Episode 424 - Jayadratha Raja Sindhu


Rambut nan hitam ikal mengkilap lebat tergerai, sedikit meliuk tatkala disapa hembusan angin malam. Wajahnya nan tampan beserta dagu kokoh menegaskan tekad. Kumis tipis mencerminkan pribadi yang ramah dan tak sombong, sorot matanya awas memantau situasi. Dadanya bidang dilengkapi sepasang lengan kokoh, dan setiap langkah kaki yang diambil setara dengan derap langkah ribuan bala prajurit yang siap menyabung nyawa di medan peperangan, namun sengaja dibuat pelan hampir tanpa suara. Sekali pandang saja, maka segenap ahli baca akan berkesimpulan bahwa lelaki dewasa muda itu merupakan tokoh utama di dalam ceritera.

“Kau mau ke mana mengendap-endap di malam buta ini…?” sergah siluet tubuh nan pendek tapi terlampau kekar, yang dilatarbelakangi sang rembulan purnama.

Uniknya, siluet tubuh tersebut seolah berkepala dua, satu pendek dan satu lagi lebih tinggi. Pada kenyataannya, siluet kepala kedua merupakan milik tokoh lain, yang karena tubuhnya ceking menjadi tersembunyi.

Kurawa ke-100 Pangeran Wyudharu bergidik. Sungguh siluet manusia berkepala dua yang mengerikan. “A… aku hanya hendak mencari angin segar…,” ujarnya membuat alasan.

“Jangan berbohong!” Tuan Kekar meninggikan suara. 

Pada malam sebelumnya, sebuah keajaiban terjadi. Melangkah keluar dari aula permainan dadu antar para Kurawa, Pangeran Wyudharu membawa pulang bersama dengannya tiga puluh peti berisi keping-keping emas. Tuan Kekar dan Si Kumal larut dalam suka cita, sehingga sama sekali tiada mempertanyakan bagaimana Pangeran Wyudharu bisa tampil demikian mujur. Yang terutama bagi mereka adalah ‘hasil’, bukan ‘proses’ mencapai hasil tersebut. 

Lagipula, apa yang hendak dipertanyakan…? Permainan dadu merupakan perkara keberuntungan semata. ‘Bukan dengan cara ksatria, kepandaian, atau pun kebijaksanaan seseorang dapat meraih kemenangan di dalam permainan adu nasib seperti itu…’ demikian jikalau ahli karang diperkenankan untuk mengutip kata-kata Pandawa ke-1 Pangeran Yudhistra ketika berupaya menolak ajakan permainan dadu. 

Akan tetapi, sejak pagi dan petang hari berikutnya, gelagat Pangeran Wyudharu demikian berbeda, bahkan mencurigakan. Bukannya berbangga hati atas tambahan kekayaan yang berlimpah dan kemampuan membiayai pasukan prajurit Sampshapataka, hatinya malah gundah-gulana. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Atas keadaan tersebut, Tuan Kekar dan Si Kumal menjadi curiga sehingga memutuskan untuk membuntuti tatkala sang pangeran mengendap-endap keluar dari istananya. 

“Pangeran Wyudharu…,” sela Si Kumal. “Adalah tanggung jawab kami mendampingi kemanapun dikau pergi.”

Tertangkap basah, Pangeran Wyudharu hanya menggaruk-garuk kulit kepala yang seungguhnya tak ditumbuhi ketombe maupun dihuni kutu. 

“Srek!” 

Tetiba perhatian ketiga tokoh teralihkan dan serta-merta mereka berubah waspada. Dari arah hadapan mereka, tersembunyi di balik bayang-bayang tembok istana nan tinggi, terdengar langkah-langkah kaki yang diikuti oleh kemunculan dua orang tokoh yang cukup dikenal. 

“Sungguh sebuah kebetulan…,” sapa Kurawa ke-47 Pangeran Sukshena datar. 

“Benar-benar kebetulan. Kami memang berniat bertandang ke kediaman dikau…,” sambung Kurawa ke-99 Pangeran Kundhasi menyibak seyuman. 

“Apakah perlu diriku menyampaikan secara terang-terangan kepada kalian…?” tanggap Pangeran Wyudharu mengacu kepada pertemuan mereka di aula permainan dadu. Di saat yang sama, aura tubuhnya mencerminkan kewibawaan nan seolah tanpa batas.

Pangeran Kundhasi tersenyum kecut, sedangkan Pangeran Sukshena setengah mati berupaya menahan amarah yang semakin memuncak — urat-urat syarat di pelipisnya mengencang menahan darah yang hendak membuncah keluar. Suasana malam nan sejuk seketika memanas. 

“Ada, yang hendak kami bahas bersama dikau…,” lanjut Pangeran Kundhasi sembari melirik kepada Tuan Kekar dan Si Kumal. 

Pangeran Wyudharu memahami bahasa tubuh lawan bicaranya. Ia pun menanggapi ringan, “Mereka berdua ini adalah orang-orang kepercayaanku. Katakan saja apa yang hendak kalian katakan, tak perlu khawatir…,”

“Kami masih membuka peluang bagi dikau untuk bergabung menjadi sekutu kami.” 

Pangeran Wyudharu menghela napas panjang. “Aku… tak… tertarik… bersekutu… dengan… kalian…,” tuturnya kata per kata dengan jelas dan tegas.

“Kau…” Pangeran Sukshena menggeretakkan gigi dan mengepalkan tinju sembari melangkah maju. 

Akan tetapi, Pangeran Kundhasi merentangkan lengan, mengisyaratkan agar rekannya sekaligus kakaknya itu tak tersulut amarah.

“Jikalau hanya persoalan itu yang hendak kalian bahas, maka pembicaraan kita selesai sudah. Izinkan aku meneruskan perjalanan.” Pangeran Wyudharu melangkah maju, diikuti Tuan Kekar dan Si Kumal. Ketiga melewati kedua tokoh yang hanya berdiri diam di tempat. 

Sewaktu mereka berselisih jalan itulah, Pangeran Kundhasi berbisik pelan, “Nyawamu hanya tersisa dua pekan dari saat engkau menenggak anggur pemberianku…”

Langkah kaki Pangeran Wyudharu melambat sejenak dan seketika itu raut wajahnya berubah. Namun demikian, segera langkahnya kembali pada kecepatan normal dan raut wajahnya pun setenang rembulan purnama. 

“Pertimbangkan dengan matang…,” ancam Pangeran Sukshena. 

Pangeran Wyudharu tiada menggubris. Setelah cukup jauh terpisah jarak dan memastikan bahwa tak ada yang mengekori, Tuan Kekar berujar santai, “Mengapa engkau berpura-pura…?”

Pangeran Wyudharu tak kuasa menahan senyuman. “Di kala permainan dadu berlangsung semalam, Kundhasi membubuhkan racun ke dalam anggur yang aku minum.”

“Hah!?” Si Kumal, yang pernah memeras ahli lain dengan menggunakan racun, mengetahui bahwa siasat yang sedemikian merupakan sebuah tindakan yang teramat keji. “Lantas, apakah Pangeran Wyudharu meminum anggur tersebut…?”

“Tentu saja.”

“Mengapa!?” 

“Walaupun dua keterampilan khususnya tak dapat dikerahkan,” sela Tuan Kekar, “bukan berarti pengetahuannya akan obat dan racun dapat sirna begitu saja…”

“Sungguh racun yang mematikan. Proses menggerogoti tubuh secara perlahan dan tanpa menimbulkan gejala sama sekali. Orang yang terpapar racun ini akan mengalami gagal jantung dan meregang nyawa dalam tempo dua pekan…,” urai Pangeran Wyudharu santai.

“Lantas, apakah kita akan mencari penawarnya…? Perkara racun inikah yang menjadi penyebab keresahan Pangeran Wyudharu…?” Kecemasan Si Kumal sangat tulus dan polos. 

“Eh…?” Pangeran Wyudharu terkejut. “Benar… benar itu…,” lanjutnya cepat. 

“Ada batasnya dalam hal kebodohan, jadi jangan terlalu sering digunakan…,” cibir Tuan Kekar kepada Si Kumal. “Dan jangan kira kau dapat membodohi aku, hai bangsat…,” lanjutnya kepada Pangeran Wyudharu.

Pangeran Wyudharu terlihat salah tingkah. Seluruh daya upaya mengelabui Tuan Kekar senantiasa berakhir buntu. Akhirnya dia menyerah dan mulai berkata jujur, “Racun itu sudah kukeluarkan bersamaan dengan air seni pada malam itu juga.”

“Dan kau sengaja berpura-pura terkejut karena diracuni, agar supaya mereka tak menyerang kita…,” simpul Tuan Kekar. 

“Biarkan saja mereka merasa sedang berada di atas angin, sehingga mereka tak akan mengganggu kita dalam waktu dekat. Tadi telah kita lihat sendiri gelagat Sukshena… Diriku tak yakin dapat mengalahkannya dalam pertarungan…”

“Kau mungkin tidak, tapi aku tak mudah menyerah…” Tuan Kekar menghentikan langkah, bahkan seolah hendak memutar arah untuk menantang Pangeran Sukshena dan Pangeran Kundhasi dalam pertarungan. Sungguh hal ini merupakan sebuah contoh di mana kepercayaan diri yang terlampau tinggi dapat membahayakan diri sendiri serta orang lain. 

“Sudahlah, jangan banyak bertingkah,” gerutu Pangeran Wyudharu. “Ada hal lain yang perlu kita laksanakan malam ini…” 

“Apakah itu…?” Si Kumal penasaran. 

“Tunggu saja, dan ikuti alur permainannya…”

Sang rembulan purnama menggantung semakin tinggi demi mengawasi tindak-tanduk umat manusia. Tak lama kemudian, ketiga sekawan tiba di sebuah istana maha besar dan megah. Dibandingkan dengan istana tersebut, istana milik Pangeran Wyudharu terkesan kerdil. Prajurit yang berjaga di depannya istana berlapis-lapis. 

“Pangeran Wyudharu datang bertandang,” ujar sang pangeran dengan nada datar. 

Para prajurit jaga mengenali, lantas membungkuk. Mereka kemudian membuka jalan. Tak diragukan lagi bahwa mereka telah diberitahu akan kedatangan tamu kehormatan. Ketiganya lantas dipandu masuk ke bagian terdalam istana. Di dalam sebuah ruangan nan mewah, ketiganya menanti. 

“Kau datang juga…,” sapa seorang perempuan dewasa muda nan cantik lagi menawan tatkala melangkah masuk ke dalam ruangan. Postur tubuhnya terbilang tinggi semampai dengan lekuk tubuh yang ramping. Pada pinggulnya menggantung kain panjang sampai ke mata kaki dan seutas kemben pendek menutupi tubuh bagian atas. Bahu dan perutnya terbuka selayaknya para penari. “Dan kau masih saja ceroboh… Untuk apa kau meneruskan permainan dadu melawan Jalasandha dan yang lain…? ‘Kan sudah kukatakan bahwa aku yang akan menanggung kebutuhan pasukan prajurit Sampshapataka. Dengan berturut-turut memenangkan permainan dadu, sekarang kau malah tampil semakin mencolok. Kau menjadikan diri sendiri sebagai sasaran oleh banyak pihak!” 

Pangeran Wyudharu, Tuan Kekar serta Si Kumal terpana. Perempuan dewasa muda itu berceloteh tanpa henti dan tiada membuka kesempatan untuk disela. 

“Siapa mereka…?” lanjut Kurawa ke-101 Putri Duhsala memicingkan mata. 

“Mereka adalah pendampingku,” tanggap Pangeran Wyudharu. 

“Dari Negeri Dua Samudera juga…?”

“Benar, keduanya merupakan murid-murid dari Perguruan Budi Daya.”

“Heh…? Jadi kalian adalah ‘murid-murid’ Bintang Tenggara di Perguruan Budi Daya,” sindir Putri Duhsala sembari terkekeh. 

Tuan Kekar dan Si Kumal mau tak mau mengangguk. Keduanya memperkirakan bahwa selama berada di dalam aula permainan dadu, entah bagaimana Pangeran Wyudharu dan Putri Duhsala saling membuka jati diri. Walau, di dalam batin Si Kumal sangat khawatir bahwa Pangeran Wyudharu akan melakukan tindakan yang dapat merusak nama baiknya. Tidak, Ginseng Perkasa sudah pasti akan berbuat tak senonoh. Buktinya, kalau tak dibuntuti, tokoh tersebut berniat diam-diam mendatangi Canting Emas seorang diri. Keparat! Tak bisa dibiarkan!

Akan tetapi, belum sempat Si Kumal membuka jati diri, seorang lelaki dewasa muda dengan tubuh kekar dan bertampang sangar melangkah cepat ke dalam ruangan. Seketika ruangan tersebut dipenuhi dengan aura nan sangat menekan. Demikian perkasa!

Pangeran Wyudharu, Tuan Kekar serta Si Kumal mengenali tokoh penuh wibawa tersebut sebagai salah satu sekutu terkuat Kurawa. Dia adalah sang penguasa dari Kerajaan Sindhu yang pernah menculik Draupadi istri Pandawa. Dia membawahi satu akshauhini pasukan nan terkenal haus darah. Dia memiliki anugerah dewata dan kisah kepahlawanan yang gemilang. Dia adalah… Jayadratha Raja Sindhu! 

Jayadratha Raja Sindhu mendekati Putri Duhsala, bibirnya memancung selayaknya hendak memberikan kecupan…

“Brak!” 

Secepat kilat Putri Duhsala menendang. Jayadratha Raja Sindhu jatuh terjengkang! 

“Dia Aji Pamungkas…,” gerutu Putri Duhsala sembari menunjuk kepada sang suami. 

“Sudahlah kita berpisah ranjang, satu kecupan pun tak bisa!” rengek Jayadratha Raja Sindhu. Aura menekan yang sebelumnya tampil perkasa luntur sudah. “Sebagai suami-istri, bukankah sudah kewajiban bagi kita memadu kasih…? Ya ‘kan…?” Jayadratha Raja Sindhu berharap dukungan dari Pangeran Wyudharu. 

“Ehm…” Pangeran Wyudharu melegakan tenggorokan yang tak kering. “Adalah benar bahwa Jayadratha Raja Sindhu dan Putri Duhsala merupakan suami dan istri yang sah, tetapi tidak dengan Aji Pamungkas dan Canting Emas…,” lanjutnya penuh kewibawaan.

“Akh… Bintang Tenggara… Sampai hatinya engkau… Musuh dalam selimut!”

Si Kumal masih tertegun menyaksikan penampilan Putri Duhsala, dan kini terhadap Jayadratha Raja Sindhu. Walaupun perilakunya seratus persen mencerminkan kemesuman Aji Pamungkas, tetapi tetap saja dia adalah tokoh yang tersohor lagi gagah perkasa. Pada kesempatan itu pula, rasa percaya diri Bintang Tenggara yang hanya menumpangi tubuh lemah terperosok ke dalam sumur nan dalam. Ia urung mengungkap jati diri…

“Aku sudah memata-matai beberapa orang yang kemungkinan adalah Guru Muda Khandra dan Kuau Kakimerah… Tapi aku belum menemukan Panglima Segantang…,” lanjut Putri Duhsala sembari bersandar di atas dipan.

“Dimanakah mereka…?” Pangeran Wyudharu mengambil posisi duduk di sisi Putri Duhsala.

Dalam penilaian Si Kumal, gelagat Pangeran Wyudharu terlalu ramah dan jarak duduknya dengan Putri Duhsala terlampau dekat. 

“Aku tak bisa mendekati mereka tanpa mengundang kecurigaan dari pihak lain…,” tanggap Putri Duhsala. 

“Apakah ada yang bisa aku lakukan…?” Pangeran Wyudharu beringsut mendekat, lantas menyondongkan tubuh. 

“Hooooiiii…” Sebelum Si Kumal menyuarakan keberatannya, Jayadratha Raja Sindhu meraung. “Akrab sekali kalian. Sekalian saja duduk berpangku-pangkuan!” Dia lantas melompat ke dipan, tepat di antara Pangeran Wyudharu dan Putri Duhsala. 

Putri Duhsala segera bangkit berdiri, meninggalkan Pangeran Wyudharu dan Jayadratha Raja Sindhu yang sedang duduk berhimpitan. “Kita semua perlu berkumpul jikalau hendak menggapai hasil yang memuaskan di dalam Perang Kurukshetra. Dengarkan rencanaku…”