Episode 426 - Penyusup Malam



Ibarat menyusun teka-teki silang. Dimulai dengan mencari satu kata, yang mana kemudian akan membuka ksempatan untuk menemukan kata-kata lain. Si Kumal dan Tuan Kekar terus mengunjungi beberapa pihak untuk menemukan Balaputera Khandra dan Panglima Segantang. Di tengah pencarian tersebut, mereka turut mencoba peruntungan menelusuri sekutu-sekutu lain seperti Citra Pitaloka dan Lampir Marapi, Embun Kahyangan atau juga kelompok yang berasal dari Pulau Belantara Pusat. 

Keberadaan sekutu akan sangat menentukan arah peperangan nanti. Akan tetapi, upaya tersebut tiada mudah adanya. Si Kumal diharuskan untuk senantiasa berhati-hati. Ia menyaring keterangan yang diberi kemudian mencermati petunjuk yang didapat. Saat berhadapan langsung dengan para pihak, maka terlalu banyak menyampaikan keterangan berarti risiko membuka jati diri kepada musuh, sementara salah mengartikan petunjuk berarti menggali kubur sendiri. Perlu diingat, bahwa bagi segenap ahli yang berasal dari Negeri Dua Samudera, keberadaan mereka di dunia ilusi Mahabharata ini merupakan sebuah persaingan yang nantinya akan menentukan jalan keahlian di masa depan!

Beruntung bagi Si Kumal karena ia ditemani Tuan Kekar. Berkat naluri siluman sempurna dari sosok perkasa tersebut, mereka segera mengetahui akan ancaman. Bilamana berhadapan dengan tokoh yang kemungkinan membahayakan, maka keduanya akan segera menarik diri. Malangnya, dari belasan tokoh yang dikunjungi, mereka hanya menemukan Kuau Kakimerah seorang. 

“Cih! Tak satu pun petunjuk Putri Duhsala yang tepat sasaran. Kita hanya membuang-buang waktu!” gerutu Si Kumal. 

Tuan Kekar terlihat lebih bijak pada hari itu. “Tampaknya kita hanya akan mengandalkan sekutu yang ada.”

“Mungkinkah yang lain berada di pihak Pandawa…?” Si Kumal terdengar cemas.

“Kemungkinan itu selalu ada. Di tahap ini, yang lebih penting bagi kita adalah memantapkan persiapan. Tinggal satu purnama jelang perang dan sekira dua pekan dari hari ini kita akan berangkat menuju Padang Kurukshetra.”

Dengan tangan kosong, Si Kumal dan Tuan Kekar kembali ke istana Kurawa ke-100. Hari beranjak petang. 

“Bagaimana pencarian hari ini…? Apakah dewi keberuntungan berpihak kepada kita?” sapa Pangeran Wyudharu saat menyaksikan kedua pendampingnya melangkah gontai di selasar istana.

“Jauh dari memuaskan,” tanggap si Kumal lelah.

“Aku memiliki sesuatu yang akan membuat hari kalian kembali ceria.” Pangeran Wyudharu mengelus kumis tipis di atas bibirnya. 

“Hmph! Suasana hatiku sedang tak enak untuk meladeni permainan… Katakan segera apa yang hendak engkau katakan!” dengus Tuan Kekar. 

“Hohoho…. Ayo, ikuti aku,” ajak Pangeran Wyudharu dengan gelagat selayaknya menyimpan sesuatu kejutan. 

Ketiganya melangkah ke arah halaman belakang istana. Namun, saat masih berada di selasar, tetiba Pangeran Wyudharu mengeluarkan dua helai kain berwarna hitam. Ia melangkah berjingkat ke arah Tuan Kekar dan Si Kumal….

“Hoi! Apa yang hendak kau lakukan!?” sergah Tuan Kekar sembari mengambil selangkah mundur. Sikapnya siaga. 

“Tutup dulu mata kalian…,” bisik Pangeran Wyudharu sembari mengulum senyuman manja. Kedua lengannya menjangkau ke depan.

“Kau sudah gila!? Hah!? Tidak! Aku tak mau mataku ditutup!” Kedua lengan Tuan Kekar sigap mendorong upaya Pangeran Wyudharu memakaikan kain penutup mata. 

“Akh! Kau memang tak asyik…” Pangeran Wyudharu bersungut. “Kumal, kemarilah…,” ujarnya kepada bakal calon mangsa.

Si Kumal tidak tak bergeming dan memasang raut wajah datar. Sebagaimana Tuan Kekar, tentu saja ia menolak terlibat dalam permainan tutup-menutup mata, apalagi dengan tokoh yang sangat amat mencurigakan seperti Ginseng Perkasa. 

“Sudahi permainan kekanak-kanakan ini!” bentak Tuan Kekar sembari meneruskan langkah. 

Ketiganya mencapai halaman belakang istana. Masih terparkir di sana adalah sebentuk kereta perang nan megah menyilaukan dengan berbagai ragam hias yang bertakhtakan emas dan permata. Sebagaimana diketahui, kereta perang tersebut merupakan hadiah dari Putra Mahkota Duryudhana kepada adik-adiknya, Pangeran Wyudharu tiada terkecuali. Akan tetapi, kali ini terdapat dua benda lain yang diselubungi kain dan mengapit kereta perang tersebut. Ukuran besar ketiganya hampir senada. 

Kedua bola mata Si Kumal terbelalak, benaknya menduga-duga sekaligus tiada sabar menanti. Secepat kilat ia melompat ke arah benda misterius tersebut, lantas menyibak kain yang menyelubunginya. Benar saja, terdapat sebentuk kereta perang nan kokoh yang terbuat dari perunggu. Di sisi yang berseberangan, Tuan Kekar pun menyibak kain penutup, dan menemukan kereta perang berlapis perak. Pada keduanya, ukiran halus yang dilengkapi ragam hias berbagai batu mulia memancarkan kemilai berwarna-warni! 

“Kami akan memiliki kereta perang sendiri!?” Raut wajah Si Kumal tiada dapat menyembunyikan betapa terkejutnya ia. 

“Kedua kereta perang ini merupakan pemberian pasangan Jayadratha Raja Sindhu dan Putri Duhsala,” ujar Pangeran Wyudharu sembari melipat kedua lengan di depan dada, seolah dirinyalah yang berjasa atas kedatangan dua hadiah tersebut. 

“Wow!” Suasana penuh suka-cita semakin membalut hati Si Kumal tatkala ia melompat naik ke atas kereta kuda. Raut wajahnya kini terlihat bangga, sosoknya berdiri perkasa layaknya seorang panglima perang menyongsong fajar. Siapa menyangka bahwa tokoh rendahan sepertinya akan memperoleh kereta perang sendiri!?

Di lain sisi, tanggapan Tuan Kekar berbeda adanya. Ia bimbang. “Jadi, kita akan berada di dalam kereta perang yang terpisah? Ini sangat berbeda dengan rencana awal di mana kita bertiga sepakat untuk berada di atas satu kereta perang yang sama.”

Walau pembahasan peran di atas kereta perang saat Perang Kurukshetra nanti sempat menjadi perdebatan, pada akhirnya mereka bertiga mencapai kesepakatan bersama. Tuan Kekar berbekal kekuatan lengannya akan berperan sebagai kusir kereta kuda sekaligus memantau pergerakan seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka. Pangeran Wyudharu akan memberi aba-aba kepada pasukan prajurit, serta melepaskan tembakan-tembakan panah mematikan ke arah pasukan lawan. Terakhir, Si Kumal yang berada di buritan memantau bahwa tak ada ancaman yang datang mendekati kereta perang mereka, dan kalau pun ada maka ia akan melakukan upaya bertahan. Tergantung pada keadaan, Tuan Kekar pun akan turun tangan untuk bertahan bilamana ada ancaman besar yang datang, misalnya diserang langsung oleh salah seorang dari Pandawa. Dalam kaitan ini, tanggung jawab Tuan Kekar bertingkat-tingkat beratnya. 

“Akh… gampang itu….” Pangeran Wyudharu enteng menimpali. 

“Gampang!? Gampang bersin kuda! Dari mana kita akan mencari kusir-kusir handal yang siap menyabung nyawa!? Dari mana kita akan mencari kuda tangguh untuk menarik kereta perang?” sergah Tuan Kekar. Mata melotot dan raut wajah memerah, ia lantas melangkah pergi dengan menghentak-hentakkan kaki.

Pangeran Wyudharu melongo. “Ada apa dengan dia…?”

Dengan waktu perang yang sudah di pelupuk mata, nyatanya tak mudah bagi mereka menemukan kusir yang piawai dan kuda yang kuat. Kusir kereta perang merupakan profesi yang sangat langka, di mana kusir-kusir yang handal telah diboyong pergi oleh adik-beradik Kurawa atau para ksatria bangsawan yang lain. 

Sementara itu, saat ini istal kuda di istana Pangeran Wyudharu hanya terdapat enam ekor kuda yang dapat digolongkan sebagai kuda-kuda perang dalam keadaan prima. Untuk tampil mumpuni, diketahui bahwa sebuah kereta perang setidaknya perlu ditarik oleh kelompok empat ekor kuda. Jikalau enam ekor kuda yang ada dibagi di antara ketiga kereta perang, maka masing-masing hanya akan memperoleh dua ekor kuda. Gerakan kereta perang nantinya akan sangat lambat, sehingga akan menjadi sasaran empuk. 

Amarah Tuan Kekar terbukti beralasan.

Malam hari tiba, namun sang rembulan enggan menampakkan diri. Keadaan di salah satu sudut di dalam lingkungan Istana Ke-100 sangatlah ramai. Suara logam beradu logam nyaring berdentang-dentang. Api-api obor menyala terang, dan sesekali terlihat kepulan-kepulan asap yang menyibak pekat. Hawa terasa hangat ketika para pandai besi yang merupakan bagian dari prajurit Sampshapataka semakin sibuk melakukan persiapan. Sampai larut malam nanti, kelompok prajurit ini mengemban tugas membuat persenjataan. Sedangkan pada subuh hari esok, adalah giliran kelompok prajurit yang mengelola perbekalan yang sibuk berhitung dan berkemas. 

Seorang diri Si Kumal melangkah pelan melewati mereka yang sibuk bekerja. Ada sesuatu hal yang hendak ia pastikan.

“Berapa lama perang ini akan berlangsung…?” ujar seorang prajurit Sampshapataka muda usai membasahi tenggorokan. Sekujur tubuhnya bermandikan peluh.

Di hadapannya, berdiri seorang prajurit tua, yang dari perawakannya mudah ditebak bahwa tubuhnya lemah dalam hal tenaga namun jiwanya kaya akan pengalaman. “Belum pernah sejarah mencatat perang sebesar ini. Tiada yang dapat memperkirakan berapa lama perang akan berlangsung…”

“Mungkinkah lebih lama dari perang merebut benteng…?” Prajurit Sampshapataka muda terlihat jengah. Bagi kebanyakan prajurit, merebut istana atau benteng adalah jenis peperangan yang paling melelahkan. Kesabaran dan daya tahan benar-benar diuji. 

“Tidak. Dalam perang terbuka, pertempuran akan berlangsung cepat dan gegap gempita. Kepiawaian dalam menyusun siasat perang akan menjadi penentu kemenangan.” 

“Hahaha…. Bagaimana dengan faktor jumlah pasukan yang jelas-jelas timpang…?” Sang prajurit muda tergelak. “Kubu Pandawa hanya memiliki tujuh akshauhini pasukan, sementara kubu Kurawa memiliki sebelas akshauhini pasukan. Terlebih lagi, di antara sebelas akshauhini pasukan Kurawa, terdapat kita para prajurit Sampshapataka nan gagah perkasa!”

Si Kumal tak lagi dapat menyimak pertukakaran kata-kata di antara mereka karena telah melangkah semakin jauh. Agaknya saat ini si prajurit tua sedang berbagi kearifan terkait pengalaman perang. Di dalam peperangan, penentu kemenangan bukan hanya jumlah pasukan, melainkan pula siasat dalam menjalani perang itu sendiri. 

Langkah kaki membawa Si Kumal melewati gerbang menuju wilayah terjauh istana. Tiada diduga, ia berpapasan dengan Tuan Kekar. “Maafkanlah kelalaian kami dalam memperhitungkan sumber daya yang ada,” ujar Si Kumal kepada sang guru. 

“Hmph…,” dengus Tuan Kekar yang tampaknya masih cukup kesal. 

“Silakan kuda yang ada dibagi menjadi dua saja, tiga untuk kereta perang Pangeran Wyudharu dan tiga untuk kereta perang Tuan Kekar sendiri…,” ujar Si Kumal berupaya membujuk. 

“Kemampuanmu dalam menyelesaikan masalah memanglah lemah,” gerutu Tuan Kekar. “Mana mungkin Pangeran Wyudharu hanya menempatkan tiga ekor kuda pada kereta perang pemberian sang Putra Mahkota. Bukankah itu merupakan tindakan yang merendahkan…?”

“Jikalau demikian, apakah gelanggang permainan dadu masih dibuka…? Kita dapat berjudi untuk memenangkan kuda di sana… Bahkan mungkin mendapatkan kusir!”

Tuan Kekar menjawab dengan lirikan mata menyipit, lantas menunduk sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya lelah dan menyerah sudah dirinya mendengarkan saran yang tiada dipikir matang. “Sudahlah… sudah. Sekarang kau kembali dan cuci kaki lalu minum air putih. Setelah itu cepatlah pergi tidur. Urusan kekurangan kuda dan kusir sudah aku tangani…”

“Ha…?”

“Aku sudah mendatangi pasukan prajurit Sampshapataka yang bersiaga. Aku meminta kuda dan kusir terbaik mereka untuk ditukarkan dengan beberapa kantong emas. Selesai sudah permasalahan!” Tuan Kekar menepukkan kedua telapak tangan sebanyak tiga kali selayaknya telah menyelesaikan permasalahan dengan mudahnya. Ia pun melangkah pergi. 

“Lantas, mengapa Tuan Kekar masih bimbang,” cegah Si Kumal. 

Tuan Kekar berhenti sejenak, sepertinya hendak menghardik namun berupaya sekuat tenaga untuk menahan diri.

“Apakah masih ada yang kurang dalam persiapan kita…?” lanjut Si Kumal.

Tanpa menoleh, Tuan Kekar menanggapi. “Apakah kau mengetahui siapa kusir kereta perang bagi Pangeran Arjuna?” Tanpa menanti jawaban, ia pun meneruskan langkah.

Si Kumal segera memahami makna di balik kata-kata Komodo Nagaradja. Sebagai tokoh nan digdaya, sang super guru ingin menjadi kusir kereta perang dan bersaing dengan tokoh paling perkasa di dalam Perang Kurukshetra. Tokoh yang memainkan siasat jitu dan memainkan peran penting dalam kemenangan Pandawa. Kusir kereta perang Pangeran Arjuna, siapa lagi bila bukan Basudewa Krishna!

Tak memiliki jawaban atas harapan tersebut, Si Kumal meneruskan langkah. Ia melewati gerbang lain lagi dan tiba di istal kuda, yang terletak paling jauh dari istana. Suasana senyap dan sunyi. Ke mana para penjaga…?

Tetiba, kedua bola mata lelaki dewasa muda itu menangkap sesuatu, atau mungkin seseorang yang berpakaian serba gelap, mengendap-endap di balik bayang-bayang malam. 

“Siapa di sana!?” sergah Si Kumal dengan nada lantang. Tentunya ia bertujuan menakut-nakuti sang penyusup yang berjarak belasan langkah di hadapan. Di lain sisi, benaknya sedang berputar keras. Mengapa ada penyusup…? Apakah tujuannya…? Apa pun itu, kehadiran penyusup bukan berarti sesuatu yang patut dipandang sebelah mata!

“Swush!” 

Sebentuk serangan mendadak melesat ke arah Si Kumal. Sigap ia melompat guna menghindar ke samping, namun sebatang pohon malang di belakang tubuhnya tumbang dilibas. Beberapa serangan jarak jauh kembali melesat, yang membuat Si Kumal terpaksa berjumpalitan di atas tanah. Serangan-serangan susulan tersebut mengincar bagian vital!

Darah berdesir ke sekujur tubuh lelaki dewasa muda itu. Bukan karena ia terkejut atau gentar akan datangnya serangan mendadak, namun kenyataan bahwa serangan tersebut menggunakan teknik pelepasan tenaga dalam murni! Apakah itu astra, ataukah shastra!? Suasana malam terlalu gelap bagi Si Kumal untuk memastikan!