Episode 430 - Ashtabharya



“Izinkan hamba menghadap Yang Mulia Pangeran Wyudharu. Hamba membawa pesan penting dari Putra Mahkota Duryudhana,” ujar seorang lelaki dewasa. Penampilannya mencerminkan pejabat tinggi di Kemaharajaan Kuru. 

Pesan yang disampaikan oleh utusan tersebut rupanya memuat perintah agar pada subuh hari pertama Perang Kurukshetra, para penerima pesan hendaknya segera bertolak untuk menjalankan tugas rahasia. Demikian, Ginseng Perkasa, Komodo Nagaradja dan Bintang Tenggara yang masing-masing menumpang di tubuh Kurawa ke-100 Pangeran Wyudharu, Tuan Kekar dan Si Kumal sehari suntuk melesat cepat dengan menunggang kuda. 

Tak diketahui apakah tugas rahasia dimaksud. Saking rahasianya, tak diketahui apa sesungguhnya maksud dan tujuan dari tugas tersebut. Akan tetapi, si utusan kemudian mengungkap tentang jati diri sebenarnya Putra Mahkota Duryudhana. Sungguh mencengangkan. Bahwasanya, yang menumpang di tubuh tokoh tersebut tak lain adalah Balaputera Khandra! 

Pada awalnya tentu saja Si Kumal menolak keras melaksanakan tugas rahasia yang datang dari tokoh licik bin penipu. Akan tetapi, baik Pangeran Wyudharu maupun Tuan Kekar memiliki firasat akan keadaan yang bersifat darurat. Tanpa banyak tanya, keduanya menyanggupi perintah. Bahkan setelah Si Kumal berkali-kali memperingatkan bahwa Balaputera Khandra bukanlah tokoh yang dapat dipercaya, keduanya tetap bersikeras melaksanakan tugas rahasia tersebut. Yang lebih menyakitkan lagi, keduanya bahkan rela meninggalkan Si Kumal seorang diri menjalani Perang Kurukshetra. 

Walhasil, menyadari bahwa dirinya akan mati konyol tanpa keberadaan Pangeran Wyudharu dan Tuan Kekar, Si Kumal pun terpaksa mengikuti mereka. Ia menitipkan kereta perang dan pasukan prajurit Sampshapataka kepada Sanjay. Pasukan Sampshapataka terkenal tahan banting sehingga tiada perlu dipikirkan nasib mereka, namun semoga Sanjay baik-baik saja. Setelah urusan tugas rahasia ini selesai, Si Kumal akan segera kembali dan turut serta di dalam Perang Kurukshetra. 

Saat ini, di dalam benaknya Si Kumal lebih menantikan kesempatan di mana dirinya akan tertawa puas bila pada akhirnya perintah Putra Mahkota Duryudhana merupakan muslihat belaka. Hahaha…

Perjalanan berlangsung tanpa hambatan, dan sebentar lagi mereka akan tiba di kaki Gunung Girinagar. Hari jelang petang dan sebentar lagi agaknya Perang Kurukshetra hari pertama akan berakhir dengan kemenangan besar di pihak Kurawa. Setidaknya demikian adalah kejadian sebenarnya menurut catatan sejarah. Mungkin dan bisa saja berakhir berbeda, mengingat para pelakonnya kali ini adalah tokoh-tokoh dari Negeri Dua Samudera yang kiranya mengetahui jalannya perang selama delapan belas hari ke depan. 

Mulai memasuki wilayah mendaki, Si Kumal mengenal betul tempat di mana mereka berada, yaitu di kaki Gunung Girinagar. Perjalanan beberapa jam lagi akan membawa mereka ke tempat tinggal Kakek Govinda. Mungkinkah tokoh tersebut telah kembali…?

“Swush!” 

Sebilah anak panah tetiba melesat membelah angin. Pangeran Wyudharu mengelak dengan menyerongkan tubuh, demikian pula Tuan Kekar di belakangnya. Menyaksikan gelagat kedua tokoh di hadapan, Si Kumal pun sontak merunduk. Beberapa batang pohon di belakang mereka bertumbangan dilibas anak panah tersebut. Tak diragukan lagi, anak panah tersebut berkekuatan tenaga dalam murni! Astra!

Telapak kaki ketiga ekor kuda berdecit tatkala masing-masing penunggang mereka menarik keras tali kekang sebagai perintah untuk segera berhenti. Terlihat berdiri sekira seratus langkah di hadapan, seseorang telah menanti! 

“Cih! Ternyata benar, bahwa akan ada pengecut yang melarikan diri dari perang!” ungkap siluet tubuh nan gagah. Adalah seorang lelaki yang menunggang kuda dan dilatarbelakangi sang mentari yang tak lama lagi terbenam. 

Pangeran Wyudharu, Tuan Kekar dan Si Kumal mengenali lelaki dewasa muda yang menghadang! Dia adalah si pangeran terbuang dari Kerajaan Kekaya yang berpihak kepada kubu Pandawa!

“Di sini aku akan menyingkirkan kalian, lalu menumpas para Kurawa!” teriaknya sambil menarik busur. 

“Hehehe…” Kuda Tuan Kekar melangkah maju perlahan. “Kebetulan sekali, Pangeran Vrihatkshatra, aku memiliki perhitungan yang perlu diselesaikan dengannya…” 

Sebagaimana diketahui, tatkala melaksanakan tugas menyambangi Sangkuni Raja Gandhara beberapa waktu lalu, rombongan Pangeran Wyudharu, Tuan Kekar dan Si Kumal pernah dicegat dan diburu oleh Pangeran Vrihatkshatra. Saat itu, mereka bertiga masih lemah sehingga Pangeran Wyudharu tertancap panah, Tuan Kekar digebuki prajurit dan ditahan, sedangkan Si Kumal ditinggal menjemput ajal setelah dipukuli tak sadarkan diri.

Pangeran Wyudharu dan Si Kumal pun melangkah maju, menyusul Tuan Kekar. 

“Kalian lanjutkan perjalanan,” ucap Tuan Kekar. “Aku akan menumpasnya seorang diri!” 

“Tapi, bukankah akan lebih cepat bila kita hadapi bersama-sama. Lagipula, dia menguasai Astra dan kita juga tak mengetahui apakah benar dia hanya seorang diri…,” tanggap Si Kumal. 

“Hmph!” dengus Tuan Kekar tanpa menoleh. “Akan kuselesaikan seorang diri!” tegasnya lagi. Ia lantas melompat turun dari atas kuda dan melangkah lurus menuju lawan di hadapan.

“Biarkan saja, sepertinya akan menjadi tontonan yang menarik,” tanggap Pangeran Wyudharu. “Toh, kita tiba lebih cepat dari rencana.” 

“Hrargh!” Tuan Kekar meraung di saat ia merangsek maju. 

Di lain sisi, Pangeran Vrihatkshatra tampil tenang. Masih duduk di atas pelana kuda, ia melepas beberapa tembakan anak panah lagi namun tak satu pun yang mengenai sasaran. Hanya ledakan-ledakan yang mengguncang tanah ketika Tuan Kekar yang walau bertubuh gempal, bergerak lincah membaca arah serangan.

Keduanya kini terpisah hanya sekira sepuluh langkah. Tuan Kekar melompat ibarat gada besar yang dilempar dengan kekuatan seratus orang. Dengan tangan kosong, ia menerkam mangsa! 

Pangeran Vrihatkshatra bersama kudanya menghindar ke sisi. Percaya diri sekali dia dengan kemampuan mengendalikan kudanya. Serangan Tuan Kekar berikutnya pun luput, namun bersamaan dengan gerakan menghindar Pangeran Vrihatkshatra sudah menarik busur di tangannya! 

Anak panah dilepaskan dalam jarak yang sangat dekat dan mengincar sudut mati, sehingga tiada memungkinkan bagi Tuan Kekar mengelak! Akan tetapi, baru saja anak panah tersebut meninggalkan busurnya, segera ditanggkap oleh sebelah tangan Tuan Kekar. Seperti telah menanti, dengan segenap kekuatan anak panah tersebut lantas ditancapkan pada tubuh si kuda! 

“BYAR!” 

Tubuh kuda nan malang hancur berkeping menjadi gumpalan daging tak berbentuk. Darah merah nan segar bersimbah ke semerata penjuru. Kendati demikian, pada detik-detik terakhir tadi Tuan Kekar telah menendang pundak kuda dan melontarkan tubuhnya menjauh dari pusat ledakan. Dengan demikian, pakaiannya tak terkena noda darah. 

Pertukaran serangan terkesan berlangsung lambat ketika digambarkan dengan kata-kata. Padahal, pada kejadian sebenarnya hanya membutuhkan waktu beberapa kedipan mata sahaja!

Dari balik ledakan, kini terlihat tubuh Pangeran Vrihatkshatra yang bersimbah darah kuda. Sepertinya ia tak mengalami cedera, namun harga dirinya nan tinggi tercabik-cabik bersamaan dengan nasib kuda nan malang. 

“Hraaaaargh!” Pangeran Vrihatkshatra melolong. Wajahnya tertutupi darah kental, namun sorot matanya lurus melotot. “Aku, ksatria Panglima Segantang tak akan bertekuk lutut di hadapan khalayak jelata!” teriaknya dengan amarah memuncak sembari mengacungkan telunjuk. 

“Eh!?” Si Kumal sontak mencondongkan tubuh ke hadapan. “Panglima!” Sontak ia berteriak dan hendak memacu kuda menuju sang sahabat. Tentunya berniat menghentikan pertarungan. 

“Tunggu!” Pangeran Wyudharu merentangkan lengan. “Dari mana dapat kita pastikan bahwa dia adalah Panglima Segantang yang asli…?” lanjutnya. 

“Tadi ‘kan dia menyebut sendiri!” 

“Keberadaan kita di tempat ini nyatanya telah diketahui oleh kubu Pandawa,” lanjut Pangeran Wyudharu. “Dengan demikian dapat dipastikan bahwa ada mata-mata yang memantau gerak-gerik kita. Sebaiknya jangan gegabah, karena mungkin saja ini merupakan siasat mereka.”

Si Kumal mengangguk pelan. Masuk akal, batinnya. Akan tetapi, di dalam benak ia berpandangan bahwa kemungkinan sejak awal tak ada mata-mata sama sekali. Bahkan, tak mengherankan bila kejadian ini merupakan siasat Balaputera Khandra yang sengaja membocorkan kehadiran mereka. Putera Mahkota Duryudhana berniat memecah kekuatan perang Pandawa. Inilah dia tujuan dari tugas rahasia dimaksud! Pasti itu!

Tuan Kekar menyilangkan lengan di depan dada. “Oh…? Lawanku hanya bocah?” cibirnya pelan. 

Pangeran Vrihatkshatra mencabut pedang besar dan melengkung yang menyoren di pinggang. Ia lantas merangsek maju ke arah lawan. Berbeda dengan saat berada di atas kuda, gerakannya sangat gesit. Pertukaran serangan pun berlangsung seketika itu. Secara perlahan dan pasti Pangeran Vrihatkshatra terus menekan. Bagaimana tidak, tubuh Pangeran Vrihatkshatra dan Tuan Kekar sejatinya adalah berbeda. Yang satu adalah keturunan ksatria, sedangkan satunya lagi hanya khlayak jelata. Seberapa keras pun Tuan Kekar melatih raga, pada dasarnya ambang batas kemampuan di antara mereka secara lahiriah terpisah jauh. 

“DUAK!” 

Tendangan menohok yang berasal dari kaki nan jenjang menghantam tubuh Tuan Kekar. Tubuhnya nan pendek dan kekar terlontar mundur sampai sekira sepuluh langkah seperti bola raksasa. Ia akhirnya berhenti di tempat di mana kedua rekannya asyik menonton.

“Kau kepayahan…?” cibir Pangeran Wyudharu dari atas kuda. 

“Hehe… Anggap saja aku memberi keuntungan kepada bocah itu. Supaya lebih seru…” Sepertinya ia sangat menikmati pertarungan walaupun berlangsung berat sebelah. Demikian, Tuan Kekar kembali melompat maju. 

Pertarungan kembali berjalan. Dari jual-beli serangan, jelas terlihat bahwa Pangeran Vrihatkshatra lebih unggul dari segi kekuatan dan kecepatan. Setiap serangannya bertenaga dan tepat sasaran. Tuan Kekar dapat mengimbangi hanya karena nalurinya lebih terasah. 

“DUAK!”

Kali ini, tinju lengan kiri Pangeran Vrihatkshatra menghantam bahu lawan. Tuan Kekar semakin kewalahan. Selagi kali ia terpukul mundur!

“Pertarungan ini akan berlangsung semalam suntuk… dan dikau belum tentu menang,” gerutu Pangeran Wyudharu dari atas kuda. Selain kekuatan dan kecepatan, tentu ia juga menyadari perbedaan stamina di antara Pangeran Vrihatkshatra dan Tuan Kekar. 

“Sial! Pedangnya berbalut Shastra! Salah sedikit saja tubuhku bisa dipenggal!” 

“Hmph…” Pangeran Wyudharu lantas menendang sesuatu di sisi kuda yang sebelumnya ditunggangi Tuan Kekar. Sebuah gada berukuran sedang melayang dan mendarat di hadapan Tuan Kekar. “Cepat selesaikan!” 

Tuan Kekar sedikit ragu, namun akhirnya meraih gada tersebut. “Ya, ya, ya… akan kuselesaikan cepat.” Mengangkat enteng gada tersebut, ia lantas membalutnya dengan tenaga dalam murni. Tak pelak lagi, Tuan Kekar menguasai Shastra! 

Sedari pertarungan dimulai, Si Kumal menonton hampir tiada berkedip. Dari gerakan bertarungnya Pangeran Vrihatkshatra, ia mengenali bahwa tokoh tersebut benar-benar merupakan Panglima Segantang. Kalau dibandingkan dengan ketika mereka masih bersama dulu, Panglima Segantang yang sekarang adalah jauh lebih tangguh. Selain itu, hanya Panglima Segantang seorang yang benar-benar ceroboh dengan mengumbar jati diri yang sebenarnya kepada musuh. 

Pertarungan berlanjut dan berlangsung semakin sengit. Dengan gada yang digenggam pada tangan kanan, Tuan Kekar mampu menutupi kekurangan kekuatan dan kecepatan. Layaknya perpanjangan tinju, gada tersebut melibas deras hampir tanpa kendali. Bahkan, sesekali gada tersebut digunakan untuk melakukan serangan menusuk. 

Dentang suara logam bertemu logam sambung-menyambung, dan perlahan Pangeran Vrihatkshatra kewalahan. Ia terdorong mundur. Senjata gada memang diciptakan untuk mematahkan pedang!

Si Kumal menyaksikan sang super guru beraksi. Betapa serangannya dilancarkan tanpa arah, bahkan terkesan serampangan. Akan tetapi, setiap ayunan gada tersebut sulit ditebak oleh Pangeran Vrihatkshatra. Agaknya, sifat serangan yang tak beraturan itulah yang menjadi andalan. 

“Brak!” 

Gada mendarat telak di dada, namun masih sempat ditahan menggunakan bilah pedang. Kekuatan hantaman gada walau berukuran sedang, tiada dapat dipandang sebelah mata. Untuk pertama kalinya dalam pertarungan tersebut, Pangeran Vrihatkshatra jatuh terjengkang. Ia segera bangkit berdiri, kemudian membatukkan darah! 

“Tampaknya hanya sampai di sini pertarungan kita…” Tuan Kekar melompat tinggi, dengan mengangkat gada lebih tinggi lagi!

“Trak!” 

Sigap Tuan Kekar memasang gada di depan dada. Dari bayangan keremangan petang hari, tetiba datang serangan membokong. Tuan Kekar mendarat, lantas melompat mundur. Astra. Nalurinya mengisyaratkan bahwa ada ancaman besar yang mengincar. 

Dari balik pepohonan besar, dua sosok melangkah keluar. Atau lebih tepatnya, dua perempuan dewasa melompat ringan. 

Melihat kedua tokoh tersebut, Pangeran Wyudharu dan Si Kumal sontak membelalakkan mata, mulut menganga. Ingatan yang mengalir ke dalam benak mereka menyatakan bahwa kedua tokoh tersebut merupakan Rukmini dan Satyabhama!

Putri Rukmini merupakan keturunan Bhishmaka Raja Vidharba. Kesaktiannya tak pernah ditunjukkan secara langsung, namun dikatakan bahwa ia adalah penopang kemampuan sang suami. Sementara itu, Putri Satyabhama merupakan keturunan Satrajit Raja Yadava. Ia memiliki kesaktian tiada banding, bahkan membunuh Raksasa Narakasura penguasa Pragjothishya yang dikatakan memiliki kesaktian setara dengan sang suami. 

Putri Rukmini dan Putri Satyabhama merupakan dua di antara para Ashtabharya, yaitu Delapan Istri Utama Basudewa Krishna! 

Gila! batin Si Kumal berteriak. Basudewa Krishna mengirimkan istri pertama dan istri keduanya. Entah apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi tokoh-tokoh yang sedemikian sakti!? Apakah benar tugas rahasia ini merupakan muslihat Putra Mahkota Duryudhana!? Atau mungkinkah mereka kalah langkah menghadapi siasat Basudewa Krishna!?

Putri Rukmini dan Putri Satyabhama menghampiri Pangeran Vrihatkshatra, sedangkan Tuan Kekar bergabung kembali bersama Pangeran Wyudharu dan Si Kumal. Ia mengutuk keputusan untuk bermain-main menghadapi Pangeran Vrihatkshatra seorang diri. Kini, dalam keadaan tiga lawan tiga, walau Pangeran Vrihatkshatra terluka sekalipun, mereka bukanlah tandingan yang sepadan! 

“Sebaiknya kau cepat naik ke atas kuda…,” bisik Pangeran Wyudharu kepada Tuan Kekar. 

“Kau pikir kita bisa melarikan diri dari mereka…?” Tuan Kekar bersiap bertarung. 

Si Kumal yang memiliki kepiawaian melarikan diri pun melompat turun dari kudanya. Apa mau dikata, meski lawan yang akan dihadapi sangat tangguh, mereka sudah tak dapat menghindar!

Di kala pertarungan berat menjadi keniscayaan dan keputusasaan mendera di lubuk hati, tetiba dari arah belakang terdengar derap tapak kaki kuda mendekat. Si Kumal sontak menoleh dan mendapati dua ekor yang melesat cepat…

“Oh, rupanya kita belum terlambat…,” ujar salah seorang penunggang kuda di saat tiba. 

Kedua bola mata Si Kumal berbinar. Kedua tokoh yang baru tiba merupakan sekutu. Mereka tak lain adalah Putri Duhsala dan Putri Vrushali, alias Canting Emas dan Kuau Kakimerah!