Episode 118 - Pelatihan dan Kemampuan Baru



Seperti genangan air setelah hujan, kelak semua bekasnya akan sirna dan menghilang, hanya meninggalkan tanda bahwa hujan pernah turun di sana.

Begitu pula dengan waktu, dia terus berjalan tanpa henti dan memaksa semua orang untuk pergi ke masa depan, hanya menyisakan kenangan yang menunjukkan bahwa kita pernah hidup di masa lalu.

Keesokan harinya. Seperti biasa, Danny berangkat sekolah dan menikmati 'dunia' nya sendiri. Membolak-balik majalah tentang militer dengan senyum seperti orang mesum. Dia juga kadang akan berkomunikasi dengan Dan, yang membuat orang-orang salah paham tentang dirinya, akan tetapi Danny sudah terbiasa dan mengabaikan pikiran orang lain tentangnya.

Menurut Danny, ia tidak punya hak untuk mengatur bagaimana orang-orang di sekitarnya berpikir tentang dirinya. 

Di waktu istirahat, Alice mengajak Danny untuk pergi ke kantin bersama, akan tetapi langsung Danny tolak dengan berbagai alasan. Bukan karena Danny membenci Alice, akan tetapi Danny sekarang tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Alice. Ada perasaan misterius yang membuat Danny tidak mampu untuk menatap wajahnya.

Sepulang sekolah, Angel dengan cepat mendekati Danny, akan tetapi kehadirannya sudah dideteksi lebih dulu oleh Dan. Dengan informasi tersebut, Danny buru-buru berlari dan menghilang dari pandangan Angel yang membuatnya sangat marah pada Danny.

Kembali ke rumah, Danny langsung menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya. Menuju dapur untuk mengisi perutnya, kemudian Danny pergi ke kamarnya lagi dan melihat Kucing hitam yang sedang bermain permainan di smartphone-nya sambil menyilangkan kaki.

Di dunia jiwa Danny.

Entah berapa lama Dan berlatih untuk menyempurnakan serangan bola api raksasanya, tapi kecepatan untuk mengumpulkan energi di dalam tubuhnya dan menjadikannya bola api raksasa terlalu lambat, yang membuat Dan tidak pernah puas.

Di dunia jiwa tidak ada konsep lelah atau sakit, jadi Dan bisa terus berlatih dan menyempurnakannya, akan tetapi jumlah energi yang bisa dia gunakan untuk membuat bola api bukan tidak terbatas, jadi dia tidak bisa terus berlatih.

Di sela-sela waktu untuk memulihkan energinya, Dan akan memanggil Danny untuk berlatih bertarung karena permintaan Danny.

Danny kini memiliki tekad untuk menjadi kuat dan terampil dalam bela diri, jadi dia meminta Dan untuk mengajarinya keterampilan bela diri kemarin malam yang langsung saja Dan setujui.

Biasanya, di sela-sela waktu itu Dan akan membayangkan hal-hal 'indah' di dalam pikirannya, akan tetapi kini Dan memutuskan untuk melatih Danny. Selain untuk terus mengasah ketajamannya, Dan merasa melakukan sesuatu yang lebih bermakna itu lebih baik.

Pelatihan Danny tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya. Dia akan menembak target dari jarak tertentu. Dan telah menyiapkan target untuk Danny dengan jarak 20 meter, 50 meter, dan 100 meter. Namun, nasib target tersebut masih sehat walafiat, tanpa luka sedikitpun.

Akurasi Danny masih seburuk biasanya. Apalagi setelah dia mencoba untuk mengendalikan arah tembakan. Danny akan dengan sengaja menembak ke arah lain dan mencoba untuk membuat peluru tersebut mengenai target. Tapi sampai sekarang Danny masih belum mampu untuk mengenai bahkan target terdekat, apa yang terjadi kemarin benar-benar hanya kebetulan saja.

Dan mengela nafas setelah melihat pemandangan yang menyakitkan ini. Dia tidak marah karena Danny yang selalu gagal, dia malas sedih dengan betapa buruknya kemampuan yang Danny miliki meskipun dia begitu mencintai senjata api.

Nasib kadang-kadang begitu lucu, apa yang kau kejar mungkin tidak akan pernah kau raih, tapi apa yang sebenarnya tidak kau harapkan tiba-tiba menjadi kenyataan.

Ini adalah ironi.

Ini juga kenyataan.

Dan memikirkan cara lain. Mungkin dengan mengubah sedikit sudut pandang maka pemandangan yang lebih baik akan membuat pemahaman Danny menjadi lebih luas.

Dengan begitu, Dan menyuruh Danny untuk berhenti menembak target yang tidak bergerak dan mengubahnya menjadi target yang bergerak, yaitu Dan sendiri.

Tanpa menunggu lebih lama akhirnya pelatihan dimulai. Dan menggunakan api hitam pada telapak kakinya untuk menjadi pendorong agar bisa berlari lebih cepat. Di belakangnya, Danny berlari sambil menodongkan senjata api dan mencoba untuk mengunci Dan, akan tetapi Danny tidak mampu.

Akhirnya Danny mencoba peruntungannya, dia menembak Dan sambil mengendalikan arah peluru. Tidak masalah apakah tembakan itu meleset, Danny akan mencoba untuk membenarkan arahnya ke target yang dia inginkan.

Namun, ternyata keinginannya ini tidak terkabulkan. Mengarahkan peluru dalam kondisi diam saja Danny tidak mampu, apalagi dalam kondisi mengejar Dan yang berlari lebih cepat dari orang pada umumnya karena 'pendorong' di telapak kakinya.

Akhirnya pelatihan itu kembali dengan paksa Dan akhiri karena bahkan Danny tidak mampu untuk mendekati Dan. 

Tidak mungkin, Dan terlalu cepat, juga Danny terlalu lambat.

"Dan, bagaimana kalau kau ajari aku cara berlatih sepertimu tadi." Saran Danny.

Faktor utama kenapa Danny tidak mampu mendekati Dan adalah karena Dan terlalu cepat. Karena itu Danny butuh kemampuan yang membuat dia mampu untuk memangkas jarak dan mendekatkan dia dengan targetnya. Dengan cara ini juga Danny akan mampu menembak target dengan mudah. Toh, tidak mungkin dia akan meleset jika moncong senjata tepat di depan musuhnya.

"Baiklah, aku rasa itu tidak masalah." Balas Dan.

Selanjutnya Dan menjelaskan bagaimana konsep menggunakan gerakan seperti sebelumnya. Sebelum menggunakan kemampuan tersebut, pengguna harus memfokuskan sebagian energinya pada telapak kaki. Kemudian pengguna harus terus mengontrol terus-menerus aliran energinya agar kecepatan berlari tidak berantakan. Untuk menambah kecepatan atau menguranginya, pengguna hanya tinggal menambahkan atau mengurangi konsumsi energi. 

Sangat sederhana, akan tetapi tidak akan mudah.

Poin utamanya adalah Danny harus mampu mengontrol energi di dalam tubuhnya pada telapak kaki secara konstan, dan juga Danny harus mampu memperkirakan seberapa banyak energi yang harus dia salurkan pada suatu waktu.

Mudah dikatakan, sulit dilakukan.

Kemudian, setelah mendengar apa yang harus dilakukan, Danny langsung mempraktikkannya. Pada mulanya dia merasakan aliran energi di dalam tubuhnya. Rasanya sangat misterius, itu seperti kau memiliki sebuah mata air yang bisa kau kendalikan.  Namun, untuk mendapatkan aliran air yang tepat, kau juga harus bisa memperkirakan seberapa besar lubang yang harus dibuka.

Itulah masalah pertama yang Danny hadapi, dia tidak mampu mengendalikan seberapa besar lubang yang perlu dibuka.

Akibatnya sebuah dorongan api hitam 'meledak' dari bawah kakinya dan mendorongnya terbang tinggi hingga ke langit, tidak lama kemudian akhirnya dia terjatuh dengan posisi yang mengerikan. Untung saja tidak ada konsep sakit di dalam dunia jiwa, atau kalau tidak dia akan merasakan sakit yang amat pedih.

Kemudian lompatan tinggi itu terus berulang lagi dan lagi. Hingga akhirnya Danny bisa sedikit mengerti dan mengendalikannya. Dia kini bisa melakukan 'ledakan' lompatan itu dalam dua jarak. Yang pertama dalam jarak sekitar 20 meter dan yang kedua adalah jarak yang tidak diketahui, itu karena ledakan kedua akan membuka lubang 'mata air' dalam kapasitas terbesar dan akibatnya Danny tidak bisa memperkirakan jarak terjauhnya. 

Meskipun tidak seperti Dan yang mampu menggunakan teknik ini untuk berlari dengan cepat dalam waktu yang lama, tapi Danny cukup puas. Dengan 'ledakan' lompatan ini dia akan bisa mengejutkan musuh dan kemudian bisa melakukan serangan dalam jarak dekat yang memastikan akurasi tembakannya akan sangat tinggi.

Untuk mengujinya, Danny dengan paksa menyeret jiwa kucing hitam ke dalam dunia jiwanya. 

Tidak mungkin, Dan terlalu hebat, Danny butuh target yang berada dalam kisaran yang mampu dia hadapi terlebih dahulu.

Dengan wajah 'ngambek', kucing hitam mematuhi perintah dari Danny dengan beberapa persyaratan di belakangnya.

Akhirnya pelatihan dimulai. Dengan sangat cepat kucing hitam berakselerasi dan menjauh dari pandangan Danny. Dia mampu melakukan hal ini setelah Danny mengembalikan kepingan pedang gram yang mengakibatkan lonjakan kekuatan kucing hitam.

Namun, ini masih kisaran yang Danny mampu terima. Dengan perhatian penuh, Danny mengalirkan energinya pada kedua telapak kaki dan kemudian membuka 'lubang' mata air. Ledakan api hitam keluar dari kedua telapak kakinya dan melemparkan tubuh Danny dengan kuat. 

Jarak antara Kucing hitam dan Danny terpotong, tapi ini masih cukup jauh dan Danny tidak yakin apakah mampu mengenai kucing hitam. Karena itu Danny sekali lagi membuka 'lubang' mata air dan akhirnya memotong jarak antara dia dan kucing hitam.

Dua ledakan yang Danny lakukan membuat kucing hitam terkejut. Tapi dia dengan cepat mampu mengatur pikirannya kembali dan mencoba untuk berlari lebih cepat, keempat kakinya bergerak sangat gesit dan lincah, seperti seekor cheetah yang sedang mengejar mangsanya.

Danny mengarahkan moncong senjata apinya ke kucing hitam. Namun, dia perlu waktu untuk mengatur posisinya yang akibatnya memberikan kucing hitam sedikit waktu untuk kembali melebarkan jarak antara mereka berdua sekitar 10 meter.

Bang.

Setelah menarik pelatuk, sebuah peluru terbang cepat menuju kucing hitam. Namun, sesaat kemudian, dengan menggunakan insting hewannya, kucing hitam merasakan bahaya dan akhirnya berbelok arah.

Melihat kucing hitam yang berbelok arah, Danny dengan buru-buru mencoba untuk mengendalikan arah dari peluru tersebut. Namun, akhirnya peluru itu terbang sangat jauh karena kurangnya konsentrasi dari Danny. 

Tidak mungkin, meskipun banyak tindakan yang mereka berdua lakukan, tapi semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Kemudian pengejaran itu kembali dimulai. Namun, tiba-tiba saja Danny tidak mampu mengendalikan kontrol besar 'lubang' mata air dan membuat dia terlempar sangat jauh. Bahkan langsung melewati kucing hitam dan kemudian hilang dari pandangan kucing hitam.

Melihat kejadian yang mengejutkan itu membuat mata dan mulut kucing hitam terbuka lebar dan tidak tahu harus merespon bagaimana.

Siap, ini terlalu mengejutkan.

Beberapa saat kemudian, akhirnya Danny kembali dengan wajah tidak berdaya.

Ini sungguh sulit. Danny telah mencoba dengan sungguh-sungguh, tapi hasil akhir mengecewakan kesungguhannya.

Dan juga mengela nafas tidak berdaya. Dia tidak menyalahkan ketidakmampuan Danny, dia hanya menyayangkan bakat Danny yang tidak sebaik semangat kerja kerasnya.