Episode 433 - Menggiring



Dengkul tokoh biasa-biasa saja bergetar ketika menyaksikan tokoh yang baru saja hadir. ‘Gha?am’ berarti ‘kendi’, dan ‘utkacha’ berarti ‘gundul’. Berotot kawat bertulang besi, dapat pula terbang tinggi mengangkasa. Keperkasaannya melampaui kaum rakshasa, karena ia merupakan peranakan berdarah Pandawa. Namanya termahsyur sampai ke Pulau Jumawa Selatan, bahkan membuat banyak pihak yang berpandangan bahwa dia adalah tokoh aseli dari Negeri Dua Samudera. 

Ghatotkacha Putra Bhima berdiri di sisi Pangeran Vrihatkshatra yang sedang bertumpu pada satu lutut karena kelelahan. Pangeran Vrihatkshatra sendiri dipastikan tak dapat melanjutkan pertarungan, setidaknya tidak dalam waktu dekat. Dengan demikian, hanya tinggal peranakan rakshasa itu yang harus dibungkam. Untuk mengatasi tokoh sekelas Ghatotkacha Putra Bhima, maka Pangeran Wyudharu, Tuan Kekar dan Si Kumal diharuskan bahu-membahu. Hanya dengan cara yang sedemikian mereka dapat berpeluang menumbangkannya. 

“Jangan kalian bergerak selangkah pun!” sergah Tuan Kekar. “Dia adalah lawanku.” Ia bangkit dan melangkah maju. 

“Ayolah… Jangan mementingkan diri sendiri. Kau sudah menumbangkan Vrihatkshatra, tapi yang satu ini berbeda. Dia terlampau tangguh…” Kali ini Pangeran Wyudharu menyuarakan ketidaksetujuan. 

Ghatotkacha Putra Bhima meraih senjata yang sebelumnya digunakan oleh Pangeran Vrihatkshatra. Dengan entengnya ia angkat gada besar berduri tersebut dan ayunkan dengan sebelah langan. Ibarat melempar setangkai ranting kering, gada tersebut melayang dan mendarat tepat di hadapan Tuan Kekar. Padahal, jarak di antara mereka terpaut sekira dua ratus langkah. 

Raut wajah Tuan Kekar sontak berubah semerah kepiting rebus, gigi-giginya bergemeretak. Gada labu miliknya pecah berhamburan karena ditinju oleh lawan dengan tangan kosong. Kini, lawan yang sama memberikan pula kepadanya senjata sejenis. Sungguh perbuatan yang sangat merendahkan!

Kendatipun demikian, Tuan Kekar meraih gada besar berduri dengan sebelah lengan. Ia angkat dan acungkan senjata tersebut lurus ke arah Ghatotkacha Putra Bhima. “Aku akan membuat kau menyesal telah meremehkan aku!” 

Dengan demikian, Tuan Kekar merangsek maju! 

Si Kumal menyaksikan betapa Pangeran Wyudharu sudah tak santai-santai lagi. Kali ini dia menyiagakan busur di lengan kiri dan memegang anak panah di jemari tangan kanan. Terlepas dari apapun itu kehendak Tuan Kekar, bila tiba saatnya bertindak maka Pangeran Wyudharu akan ambil bagian di dalam pertarungan!

Tuan kekar melompat mengincar kepala lawan yang berkali lipat lebih tinggi dari dirinya. Hantaman keras gada besar berduri ditangkis menggunakan pergelangan tangan yang dilapisi oleh pelindung mirip gelang emas nan tebal. Suara berdentang terdengar nyaring tatkala logam bertemu logam. Kedua kaki kekar dan besar Ghatotkacha Putra Bhima terhenyak ke tanah namun pertahanannya kokoh. Ia kemudian mendorongkan lengan, membuat tubuh Tuan Kekar terpental tinggi. Ketika itu terjadi, Ghatotkacha Putra Bhima memburu!

Walau bertubuh gergasi, kecepatan serangan Ghatotkacha Putra Bhima sungguh berada di luar nalar. Sebaliknya, melayang di udara Tuan Kekar tak memiliki tempat berpijak untuk menghindar. Ia menjadi sasaran empuk!

“Swush!” 

Pangeran Wyudharu melepaskan anak panah, namun betapa mudahnya dipatahkan oleh sasaran hanya dengan mengibaskan lengan. Padahal, anak panah tersebut bermuatan tenaga dalam murni!

“Duar!”

Tinju Ghatotkacha Putra Bhima nan besar menghantam. Untungnya, pada detik-detik terakhir Tuan Kekar sempat menangkis tinju tersebut dengan pukulan gada besar berduri. Ia memanfaatkan tenaga hantaman untuk melontarkan tubuhnya menjauh dari musuh.

“Sudah kukatakan jangan ikut campur!” Tuan Kekar menyergah penuh amarah. Sesungguhnya amarah tersebut tertuju kepada diri sendiri. Dalam hati ia menyadari bahwa bilamana Pangeran Wyudharu tak campur tangan dengan memperlambat gerakan musuh, maka tubuhnya sudah barang tentu akan menerima serangan telak!

“Dia bukan lawan yang dapat kita kalahkan dalam pertarungan satu lawan satu!” pekik Si Kumal. 

Jemari tangan Tuan Kekar masih bergetar keras karena kekuatan hantaman lawan dirasa demikian besarnya. Dengan segenap tenaga pula ia berupaya menggenggam tangkai gada. Ia melirik kepada Si Kumal dan menanggapi kesal. “Lalu, apa yang kau pikir bisa engkau lakukan!?”

Si Kumal sontak tertunduk lesu. Memang tak banyak yang dapat dirinya perbuat dalam pertarungan tersebut. Ia hanyalah tokoh biasa-biasa saja. Akan tetapi, sampai hati sekali sang super guru membentak demikian kasar. Pilu rasanya.

“Kau sudah kelewatan!” Pangeran Wyudharu seperti biasa memberikan pembelaan. “Sepantasnya di antara kita, kau yang paling tahu bahwa lawan kali ini tak dapat dihadapi seorang diri. Berbekal pengalaman yang kau miliki, kau sepatutnya dapat bertarung dengan lebih bijak!” 

Tuan Kekar menghela napas panjang. Agaknya kata-kata Pangeran Wyudharu menancap dalam. Pertarungan ini bukanlah pertarungan demi harga diri, bukan pula dirinya berperan sebagai Komodo Nagaradja, Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara dari Negeri Dua Samudera. Ini adalah pertarungan di dunia ilusi dan sepantasnya dilakoni dalam batasan yang wajar-wajar saja.

“Hmph!” Tuan Kekar mendengus. Terserah kalian, lakukan saja apa yang hendak kalian lakukan!”

Tuan Kekar kembali merangsek maju, namun kali ini berbarengan dengan tembakan-tembakan anak panah yang diimbuh tenaga dalam murni, alias Astra. Babak pertarungan berikutnya berlangsung sepihak. Karena dipaksa menepis dan menghindar dari anak-anak panah yang mengincar, Ghatotkacha Putra Bhima sedikit kewalahan. Ia tak kunjung dapat mendaratkan pukulan telak. 

Di lain pihak, Pangeran Wyudharu senantiasa bergerak memutar dan menjaga jarak aman dari sasaran. Ia melepaskan tembakan tanpa henti dari berbagai sudut. Tuan Kekar bertarung jarak dekat dengan meloncat-loncat gesit sembari menggempur. Ketika panah datang dari arah kanan, maka pukulan mengempur dari arah kiri lawan. Perpaduan serangan Pangeran Wyudharu dan Tuan Kekar berlangsung senada dan seirama.

Kendatipun serangan datang menggebu, bukan berarti Ghatotkacha Putra Bhima tak dapat berkutik. Memang benar ia tak bisa melepaskan serangan, namun pertahanannya teramat kokoh ibarat benteng batu nan menjulang tinggi. Perlahan-lahan ia mulai membiasakan diri mengatasi serangan yang datang… 

“Trak!” 

Tetiba sebuah pukulan ringan datang dari arah sudut mati. Pukulan tersebut menyasar titik di belakang lutut. Ketika dilihat, adalah Si Kumal yang diam-diam mendekat setelah sebelumnya memungut tangkai dari gada labu yang hancur. Tangkai tersebut di tangannya terlihat seperti tongkat pemukul alias pentungan. Walaupun pukulan tersebut berkekuatan tak seberapa, tetap saja membuat Ghatotkacha Putra Bhima sedikit hilang kesembangan!

“DUAK!” 

Tuan Kekar mendaratkan gada besar berduri tepat ke dada Ghatotkacha Putra Bhima yang terkecoh walau sejenak! 

“BRAK!” 

Walau terkena pukulan, lengan Ghatotkacha Putra Bhima nan besar sontak menampar deras. Tuan Kekar yang berada tepat di hadapan hanya sempat menyilangkan dada di depan dada. Tubuhnya lantas terlontar jauh ke arah Pangeran Wyudharu. 

“Gawat!” seru Pangeran Wyudharu. Keberadaan tubuh Tuan Kekar menghalangi jalur tembak ke arah sasaran! 

Ghatotkacha Putra Bhima memutar tubuh. Ia menatap ke bawah, melihat betapa tipisnya tubuh tokoh biasa-biasa saja yang tadi sempat mencuri serangan. Sekali hentak, maka tubuh kurus tersebut akan lumat berbaur dengan tanah.

Si Kumal sontak melompat mundur. Walau terlihat lembek, gerakannya lumayan gesit. Akan tetapi, betapa pun gesitnya dia, di hadapan peranakan rakshasa tentu tiada dapat berbuat banyak. Telapak tangan nan besar segera menangkup tubuh…

“Jleb!” 

Pada detik-detik terakhir, tepat di sisi tubuh Si Kumal berdiri sebilah tombak bermata tiga. Di saat yang bersamaan pula, sisi lengan Ghatotkacha Putra Bhima ditusuk-tusuk sepasang katar. Putri Vrushali dan Putri Duhsala telah kembali!

Sigap keduanya menarik dan membawa pergi tubuh Si Kumal. Mereka berkumpul bersama Pangeran Wyudharu dan Tuan Kekar.

Sejak awal kedatangan sampai ke titik ini, tak ada perubahan pada raut wajah Ghatotkacha Putra Bhima. Ia hanya berdiri diam mengamati telapak tangan dan sisi lengannya yang bersimbah darah. Ia genggamkan jemari tangan, sehingga otot-otot lengannya seolah memberontak hendak menyeruak. Pendarahan seketika terhenti!

Putri Rukmini dan Putri Satyabhama tiba di sisi Ghatotkacha Putra Bhima. Keduanya tak menyembunyikan raut wajah kesal karena gagal memisahkan para anggota kelompok Kurawa. 

“Siapakah dia!?” aju Si Kumal kepada Putri Vrusali. “Siapa yang berada di tubuh Ghatotkacha!?”

“Aku tak kenal…”

“Apakah dia ada di antara ahli yang menanti di bantaran Sungai Sari Madu?”

“Sepertinya…”

Si Kumal masih penasaran siapa dia ahli yang beruntung menumpang di tubuh Ghatotkacha Putra Bhima. Dengan mengetahui jati diri aslinya, kemungkinan besar akan muncul secercah harapan untuk menghadapi lawan nan teramat digdaya. 

“Sepertinya dewi keberuntungan sedang tak berpihak kepada kita…” Putri Duhsala bersungut. 

Kubu Pandawa terdiri dari empat tokoh, sementara salah satu dari mereka kehabisan tenaga sehingga tak bisa bertarung. Namun demikian, Ghatotkacha Putra Bhima memiliki daya dobrak yang teramat besar. Bersama dengan Putri Rukmini dan Putri Satyabhama, mereka berada di atas angin. 

“Ghatotkacha, sebaiknya kita tak membuang-buang waktu. Dengan kehadiran dikau, dapat kita segera menumpas mereka.” 

Kepala gundul Ghatotkacha Putra Bhima bergerak pelan ketika ia mengalihkan pandangan kepada Putri Rukmini dan Putri Satyabhama. Sedari tiba, tak sepatah kata pun ia berucap. Akan tetapi, kali ini mulutnya bergerak pelan. Suara yang keluar demikian rendah namun bergema. “Jangan… ikut… campur…” 

Putri Rukmini dan Putri Satyabhama tiada menanggapi. Sepertinya mereka mengenal watak tokoh yang menumpang di tubuh peranakan rakshasa itu dan sudah memperkirakan akan memperoleh jawaban yang sedemikian. 

Ghatotkacha Putra Bhima kemudian mengacungkan telunjuk lurus ke arah Pangeran Wyudharu. “Pertarungan… di antara kita… lama tertunda…” 

Sepasang mata Si Kumal sontak terbelalak. Kesalahpahaman bahwa dirinya, yakni Bintang Tenggara, menumpang di tubuh Pangeran Wyudharu memang belum pernah diluruskan. Dengan demikian, dirinya sepatutnya mengenal siapa sosok yang menumpang di tubuh Ghatotkacha Putra Bhima. Siapakah dia…? Pertarungan yang mana…? benaknya berpikir keras. 

Mendengar kata-kata kubu Pandawa, anggota kubu Kurawa yang lain sedikit bernapas lega. Jikalau Ghatotkacha Putra Bhima bertarung satu lawan satu menghadapi Pangeran Wyudharu, maka peluang meraih kemenangan terbuka lebar.

“Sebisa mungkin alihkan perhatian Ghatotkacha melalui pertarungan jarak jauh,” ujar Putri Duhsala kepada Pangeran Wyudharu. “Sementara itu kita akan menyingkirkan Rukmini dan Satyabhama,” lanjutnya kepada Tuan Kekar. “Setelah itu, bersama-sama kita hadapi Ghatotkacha.” 

“Aku menolak…,” jawab Tuan Kekar cepat sembari melipat lengan di depan dada. “Aku tak mau mengeroyok dua perempuan.” 

“Aku pun menolak,” tanggap Pangeran Wyudharu. “Aku tak mau mati konyol!”

“Hah!?” Putri Duhsala kesulitan mencerna apa yang dia dengar. “Ini penting dan mendesak! Hanya dengan cara tersebut kita berpeluang meraih kemenangan!”

Ketika perbincangan berlangsung, Si Kumal tampaknya sudah menyadari sesuatu. Ia mengambil selangkah maju, lantas berseru lantang kepada Ghatotkacha Putra Bhima, “Engkau belum pantas berhadapan dengan Pangeran Wyudharu! Kalahkan aku terlebih dahulu, baru dapat kalian bertarung satu lawan satu!” Si Kumal menunjuk dirinya sendiri menggunakan ibu jari. Entah mengapa, percaya dirinya saat ini melambung terlampau tinggi! 

“Hmph… Sungguh mulia,” cibir Putri Duhsala. “Aku tak tahu apakah engkau hendak membuktikan kemampuan atau memang berniat untuk mengorbankan diri… Apa pun itu, aku tak keberatan.” 

Si Kumal tiada menanggapi. Berbekal pentungan di tangan kanan, ia sudah melangkah semakin jauh. Pangeran Wyudharu dan Tuan Kekar saling pandang, namun tak satu pun menghentikan. Keduanya berpandangan bahwa Si Kumal kemungkinan besar memiliki semacam rencana untuk mengatasi ketangguhan lawan. 

“Majulah…” Ghatotkacha Putra Bhima tetiba berujar. Ia menerima mentah-mentah prasyarat yang diberikan lawan.

“Tunggu,” cegah Putri Rukmini. “Pengaturan ini akan menyulitkan! Jelas-jelas dia hanya hendak memecah kekuatan kita!” 

“Jangan… ikut… campur…” Gema suara Ghatotkacha Putra Bhima menggetarkan jiwa. 

“Tampaknya kita akan kembali berhadapan dengan kedua perempuan itu…,” gerutu Putri Duhsala kepada Putri Vrushali. Ia menyesalkan bahwa Tuan Kekar dan Pangeran Wyudharu menolak bertarung. Di saat yang bersamaan, ia bersyukur bahwa Ghatotkacha Putra Bhima pun sama cerobohnya. 

Bergerak lincah, Putri Duhsala kepada Putri Vrushali tak membuang-buang waktu. Keduanya memburu Putri Rukmini dan Putri Satyabhama. Sesuai perkiraan, lawan mereka tak melarikan diri namun menghadang dengan semangat membara! Tak ada gunanya menghindar, kedua pihak menyadari bahwa pertarungan di antara mereka akan menjadi penentu kemenangan pada masing-masing kubu!

Di hadapan aura menekan sang peranakan rakshasa, Si Kumal tak lagi gentar. Ia sudah dapat memperkirakan bahwa yang menumpang di dalam tubuh tersebut tak lain adalah Balaputera Naga! Saat berada di Ibukota Minangga Tamwan, berkali-kali tokoh tersebut menantang Bintang Tenggara, namun tak sekalipun sempat mereka beradu. Balaputera Naga dikenal keras kepala dan dalam kaitan pertarungan tak memandang bulu. Lemah atau kuat sama saja, dia akan bertarung dengan segenap tenaga. Kenyataan ini merupakan sesuatu yang dapat diubah menjadi sebuah peluang. 

“DUAR!” 

Telapak tangan nan maha besar menghantam, membuat permukaan tanah berhamburan ke semerata penjuru. Namun demikian, Si Kumal telah melompat mundur dan berlari kencang. Mengandalkan kepiawaian dalam melarikan diri, tokoh tersebut melesat menyusuri kaki Gunung Girinagar. Ia cukup mengenal wilayah tersebut, dan akan memanfaatkan pepohonan lebat untuk memperlambat langkah sang peranakan rakshasa. 

Sesungguhnya Si Kumal sadar bahwa ia tak akan menang dalam pertarungan satu lawan satu. Demikian pula dengan melarikan diri, karena cepat atau lambat dirinya pasti akan tertangkap. Oleh sebab itu, Si Kumal hanya memiliki satu harapan. Ia memutuskan untuk menggiring Ghatotkacha Putra Bhima ke suatu tempat. Dalam sekejap keduanya telah menghilang dari pandangan. 

“DUAR!” 

Tuan Kekar dan Pangeran Wyudharu yang sedang santai menonton pertarungan empat perempuan serempak melompat menghindar. Sebuah serangan mendadak mengincar mereka. Apakah Pangeran Vrihatkshatra telah pulih…? Bukan. Sosok tersebut masih duduk beristirahat di tempat yang sama. Tampaknya ada tokoh lain yang datang…