Episode 119 - Mimpi



Akan tiba waktunya bagi ulat membuat kepompong, menunggu dalam sepi dan sendiri untuk kemudian bersinar dan mengepakkan sayapnya tinggi ke langit. Menyilaukan siapa saja yang memandang dan membungkam siapa saja yang pernah menghina.

Namun, semua itu butuh proses. Memakan waktu, menguji kesabaran, dan akhirnya barulah mimpi yang indah itu akan terwujud.

Begitulah dunia.

Begitulah realita.

Tidak ada yang namanya jalan pintas. Semua proses itu adalah sebuah keharusan. Meskipun sangat sulit dan berliku, akan tetapi ada makna di setiap titiknya.

Di sepanjang jalan, semua orang akan diberikan pilihan. Untuk menjadi hitam atau putih, semua orang berhak memilih. Di dalam setiap pilihan, terdapat tanggung jawab yang harus di pikul, itu menandakan bahwa hidup bukan permainan semata.

Tidak kekal.

Sulit.

Banyak lika-liku.

Hidup sangat tidak sempurna. Tapi di dalam ketidaksempurnaan itulah kita harus bertarung. 

Untuk menjalani hidup yang benar-benar 'hidup'.


°°°


Di dalam dunia jiwa Danny.

Setelah entah berapa kali percobaan, akhirnya Danny bisa meningkatkan kemampuannya untuk mengendalikan peluru energinya, tidak, mungkin lebih tepatnya adalah untuk membelokkannya, karena peluru tersebut hanya bisa berubah arah 90° dari arah tembakan. 

Bukan peningkatan yang pesat, tapi tidak buruk juga. Danny juga cukup puas dengan peningkatannya, karena dia sadar bahwa dia tidak berbakat, akan tetapi Danny yakin kerja kerasnya akan menjadi jembatan yang mendekatkan dirinya dari orang berbakat.

Setelah 'bermain' kejar-kejaran dengan kucing hitam beberapa kali, akhirnya kucing hitam menolak untuk menemani Danny dan pergi untuk memainkan permainan di smartphone Danny.

Melihat hal ini, Danny tidak bisa tidak mengela nafas sambil menggelengkan kepalanya tak berdaya, dalam hatinya tercetak ukiran betapa menakutkannya kombinasi dari smartphone dan permainan untuk mengikat orang-orang, tidak, bahkan hewan sekali pun. 

Mereka terikat tanpa di paksa. Menghubungkan diri dengan belenggu yang sebenarnya sangat mudah untuk di lepas, tapi sang pemakai sangat enggan untuk melepaskannya.

Kebebasan yang seharusnya kebahagiaan tertinggi, sudah tidak ada harganya lagi.

Waktu yang barang paling mahal, ditukar dengan kesenangan sesaat yang palsu.

Danny sangat menyayangkan hal ini, karena menurutnya semua itu tidak sepadan dan hanyalah pertukaran yang pasti merugi.

Akhirnya, Danny memutuskan untuk keluar dari dalam dunia jiwanya. Setelah keluar, dia langsung melirik jam di dinding kamarnya dan ternyata sudah pukul 8 malam. Dia pergi meninggalkan kucing hitam di dalam kamarnya yang masih asik bermain permainan.

Dengan lembut Danny membuka pintu kamar Ibunya dan mendapati bahwa ruangan itu masih kosong, hari ini Ibunya masih harus bekerja lembur. 

Danny pergi ke ruang tengah dan menghidupkan televisi, menonton acara-acara realiti show yang tidak nyata. Tawa mereka palsu, bercandaan mereka tidak lucu, bagi Danny menertawakan kekurangan dan kesialan orang lain itu benar-benar tidak masuk akal.

Bosan melihat aksi palsu tersebut, Danny memindahkan chanel ke stasiun televisi yang lain. Kini acara yang ada di layar kaca di depannya adalah sebuah film dari luar negeri. 

Meskipun berat, tapi Danny harus mengakui bahwa film-film di dalam negeri tidak sebanding dengan film dari luar negeri. Dengan anggaran yang tinggi dan artis yang telah terkenal di berbagai belahan dunia, film-film dari luar negeri sudah menaklukkan banyak orang dan mendapatkan respon positif dari banyak kalangan.

Tentu saja tidak semuanya, tapi untuk bertahan dalam persaingan yang sangat sengit, semua sutradara akan melakukan hal tersebut untuk mendapatkan untung paling banyak.

Sedangkan itu di dalam negeri, para sutradara tidak berani untuk melakukan hal tersebut, takut akan kegagalan dan semua hal buruk yang mungkin akan terjadi menjadi penyebab mereka enggan untuk melakukannya dan lebih memilih untuk membuat film berproduksi rendah dengan cerita cinta dan drama yang bisa ditebak bagaimana akhiran ceritanya.

Setelah beberapa saat akhirnya iklan ditampilkan, tanpa basa-basi Danny langsung memindah chanel televisi. Kini acara yang sedang ada di layar kaca adalah berita yang sangat panas dan telah menjadi tontonan harian orang-orang belakangan ini, yaitu sebuah pandemi yang menyerang semua negara di dunia.

Sejak saat itu, semua negara mulai bertarung melawan musuh yang tak kasat mata tersebut. Segala cara dilakukan untuk keselamatan masyarakat dunia. Namun, meskipun begitu, manusia terlalu lemah dan tak berdaya. Banyak nyawa melayang akibat musuh tersebut dan mengakibatkan tangis dan air mata di mana-mana. 

Semua mimpi, semua rencana, semua wacana, hancur di telan maut yang menghampiri. 

Namun, manusia masih berjuang untuk melawannya. Dokter-dokter terus merawat pasien yang menderita, pemerintah terus memberikan bantuan bagi mereka yang tak bisa lagi bekerja, para ilmuwan terus mencari obat untuk mengobati yang sakit, semua masyarakat patuh untuk menggunakan masker dan selalu mencuci tangan.

Di bawah musuh yang sama, semua manusia bersatu. Karena musuh menyerang semuanya, entah berkulit putih atau hitam, entah agama apa yang dianut, entah dari negara mana orang itu berasal, tidak ada diskriminasi baginya.

Di balik situasi buruk dan menyedihkan ini, ada makna yang sangat berharga. Sebuah pelajaran untuk semuanya bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia, ada mahluk lain yang mungkin tak bisa kita lihat juga hidup di dalamnya.

Memikirkan ini, Danny langsung mengingat Dan. Sebuah jiwa yang masuk ke dalam tubuhnya ketika di masih kecil, dia adalah roh yang dulunya dia sebut sebagai goh.

Kemudian sebuah pertanyaan datang pada Danny, bagaimana kehidupan orang lain yang telah dimasuki oleh goh? Menurut informasi dari Dan, bukan hanya dia goh yang datang ke bumi.

Mengingat kekuatan Dan yang luar biasa, Danny tidak bisa tidak khawatir. Takut sebuah bencana yang mungkin akan terjadi jika goh tersebut melakukan hal buruk dengan kekuatan yang luar biasa itu.

Akhirnya Danny menyingkirkan semua pemikiran tersebut, karena semua itu tidak ada gunanya dan hanya membuat beban lain di pundaknya. Kini dia hanya berpikir untuk menghadapi apa yang harus dia hadapi, yaitu untuk menjadi lebih kuat dan mencegah hal yang buruk dalam pikirannya terjadi.

Kemudian Danny terus memindah chanel di televisi, tapi tetap tidak menemukan program yang menarik. Sebenarnya dia menonton televisi bukan untuk mencari hiburan, tapi untuk menemaninya. Dia tahu dia tidak sendirian, tapi sunyi ini membuat dia kesepian. 

Danny melirik jam di dinding, sekarang sudah hampir jam sepuluh malam, tapi ibunya masih belum pulang. Sudah satu Minggu ini Ibunya akan berangkat pagi dan pulang sangat larut malam, tapi Ibunya tidak punya pilihan lain, ini adalah pekerjaannya. Dia juga harus menghidupi keluarga kecil seorang diri. Mengingat hal ini membuat Danny terasa sangat asam.

Tidak lama kemudian terdengar suara pintu di buka, Danny buru-buru mematikan televisi dan berjalan ke pintu depan. Dan benar saja, itu adalah Ibunya. Namun, ada yang aneh, wajahnya sangat pucat lalu tiba-tiba saja Ibunya jatuh tersungkur ke lantai.

Dengan panik, Danny berlari menghampiri Ibunya. Wajahnya terlihat sangat lelah, nafasnya tidak teratur, dan suhu tubuhnya sangat panas. Jelas, Ibunya sedang tidak baik-baik saja.

Danny sangat cemas, buru-buru Danny membantu Ibunya menuju kamar, kemudian dia mengistirahatkan tubuh Ibunya di atas kasur. Mengambil selimut dari sisi kasur dan menyelimutinya.

Tubuhnya memang sangat panas, tapi yang Ibunya rasakan pasti sangat dingin.

Kemudian Danny langsung berlari ke dapur dan tidak tahu harus mengompres dengan air hangat atau dingin. Akhirnya dia berlari ke kamar dan dengan paksa mengambil smartphone-nya dari kucing hitam.

Membuka browser dan menuliskan sebuah kata kunci, dan ternyata sebaiknya di kompres dengan air hangat. Danny melemparkan smartphone-nya ke kucing hitam lagi dan buru-buru pergi ke dapur.

Melihat Danny yang sangat cemas membuat kucing hitam sedikit bingung, tapi dia langsung membuang pikiran tersebut dan membuka permainan lagi.

Di dapur, Danny langsung memasak air hingga hangat dan mencari handuk kecil. Memasukan air hangat ke dalam baskom lalu pergi ke kamar Ibunya.

Danny memasukan handuk ke dalam baskom kemudian memerasnya sedikit, lalu dengan hati-hati dia menaruhnya di dahi Ibunya.

Kini Danny sudah tidak terlalu panik lagi, dia dengan hati-hati terus mengganti kompres Ibunya dan memperhatikan wajahnya yang sedikit lebih nyaman ketimbang sebelumnya.

Dia pergi ke dapur dan mengambil obat dan membuatkan teh hangat lalu kembali ke kamar Ibunya. 

Di waktu ini, Danny memikirkan tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya? Dia ingin ikut bekerja untuk membantu Ibunya agar tidak harus bekerja sangat keras hingga jatuh sakit. Tapi Ibunya selalu berkata bahwa Danny tidak di izinkan untuk bekerja.

Hal-hal rumit tentang uang dan sebagainya benar-benar bukan bidang Danny, dia tidak mengerti. Selama ini dia tidak pernah khawatir dan tidak pernah peduli, kini ketika dia memikirkannya, ternyata dia benar-benar anak manja.

Akhirnya Ibunya kembali sadar, dengan hati-hati Danny membantu Ibunya untuk meminum obat dan kemudian mereka berbicara sebentar dan akhirnya Danny di suruh istirahat di kamarnya.

Melihat Ibunya yang sedikit membaik, Danny patuh dan kembali ke kamarnya. Di kamar, banyak pikiran melintas di kepalanya, tapi akhirnya semua pikiran itu di usir oleh rasa kantuknya.

Sebuah mimpi terlintas, di dalam mimpi tersebut terlihat sebuah keluarga kecil pergi ke sebuah tempat yang begitu megah dan ramai. Keluarga kecil itu berpisah, kini anak kecil itu pergi bersama seorang wanita cantik dan duduk bersama ribuan orang lainnya. Sedangkan pria tadi pergi ke tengah arena dan berhadapan dengan seorang pria lainnya.

Kemudian kejadian tragis terjadi, pria itu terkena serangan yang seharusnya tidak diperbolehkan dan akhirnya mendapatkan luka yang sangat fatal. 

Di kamar rumah sakit, tubuh pria itu terbujur kaku, di sampingnya terdapat seorang wanita yang menangis sangat sedih. Di belakang wanita itu terdapat seorang anak kecil yang dengan erat memegang baju wanita itu dan ikut menangis, meskipun dia tidak tahu apa yang membuatnya menangis.