Episode 422 - Permainan Dadu (2)



Sebuah aula besar. Berdiri empat pilar megah yang membangun bentuk persegi nan luas di tengah aula. Pilar-pilar tersebut menopang atap tinggi nan tersusun dari kepingan-kepingan kaca beraneka warna. Cahaya sang mentari petang menembus atap kaca langsung menyinari seantero ruangan, menghasilkan suasana nan semarak. 

Di antara pilar, terdapat empat bagian terbuka. Satu bagian adalah selasar pintu masuk ke dalam aula. Pada bagian kiri melewati selasar, sejumlah pemusik menunjukkan kepiawaian mereka memadu sitar, sarod, tambura, tabla dan vina. Perempuan-perempuan dewasa muda menari luwes di atas panggung di bagian kanan. Setiap satu dari mereka menampilkan lekukan perut nan aduhai ketika dipadupadankan dengan gerakan pinggul yang menggugah selera. 

Tepat berseberangan dengan selasar, sebentuk panggung yang terbagi dalam dua tingkat bercokol megah. Pada tingkat atas duduk para saudara dan saudari kepercayaan Putra Mahkota Duryudhana, yaitu Kurawa ke-2 Pangeran Dushasana, Kurawa ke-6 Pangeran Anadhresha, Kurawa ke-18 Pangeran Vikarna serta Kurawa ke-101 Putri Duhsala. Sedikit di bawah, kemudian duduk secara berurutan dari kiri ke kanan adalah Kurawa ke-3 Pangeran Dussala, Kurawa ke-4 Pangeran Saha, Kurawa ke-5 Pangeran Jalasandha, Kurawa ke-7 Pangeran Vindha dan Kurawa ke-8 Pangeran Anuvindha. Secara khusus, para Kurawa pada deretan ini memiliki dan mengepalai bala pasukan dalam jumlah besar. Derajat mereka, oleh karena itu, senantiasa tinggi. 

Tepat di tengah-tengah aula, berdiri pula panggung yang akan menjadi arena utama permainan. Arena tersebut terlihat mencolok, karena dikelilingi oleh para adik-beradik Kurawa yang lain. Mereka terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing — ada yang bercengkerama, ada yang menikmati anggur, ada pula yang terlihat tak sabar. Sepintas pandang suasana terkesan semarak dan akur, namun bila dicermati dengan seksama maka terdapat pembatas di antara mereka. Dengan kata lain, terdapat pembagian kubu yang tak kasat mata. 

“Ada yang belum hadir…,” celetuk Pangeran Vikarna sembari menengguk segelas anggur. 

“Hahaha…,” gelak Pangeran Dussala. “Ada saja yang terlalu kaku dan menolak bermain-main. Sedari kecil dahulu mereka sudah seperti itu.”

“Atau tak memiliki cukup kekayaan untuk dihamburkan…,” sahut Pangeran Vindha. Nada suaranya tak menyembunyikan perasaan jengah. 

“Tak ada salahnya mengendorkan urat syaraf barang sejenak… Kau pun terlalu tegang,” tanggap Pangeran Dussala. Di saat yang bersamaan, ia mencondongkan tubuh. Dari gelagatnya, ia tak sabar menantikan tanggapan seperti apa yang akan diberikan oleh sang adik. 

“Apakah Kakanda Putra Mahkota akan hadir…?” sela Pangeran Anuvindha. Ia menyadari bahwa kakak terdekatnya adalah di antara mereka yang tak menggandrungi permainan dadu. Pada kenyataannya, memang kehadiran Pangeran Vindha di dalam aula tersebut hanya karena dia tak hendak menyinggung perasaan sang Putra Mahkota.

Sebagai catatan, Kurawa ke-7 Pangeran Vindha dan Kurawa ke-8 Pangeran Anuvindha merupakan panglima perang yang sangat mumpuni. Sejak usia yang terbilang muda, masing-masing sudah mengepalai satu akshauhini bala tentara dari Kerajaan Avanti yang ditaklukkan namun menolak tunduk kepada Pangeran Sahadeva dari Pandawa. Jadi, kendatipun lebih muda, keduanya unggul dari segi kekuatan perang. Kenyataan ini seringkali membuat suasana panas antara mereka dengan saudara-saudara Kurawa yang lain.  

“Beliau akan tiba sedikit terlambat,” tanggap Pangeran Vikarna yang menyadari ketegangan suasana. “Saat ini beliau masih tertahan di kediaman Kakek Bhisma.”

“Bila demikian, terpaksa kita menanti sedikit lebih lama…”

“Tidak, tidak. Beliau berpesan bahwa kita bisa memulai kapan saja.”

“Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu!?” Pangeran Dushasana menepuk lututnya sendiri. Tetiba semangatnya menggelora.

“Silakan Kakak Ke-2 yang membuka,” seloroh Pangeran Dussala, yang sudah teralihkan perhatiannya dari Pangeran Vindha. 

Pangeran Dushasana sontak bangkit berdiri. Mengangkat gelas anggur tinggi di atas kepala lantas ia berujar lantang, “Adik-adikku sekalian! Bermain judi tidaklah baik. Bukan dengan cara ksatria, kepandaian, dan kebijaksanaan seseorang dapat meraih kemenangan di dalam permainan adu nasib seperti ini. Resi Asita, para dewata dan para resi yang mengenal inti hakikat kehidupan secara mendalam telah menasehatkan, bahwa permainan judi harus dihindari karena permainan yang sedemikian membuat orang ingin berbohong dan menipu. Mereka juga menyatakan bahwa kekalahan dan kemenangan dalam pertempuran adalah jalan yang paling pantas bagi para ksatria. Kalian semua sudah barang tentu bukannya tidak menyadari akan hal ini!”

Gelak tawa nan membahana sontak pecah di dalam ruang aula nan luas itu. Hampir setiap dari mereka yang mendengarkan ceramah singkat Pangeran Dushasana tak ada dapat menahan diri. 

Mengapa demikian…? Apakah karena mereka meremehkan sang kakak…? Tentu saja tidak. Kesemuanya yang hadir mengetahui, bahwa isi ceramah tersebut merupakan kutipan dari kata-kata saudara sepupu mereka Pangeran Yudhistira sebelum dia mengalami kekalahan beruntun dalam permainan dadu melawan Pangeran Duryudhana yang diwakilkan oleh Sangkuni Raja Gandhara. Kejadian tersebutlah yang menjadi cikal-bakal Perang Kurukshetra yang akan bergolak kurang dari dua purnama ke depan. 

Di atas panggung kehormatan, hanya beberapa saja yang tak menggubris lelucon angeran Dushasana. Mereka adalah Pangeran Vikarna, Pangeran Vindha dan Pangeran Anuvindha. Sementara Putri Duhsala hanya mengulum senyuman. 

Gelak tawa berlangsung panjang, dan tepat sebelum surut, Pangeran Dussala bangkit berdiri dan menimpali. “Apa salahnya permainan ini? Jikalau sungguh-sungguh dipikirkan, apakah sebenarnya inti dari ‘pertempuran’? Apa pula gunanya berbincang-bincang tentang ajaran-ajaran para guru? Pada kenyataannya kita semua tahu, orang pintar selalu menang melawan orang bodoh. Pada hakekatnya, orang yang lebih pandai selalu menang dalam segala hal. Semua ini merupakan hasil dari ujian kekuatan atau kepandaian. Dalam kehidupan manusia, yang ahli selalu mengalahkan yang baru mulai belajar, demikian pula dalam hal bermain dadu. Kalau memang takut kalah janganlah ikut bermain. Jangan mencari-cari alasan dengan mengemukakan kata-kata kosong tentang ajaran moral dan budi pekerti!” 

Menggelegar gelak tawa susulan. Dussala sesungguhnya hanya mengulang kata-kata yang paman mereka Sangkuni Raja Gandhara ucapkan untuk mengolok-olok sehingga membuat merah padam wajah Pangeran Yudhistira kala itu. Kata-kata pancingan yang berhasil menjerumuskan Pangeran Yudhistira ibarat tikus kecil yang tak berkutik di dalam jerat. Sampai dia bertaruh dan kehilangan segalanya. 

Sungguh, kutipan-kutipan yang diucapkan membuat sebagian besar kakak-beradik Kurawa yang hadir seolah bersatu padu. Mereka melupakan ketegangan jelang perang. Pengelompokan di dalam kubu untuk sementara waktu sirna. 

“Aku rasa jika berjudi di antara kita, maka tak ada buruknya sebab kita semua adalah bersaudara. Apabila ada yang menang, maka tak pula ada yang hilang sia-sia karena sesungguhnya hanya berpindah tangan kepada saudara. Oleh karena itu, apa keburukan dari permainan dadu yang akan kita mainkan…?”

Suasana tetiba berubah hening, dan pusat perhatian beralih kepada sosok di salah satu sudut ruang aula. Seorang lelaki dewasa muda berdiri menyilangkan lengan di depan dada sambil bersandar pada salah satu pilar. Raut wajahnya tenang, tanpa beban sama sekali. Ialah yang baru saja melontar kutipan tambahan dari Sangkuni Raja Gandhara kepada Pangeran Yudhistira. Kesemua di dalam ruangan mengenal sosok tersebut sebagai Kurawa ke-99. 

“Hahaha… Betul! Betul sekali ungkapan dikau wahai adikku Kundhasi!” tanggap Pangeran Dushasana. “Satu kali itu adalah salah satu kesempatan di mana paman Sangkuni Raja Gandhara sepenuhnya berbuat jujur tanpa muslihat! Hahaha…”

Sambutan tawa kembali bergelora dan Pangeran Dushasana kembali duduk di tempatnya. Di saat yang bersamaan pula, Kurawa ke-99 Pangeran Kundhasi melompat ke atas arena di tengah aula. Mengambil dadu yang sedia tergeletak, ia lantas berujar, “Sepuluh peti berisi keping-keping emas adalah taruhanku, siapa kiranya yang berani melempar dadu!?”

Dengan demikian, permainan dadu di antara para Kurawa bergulir. 

“Aku yang akan menjadi lawanmu, wahai adikku!” Seorang lelaki dewasa melompat dari panggung kehormatan menuju panggung arena dadu. “Aku penuhi taruhanmu sepuluh peti berisi keping-keping emas! Aku pilih mata dadu enam!” lanjut Kurawa ke-5 Pangeran Jalasandha dengan semangat menggebu.

“Diriku pilih satu,” tanggap Pangeran Kundhasi. “Akan tetapi, bagaimana bila mata dadu jatuh di angka dua sampai dengan lima…?” Wajah seolah bingung, dibarengi dengan telapak tangan yang menyodorkan sebentuk dadu ke hadapan. 

Tak ada kecurangan terhadap dadu tersebut, karena merupakan dadu yang ditetapkan oleh sang Putra Mahkota. Hanya dadu itu yang diperkenankan untuk digunakan dalam ajang permainan dadu kali ini, demi mencegah kecurangan di antara kakak-beradik Kurawa sendiri.

“Maka kita akan bergantian melempar! Demikian keadilan tercapai!” Pangeran Jalasandha menanggapi.

Pangeran Kundhasi mengangguk cepat lantas melempar dadu. Benda berbentuk bujur sangkar kecil itu menggelinding, lantas berhenti. Sisi yang memuat mata dadu lima tampil di atas. Belum ada pemenang. 

“Giliranku!” Pangeran Jalasandha melempar dadu dan kali ini mata dadu tiga mengemuka. Keduanya lalu bergantian melempar dadu beberapa kali lagi, namun tidak sekalipun mata dadu satu dan enam yang mengemuka.

“Jikalau seperti ini terus-menerus peruntungan kita, maka sampai malam larut pun belum tentu dadu menentukan pemenang, sementara yang lain sudah tak sabar menanti giliran,” ujar Kurawa ke-99 Pangeran Kundhasi. “Bagaimana kalau kita undang pemain lain…?”

“Aku bertaruh sepuluh peti emas, untuk mata dadu dua.” 

“Aku juga! Tiga!” 

Tetiba dua orang penonton melompat naik ke atas arena melempar dadu. Segera setelah itu, dua orang lagi mengikuti. Kini terdapat enam pemain yang berdiri di atas panggung utama. Masing-masing mewakili setiap mata dadu. Lengkap. Pemenangnya akan memboyong sekaligus lima puluh peti berisi kepingan emas!

Pangeran Kundhasi tak membuang waktu. Segera ia lontarkan dadu, yang memantul lalu menggelinding sangat pelan mencari pijakan terbaik. Setiap pasang mata di atas panggung utama, di bawah, bahkan dari arah panggung kehormatan menyaksikan dengan seksama. Napas tertahan, suasana seketika berubah hening. 

Dua! Dadu berhenti di mata dua! 

“Yeah! Aku menang!” teriak salah satu Kurawa di atas panggung. 

“Hmph! Sepertinya diriku kalah pada putaran ini…,” ujar Pangeran Kundhasi menahan kekecewaan. 

“Cih!” Pangeran Jalasandha jelas tak puas atas kekalahannya. 

“Tapi, akan kunaikkan taruhanku!” lanjut Pangeran Kundhasi. “Dua puluh peti berisi keping-keping emas!” 

“Ayo!” Pemenang sebelumnya berseru penuh semangat. 

Dua tokoh lain yang sebelumnya kalah undur diri. Mereka sepertinya tak hendak terbawa emosi dan ingin menikmati permainan dengan santai pada putaran-putaran berikutnya. Masih ada kesempatan lain untuk menebus kekalahan. Demikian, pengunduran diri keduanya segera digantikan oleh dua Kurawa yang lain lagi. 

“Diriku tetap percaya pada mata dadu satu.” Pangeran Kundhasi meneguhkan pilihan. 

Pangeran Jalasandha meraih dadu. “Aku pun tetap dengan mata dadu enam!” Ia menatap setiap yang ikut dalam pertaruhan, lantas melempar dadu tinggi ke atas.

Di panggung kehormatan, Pangeran Vikarna menopang dagu. “Jalasandha terbuai emosi… dia tak bisa melihat dengan jernih…”

“Biarkan sajalah mereka bermain… Toh, Jalasandha memiliki kekayaan yang berlimpah,” timpal Pangeran Dushasana. 

Putri Duhsala menghela napas panjang, “Tak bisakah dia melihat jebakan yang terang benderang ini…?”

“Kundhasi… Tak pernah kusangka…,” gumam Pangeran Vindha.

Keempat tokoh tersebut sepenuhnya menyadari siasat yang sedang berlangsung di atas arena permainan dadu. Bukan sihir, tetapi ilmu pasti. Saat ini Pangeran Jalasandha tidak berhadapan dengan Pangeran Kundhasi semata, namun satu kubu lawan. Tanpa dia sadari, empat peserta lain permainan dadu merupakan rekan-rekan Pangeran Kundhasi. Selebihnya, adalah Ilmu pasti. Asal mata dadu enam tidak muncul, maka mata dadu lain berarti kemenangan bagi kubu Pangeran Kundhasi. Lima berbanding satu, peluang kemenangan bagi Pangeran Jalasandha kecil sekali. 

Mata dadu empat mengemuka. 

“Aku menang!” 

“Cih!” Raut wajah Pangeran Jalasandha semerah kepiting rebus. Ia kalah lagi. 

“Baiklah… aku menyerah,” gerutu Pangeran Kundhasi masih bersandiwara. “Aku butuh segelas anggur untuk melupakan tiga puluh peti emas yang melayang dalam sekejap…”

“Heh… Hanya sampai segitu nyalimu, wahai Kundhasi…?” Pangeran Jalasandha bertolak pinggang. 

“Kemarilah Jalasandha… temani aku menghabiskan anggur ini…,” panggil Pangeran Saha dari panggung kehormatan. Sepertinya ia hendak menyelamatkan sang adik agar tak terperosok semakin jauh ke dalam siasat adiknya yang lain. 

“Tenanglah. Aku senang berbagi dengan saudara-saudaraku,” tanggap Kurawa ke-5 Pangeran Jalasandha yang berupaya mengubur rasa malu atas dua kekalahan sebelumnya. “Jadi, siapa yang akan menggantikan Kundhasi!?” lanjutnya sembari menyapu pandang.

Tak ada yang menanggapi, karena sebagian besar menyadari tabiat Jalasandha yang tak akan mau berhenti sampai dia menang. Akan tetapi, seketika itu mereka yang duduk di atas panggung kehormatan memantau dengan seksama. Ada sesuatu yang sangat menarik perhatian mereka, bahkan membuat penilaian sebelumnya terhadap Pangeran Jalasandha berubah. 

Sebentuk senyuman menghias di sudut bibir Pangeran Jalasandha. “Hm… Bagaimana denganmu, Wyudharu…? Sebagai pimpinan Sampshapataka, apakah engkau cukup bernyali…?”


===


Di luar aula, para pendamping dan pelayan menanti sabar. Tak seorang pun dari mereka yang diizinkan masuk ke dalam ajang resmi kakak-beradik Kurawa. 

“Tuan Kekar, sampai berapa lama kita akan menunggu di sini…?”

“Sampai dia keluar.”

“Apakah Pangeran Wyudharu akan baik-baik saja…? Kalau beliau kalah taruhan, maka kita bisa kehilangan pasukan prajurit Sampshapataka…”

“Aku tahu…,” jawab Tuan Kekar tanpa menyembunyikan kecemasan. “Akan tetapi, untuk kali ini aku percaya padanya. Dia punya rencana.” 

“Hm…?” Si Kumal terlihat bingung. Tak pernah selama ini ia menyaksikan Komodo Nagaradja menaruh kepercayaan demikian tinggi kepada Ginseng Perkasa. 

“Saat perang jagat dahulu, salah satu Raja Angkara menebar racun yang mematikan bagi ribuan sekutu sedangkan bahan dasar untuk membuat penawar racun tersebut sangat sulit diperoleh. Akan tetapi, entah dari mana si tua bangka itu berhasil menyediakan penawar dalam jumlah yang banyak.”