Episode 421 - Permainan Dadu



Pangeran Wyudharu sesungguhnya lebih dikenal sebagai sosok yang menggemari karya seni. Oleh sebab itu, tak heran bila keberhasilan menjalankan tugas kenegaraan dari Putra Mahkota Duryudhana dan imbalan dalam bentuk komando atas pasukan prajurit Sampshapataka, diungkapkannya dengan menuliskan sebuah puisi pada papan pengumuman di Istana Utama Ibukota Hastinapura. Biar seluruh penjuru negeri mengetahui! 

Setidaknya, demikian adalah pandangan Si Kumal. Sebagaimana telah diketahui, tindakan tersebut merupakan rencana yang disusun cepat. Dengan membubuhkan kata sandi ‘aku merana, karena bencana’ di dalam puisi tersebut, maka ia berharap bahwa teman-temannya dari Perguruan Gunung Agung akan membaca kemudian mendatangi Pangeran Wyudharu. Sebuah pemikiran yang sederhana sekaligus cerdas. Malangnya, Si Kumal kurang peka akan dampak samping dari tindakan yang terkesan sederhana itu.

“Bangsat!” Seorang lelaki dewasa menggebrak sebuah meja persegi nan panjang.

“Sesumbar sekali dia!” 

“Dia melangkahi setiap satu dari kita!” 

“Melangkahi katamu!? Dia menginjak-injak harga diri kita!”

Dua puluh lelaki dewasa dan dewasa muda sedang duduk di balik meja persegi nan panjang yang terletak di dalam sebuah ruangan persegi nan mewah. Kesemuanya menunjukkan pakaian layaknya kalangan bangsawan, namun pada kenyataannya bukanlah sembarang tokoh bangsawan. Sesungguhnya mereka merupakan kakak-beradik Kurawa yang bersekutu dan membangun kubu. Jangan salah paham, kesemuanya mendukung dan sepakat pada kehendak sang kakak tertua untuk mengambil kembali hak lahir mereka atas tampuk kekuasaan. Akan tetapi, keduapuluh tokoh ini berpandangan ke depan. 

Setelah mengambil alih takhta Kemaharajaan Kuru, bagaimana dengan pembagian kekuasaan? 

Tentu Putra Mahkota Duryudhana akan menjadi sang penguasa tunggal, akan tetapi sebagai adik-adiknya mereka tak hendak berpangku tangan. Selayaknya para bangsawan diraja, mereka merasa pantas juga untuk memiliki kekuasaan, bukan sekadar jabatan di dalam pemerintahan. Bila tak di Hastinapura, maka mereka menginginkan kekuasaan tempat lain. Bilamana nanti memenangkan Perang Kurukshetra, maka kerajaan-kerajaan pendukung Pandawa akan menjadi sasaran nan sangat empuk. Demikian, memiliki pasukan yang kuat merupakan prasyarat dasar dari capaian dimaksud. 

“Cih! Aku lebih rela apabila pasukan prajurit Sampshapataka diberikan kepada Jalasandha atau Sukshena!” 

“Sesungguhnya ini adalah sebuah peruntungan bagi kita. Jalasandha dan Sekshena yang jelas-jelas mengincar pasukan tersebut terpaksa menggigit jari. Dengan kata lain, kekuatan mereka pun tak bertambah…,” ujar salah seorang dari mereka memberi penilaian terhadap Kurawa yang lain. Ia terlihat di antara yang bersikap lebih tenang dalam menanggapi pencapaian Wyudharu. 

“Hmph… Jalasandha dan Sekshena memang terlalu congkak! Betapa aku menikmati nasib malang keduanya… Haha…” 

“Masih ada waktu…” Tetiba terdengar celetukan ringan. Datangnya dari seorang tokoh yang berusia terbilang muda. Dari penampilannya, diperkirakan bahwa ia hanya terpaut sekira satu atau dua tahun lebih tua dari si bungsu Wyudharu. Akan tetapi, raut wajahnya menunjukkan kecemerlangan dalam kemampuan berpikir.

“Kundhasi, sampaikan apa yang terlintas di dalam benakmu…’

Kundhasi, Kurawa ke-99, memandang sepintas kepada sembilan belas kakaknya yang berada di dalam ruangan sebelum menanggapi. “Masih sekira dua purnama jelang Perang Kurukshetra. Yang dapat kita lakukan sangatlah sederhana… Sebagaimana yang dicanangkan oleh Paman Sangkuni, dan dijalankan oleh kakanda Putra Mahkota Duryudhana…”

“Maksudmu…” Salah seorang Kurawa yang duduk paling ujung di meja persegi itu menatap tajam. Ia sengaja menahan diri untuk tak melanjutkan pertanyaan. 

“Benar,” tanggap Kundhasi menyibak senyuman, seolah dapat membaca pikiran lawan bicaranya. 


===


“Bodoh! Sudah kukatakan jangan pasang puisi atau berbuat apa pun yang dapat memancing perhatian!” gerutu Tuan Kekar.  

Si Kumal hanya berdiri diam di dalam istana. Sebelum ini ia telah memantau keadaan di luar, dan tampaknya ia sedang menyesali perbuatan memajang puisi. Kini, ada banyak mata mengintai istana milik Pangeran Wyudharu. Tampaknya tak sedikit yang mencurigai tindakan tersebut sebagai upaya untuk menyampaikan pesan sehingga mengirimkan mata-mata untuk menelusuri. Dengan kata lain, teman-teman dari Perguruan Gunung Agung pun akan bertindak waspada, sehingga kemungkinan besar akan memantau keadaan sebelum menghubungi Pangeran Wyudharu. 

“Kalau kau adalah mereka, apakah kau tak berpikir bahwa perbuatan memajang kata sandi bisa jadi adalah sebuah jebakan!?” hardik Tuan Kekar. Air liurnya menyemprot keluar tatkala amarah memuncak. 

“Hei… hei… Tutup mulutmu… Kau bisa menulari penyakit kepada orang lain melalui percikan cairan…,” sela Pangeran Wyudharu. Seperti biasa, tokoh ini yang selalu menengahi pertengkaran antara Tuan Kekar dan Si Kumal. Walau, kali ini ia sangat serius membahas tentang percikan air ludah. 

“Cuih!” Tuan Kekar meludah lurus ke depan dengan kecepatan sangat tinggi. 

Namun demikian, Pangeran Wyudharu sangat waspada dan sigap mengelak. “Jorok!” sergahnya sebal. 

“Kau mau ke mana!?” Sudut mata Tuan Kekar mendapati Si Kumal hendak beringsut pergi. “Aku belum selesai!”

“Bagaimana dengan latihan kita hari ini…?” Lagi-lagi Pangeran Wyudharu menyela. 

“Jangan berlagak bodoh!” sergah Tuan Kekar. “Kau sudah tahu bahwa dengan banyaknya mata-mata di sekeliling kita, maka sulit mencari kesempatan berlatih. Kau justru senang karena tak perlu bersusah-payah!”

“Supaya kau tahu, setelah bersua Sangkuni Raja Gandhara, semangatku untuk memenangkan Perang Kurukshetra menyala-nyala!”

“Menyala-nyala jambangmu! Apa kau sudah menemukan cara menghidupi seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka…?” cibir Tuan Kekar. Ia mengingatkan kepada permasalahan di hadapan mata.

“Tentu saja!” Pangeran Wyudharu tersenyum lepas sembari melambai-lambaikan secarik kertas. 

“Apa itu…?”

“Undangan.”

“Undangan apa!?”

“Terbatas bagi kalangan Kurawa…” 

“Jangan bertele-tele! Undangan dari siapa dan untuk apa!?” Amarah Tuan Kekar sebentar lagi memuncak. Ia merasa dikelilingi oleh orang-orang yang kurang memenuhi harapan. 

Pangeran Wyudharu masih menyibak senyum, kini mengangkat dagu tinggi-tinggi. Masih berlagak menyimpan misteri, ia menjawab, “Undangan permainan dadu.”


Catatan:

Ini adalah lanjutan setengah episode dari episode setengah sebelum ini. Hehe…