Episode 431 - Tokoh Biasa-Biasa Saja



Rembulan purnama menggantung jauh di langit tinggi. Ia dilatarbelakangi kerlap-kerlip bintang-bintang yang berserakan. Kombinasi sang rembulan dan bebintang ini ibarat sebongkah batu karang besar yang dikelilingi pasir putih tepi pantai di kala air laut sedang surut. Suasana malam yang temaram sepantasnya tenteram. 

“DUAR!” 

Lima sosok serempak melompat mundur demi menyelamatkan diri. Mereka adalah Pangeran Wyudharu, Tuan Kekar, Putri Duhsala serta Putri Vrushali. Terakhir, adalah Si Kumal yang melompat paling belakang sehingga tubuhnya terpental karena kekuatan ledakan, lantas ia terjatuh berjumpalitan. 

“Ketangguhan mereka di luar perkiraan,” gerutu Putri Duhsala kepada Pangeran Wyudharu. Canting Emas masih beranggapan bahwasanya sang pangeran merupakan Bintang Tenggara. 

Putri Vrushali menatap iba kepada Si Kumal yang sedang tergopoh-gopoh untuk bangkit berdiri. Entah bagaimana, namun yang jelas Kuau Kakimerah dapat mengenali sesiapa yang menumpang di tubuh siapa. Setidaknya demikian adalah kesimpulan Si Kumal. 

“Swush!”  

Selembar selendang, atau lebih tepatnya sehelai kain ‘sari’, melesat mengincar kepala Pangeran Wyudharu. Sebagai catatan, kain sari merupakan lembaran kain lembut tipis tanpa jahitan yang rata-rata panjangnya berkisar antara empat sampai dengan delapan meter. Akan tetapi, lembaran kain sari yang melesat ini setidaknya berukuran panjang lima belas meter, dan dapat menyentak sangat keras mirip cambuk karena di balut tenaga dalam murni dalam wujud Shastra! 

Pangeran Wyudharu melenting mundur, namun sapuan kain sari yang berhasil ia hindari tiada berhenti. Kain sari tersebut kini mengincar deras ke arah kepala Tuan Kekar. Merasa bahwa dirinya ditantang adu kekuatan satu lawan satu, sontak saja Tuan Kekar mengangkat lengan kiri dan menangkap kain sari tersebut! Kegiatan tarik-menarik pun tak terhindarkan, dan berkat ketangguhan otot-otot lengan, sayap dan bahu, serta kekuatan tekad, Tuan Kekar sedikit lebih unggul dibandingkan lawan.   

“Awas!” Putri Duhsala menyadari akan ancaman yang datang, sontak ia melompat maju. 

“Duar! Duar! Duar!” 

Terlambat! Rangkaian tiga anak panah yang dibalut tenaga dalam murni, alias Astra, mengincar telak tubuh yang sedang terlibat tarik-menarik kain sari. Untunglah pada detik-detik terakhir, Tuan Kekar mengibaskan gada di dalam genggaman tangan kanan untuk menebas serangan beruntun jarak jauh. Kain sari di tangannya terlepas. 

Jadi, kain sari yang berperan sebagai serangan jarak menengah, yang sebelumnya melilit di pinggang dan ujungnya disangkutkan dari bahu sampai punggung bagian belakang, adalah milik Putri Rukmini, istri pertama Basudewa Krishna. Sedangkan tembakan beruntun anak panah, adalah berasal dari Putri Satyabhama, istri kedua Basudewa Krishna. Sementara itu, Pangeran Vrihatkshatra sedang beristirahat memulihkan diri. 

Pertarungan terhenti sejenak. 

“Hebat sekali Tuan Kekar,” puji Putri Duhsala. “Sekembalinya di Negeri Dua Samudera nanti, dapat kiranya kita meluangkan waktu berlatih tarung!” 

“Kita tak bisa membuang-buang waktu di sini…,” gerutu Pangeran Wyudharu. Ia kurang nyaman menyaksikan Tuan Kekar mendapat sorotan.  

Berbeda dengan keadaan di Padang Kurukshetra, meskipun lima melawan tiga tampaknya kali ini kubu Kurawa tertekan. Kehebatan dua dari delapan istri Basudewa Krishna sungguh di luar perkiraan!

“Siapa sebenarnya kalian!?” Tetiba Si Kumal berteriak kepada lawan. Ia hendak memastikan siapa saja mereka-mereka yang dihadapi. 

“Hmph… Rekanmu sepertinya tiada dapat diandalkan…,” gerutu Putri Duhsala kepada Pangeran Wyudharu. 

“Iya, dia memanglah payah…” Pangeran Wyudharu pun menimpali sambil bergerak mendekat ke arah Putri Duhsala dan Putri Vrushali. 

Di lain sisi, Si Kumal geramnya minta ampun. Menyebalkan sekali gelagat kakek tua mesum itu. 

“Mereka adalah dua gadis belia dari Sanggar Sarana Sakti…,” jawab Putri Vrushali. 

“Hah!?” Si Kumal sulit percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Jikalau benar kedua tokoh tersebut adalah berasal dari Sanggar Sarana Sakti, maka kemungkinan besar merupakan Lampir Marapi dan Citra Pitaloka. Terkait hal ini, bukankah mereka semua memiliki hubungan baik di Negeri Dua Samudera…? Demikian pula halnya dengan Panglima Segantang. Terlepas dari saat ini mereka terpisah dalam kubu Pandawa atau Kurawa, bukankah sepantasnya mereka bersekutu…? “Jikalau demikian, kita tak perlu bertarung…,” lanjut Si Kumal. 

“Sungguh kau terlalu polos, wahai tokoh biasa-biasa saja dari Perguruan Budi Daya,” celoteh Putri Duhsala kepada Si Kumal. 

Siapa yang tokoh biasa-biasa saja!? batin Si Kumal berteriak. Namun ia masih enggan, atau lebih tepatnya kurang percaya diri, untuk mengungkapkan jati diri sebenarnya kepada Putri Duhsala.

Putri Duhsala melanjutkan, “Di dalam dunia ilusi ini, semua ahli yang datang dari Negeri Dua Samudera memiliki satu tujuan utama, yaitu menumbuhkan keahlian masing-masing. Jadi, mereka akan memainkan peran sebaik mungkin untuk mencapai tahap akhir Perang Kurukshetra…”

Si Kumal tiada memiliki ruang untuk membantah. Berbeda dengan dirinya yang diseret ke dalam dunia ilusi ini oleh Balaputera Khandra nan biadab, memanglah benar bahwa setiap ahli dari Negeri Dua Samudera akan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menumbuhkan keahlian masing-masing. Akan tetapi, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di dalam benaknya, dan ia pun mempertanyakan kepada Putri Duhsala. “Bila demikian adanya, apakah tujuan kita di tempat ini…? Bukankah lebih baik kita menjalani Perang Kurukshetra…?”

“Aku pun tak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Aku mendapat perintah dari Putra Mahkota Duryudhana, dan aku tahu bahwa beliau memiliki alasan tersendiri. Yang pasti, alasannya pastilah demi kebaikan kita bersama.”

Cih! Lagi-lagi Balaputera Khandra si biadab! batin Si Kumal. Tampaknya kekaguman Canting Emas terhadap tokoh tersebut sudah membutakan mata dan akalnya. Tak ada gunanya memperdebatkan. 

Ketika perbicangan berlangsung di kubu Kurawa, di kubu Pandawa pun terjadi pertukaran kata-kata. 

“Hahai…,” gelak Putri Satyabhama riang. “Sepertinya lawan sudah mengetahui jati diri kita…”

“Menurut hematku,” tanggap Putri Rukmini, “di hadapan kita adalah Bintang Tenggara, Canting Emas, Kuau Kakimerah… Aku tak mengenal dua tokoh lain, yang kekar itu cukup tangguh, sedangkan yang kurus itu tampaknya biasa-biasa saja…” 

“Kakak Gemintang!? Yang mana!? Yang mana!?” tanggap Putri Satyabhama sembari melongok. 

“Itu. Tampaknya dia yang menjadi Kurawa ke-100.”

“Tampaaannn…” Kedua bola mata Putri Satyabhama berbinar.

Tentu saja Si Kumal mencuri dengar perbincangan antara Putri Satyabhama dan Putri Rukmini. Segera dapat ia mencirikan bahwa Putri Satyabhama adalah Lampir Marapi sedangkan Putri Rukmini adalah Citra Pitaloka. Sangat jelas tercermin dari gelagat keduanya. Karena pernah berada di dalam satu regu dengan kedua gadis tersebut, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa Lampir Marapi memang terbiasa bertarung sebagai pendukung jarak jauh dan Citra Pitaloka perkasa dalam pertarungan jarak menengah. Bilamana Panglima Segantang pulih, maka kubu Pandawa akan memiliki daya dobrak petarung jarak dekat! 

“Kita harus segera menyingkirkan mereka!” seru Si Kumal. Pemikiran yang wajar, karena selagi masih unggul jumlah mereka harus segera membungkam lawan. 

“Tuan Kekar dapat membuka serangan, sedangkan diriku dan Putri Vrushali akan menjadi penyerang utama. Pangeran Wyudharu dapat melepaskan panah melindungi kita. Kau, tokoh biasa-biasa saja, tunggu saja di sini. Jangan membebani kami…,” ucap Putri Duhsala dalam satu tarikan napas.

“Apa!?” 

Demikian, kubu Kurawa membuka serangan. Tanpa diarahkan sekalipun, Tuan Kekar memang sudah berniat merangsek maju. Berbekal sebentuk gada berukuran sedang di lengan kanan, ia menyeruduk ibarat seekor badak mengamuk. Putri Duhsala tetiba menggeluarkan sepasang senjata yang mirip dengan huruf ‘H’, di mana pada satu ujungnya merupatan belati lurus berbentuk segitiga berukuran sedang. Katar adalah nama senjata tradisional tersebut. Di saat yang bersamaan, Putri Vrushali juga mengeluarkan senjata, yaitu sebilah tombak bermata tiga, atau biasa dikenal sebagai trisula! (1)

Putri Duhsala dan Putri Vrushali kini bertarung sepenuh hati. Keduanya ikut menyerang dengan menempel ketat di belakang Tuan Kekar.  

“Brak!” 

Tuan Kekar menghantamkan gada kepada Pangeran Vrihatkshatra yang memaksakan diri menghadang dengan pedang besar melengkung. Seperti pada pertukaran serangan sebelumnya, gada dengan mudah membungkam pertahanan pedang. Akan tetapi, di saat yang bersamaan pula, anak panah melesat dan kain sari berkelebat. Pihak lawan tak memberikan ruang kepada Tuan Kekar untuk memburu! 

“Srash!” 

Kedua perempuan dewasa muda melompat cepat dari sisi kiri dan kanan Tuan Kekar. Trisula mematahkan panah dan katar menebas kain sari. Berikutnya, Putri Duhsala dan Putri Vrushali terus merangsek maju. Mereka mengabaikan Pangeran Vrihatkshatra karena percaya akan ditaklukkan oleh Tuan Kekar. Yang menjadi incaran adalah dua lawan yang lebih berbahaya di hadapan! 

Dengan demikian, pertarungan masuk ke babak berikutnya. Adalah Canting Emas berhadapan dengan Citra Pitaloka dan Kuau Kakimerah berhadapan dengan Lampir Marapi! Sungguh menarik mencermati seperti apa pertarungan yang akan berkutat.

Di belakang, Pangeran Wyudharu siaga menarik busur. Namun demikian, ia tak melepaskan tembakan. Kedua bola matanya mengeker kepada empat pasang ketiak yang bergerak luwes. 

Juga di belakang, tokoh biasa-biasa saja tidak tinggal diam. Ia mengamati dengan seksama dan menantikan kesempatan untuk melancarkan serangan pamungkas. Si Kumal akan membuktikan diri sebagai tokoh yang pantas diperhitungkan! 


===


Suasana petang di Ibukota Minangga Tamwan ricuh. Seorang perempuan dewasa datang dan berlaku sesuka hati. Ia kini sedang berhadapan dengan perempuan setengah baya. Keduanya berada pada Kasta Bumi! 

Terkait Kasta Bumi, sesungguhnya Ibukota Minangga Tamwan adalah satu dari hanya beberapa tempat di Negeri Dua Samudera yang menampung dua ahli Kasta Bumi. Ahli Kasta Bumi pertama tentu saja Balaputera Dewa, sedangkan yang kedua adalah Balaputera Tarukma. Akan tetapi, dikabarkan bahwa Balaputera Tarukma membelot dan angkat kaki dari Ibukota Minangga Tamwan. Demikian, Mayang Tenggara berpandangan bahwa ia dapat leluasa bergerak bila nanti berhadapan dengan Balaputera Dewa.

Di luar perkiraan Mayang Tenggara, rupanya terdapat satu lagi ahli Kasta Bumi, yaitu seorang perempuan setengah baya yang saat ini menghadang langkahnya. Agaknya perempuan setengah baya tersebut hanya baru-baru ini menerobos ke Kasta Bumi.

Saat ini Mudra Abhaya tampil perkasa di langit petang. Ibarat raksasa yang tiada bisa ditumbangkan, sosoknya menaungi semesta. Betapa banyak ahli di Ibukota Minangga Tamwan yang menyaksikan dengan takjub. Sebaliknya, Mayang Tenggara mencibir. Baginya, perempuan setengah baya itu menggunakan jurus yang meniru kemampuan suaminya. Padahal, pada kenyataannya, pencerahan Balaputera Ragrawira atas Kamulan Bhumisambhara adalah didasarkan pada kemampuan sang ayahanda dan kenangan akan sang ibunda, Balaputera Sukma.

Sebagai catatan, si menantu tentu tiada pernah barang sekalipun bersua muka dengan sang ibunda mertua. Balaputera Sukma diketahui menjemput ajal tatkala Balaputera Ragrawira masih berusia sangat muda. Saat Mayang Tenggara bertemu dengan Balaputera Ragrawira untuk kali pertama pun, Balaputera Sukma sudah tiada.

“Swush!” 

Mayang Tenggara melesat. Uniknya, kecepatan tubuhnya seolah meledak berkali lipat. Hanya dalam satu kedipan mata, ia menempuh jarak ratusan langkah dan hadir tepat di hadapan lawan! 

“DUAR!” 

Demikian pula dengan tinju Mayang Tenggara. Gerakannya ringan seolah sedang melepaskan pukulan biasa, namun sedetik sebelum mendarat, tinju tersebut seolah meledakkan kekuatan yang berkali lipat. Ini bukanlah jurus gegap gempita seperti Tinju Super Sakti, namun lebih mirip dengan kemampuan… Pencak Laksamana Laut! 

“DUAR! DUAR! DUAR!” 

Mayang Tenggara melepaskan tinju susulan bertubi-tubi. Akan tetapi, Balaputera Sukma hanya menahan dengan telapak tangan raksasa yang terdiri dari ribuan formasi segel berwujud belati-belati kecil. Perlahan namun pasti, setiap menahan gempuran tubuh Balaputera Sukma semakin tinggi mengangkasa. 

“Heh… Kau hendak menjauhkan aku dari ibukota…?” cibir Mayang Tenggara. 

Balaputera Sukma tersenyum. Tentu dia menyadari bahwa pertarungan sengit di antara dua ahli Kasta Bumi akan membuat wilayah sekitar luluh lantak. Setidaknya, ia hendak memberikan kesempatan kepada ahli-ahli Kasta Emas di bawah sana berkumpul dan membangun formasi segel pertahanan yang lebih tangguh untuk meredam dampak pertarungan. 

“Meski masih berusia muda, namun sungguh dikau memiliki kemampuan yang digdaya,” puji Balaputera Sukma kepada lawannya. 

Mayang Tenggara tiada menanggapi. Benaknya sedang melakukan perhitungan. Serangan-serangan yang ia lancarkan sebelumnya bertujuan untuk menguji pertahanan Mudra Abhaya, dan kesimpulannya adalah formasi segel tersebut bukanlah isapan jempol semata. Bila hendak menumbangkan perempuan setengah baya itu, maka dirinya harus bertarung sepenuh hati. Dengan kata lain, walaupun dapat menumbangkan lawan kali ini, nantinya ia akan kelelahan dan kesulitan menghadapi Balaputera Dewa. 

“Apakah tujuan dikau bertemu dengan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang? Tidak bisakah kita bahas duduk perkaranya baik-baik…?”

Mayang Tenggara menghela napas panjang. Sedikit melunak, ia lantas menanggapi, “Ada yang hendak aku pertanyakan…”

“Jikalau hanya pertanyaan, mungkin diriku dapat membantu…” Lagi-lagi perempuan setengah baya itu menyibak senyuman nan teduh. 

“Tak ada yang bisa menjawab selain Balaputera Dewa… dan untuk menjawab dia harus dipaksa!” Mayang Tenggara sepertinya mengenal sifat Balaputera Dewa. Tokoh antik tersebut terkenal tinggi hati. 

Ketika mereka sedang bertukar kata, dari arah bawah terlihat dua formasi segel berukuran besar mengudara. Yang satu berwujud seekor burung rajawali dan satunya lagi berwujud beruang. Formasi Segel Syailendra. 

Baik Mayang Tenggara maupun Balaputera Sukma mengenali kedua formasi segel tersebut. 

“Jangan mendekat!” perintah Balaputera Sukma. 

Kendatipun mendapat perintah, keduanya tetap mendatangi. Balaputera Samara di balik formasi Segel Syailendra Rajawali tiba terlebih dahulu. Dengan raut wajah kebingungan ia berujar, “Mengapakah ibunda bertarung…?”

Berikutnya, Balaputera Rudra menyusul. “Adinda Mayang, ada apakah gerangan…?”

Baik Mayang Tenggara maupun Balaputera Sukma saling pandang. Terpana.



Catatan:

1) Penampakan Katar