Episode 429 - Tugas Rahasia



Suasana subuh hari yang biasanya sejuk, diliput dengan aura nan sangat gerah. Bila sang mentari terbit nanti, maka tingkat panas akan semakin meluap-luap.

Di bawah kepemimpinan sang pahlawan perkasa nan tiada terkalahkan, Panglima Perang Pithamaha Bhishma Putra Gangga, pasukan perang Kurawa berkumpul di Padang Kurukshetra menghadap ke arah terbenamnya sang mentari. Barisan mereka membentang sejauh mata memandang. Bergerak maju selangkah saja, pasukan tersebut terlihat bak gelombang pasang yang bergulung serta siap menggilas siapa saja dan apa pun yang berada di hadapannya. 

Di hari pertama ini, pihak Kurawa menerapkan formasi perang yang dikenal sebagai Kraucha Vyuha. ‘Vyuha’ merupakan susunan pasukan yang memiliki tujuan tertentu di dalam peperangan. Dalam perang jangka panjang, Panglima Perang kerap menyusun strategi peperangan dalam tahapan, dan mencapainya selangkah demi selangkah. Tergantung pada tujuan, ancaman dan peluang, maka sebuah vyuha pun dipilih.

Secara umum, terdapat delapan belas vyuha, namun yang paling lazim adalah delapan vyuha, antara lain: kraucha (bangau), chakram (melingkar), kurma (kura-kura), makara (buaya), trisula (tombak bermata tiga), sarpa (ular), vajra (petir), dan padma (teratai). Dalam peperangan berskala besar, vyuha disampaikan melalui aba-aba menggunakan bendera, umbul-umbul, gendang, terompet atau sangsakala. Berbagai jenis vyuha dipelajari dan dipahami dengan sangat baik oleh kedua kubu, Pandawa dan Kurawa, dan masing-masing pihak mengetahui cara menanggulangi tiap-tiap vyuha. 

Sebagai catatan, vyuha bukanlah susunan yang kaku di mana pasukan dan panglimanya menyerang langsung ke arah musuh. Ia memiliki sifat yang sangatlah dinamis, bahkan seolah memiliki ‘kehidupan’ sehingga dapat menyesuaikan diri dengan pergolakan di medan perang.

Panglima Perang Dhrishtadyumna yang didampingi Pangeran Arjuna dan Pangeran Bhima mulai bergerak. Armana perang Pandawa merangkai diri membentuk formasi perang Vajra Vyuha yang terkesan tak beraturan namun sesungguhnya memiliki keterikatan, di mana satu pasukan mudah bergerak untuk saling memberikan dukungan.

Kedua kubu menyongsong terbitnya sang mentari. 

Kereta-kereta perang yang bertakhtakan emas dan permata memantulkan cahaya nan gemilang, pasukan gajah yang mengenakan perisai keemasan terlihat seperti gugusan gunung kokoh yang terbuat dari logam mulia. Kubu Kurawa menyibak gairah kemenangan, di mana Panglima Perang Pithamaha Bhishma Putra Gangga berdiri tegar di antara Putra Mahkota Duryudhana beserta adik-adiknya nan perkasa. Sungguh pemandangan yang menggetarkan nyali. 

“Yang Terhormat Madawa,” ujar Pangeran Arjuna kepada kusir kereta perangnya, “Sudi kiranya membawa kereta perang kita ke antara kedua pasukan…” 

Memahami makna di balik kata-kata Pangeran Arjuna, Basudewa Krishna pun memenuhi permintaan tersebut. Berdiri di antara kedua pasukan, Pangeran Arjuna menyaksikan para sahabat dan kerabat yang saling berhadapan antara satu sama lain. Keraguan mulai terpancar di kedua matanya, namun Basudewa Krishna memberikan petuah penyemangat. 

Setelah itu, Putra Mahkota Yudhistra melangkah menuju pasukan Kurawa. Tanpa berbekal senjata apa pun, ia meminta izin kepada Bhisma Putra Gangga, Maha Guru Dronacharya, Krepacharya serta Salya Raja Madara. Ia memohon restu karena terpaksa memerangi mereka yang ia sangat hormati dan kagumi. 

Menyaksikan tindakan tersebut, Putra Mahkota Duryudhana mengulum senyum. Genderang perang belum ditabuh, pertumpahan darah belum dituang, namun lawannya sudah melancarkan perang urat syarat. Dalam pandangannya, tindakan Putra Mahkota Yudhistra dilakukan bukan semata demi menjaga adab kepada pihak-pihak yang dia sanjung di kubu yang berlawanan, melainkan merupakan upaya untuk melemahkan tekad lawan. Putra Mahkota Yudhistra sedang mencitrakan diri sebagai pihak yang berada di jalan kebenaran dan keadilan. 

“Hahaha…,” gelak Putra Mahkota Duryudhana memecah keheningan. “Yudhistira, karena pasukanmu jauh lebih kecil dari pasukanku, apakah engkau berniat mencuri simpati!?” 

Putra Mahkota Yudhistra tiada menanggapi. 

“Aku hendak berjuang bersama dengan dikau, bilamana diperkenankan, wahai Putra Mahkota Yudhistira!” Pangeran Yuyutsu, putra dari Maha Raja Dhrastrarastra dan Sughada, alias adik berbeda ibu dengan Pangeran Duryudhana, tetiba angkat suara. 

“Sungguh kami bersyukur atas kesediaan dikau, wahai saudaraku,” tanggap Putra Mahkota Yudhistira sembari membuka kedua belah lengan. 

Demikian, Pangeran Yuyutsu bersama pasukan di bawah naunganya berpindah kubu. Saat tiba di sisi Putra Mahkota Yudhistira, ia tetap membungkukkan tubuh kepada Putra Mahkota Duryudhana untuk kemudian berujar, “Maafkan diriku, wahai Kakanda. Aku ingin menapaki jalan kebenaran dan keadilan. Di mana ada Basudewa Krishna, maka di sanalah kebenaran dan keadilan itu terletak.”

Caci-maki dan kecaman sontak menggelegar dari kubu pasukan Kurawa. Ingin muntah rasanya mereka menyaksikan wajah pembelot di hadapan mata. Raut wajah Putra Mahkota Duryudhana pun memerah padam, namun dalam hati ia memuji sandiwara yang dimainkan kubu Pandawa. 

Pastinya keputusan Pangeran Yuyutsu berpindah kubu bukanlah terjadi seketika ini, namun telah dipikirkan dan direncanakan matang sedari lama. Sengaja mereka memanfaatkan situasi ini untuk memecah-belah kubu Kurawa. Bagi Putra Mahkota Duryudhana, setidaknya tindakan berpindah kubu tersebut menyingkirkan duri di dalam daging. Akan lebih sulit diantisipasi bilamana si pembelot itu membokong di tengah-tengah peperangan. 

Sang mentari telah sempurna mengangkasa. Sangsakala dan genderang menggelegar sambung-menyambung. Iramanya tangkas selayaknya degup jantung yang berpacu dan nadanya garang mirip binatang buas yang meraung-raung. Dengus napas dan derap langkah kuda menyatu dengan putaran roda kereta perang, lalu berbaur dengan derung belalai gajah-gajah perang yang melengking.

Terbentang luas para ksatria gagah berani, berbalut sutra dan berzirah emas. Di dalam genggaman tangan mereka siap sedia berbagai jenis senjata, di hati mereka penuh dengan kemurkaan untuk membasmi lawan dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Semua mengetahui bahwa kebenaran dan keadilan adalah hak milik sang pemenang. 

Hari pertama Perang Kurukshetra resmi bergulir! 

Bumi bergetar ketika pasukan merangsek maju, langit bergemuruh tatkala teriakan mereka bergelora. Panglima Perang Pithamaha Bhisma Putra Gangga yang kaya pengalaman menggerakkan pasukan di tengah, namun anak-anak panah Pangeran Arjuna bersama putra ketiganya, Abhimanyu, melesat secepat kilat menembus pertahanan kokoh Kurawa. Aswathama dan Dronacharya sigap membalas dengan menghujani anak-anak panah bermata api ke arah pasukan utama Pandawa. Kebakaran tersulut di berbagai tempat.

Di sayap kiri, Bhagadatta Raja Pragjyotisha yang terkenal akan keperkasaan pasukan gajah perangnya menembus ke sayap kanan kubu Kurawa. Jangankan prajurit darat atau prajurit penunggang kuda, pasukan gajah perang lawan pun dibuat luluh-lantak dengan mudahnya. Menyaksikan tindakan kesewang-wenangan tersebut, Virata Raja Matsya merangsek maju demi melindungi pasukan Pandawa. Langkah maju Bhagadatta Raja Pragjyotisha tertahan dan pertempuran sengit merebak!

Pangeran Arjuna berkelit dari lawan sebelumnya, dan kini berhadapan langsung dengan Panglima Perang Bhisma. Ia lantas menghujani kereta perang sang kakek dengan panah-panah berwarna keemasan, namun serangan tersebut tak membuahkan hasil. Sang Panglima Perang sudah dapat membaca alur serangan dan menarik mundur pasukannya untuk kemudian melepaskan tembakan balasan. 

Atas balasan serangan yang bertubi dan tiada dapat dibendung, kusir kereta perang Arjuna sigap membawa pasukan untuk menghindar. Demikian, Basudewa Krishna membawa pasukan di barisan depan ke arah kiri dan memberi aba-aba agar pasukan inti di tengah melangkah maju. Basudewa Krishna hendak mempersempit ruang, bahkan menjepit pergerakan Panglima Perang lawan. 

Jelang tengah hari, pertempuran semakin beringas. Gajah menghantam gajah, kuda menabrak kuda, dan manusia bergelut dengan satu sama lain, mengambil apa saja dalam jangkauan untuk menjagal lawan. Tak jarang memanfaatkan gigi atau tulang lengan sendiri untuk mengganyang musuh sampai mati. Tak seorang pun prajurit yang saat ini berada di tengah Padang Kurukshetra yang terbebas dari cedera. Jika bukan panah yang bersarang di dalam daging, maka sayatan yang merobek kulit. Sulit bagi mereka membedakan apakah yang mengalir di tubuh merupakan bulir keringat, ataukah tetesan darah segar.

Pada sayap kanan kubu Kurawa, di hadapan pasukan Jayadratha Raja Sindhu nan perkasa, Drupada Raja Panchala sebentar lagi terperosok ke dalan jurang kekalahan. Kendatipun demikian, dari gelagatnya terlihat jelas bahwa Jayadratha Raja Sindhu belum mengerahkan segenap kemampuan. Bahkan, ia terkesan sengaja menyimpan tenaga. Sungguh tokoh ini terlampau digdaya! 

Pertempuran antara Panglima Perang Dhrishtadyumna menghadapi Maha Guru Dronacharya berlangsung alot. Masing-masing mengerahkan pengalaman yang dikumpulkan selama puluhan tahun dan kemampuan yang dipupuk melalui disiplin dan kerja keras. Akan tetapi, tampaknya hari ini kedua pasukan belum dapat menentukan siapa yang lebih unggul. 

Pangeran Bhima memerintahkan pasukannya untuk menghujani anak panah ke arah kereta perang Putra Mahkota Duryudhana. Akan tetapi, niat yang mulia belum tentu membuahkan hasil yang memuaskan. Tindakan memanah tersebut tampaknya terlalu ringan untuk dianggap sebagai serangan. Sebaiknya Pangeran Bhima mulai mencari taktik lain dalam menjalani perang, terbukti bahwa kemampuannya dalam menarik busur dan membidik anak panah tiada dapat dibanggakan.

Putra Mahkota Yudhistra terpaksa berhadapan langsung dengan keperkasaan Salya Raja Madara. Kepiawaian sang paman dalam mengendalikan kereta perang hanya dapat disaingi oleh Basudewa Krishna seorang, sehingga tak heran bilamana Putra Mahkota Yudhistra saat ini dalam keadaan tersudut. 

Neraca pertempuran berada di pihak Kurawa. Memahami dengan baik keadaan di medan perang, Panglima Perang Bhisma nan perkasa melakukan penyesuaian pada formasi perang. Kini, didukung oleh Kurawa ke-3 Pangeran Dussala, Kurawa Ke-4 Pangeran Jalagandha, Kurawa ke-5 Pangeran Saha serta beberapa adik-beradik Kurawa lainnya, ibarat gelombang pasang pasukan mereka mendobrak celah di barisan pertahanan. Dihadapkan pada kekuatan yang demikian besar, dari ribuan prajurit Pandawa tak seorang pun berkutik, selain menanti berpisahnya jiwa dengan raga!

Meski masih muda belia, Abhimanyu menyadari ketidakseimbangan yang berlangsung. Dengan gagah berani pula ia membawa pasukannya menghadang laju pasukan tengah kubu Kurawa. Ia melepaskan anak panah bertubi-tubi guna memberi kesempatan bagi pasukan Pandawa menyusun formasi bertahan. Kepiawaiannya memanah semakin terbukti nyata. Selain menghambat laju serangan yang datang bergelombang itu, ia juga menjagal kusir kereta perang Durmukha, bahkan menyarangkan delapan anak panah di tubuh Panglima Perang Bhisma! 

“Sungguh luar biasa, Abhimanyu,” teriak Panglima Perang Bhisma yang kebal walau tertancap panah. Meski dalam perang ini Abhimanyu merupakan musuh, pemuda itu juga merupakan cucunya. “Engkau akan mampu melampaui kemampuan dan keberanian aku dan ayahmu! Menyaksikan sepak terjangmu sungguh merupakan kebanggaan!”

Usai melontar pujian, Panglima Perang Bhisma mengangkat busur dan melepaskan tembakan balasan ke arah Abhimanyu. Tembakan demi tembakan mereka bertemu di udara, namun pengalaman jua akhirnya yang menjadi penentu. Sebilah anak panah Panglima Perang Bhisma menancap di tubuh Abhimanyu!

Tak jauh dari tempat pertempuran antara kakek dan cucu, Salya Raja Madara yang sedang menekan pasukan Putra Mahkota Yudhistira tetiba digempur dari sisi. Sepasukan gajah perang terlibat bergerombol memangsa titik lemah. 

“Aku, Pangeran Uttara putra sulung Virata Raja Matsya, akan menghentikanmu!” Seorang pemuda berteriak lantang dari atas gajah perangnya. 

Pertempuran hari pertama masuk ke babak kedua. Bertengger di atas gajah perang yang mengenakan perisai bertakhtakan emas, Pangeran Uttara berupaya melibas pasukan kereta perang Salya Raja Madara. Akan tetapi, pergerakan pasukan kereta perang sangatlah gesit, sehingga senantiasa berada di luar jangkauan pasukan gajah yang terbilang lambat. Pangeran Uttara hampir kehabisan akal. 

“Lidahmu lebih tajam dari panahmu!” cibir Salya Raja Madara menanggapi kesombongan pangeran muda di atas gajah. 

Pangeran Uttara memanglah masih muda dan tinggi hati, namun ia tak bodoh. Kata-kata Salya Raja Madara justru membuat ia tersadar. Segera ia mengarahkan pasukannya untuk melepaskan gempuran anak panah demi membatasi ruang gerak pasukan kereta perang!

“Brak!” 

Kaki depan gajah nan maha besar menghentak tepat di hadapan rangkaian kuda yang menarik kereta perang milik Salya Raja Madara. Di tengah keterkejutan kuda yang lepas kendali, dari atas pundak gajah Pangeran Uttara melepaskan anak panah yang melesat dan seketika membunuh kusir kereta perang. Akan tetapi, belum puas Pangeran Uttara mengecap kemenangan, dari dalam kereta perang Salya Raja Madara meraih sebilah lembing dan melontarkannya telak di dada. Pangeran Uttara roboh dari pundak gajahnya, namun bahkan sebelum tubuhnya terhempas di tanah, Salya Raja Madara telah menghunus pedang. Tokoh tersebut melompat dan menebas belalai sang gajah sebelum menusuk lehernya. Tak ada ampun, tuan dan gajahnya meregang nyawa di saat yang hampir bersamaan! 

Menyaksikan kematian sang kakak, Pangeran Swetta, putra kedua Virata Raja Matsya naik pitam. Ia menerjang maju mengejar Salya Raja Madara dari arah yang berseberangan. Akan tetapi, untuk mencapai sasaran, ia terpaksa melewati Kritavarma yang memimpin satu askshauhini pasukan dari Kerajaan Dwaraka pemberian Basudewa Krishna kepada kubu Kurawa, serta pasukan Panglima Perang Pithamaha Bhisma Putra Gangga. 

Kendatipun demikian, Kritavarma membiarkan Pangeran Swetta melintas di sisinya. Bersama pasukannya, Kritavarma tetap pada tujuan utama menggempur pasukan di hadapan. 

Di sisi lain, sang Panglima Perang Kurawa sedang panen. Setelah mencederai Abhimanyu, bersama pasukannya Panglima Perang membabat pasukan prajurit darat, pasukan berkuda serta pasukan kereta perang tanpa kendali. Ribuan jumlah korban berjatuhan dari kubu Pandawa. Di saat itu pula ia menyaksikan Pangeran Swetta berupaya membuka jalan dengan menghujani ribuan anak panah. Membabat membabi buta, tak sedikit korban dari kubu Kurawa yang berjatuhan.

Anak-anak panah pasukan Swetta melampaui pasukan inti Kurawa dan mengenai Pangeran Rukmartha putra dari Salya Raja Madara serta pasukannya yang terlambat menghindar dari serangan mendadak. Sepertihalnya Abhimanyu, Pangeran Rukmartha jatuh namun nyawanya masih tertolong. Akan tetapi, Panglima Perang Bhisma tak akan memberi kesempatan lebih banyak bagi Pangeran Swetta untuk melangkah lebih jauh. Demikian pula Putra Mahkota Duryudhana yang menyadari bahwa amuk Pangeran Swetta harus dihentikan sebelum memakan lebih banyak korban. 

Panglima Perang Pithamaha Bhisma bergerak terlebih dahulu. Pasukannya melepaskan tembakan anak panah dan menyapu pasukan yang mengamuk. Pangeran Swetta pun membalas, tembakannya mematahkan busur Panglima Perang Bhisma. Tak hanya sampai di situ, ia pun membunuh kuda dan merusak kereta perang sang Panglima Perang. Beralih ke kereta perang lain, Panglima Perang Bhisma lantas melesatkan anak panah yang menembus baju zirah Pangeran Swetta. 

Melihat Pangeran Swetta gugur, putra ketiga Virata Raja Matsya, Pangeran Sankha, merangsek maju bersama pasukannya. Demikian pula dengan Pangeran Arjuna yang menyadari bahwa Pangeran Sankha hanya akan mengantarkan nyawa secara cuma-cuma bilamana berhadapan dengan Panglima Perang yang demikian perkasa. Akan tetapi, upaya pengepungan Pangeran Sankha dan Pangeran Arjuna berlangsung sangat singkat, karena sesaat kemudian Putra Mahkota Duryudhana dan pasukannya tiba di sisi Panglima Perang Bhisma. Bersama-sama mereka menerjang maju! 

Sang mentari tenggelam di ufuk timur dan menjadi petanda berakhirnya hari pertama Perang Kurukshetra. Hari itu menjadi ajang unjuk kedigdayaan Panglima Perang Pithamaha Bhisma Putra Gangga yang tersohor. Puluhan ribu prajurit Pandawa habis dilibas, banyak pula yang tunggang-langgang melarikan diri. Genderang dan sangsakala bersahut-sahutan menyambut kemenangan Kurawa, sementara pasukan Pandawa mundur sembari tertunduk lesu. Kehilangan daya dobrak Pangeran Uttara dan Pangeran Swetta merupakan pukulan telak bagi kubu Kurawa. 

Menyaksikan kedigdayaan sang Panglima Perang Pithamaha Bhisma Putra Gangga di kubu Kurawa serta ketidakmampuan pasukan Pandawa menghadang gempurannya, membuat Putra Mahkota Yudhistira termenung tiada berdaya. Pada hari kedua esok, ia sendiri tak yakin dapat menumbangkan sang Panglima Perang yang tersohor akan keberanian dan kekuatannya itu. 



Jauh dari pertumpahan darah di Padang Kurukshetra, menyongsong langit jingga di mana sang mentari akan terbenam, tiga ekor kuda melesat deras. Mereka telah berpacu tanpa henti sedari subuh selayaknya sedang menjalankan tugas yang mempertaruhkan jiwa dan raga. Melesat di atas pundak kuda terdepan adalah tokoh yang berwajah tampan dan bertubuh gagah, diikuti tokoh pendek tapi kekar, disusul tokoh bertubuh kurus. Tokoh yang terakhir memancarkan raut kekecewaan teramat mendalam, karena terpaksa berpisah dengan pasukan dan mangkir dari perang hari pertama.