Episode 432 - Putra Bhima



Sang rembulan purnama memantulan sinar temaram, namun memberikan penerangan yang cukup memadai. 

Berbekal katar dan trisula di dalam genggaman, keduanya Putri Duhsala dan Putri Vrushali mengincar cepat. Gerakan yang cermat dan kebulatan tekad yang terpancar mencerminkan betapa keduanya telah melakukan persiapan sangat matang menjelang malam ini. Latihan yang mereka lalui pastinya berat dan tiada berlangsung setengah hati. Kepiawaian mereka dalam mengerahkan senjata masing-masing pun patut diacungi jempol. Tenaga dalam murni dalam wujud Shastra telah mereka kuasai. 

Di Kubu Pandawa, Putri Rukmini dan Putri Satyabhama juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Keduanya pun sangat tanggap atas serangan lawan.

Sementara itu, Si Kumal sempat giat berlatih di bawah paksaan Tuan Kekar. Namun, setelah sempat terpisah dan kemudian bertemu lagi, benaknya lebih cenderung meneroka kemampuan Kakek Govinda yang berseberangan dengan kemampuan Astra dan Shastra, dalam artian bahwa tokoh tersebut tiada mengerahkan senjata sama sekali. Serangan tenaga dalam murni dikerahkan tanpa perantara senjata, baik itu senjata di tangan maupun senjata yang dilepaskan. Waktu banyak terbuang, dan hasilnya Si Kumal tiada menguasai Astra maupun Astra. 

Bahkan di saat ini pun, Si Kumal tiada melakukan persiapan dalam bentuk apa pun. Ia kesal atas perintah Putra Mahkota Duryudhana, serta merasa sengaja tak dilibatkan dalam Perang Kurukshetra yang telah lama dinanti-nanti. Ia menganggap dirinya hanya dijadikan bidak dalam permainan muslihat, sehingga tidak membawa senjata sama sekali. Dalam keadaan ini, dapat dimaklumi bila Si Kumal dikatai sebagai ‘tokoh biasa-biasa saja’. Ia memang tak memiliki kelebihan dibandingkan tokoh-tokoh lain di tempat itu. 

Putri Rukmini dan Putri Satyabhama menyadari bahwasanya mereka perlu menjaga jarak. Senjata katar dan trisula merupakan senjata jarak dekat, sedangkan kain sari dan busur panah merupakan senjata jarak menengah dan jarak jauh. Di kala melesat mundur, tetiba Putri Rukmini melesatkan kain sarinya ke arah pepohonan di sisi. Lengannya lantas melakukan gerakan menyentak, di mana kain sari kembali dengan cepat di mana pada bagian ujungnya melilit sesuatu yang besar mirip sebongkah batu karang. Benda tersebut lantas dilontarkan ke arah para pengejar!

Menyadari kedatangan serangan mendadak, sontak Putri Duhsala dan Putri Vrushali berpencar ke arah kiri dan kanan. Kendatipun demikian, keduanya tak melonggarkan pengejaran. Mereka terus menempel. Yang tak disadari oleh kedua perempuan dewasa muda itu, adalah bahwasanya sesuatu yang baru saja mereka hindari bukanlah batu karang dan bukan pula ditujukan untuk mengincar diri mereka…

“DUM!” 

Sesuatu yang berukuran besar dan kiranya teramat berat mendarat tak jauh di belakang Pangeran Vrihatkshatra yang sedang tertekan oleh gempuran tiada henti dari Tuan Kekar. Setengah terbenam di tanah, ujung benda tersebut berbentuk bola hitam yang ditumbuhi duri-duri panjang dan besar. Tangkainya kokoh sepanjang satu depa.

Pangeran Vrihatkshatra lantas memanfaatkan bilah pedang untuk menerima hantaman lawan, dan memanfaatkan tenaga dorongan demi melontarkan tubuhnya ke belakang. Berguling-guling di tanah, ia lantas tiba di sisi benda tersebut. Segera ia menggapai sebuah gada nan besar!

“Duak!” 

Pukulan gada berukuran sedang milik Tuan Kekar, dihadapi dengan hantaman gada yang berukuran dua kali lebih besar! Genggaman tangan Tuan Kekar bergetar keras dan dirinya pun terdorong mundur delapan sampai sepuluh langkah!  

“Ha! Miliknya lebih besar daripada dikau!” gelak Pangeran Wyudharu di belakang. 

Tuan Kekar mengangkat lengan dan memandangi gada miliknya. Berbentuk seperti sebuah labu, gada tersebut memanglah berukuran lebih kecil daripada gada berduri yang kini berada di dalam genggaman kedua tangan Pangeran Vrihatkshatra. Tangkainya pun lebih pendek. 

Raut wajah Tuan Kekar seketika berubah jengah. “Bocah! Aku akan menumbangkan engkau dan mengambil gada itu!” pekiknya mengacungkan gada labu lurus ke arah lawan. Kata-katanya itu mencerminkan seolah ia menerima sebuah tantangan dan kini tampil penuh semangat. Sebentuk senyuman menghias di sudut bibirnya.

Tak membuang waktuk, Tuan Kekar lantas melesat ibarat seekor banteng yang dipenuhi amarah. Bertolak belakang dengan bentuk tubuhnya yang pendek dan kekar, gerakannya terbilang luwes, bahkan sangat lincah. Berbeda dengan Tuan Kekar, Pangeran Vrihatkshatra terpaksa menghantamkan gada dengan menggunakan kedua lengan. Gerakannya lambat dan terlihat sekali bahwa ia kurang piawai. Tampaknya ia memang lebih menguasai penggunaan pedang dalam menjalani pertarungan jarak dekat. 

Tuan Kekar melompat mundur demi menghindar dari jangkauan gada besar berduri, lantas melecut maju mengincar kepala lawan. Dalam keadaan terdesak, Pangeran Vrihatkshatra mengayunkan gada besar berduri sedapatnya, sambil melompat mundur. Gerakan yang tak terarah ini mampu membuat Tuan Kekar kesulitan menjangkau sasaran. Perbedaan jangkauan dan ukuran senjata tampaknya dapat menjadi faktor penentu jalannya pertarungan.  

“Pangeran Wyudharu! Apa yang kau tunggu!? Cepat tembak Vrihatkshatra!” teriak Si Kumal. “Lumpuhkan dia!”

“Jangan ikut campur!” sergah Tuan Kekar di saat menghantamkan gada labu.

Pangeran Wyudharu mengangkat kedua belah bahunya, seolah mengatakan bahwa dirinya tak berhak untuk ikut campur. Agaknya ada kesepakatan tak tertulis dan tak terucap di antara kedua tokoh tersebut. Bahwasanya, masing-masing telah sepakat untuk tak ambil bagian dalam pertarungan satu lawan satu. 

Pangeran Vrihatkshatra menyibak kembangan dalam upaya mengatasi gempuran yang datang menderu. 

Dalam pertarungan lain, Putri Rukmini dan Putri Satyabhama terus bergerak dengan memanfaatkan ruang yang luas. Keduanya menjaga jarak sembari melepaskan tembakan panah atau melecutkan cambuk kain sari. Di dalam wilayah yang dikelilingi pepohonan, strategi bertempur ini membuat Putri Duhsala dan Putri Vrushali kesulitan menyarankan serangan. Pertarungan ini lebih layak disebut sebagai permainan kucing-kucingan.

Putri Duhsala pun geram. “Jangan hanya menghindar! Hadapi kami!” teriaknya mengacungkan katar di lengan kanan. 

“Hehe… Aku memang pernah mendengar bahwa Canting Emas gampang naik darah, tapi tak menyangka semudah ini…” gelak Putri Satyabhama. 

Permainan kucing-kucingan berlanjut sampai beberapa saat lamanya. Akan tetapi, tetiba Putri Vrushali berhenti di tempat. Sorot matanya menatap jauh melampaui wilayah hutan. “Mereka sengaja mengulur waktu…,” gumamnya pelan. 

“Hm…?” Putri Duhsala turut menghentikan pengejaran. Ia menenangkan diri. 

“Mereka menanti kedatangan bala bantuan…”

“Gawat! Kita kembali!” 

Putri Duhsala dan Putri Vrushali melecut mundur. Tanpa disadari, keduanya telah terpisah cukup jauh dari para sekutu. 

“Duar! Duar! Duar!” 

Rangkaian anak panah berkekuatan tenaga dalam murni, Astra, menghadang langkah keduanya. Tampaknya Putri Satyabhama tak akan memberi izin bagi kedua tokoh tersebut untuk bergabung kembali dengan sekutu mereka. Tetiba, dari balik kepulan debu yang membumbung, kini terlihat Putri Rukmini berdiri menghadang. Rupanya ia langsung bergerak memutar tatkala menyadari bahwa lawan memutuskan untuk mundur. 

Dengan demikian, kini Putri Duhsala dan Putri Vrushali terkepung depan belakang! Keduanya hanya saling pandang dan tak ada pertukaran kata-kata ketika bersama-sama mereka melecut ke arah lawan! 

Tanah berlubang-lubang dan pepohonan bertumbangan. Dada Pangeran Vrihatkshatra naik-turun dengan deras dan sekujur tubuhnya bersimbah keringat. Ia sudah mengerahkan segenap kekuatan untuk memukul mundur setiap satu serangan lawan. Kendatipun kini tak berdaya, tiada terlihat keputusasaan dari raut wajahnya. Sorot matanya terbakar semangat membara!

Di lain sisi, napas Tuan Kekar mengalir teratur dan gerakannya pun luwes seperti sedia kala. Sungguh ketahanan stamina yang tiada banding. Walaupun belum mendaratkan serangan mematikan, sedikit demi sedikit ia berhasil menguras tenaga lawan. Tak lama lagi, dengan sekali pukul, dapat ia menumbangkan mangsa.

Kelelahan membuat Pangeran Vrihatkshatra terpaksa bertumpu pada satu lutut. 

“Cepat selesaikan!” Si Kumal menyadari ada hal yang janggal dari rangkaian pertarungan yang sedang berkutat. Dalam keadaan lima melawan tiga, namun mereka belum kunjung membungkam lawan. Terlebih lagi, Putri Duhsala dan Putri Vrushali tiada terlihat sejak beberapa waktu lalu. Walau mereka tangguh, sepertinya ada kesengajaan dari pihak lawan untuk mengulur-ulur waktu. 

“Tak perlu kau pinta, akan aku selesaikan sekarang!” Tuan Kekar melompat tinggi. Dengan gada labu di lengan kanan, ia hujamkan serangan penutup!

“DUAR!” 


Tatkala hidup dalam pengasingan bersama saudara-saudaranya, Pangeran Bhima menyelamatkan seorang putri rakshasa bernama Hidimbi dari para rakshasa di Hutan Kamyaka. Mereka pun jatuh cinta dan memadu kasih. Malangnya, Pangeran Bhima terpaksa meninggalkan sang kekasih hati karena sudah waktunya keluar dari pengasingan. Para Pandawa diharuskan kembali ke Ibukota Hastinapura. 

Lama setelah perpisahan tersebut, suatu hari Pangeran Bhima sedang berjalan-jalan di bantaran Sungai Gangga nan sejuk. Tiba-tiba ia menyaksikan pemandangan tak lazim di mana terdapat satu keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu dan ketiga putra mereka bersama dengan seorang rakshasa. Pangeran Bhima penasaran, ia pun datang menghampiri. 

Singkat kata dan singkat cerita, keluarga tersebut mengadu akan nasib nahas yang sedang menimpa. Bahwasanya, rakshasa yang sedang menunggu itu mengkehendaki satu nyawa di antara anggota keluarga tersebut sebagai tumbal. Adalah putra kedua mereka yang merelakan diri, namun sebagai syarat keluarga tersebut memohon agar putra kedua mereka terlebih dahulu dimandikan di Sungai Gangga untuk menyucikan diri. Sang rakshasa menyetujui. 

Mendengar ceritera nan haru biru, Pangeran Bhima lantas menawarkan diri sebagai tumbal pengganti. Akan tetapi, ia mengajukan syarat yang lain lagi, yaitu sang rakshasa harus terlebih dahulu mengalahkan dirinya dalam pertarungan satu lawan satu!

Pertarungan pun segera berlangsung. Mengandalkan tangan kosong, sang rakshasa dan Pangeran Bhima bertarung berhari-hari lamanya. Sengit, di mana kedua belah pihak tak ada yang hendak mengalah. Sampai pada akhirnya mereka sama-sama kelelahan, dan pertarungan terhenti sejenak. 

Di saat rehat, ibunda dari sang rakshasa tiba-tiba datang menyusul. Karena berhari-hari sudah anaknya tak kunjung kembali dari pencarian tumbal manusia, wajar bila ia merasa khawatir. Sang ibunda rakshasa pun menemukan sang anak sedang bersama tokoh yang sangat ia kenali. 

Hari itu adalah hari di mana Hidimbi bersua kembali dengan sang kekasih hati, Pangeran Bhima. Hidimbi pun menceriterakan bahwa rakshasa yang bertarung dengan Pangeran Bhima, sesungguhnya adalah putra mereka! 

Betapa senangnya hati Pangeran Bhima kala itu. Tiada menyangka bahwa ia bertarung mati-matian menghadapi putranya sendiri. Ia menyanjung ketangguhan sang putra, dengan mengatakan bahwa sangat jarang ada sosok yang dapat mengimbangi dirinya dalam hal kekuatan. Tak lupa pula Pangeran Bhima menceramahi Hidimbi dan sang putra karena masih memegang kebiasaan mengorbankan manusia. 


“DUAR” 

Gada labu meledak menjadi kepingan-kepingan logam yang tercacah ke semerata penjuru. Di saat yang bersamaan, Tuan Kekar terlempar puluhan langkah ke belakang, bahkan melampaui tempat di mana Pangeran Wyudharu berada. Tubuhnya baru terhenti ketika menabrak dan menumbangkan sebatang pohon. Ia bertumpu pada satu lutut, lantas membatukkan darah!

Di tempat di mana Pangeran Vrihatkshatra sepantasnya menjemput ajal, kini berdiri sesosok tubuh nan besar. ‘Besar’ sesungguhnya bukanlah kata yang tepat untuk mewakili ukuran tubuh sosok tersebut. Tingginya hampir tiga kali manusia dewasa, dengan otot-otot yang menggembul ketat. Kepalanya botak, namun kumisnya melenting perkasa. Ia mengenakan sepasang anting besar di telinga, dan sebentuk kalung rantai emas yang menggantung di leher. Setiap kali ia menarik napas, terdengar selayaknya gemuruh petir. Aura yang mencuat dari dirinya demikian mencekam! 

“Gawat!” Tokoh biasa-biasa saja melecut ke arah Tuan Kekar. 

Pangeran Wyudharu terpana sejenak, namun saat menyaksikan Si Kumal berlari, ia pun mengikuti untuk memeriksa keadaan Tuan Kekar. 

“Minggir!” sergah Tuan Kekar ketika hendak ditopang berdiri. Ia lantas menertawakan diri sendiri. “Hehehe… Lumayan… Bakal lawanku kali ini tak tanggung-tanggung. Rakshasa… bukan sembarang rakshasa… Bukankah dia Ghatotkacha Putra Bhima…?”