Episode 120 - Satu Tinju




Kata 'waktu' memiliki banyak makna di dalamnya. Di antaranya adalah kesempatan, perjalanan, pertemuan, perpisahan, kejadian, dan lain-lain.

Begitu dekat tapi juga jauh.

Begitu berharga tapi juga tidak berharga.

Begitu ringan tapi juga berat.

Begitu indah tapi juga suram.

Tergantung dari bagaimana setiap orang yang memandangnya.

Namun, meskipun begitu, waktu akan terus berputar, tidak peduli apakah setiap orang kecewa atau tidak, tidak peduli setiap orang senang atau tidak, sampai akhir sebelum waktu benar-benar menyelesaikan tugasnya.

°°°

Keesokan harinya, Danny membuatkan bubur hasil dari belajar singkatnya di internet, meskipun rasanya tidak seenak buatan Ibunya, tapi cukup bagus untuk pemula seperti dirinyanya.

Sebenarnya hari ini Danny berniat bolos sekolah untuk menemani Ibunya, tapi Ibunya berkata Danny harus sekolah karena sekarang keadaannya sudah cukup baik dan hanya perlu istirahat yang cukup. 

Dengan patuh Danny menuruti perintah Ibunya untuk sekolah, meskipun agak enggan di dalam hatinya.

Di sekolah, Danny terus melihat pada jam dinding, menantikan tibanya waktu pulang sekolah. 

Setelah bel pulang berbunyi, tanpa basa-basi Danny langsung bergegas pulang, akan tetapi di depan gerbang sekolah dia dihentikan oleh Angel. 

"Ada perlu apa? Aku sedang buru-buru." Ucap Danny kesal.

"Aku hanya mengingatkan, nanti sore kau punya pertandingan, jangan sampai telat." Balas Angel dengan sabar.

"Baiklah, aku pasti akan datang." Danny bergegas pergi setelah mengatakan itu.

Angel melihat punggung Danny yang semakin menjauh, menatap langit lalu mengela nafas, dia benar-benar tidak berdaya dengan sikap Danny yang berubah-ubah dan sangat egois.

Setelah sampai di rumah, Danny segera melihat Ibunya yang sedang menonton tv, kali ini corak wajahnya sudah lebih baik. 

Setelah mengganti baju, Danny langsung pergi menemani Ibunya menonton tv. Membicarakan acara tv yang sedang ditayangkan, mengomentari tentang iklan tv yang semakin hari semakin aneh, dan banyak lagi.

Waktu terus mengalir, entah berapa topik yang telah mereka berdua bahas, tapi pembicaraan terus berlanjut. Meskipun obrolan itu sangat tidak berarti, tapi sangat bermakna bagi mereka berdua. Hal ini karena entah sejak kapan mereka begitu sibuk dengan urusan lain, hingga melupakan apa yang ada di depan mata.

Hal ini sangat dekat, begitu dekat hingga akhirnya tidak mampu disadari. 

Hari ini, mereka berdua menyadarinya, kesempatan ini tidak akan selamanya.

Danny melirik ke arah jam dinding, sudah waktunya dia harus pergi ke rumah Angel untuk mengganti 'sedikit' penampilannya dan menghadapi musuh berikutnya di turnamen bela diri. Meskipun dia sedikit enggan untuk meninggalkan Ibunya sendirian, tapi dia sudah berkata akan datang, maka dia pasti akan datang.

Danny tidak pintar, dia juga tidak berbakat, apalagi kaya, tapi setidaknya dia adalah pria dengan integritas.

Danny pamit pada Ibunya dengan alasan pergi ke rumah temannya. Ini juga benar, bukan sebuah kebohongan, karena Danny memang benar-benar pergi ke tempat Angel.

Dengan tenang Danny mulai melangkah keluar rumah. Satu langkah ini menjadi awal perjalanan Danny, satu persatu musuh yang harus dia hadapi dengan mudah bisa Dan tangani, hingga akhirnya dia sampai ke babak delapan besar setelah mendapatkan poin tertinggi kedua di grupnya.

Menemani Danny dari grup yang sama adalah Gerral, yang setiap bertarung akan selalu dipinjamkan sedikit energi untuk menjadi lebih kuat oleh kakaknya yang tubuhnya kini telah dikuasai oleh goh.

Meskipun Gerral telah menemukan beberapa keanehan dari tingkah laku Tomas yang kini adalah Gop, yang selalu menyentuh bahu atau tangannya sebelum bertarung dan kemudian tiba-tiba saja dia merasa ada kekuatan aneh yang mengalir ke dalam tubuhnya. Namun, dia menghilangkan prasangka tersebut dan lebih memilih untuk fokus pada turnamen, masalah itu bisa diselesaikan sesudahnya.

Dengan sedikit energi tadi, Gerral bisa melakukan serangan maut yang dia namai 'Tinju Tirani' dan mengakhiri pertarungan dengan satu pukulan, benar-benar tanpa perlawanan dari musuhnya. Berkat itu Gerral menjadi pimpinan dari grup D dengan menyapu poin sempurna.

Orang yang mendapatkan poin sempurna tidak hanya di grup D, di grup A juga ada sesosok yang mampu mengalahkan semua musuhnya, dia adalah Lin Fan. Setelah mendapatkan kepingan pedang gram, kekuatan Lin Fan menjadi berlipat ganda dan belum ada yang mampu selamat dari satu tinju sederhananya. 

Sosok yang selalu disebut sebagai sampah tersebut berubah menjadi sosok yang ditakuti dan dihormati karena kekuatannya yang begitu hebat.


Dari grup yang sama, menempati urutan kedua, adalah Hector. Sebenarnya dia adalah yang terkuat di grup A, jika saja Lin Fan tidak mendapatkan kepingan pedang gram, tapi sayangnya tidak ada jika.

Di grup B, Gary melaju dengan mulus dan memuncaki klasemen, menemaninya adalah Dedy yang poinnya sedikit di bawah Gary.

Untuk Andre yang juga berada di grup B, dia tidak pernah muncul lagi setelah tubuhnya diambil alih oleh goh.

Sementara itu, dari grup C, perebutan poin lebih sengit. Dari grup ini Dafi sang idola semua wanita karena ketampanannya menjadi sang pemuncak klasemen, berkat kinerjanya yang memukau ini membuat dia mendapatkan banyak tawaran iklan dan film yang semakin membuat popularitasnya naik seolah-olah roket yang sedang lepas landas ke langit.

Menemani Dafi dari grup yang sama adalah satu-satunya peserta wanita yang berhasil lolos dari babak grup, dia adalah Angel, meskipun dengan selisih poin yang cukup tipis dari peserta di bawahnya. Namun, kinerja Angel mematahkan anggapan bahwa dia hanya vas bunga dan tidak mungkin wanita bisa menjadi ahli bela diri yang hebat.

Tidak, bagi para penonton dia bukan satu-satunya, karena identitas Danny di turnamen ini adalah Dina, maka ada dua gadis yang lolos babak grup, walaupun sebenarnya salah satunya memiliki 'pedang'.

Akhirnya delapan peserta dari empat grup sudah terkumpul. Selanjutnya mereka akan langsung masuk delapan besar dan tidak lama lagi pemenang dari turnamen ini akan terungkap. 

Untuk pertandingan pertama adalah pemimpin grup A yaitu Lin Fan yang akan melawan Dedy.

Dalam pertandingan pertama ini banyak yang meramalkan bahwa Lin Fan akan menang mudah lagi. Bukan karena Dedy, lawannya kali ini terlalu lemah, tapi Lin Fan terlalu kuat. Hanya dengan satu pukulan semua musuhnya di babak grup langsung kalah. Meskipun sedikit enggan, tapi kenyataannya di dalam hati mereka Lin Fan sudah menjadi kandidat pemenang dari turnamen ini.

Namun, tentu saja ada oposisi yang menentang opini tersebut, yaitu mereka yang mendukung Gerral. Seperti Lin Fan, Gerral juga menumbangkan semua musuhnya dengan satu pukulan maut.

Kedua kubu saling serang, seperti hanya dua kandidat yang benar-benar layak untuk diperhitungkan.

Situasi ini membuat pendukung Dafi menjadi jengkel dan tidak puas, karena menurut mereka hanya sang pangeran tampan, Dafi, yang layak jadi pemenang.

Untuk situasi dari pendukung peserta lain tidak banyak bersuara. Namun, intinya adalah turnamen ini benar-benar meriah dan mendapatkan respon yang baik dari semua orang. 

Sebelumnya tidak banyak media yang datang ke tempat kejadian, tapi kini banyak reporter datang dan menulis berita tentang turnamen ini. 

Situasi ini jelas sangat menguntungkan bagi stasiun televisi, banyak iklan berdatangan dan membuat pendapatan mereka naik. Sponsor-sponsor yang telah menggelontorkan dana untuk turnamen ini juga puas dengan kinerja ini karena merek mereka menjadi semakin terkenal.

Kota menjadi semarak seakan-akan festival sedang berlangsung. 

Turnamen ini benar-benar membawa banyak perubahan baik untuk semua orang.

Di dalam ruang tunggu, Lin Fan sedang duduk dengan tenang. Dia kini berada di dalam dunia jiwanya, dia menemukan ini secara tidak sengaja. Awalnya Lin Fan berpikir ini hanya mimpi, tapi jelas ini tidak sesederhana mimpi.

Tapi, meskipun masih tidak mengerti, Lin Fan mengambil sisi baiknya dengan berlatih di dalamnya, jadi dia bisa berlatih kapan pun dia mau tanpa kelelahan, karena di dalam dunia jiwa tidak ada lelah atau sakit.

Setelah beberapa saat akhirnya Lin Fan membuka matanya dan berdiri dengan tenang, merapikan sedikit seragam bela dirinya dan berjalan melalui lorong.

Dari sini Lin Fan sudah bisa mendengar riuh sorak-sorak para penonton, pembawa acara juga terus membicarakan tentang pertandingan yang akan segera di mulai.

Setelah keluar dari lorong, teriakan bersemangat penonton terdengar lebih keras setelah melihat Lin Fan. 

Orang yang selalu dikatakan sebagai sampah kini telah berubah menjadi sosok yang di kagumi orang-orang. Perubahan ini sangat drastis hingga beberapa orang bahkan tidak bisa menerimanya, tapi kenyataan itu tidak akan berubah meskipun mereka tidak terima.

Kemudian dari lorong seberang keluar sosok lainnya, dia adalah Dedy, orang yang akan menjadi lawan Lin Fan kali ini.

Dedy sangat tidak berdaya setelah mengetahui dia harus melawan Lin Fan, dia sudah beberapa kali melihat pertarungan Lin Fan dan itu benar-benar luar biasa. Hanya dengan satu pukulan dan musuh akan tumbang, itu sangat tidak masuk akal, seolah-olah Lin Fan adalah tokoh utama dari sebuah novel.

"Aku harap kau sedikit memberikan aku muka, setidaknya dua atau tiga pukulan sebelum aku kalah." Ucap Dedy dengan lemah.

"Yah, akan aku usahakan." Jawab Lin Fan sambil tersenyum tipis.

Dengan setiap pertandingan yang telah dia menangkan, kepercayaan diri Lin Fan meroket dan kini bahkan dia berpikir tidak ada yang mungkin bisa mengalahkannya di turnamen.

Meskipun Gerral telah melakukan hal yang sama seperti dirinya, yaitu mengalahkan musuh dengan satu pukulan, tapi Lin Fan percaya bahwa dia bisa mengatasi Gerral dengan mudah.

Sepertinya kepingan pedang gram tidak hanya membuat tubuhnya menjadi kuat, tapi mentalnya juga.

Akhirnya pertarungan di mulai, sorak-sorak penonton terdengar sangat keras. Kebanyakan dari mereka meneriakan nama Lin Fan. Sungguh kejadian yang aneh jika dilihat kembali di masa lalu.

Dengan langkah yang mantap, Lin Fan mendekati Dedy sambil mengepalkan tinjunya. Dengan gerakan sederhana Lin Fan mengarahkan tinju tersebut pada Dedy.

Di sisi lain, Dedy merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang dia rasakan, dia merasa yang kini datang kepadanya bukan sebuah tinju biasa, tapi kekuatan yang sangat ganas.

Tinju Lin Fan mengenai dada Dedy dan membuatnya terlempar keluar dari arena.

Pertarungan mudah lainnya.

Lin Fan lolos ke babak berikutnya.