Episode 114 - Yang Terkuat Dalam Bayangan



Dunia jiwa Rito.

Sebuah tempat yang hanya diwarnai oleh warna hitam, tanpa sedikitpun cahaya di dalamnya. Sebuah kegelapan yang mungkin dapat memakan jiwa seseorang. Sebuah tempat yang kosong dan hampa. Ini adalah gambaran jiwa Rito saat ini.

Tanpa ada apapun di dalamnya. Bahkan arti hidupnya hari ini dan besok adalah untuk mewujudkan keinginan dirinya di masa lalu.

Di sana, Rito berdiri berdampingan dengan iblis yang telah memberikannya kekuatan melalui perjanjian yang telah dia buat dengannya. Seorang iblis bernama Sitri yang berhasil memasuki jiwa Rito bersama dengan kepingan pedang gram bersamanya. 

Di hadapan mereka, seorang iblis bernama Idos. Dia adalah iblis dengan bentuk kepala singa yang sangat menakjubkan sekaligus menakutkan, akan tetapi semua kesan itu akan hancur jika mereka melihat ekor kelinci berwarna putih di belakangnya.

Idos menatap tajam ke arah Sitri dan tersenyum tipis. "Yo, lama tidak bertemu, pengkhianat."

Sitri tidak membalas ucapan Idos dan hanya berdiri sambil memperhatikannya dengan tenang. Meskipun sebenarnya banyak hal yang ingin dia katakan, tapi dia merasa tidak layak untuk mengatakannya.

"Kau kenal dia?" tanya Rito dengan tenang. 

Tidak ada ketakutan atau emosi lainnya dari suaranya, itu hanya murni pertanyaan karena ingin mengetahui identitas sebenarnya dari Idos.

"Yah, bisa dibilang kami adalah kenalan." Balas Sitri dengan enteng.

"Hah? Kenalan? Sejak kau melakukan pengkhianatan, aku tidak Sudi memiliki hubungan apapun denganmu, bahkan jika itu hanya sekedar kenalan, karena mulai saat itu kau adalah musuhku." Teriak Idos.

Dalam teriakannya itu terdapat niat membunuh yang amat tebal dan tidak mungkin untuk disembunyikan. Kekecewaannya pada Sitri membuatnya menjadi begini. Dia tidak pernah menyangka mereka akhirnya akan menjadi musuh setelah lama berdiri di Medan perang yang sama, untuk keegoisannya, Idos berharap bisa mengambil nyawa Sitri dengan tangannya sendiri.

"Hoh, jadi kau repot-repot datang menemuiku untuk membunuhku?" tanya Sitri dengan senyum mengejek.

"Haha, bukan hanya aku, semuanya telah datang dan mencarimu, kau tidak akan pernah bisa menghindar dari kematianmu." Balas Idos dengan senyum yang mengerikan.

Tentu saja dia berbohong, tujuan awal mereka adalah untuk mencari semua kepingan pedang gram dan menyempurnakannya kembali agar bisa sepenuhnya menyegel Fafnir. Juga, tidak mungkin semua pemimpin pasukan iblis pergi mencari Sitri, karena ada hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan, yaitu membunuh semua sisa pemberontak.

"Oke, kau telah berbohong, aku sudah mengenalmu sangat lama, aku bisa tahu dari wajahmu bahwa kau tidak mengatakan yang sebenarnya." Balas Sitri dengan senyum percaya diri.

Kebiasaan adalah hal yang sangat menakutkan. Kau bisa mengerti sesuatu setelah melakukannya berkali-kali. 

Di masa lalu, Sitri telah melihat Idos berbohong, setiap kali dia akan berbohong maka wajahnya akan menampilkan senyum yang mengerikan dan tidak mungkin dia bisa menyembunyikannya. 

Bisa dibilang, Idos adalah pemimpin pasukan iblis paling murni, wajahnya tidak pernah menyembunyikan perasaannya.

Idos menghiraukan perkataan Sitri dan berkata. "Apakah kau punya sesuatu yang ingin kau sampaikan?" 

Meskipun Idos terus berkata bahwa Sitri adalah pengkhianat, tapi ikatan yang telah mereka jalin di medan perang membuatnya tidak mampu melihat Sitri sebagai musuh. Idos masih berharap Sitri akan kembali dan meminta maaf lalu mereka akan sama-sama memperbaiki semua keadaan yang salah saat ini.

Sitri terdiam untuk sesaat lalu berkata dengan tegas. "Tidak ada, mari kita mulai saja pertarungan ini."

Idos memejamkan matanya untuk sesaat lalu kembali menatap Sitri dengan niat membunuh seraya berkata. "Baiklah, seperti yang kau inginkan."

Tanpa aba-aba, Idos melompat dan memotong jarak antara mereka berdua. Kepalan tangannya yang keras berubah menjadi tinju yang bahkan mampu memberikan luka untuk naga Fafnir.

Bagi Idos, pertarungan menggunakan senjata bukanlah pertarungan yang sesungguhnya, hanya dengan tubuhmu sendiri lah kau bisa menyebut dirimu pertarung.

Di sisi lain, Sitri dengan cepat membuat sebuah tombak dengan energinya. Tidak seperti Idos yang pergi ke dunia manusia bersama tubuhnya, Sitri hanya datang dengan jiwanya yang dia taruh ke dalam kepingan pedang gram karena tubuhnya yang telah terluka parah, jadi dia tidak membawa tombak peraknya.

Kemudian, secepat kilat, bentrokan antara tinju yang mematikan dan tombak yang tajam terjadi. Suara keras akibat benturan yang hebat itu sangat memekakkan telinga. 

Hasil dari bentrokan itu adalah tombak yang Sitri buat menggunakan energinga langsung bengkok, sedangkan tinju Idos masih sangat keras seperti sebelumnya.

Tidak berhenti sampai di situ, Idos kembali meluncurkan serangan bertubi-tubi kepada Sitri. 

Tinju Idos tanpa henti mengarah pada bagian-bagian yang pasti akan membunuh seseorang ketika mengenainya, seperti tenggorokan.

Akumulasi dari pertarungan yang banyak lah yang membuat Idos mampu melakukan semua ini. Tanpa semua pengalaman tersebut, tidak mungkin Idos bisa jadi sehebat ini. 

Di sisi lain, Sitri sedikit kewalahan menghadapi Idos tanpa senjata andalannya, meskipun yang sedang dia pegang saat ini juga adalah tombak, tapi ada perbedaan yang sangat jelas antara tombak perak favoritnya dan tombak yang dia ciptakan menggunakan energinya tersebut.

Bang.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Sebuah peluru meluncur dengan cepat menuju Idos dan mengenai tepat pada dahinya dan membuat serangannya berhenti. Di saat lengah itu, Sitri membuat serangan dan mengenai tepat pada perut Idos dan menembusnya. 

Dengan cepat, Idos melompat mundur untuk menjaga jarak. Kemudian matanya mencari sosok yang telah membuatnya masuk ke dalam kondisi seperti ini. Di sana terdapat Rito yang sedang berbaring sambil memegang sebuah sniper.

Itu adalah sniper SPR 4, sebuah sniper yang diperkenalkan pertama kali pada tanggal 9 Oktober 2017. Tidak seperti sniper pada umumnya, sniper SPR 4 menggunakan peluru khusus, yaitu peluru rimless dengan bentuk bottle necked berukuran 8,6×70 mm.

SPR-4 dibangun untuk mengisi celah ruang tembak dari kedua senapan runduk yang menjadi pendahulunya di mana SPR-2 kaliber 12,7 mm memiliki jangkauan tembak efektif hingga 2.000 m. SPR-3 kaliber 7,62 mm memiliki jangkauan 700 m. Sementara SPR-4 berada di tengahnya yang bisa melumpuhkan sasaran hingga jarak 1.500 m.

Jika dibandingkan maka, SPR-2 kaliber 12,7 mm memang jauh lebih dahsyat jangkauan dan daya rusaknya. Tetapi, senjata ini terlalu berat untuk dibawa seorang penembak runduk dalam operasinya. Sedangkan SPR-3 jangkauannya terbatas di bawah 800 m, namun termasuk disukai para sniper karena bobotnya yang relatif lebih ringan.

SPR-2 yang siap pakai dengan lima peluru memiliki bobot total 19,5 kg. SPR-3 dengan magasin berisi lima peluru beratnya mencapai 6,94 kg. Sementara SPR-4 juga bermagasin lima peluru memiliki bobot 12 kg.

Dalam hal panjang, SPR-4 berada di tengah-tengah yakni sekira 130 cm, sementara SPR-3 berdimensi panjang 125 cm dan SPR-2 mencapai 175 cm.

Tampilan keseluruhan SPR-4 terlihat modern dan tambah menarik dengan laburan warna coklat gurun. Bodinya terbuat dari rangka alumunium dan dilengkapi RIS ( rail integration system ) untuk penempatan aksesoris.

Kembali ke pertarungan.

Idos menatap tajam pada Rito dan kemudian berlari kencang mendekatinya. Dia ingin tidak ada gangguan lagi pada pertarungannya menghadapi Sitri, jadi pertama-tama yang harus dia lakukan adalah menghilangkan gangguan tersebut.

Namun, Sitri tidak tinggal diam, dia cepat membuka sayap griffin di pundaknya dan menghalangi Idos untuk mendekati Rito.

Bukan berarti Rito sangat spesial bagi Sitri untuk dilindungi, tapi dia harus melakukan itu untuk kepentingannya sendiri. Seperti kebanyakan iblis lainnya, mereka hanya mahluk yang memandang rendah manusia dan berpikir bahwa dia lebih baik.

Tombak Sitri cepat menghadang Idos mendekat dan di saat itu suara tembakan terdengar sekali lagi. Sebuah peluru cepat berputar dan kemudian menembus kepala Idos dan membuat lubang lagi di sana.

Kemarahan Idos memuncak, dengan ganas Idos menyerang Sitri yang berada di hadapannya. Serbuan tinju yang menggelegar akhirnya membuat tombak energi Sitri hancur dan memaksanya untuk mundur.

Dalam pertarungan tanpa senjata, sudah pasti Sitri akan kalah dari master pertarungan tangan kosong.

Di saat itu pula, Idos merengsek maju dan kemudian mengepalkan tinjunya dengan keras. Setelah berada tepat di depan Rito, Idos segera meluncurkan tinjunya dengan ganas.

Tinju mematikan itu mengarah pada wajah Rito, tapi kemudian tiba-tiba saja Rito menghilang dari sana dan tinju tersebut tidak mengenai apa-apa selain udara kosong.

Idos melihat dengan bingung sekelilingnya, tapi dia tidak menemukan Rito.

Bang.

Sebuah suara peluru terdengar dan akhirnya menembus wajah Idos. Di kejauhan, Idos dapat melihat sosok Rito yang tersenyum kecil seraya mengarahkan senjatanya pada Idos.

"Bagaimana mungkin?" ucap Idos tidak percaya.

Dia jelas melihat Rito di depannya, akan tetapi tiba-tiba saja Rito menghilang dari pandangannya dan kemudian muncul jauh di depannya. Itu jelas tidak masuk akal.

"Ini adalah kekuatanku." Ucap Rito dengan tenang.

Kepingan pedang gram yang datang bersaman dengan Sitri membuat Rito mendapatkan kekuatan yang menakjubkan.

Seperti Lin Fan yang menjadi sangat kuat dan bahkan mampu melubangi pohon dengan tinjunya.

Seperti kucing hitam yang menjadi mampu berbicara bahasa manusia dan berpikir dengan baik.

Seperti bayangan hitam yang menjadi sangat cepat hingga orang-orang hanya mampu melihat bayangannya saja.

Rito juga mendapatkan kekuatan dari kepingan pedang gram. Bukan teleportasi, tapi dia mampu berintegrasi ke dalam bayangan hitam dan muncul di tempat di mana bayangan hitam ada.

Dengan begitu, tepat sebelum tinju Idos mengenainya, Rito menyatu ke dalam kegelapan dan kemudian dia muncul lalu menyerang balik Idos dengan sniper SPR 4 di tangannya.

Tidak seperti Danny yang sering meleset, bakat Rito dalam menembak sangat hebat dan hampir tidak mungkin peluru yang dia tembakan meleset dari targetnya.

Apalagi, di dunia jiwa Rito yang hanya berisi kegelapan, itu menjadi faktor yang membuat Rito tidak akan terkalahkan.

"Sepertinya ini tidak akan mudah." Ucap Idos sambil menggenggam tinjunya erat.