasaan?

Kekayaan?

Kesehatan?

Kedamaian?

One Piece?

Jawaban setiap orang tidak selalu sama, karena setiap orang memiliki pandangan mereka masing-masing. Mustahil untuk menyatukan pendapat semua orang, akan selalu ada orang yang menentang sebuah gagasan atau ide.

Namun, dengan begitu banyak pilihan, hidup menjadi lebih berwarna. Di dunia yang hanya sementara, warna-warni itu sangat terang menghiasi kehidupan.

Tanpa warna tersebut, apa artinya hidup?


°°°


Kemenangan mudah dari Dedy membuat kepercayaan diri Lin Fan menjadi semakin kokoh. Dengan santai Lin Fan berjalan keluar dari arena. Sorak-sorai penonton mengiringi kepergiannya. Tepuk tangan yang meriah tersebut adalah penghargaan paling hebat.

Uang dan semacamnya tidak terlalu berarti bagi Lin Fan, dia hanya ingin pengakuan. Bukan berarti dia gila hormat, dia hanya ingin diakui. Penghinaan yang sering dia dapatkan membuatnya haus akan kehormatan.

Bukan salahnya menjadi seperti itu, setiap orang akan selalu menginginkan apa yang tidak mereka miliki.

Orang miskin menginginkan harta benda.

Orang sakit menginginkan kesembuhan.

Orang jomblo menginginkan kekasih.

Tidak ada yang salah dengan hal itu, karena sesuatu yang jauh, sesuatu yang sulit diraih, adalah sesuatu yang sangat berharga.

Setelah kepergian Lin Fan, sorak Sorai penonton masih belum surut, Meraka masih dalam kondisi penuh semangat untuk menyaksikan pertandingan berikutnya. 

Di pertandingan berikutnya yang akan bertarung adalah Hector yang akan melawan Gary. 

Dengan penuh keangkuhan Hector berjalan menuju arena. Dia kini telah penuh semangat untuk pertandingan ini, karena jika dia berhasil mengalahkan Gary maka dia bisa menghadapi Lin Fan lagi.

Sampah tak berguna yang telah membuatnya malu dibabak grup dengan mengalahkannya telak. Kini dia penuh kebencian dan penantian untuk membalas dendam ini.

Seperti yang seseorang bilang, layaknya cinta, kebencian juga harus dibalas.

Meskipun sudah merasakan betapa kuatnya Lin Fan, tapi Hector menolak untuk percaya bahwa sampah itu telah berubah dari ulat menjadi naga. Menurutnya, ulat akan selalu menjadi ulat, dan hanya naga sepertinya yang layak untuk terbang tinggi ke langit dan mendapatkan rasa kagum dari semua orang.

Kepercayaan diri itu bukan tanpa sebab. Sejak kecil, Hector selalu dipuji karena bakatnya. Di tempat dia berlatih bela diri juga Hector adalah yang terbaik. Jadi, kekalahannya dari sampah yang tak berguna membuat Hector sangat marah. 

Dari lorong lain, seorang pria dengan tampang kusut berjalan dengan linglung. Pria itu adalah Gary. Kemarin malam, seperti biasa, dia menghabiskan malam dengan menonton film dan bermain game hingga pagi, bahkan dia belum tidur sejak kemarin. Jadi wajar saja penampilannya kali ini sangat kuyu.

Berdiri di dalam arena, Gary dengan keras menepuk pipinya, mencoba untuk tetap terjaga. 

Meskipun Gary tahu hal ini akan terjadi jika dia menonton film dan bermain game tanpa tidur, tapi Gary tidak bisa menahan dirinya untuk melakukan itu.

Berpikir sebentar lalu tersenyum kecil, Gary bergumam pelan, "Mungkin ini yang namanya cinta."

Gary menatap musuhnya kali ini, dia adalah pria yang terlihat sangat garang dan bergairah. Di dalam hatinya Gary yakin, dia sangat tidak cocok dengan orang bersemangat seperti dirinya. Dalam hidup Gary, dia menyukai irama yang tenang dan santai, orang yang selalu bersemangat dan terburu-buru berada di dunia yang berbeda dari Gary.

Setelah pertandingan dimulai, Hector maju dengan cepat, memotong jarak antara dia dan Gary. Dengan gerakan yang menentukan, Hector mengarahkan tinjunya pada Gary. Namun, dengan sangat lihai Gary mampu menghalau tinju tersebut dengan tangannya.

Serangan awal tadi menjadi awal dari pertarungan yang menakjubkan. Hector terus melakukan tinju dengan kecepatan tinggi, tapi Gary berhasil menghalau atau menghindarinya.

Bentrokan yang indah tersebut membuat suasana di tempat kejadian menjadi semakin memanas. Semua teriakan dari dukungan hingga cemooham bisa terdengar. Membuat pertarungan tangan tersebut menjadi semakin memukau.

Komentar yang menyaksikan juga terus mengomentari kejadian, menganalisa bagaimana pertarungan berjalan yang membuat bahkan orang-orang yang tidak terlalu paham pada bela diri bisa mengerti.

Setelah pertarungan yang sengit, akhirnya Hector kehabisan nafas, dia mundur untuk mengambil nafas dan mengatur kembali ritmenya. Namun, situasi ini tidak akan Gary sia-siakan, dengan langkah yang mantap Gary langsung bergegas kemudian berputar dan mengarahkan tendangan menuju dada Hector.

Meskipun sedikit kelelahan karena ritme serangannya yang sangat cepat sebelumnya, Hector masih mampu untuk bereaksi dan berhasil menahan tendangan tersebut, tapi sebagai akibatnya dia dibuat mundur beberapa langkah.

Setelah serangan barusan, Gary tidak berhenti, dia bergerak cepat lalu mencambukan kakinya menuju Hector. Tendangan cepat itu mengarah pada tubuh bagian samping Hector tanpa keraguan.

Di sisi lain, melihat tendangan tersebut, Hector memilih untuk berjudi. Tanpa keraguan Hector menggunakan kedua tangannya untuk mencegat tendangan tersebut sekaligus berusaha untuk menangkapnya. Hasilnya adalah sukses besar, kaki Gary terperangkap dalam genggamannya, meskipun harga yang harus Hector bayar cukup besar yaitu memar yang cukup parah, tapi ini hal yang harus dia lakukan untuk mengambil keuntungan yang lebih besar.

Tanpa penundaan, Hector melesatkan tendangan pada kaki Gary dengan menggunakan momentum karena tendangan Gary. Tanpa bisa menghindari serangan tersebut, Gary jatuh terjungkal dengan keras. Melihat situasi yang sangat menguntungkan, Hector bergegas dengan cepat duduk di atas tubuh Gary dan mengarahkan tinjunya pada Gary dan berhenti di detik-detik terakhir. Tidak perlu lagi untuk menyerang, karena situasi ini jelas kemenangan bagi Hector.

Seperti yang Hector duga, wasit bergegas masuk ke arena dan menghentikan pertandingan. Dia melihat kondisi Gary dan memberikan kode agar staf medis untuk datang. Setelah itu wasit juga mengumumkan bahwa Hector lah pemenang dari pertandingan ini dan berhak untuk melaju ke babak selanjutnya.

Berjalan dengan mantap, Hector mengepalkan tinjunya dengan keras, akhirnya kesempatan yang Hector tunggu datang, waktu untuk pembalasan dendamnya pada seseorang yang dia anggap sebagai sampah.

Untuk selanjutnya, karena hanya ada empat pertandingan, maka di sela-sela dua pertandingan akan di adakan pertunjukan bela diri.

Seorang praktisi bela diri dengan pakaian yang rapi berjalan dengan penuh kebanggaan, di tangannya adalah sebuah pedang yang tampak sangat indah dan sombong. 

Setelah sedikit pengenalan dari komentar, praktisi tersebut memulai pertunjukannnya. Dengan sangat lihai dia mampu untuk melakukan serangkaian gerakan indah dan memukau. Di iringi bedengan musik berirama cepat dan sorakan bersemangat penonton, suasana di tempat kejadian menjadi sangat meriah.

Setelah pertunjukan selama lima menit, akhirnya praktisi tersebut mengakhiri pertunjukannya. Kepergiannya dari arena di iringi dengan tepuk tangan penuh kekaguman dan penghormatan. 

Namun, situasi ini tidak berlaku pada seorang pria yang menatap dengan jijik pada layar besar di luar gedung MA yang menampilkan adegan di dalam. 

Dia adalah Dewa, seorang praktisi bela diri, akan tetapi baginya bela diri adalah alat untuk bertahan dari kejahatan dan membela kebenaran, bukan pertunjukan murahan demi popularitas dan uang semata, karena itu Dewa memandang rendah orang-orang yang berpartisipasi dalam turnamen seperti ini.

Memikirkan bahwa bela diri yang dia peragaan telah menjadi bahan tontonan dan hiburan semata membuat api kemarahan di dalam hati Dewa meluap dengan berlebihan dan kemudian aliran listrik keluar dari tubuhnya secara tidak sengaja, tapi aliran listrik itu langsung menghilang ketika Dewa menenangkan hatinya.

Setelah menghela nafas, Dewa kembali melanjutkan larinya. Sudah menjadi rutinitas baginya untuk berlari mengelilingi kota, selain untuk melatih staminanya, hal ini juga menjadi patroli tidak resminya.

Di kota yang dihidupi berbagai jenis orang, keadilan menjadi hal yang langka. Banyak orang dengan egois tidak peduli dengan kesulitan orang lain dan hanya peduli dengan kesenangan diri sendiri. Di tambah maraknya kelompok-kelompok orang yang menyatakan dirinya sebagai geng atau semacamnya membuat ketidakadilan merajalela, seperti tikus di sawah yang telah kehilangan ular dalam ekosistem hidupnya.

Karena itu, untuk menghilangkan tikus-tikus tersebut, Dewa berkomitmen untuk menjadi sang ular yang akan menerkam semua tikus yang mengganggu. Meskipun tidak ada bayaran atau pujian dari orang lain, tapi Dewa tidak pernah berhenti untuk melakukan hal ini semata untuk memuaskan hasrat keadilan di dalam dirinya.

Baginya, sudah tugas yang kuat untuk melindungi yang lemas, bukan mengekploitasi yang lemah.

Meskipun hanya satu orang, tapi Dewa tetap melakukannya. Karena itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dalam aliran orang yang bolak-balik dalam urusannya masing-masing, mata Dewa terus memeriksa ke sekeliling, mencari apakah ada sesuatu yang buruk terjadi. Kadang, kejahatan akan terjadi bahkan di tengah keramaian kota.

Tiba di sebuah gang sempit, Dewa mendengar teriakan seorang gadis di dalamnya yang meminta tolong dengan putus asa. Dewa mengalihkan pandangannya dan melihat sekelompok pemuda sedang mengelilingi seorang gadis yang terduduk sambil memeluk tasnya dengan menyedihkan.

Dewa melihat ke sekelilingnya, seharusnya orang-orang lain juga mendengarnya tapi tidak ada satu pun yang memedulikan ketidakadilan tersebut.

Dengan langkah yang pasti Dewa berjalan memasuki gang, tapi kemudian sebuah tangan mencoba untuk menariknya.

Dewa melihat seorang pria tua menatapnya dengan bijaksana sambil menggelengkan kepalanya, jelas sebuah tanda agar Dewa tidak ikut campur dalam masalah di dalam gang tersebut.

Tapi Dewa dengan paksa melepaskan tangan pria tua itu dan bergegas berlari ke dalam gang, ketidakadilan itu harus segera diatasi.

Pria tua itu memandang Dewa dengan senyum pahit dan kemudian pergi mengikuti arus seperti orang lainnya. Bukannya dia tidak peduli dengan gadis yang di dalam gang tersebut, tapi dia lebih peduli dengan kehidupannya dan keluarganya sendiri.

Keegoisan seperti ini adalah hal yang wajar baginya dan bukan sebuah kesalahan.

"Berhenti!" Dewa berteriak kencang penuh amarah.

"Hei hei hei, ada yang sok pahlawan."

"Hahahaha, pahlawan kesiangan akhirnya datang."

"Pergilah jika kau tidak mau mati, ini tidak ada hubungannya denganmu."

Kelompok pria itu berkata dengan penuh menghina dan jijik pada sikap Dewa yang sok pahlawan.

"Aku tidak akan membiarkan ketidakadilan merajalela di hadapanku." Ucap Dewa sambil mengepalkan tinjunya.

Dalam tinju tersebut aliran listrik bisa terlihat dengan jelas bahkan dengan mata telanjang.