Episode 111 - Si Istimewa dan Si Biasa


Ketika Biloth masih kecil, dia berada di lingkungan yang ketat, setiap harinya dia habiskan untuk berlatih dan berlatih. Ketika iblis lainnya hidup dengan bebas dan melakukan apapun yang mereka ingin lakukan, Biloth akan berada di tempat latihannya. Semua ini membuat Biloth tidak mengetahui banyak hal, terutama tentang apa itu teman dan semacamnya, dia hanya tahu bagaimana caranya membunuh, membantai, dan mengalahkan siapapun musuhnya.

Membuat Biloth tidak jauh berbeda dari senjata penghancur.

Semua ini dilakukan karena Biloth adalah sang terpilih yang mampu menggunakan seruling emas Hanelin. Sebuah senjata legendaris yang memiliki kekuatan yang sangat tidak masuk akal.

Setiap kali seruling itu ditiup, sesuatu yang tak tak terlihat tercipta, hal itu bisa digunakan untuk bertahan ataupun untuk menyerang. Tidak bisa dihancurkan dan tidak bisa ditiadakan. Hal itu akan tercipta sesuai keinginan orang yang meniup seruling tersebut dan akan tetap ada sampai seruling itu berhenti dimainkan.

Meskipun begitu, seruling Hanelin bukan senjata yang jinak. Butuh banyak perjuangan bagi Biloth untuk berhasil menaklukannya. Namun, semua pelatihan untuk menjinakkan senjata itu membuat banyak luka di tubuh Biloth dan membuat tubuhnya terlihat sangat mengerikan. Semua luka itu diakibatkan serangan balik dari seruling Hanelin. Yang akhirnya memaksa Biloth memakai pakaian di seluruh tubuhnya kecuali matanya.

Itu menyakitkan, tapi Biloth tidak punya pilihan untuk mundur.

Itu sangat sulit, tapi Biloth tidak punya jalan untuk mundur.

Bukan karena keinginannya, tapi dia telah di dorong ke ujung jurang tanpa jalan untuk kembali. Keistimewaan yang orang lain pikirkan tentang dirinyanya adalah kutukan bagi Biloth.

Setelah lama berlatih, akhirnya Biloth berhasil. Dan dia telah menjadi senjata pembunuh yang seutuhnya.

Sebagai hasilnya, Biloth berhasil menjalankan semua misi yang diberikan kepadanya, dia membantai siapapun yang berada di depannya. Tidak ada yang mampu menghindar dari mau ketika berada di hadapannya. Seakan-akan dia telah berubah dari malaikat maut.

Setelah terbebas dari pelatih, Biloth sangat ingin memiliki sesuatu seperti teman. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dia katakan dan ketika dia menemukan sesuatu yang cocok untuk dikatakan, lawan bicaranya sudah pergi meninggalkannya. 

Berkali-kali Biloth mencoba. 

Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi.

Tapi semuanya gagal. Biloth masih tidak memiliki teman. 

Dia merasa kesepian. 

Dia merasa hampa. 

Kemudian ketika Biloth memikirkan tentang apakah bisa berteman dengan manusia, dia langsung membuang pikiran itu jauh-jauh. Bagaimana mungkin dia bisa berteman dengan manusia jika dengan sesama iblis saja dia tidak mampu.

Karena itu, setelah masuk ke dalam dunia jiwa Andre, Biloth langsung membuka penutup mulutnya dan meniup seruling emasnya. Suara yang indah terdengar nyaman di telinga, tapi bersamaan dengan suara indah tersebut, semua orang di sekelilingnya berjatuhan. Sebuah kekuatan tak terlihat menghantam mereka hingga tidak berdaya. 

Orang-orang yang beruntung tidak terkena serangan itu langsung meluncurkan serangan balik, tapi kini sebuah dinding tak terlihat menghalangi mereka untuk mendekati Biloth.

Kemudian musik yang dikeluarkan Biloth berubah menjadikan sedikit lebih cepat, bersamaan dengan itu, sebuah kekuatan tak terlihat menjatuhkan semua orang di sekitarnya. Seperti sesuatu yang sangat berat sedang menimpa mereka dan akhirnya mereka semua telah kalah.

Biloth melihat ke sekeliling, meskipun dia telah mengalahkan mereka semua, tapi dunia jiwa ini masih belum dalam kendalinya, yang berarti mereka bukan pemilik dunia jiwa ini. 

Lalu, beberapa saat kemudian, datang satu orang lagi, dia adalah Andre. Biloth menatapnya tanpa ekspresi, Biloth tidak peduli apakah Andre adalah pemilik dunia jiwa ini atau bukan, dia hanya akan mengalahkan siapapun di depannya.

Begitulah iblis bernama Biloth hidup.

Pertarungan antara Andre dan Biloth sangat berat sebelah. Semua serangan Andre seperti tidak ada gunanya dan hanya sia-sia di depan kekuatan Biloth yang begitu hebat.

Semua ini menyadarkan Andre, bahwa bahkan di dunia mimpi, dia hanya orang biasa.

Sejak kecil, tidak ada sesuatu yang bisa Andre banggakan, ketika namanya disandingkan dengan orang lain. Meskipun begitu, Andre menolak untuk percaya, dia berpikir bahwa setidaknya dia akan lebih baik daripada siapapun dalam bidang tertentu.

Dia mencoba banyak hal, awalnya dia mencoba untuk memfokuskan dirinya dalam pelajaran, tapi akan selalu ada orang yang lebih pintar darinya. 

Selanjutnya Andre mencoba olahraga, mulai dari sepak bola, renang, lari, ataupun bola voli, tapi dia tetap tidak bisa menjadi yang terbaik. 

Dia hanya akan menjadi sesuatu yang dianggap orang biasa saja. Meskipun begitu, Andre masih menolak untuk percaya.

Akhirnya Andre mencoba bela diri. Dia menghabiskan waktunya untuk berlatih lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Tapi tetap saja, Andre terus kalah dan kalah. Meskipun begitu, dia terus berlatih.

Ketika turnamen bela diri diadakan, tidak ada seorangpun dari perguruan bela dirinya yang mau berpartisipasi, berpikir bahwa ini adalah panggung baginya untuk membuktikan diri, akhirnya dia mengajukan dirinya.

Tidak ada dukungan dari siapapun selain kakaknya, orang-orang di sekitarnya tidak pernah menaruh banyak harapan pada Andre yang sangat biasa, karena mereka merasa itu akan percuma karena pada akhirnya Andre pasti akan mengecewakan kepercayaan tersebut.

Seperti yang mereka pikirkan, pada pertandingan pertama, Andre kalah dari lawannya. Pun begitu dengan pertandingan selanjutnya. Sampai di sini sebuah pemikiran tentang tidak mungkin dia menjadi istimewa terbersit dalam pikirannya, akan tetapi dengan cepat dia buang pemikiran tersebut, dia yakin bahwa dia pasti akan menjadi yang terbaik dalam sesuatu dan membungkam orang-orang di sekitarnya.

Tapi, kenyataan tak seindah imajinasi, dia kembali kalah dalam pertandingan bela dirinya. 

Saat itu, sesuatu seperti pecah dalam dirinya dan membuat hidupnya terasa hampa.  Dia akhirnya menyadari bahwa pengejarannya untuk menjadi istimewa sangat konyol.

Tidak seperti orang lain yang hanya pandai dalam sesuatu, Andre pandai dalam banyak hal. Meskipun nilai pelajarannya biasa, dia mampu untuk menguasai semuanya. Meskipun bakat olahraganya biasa saja, dia mampu untuk menguasai semuanya. Meskipun kemampuan bela dirinya biasa saja, setidaknya dia lebih hebat dari orang pada umumnya.

Akhirnya Andre menyadari, sejak awal dia sudah istimewa, dengan caranya sendiri.

Kini yang tersisa adalah untuk terus maju dan mungkin dia akan menguasai segala hal. Sebuah pengejaran baru membuat rasa hampa itu menghilang bersama kering air matanya.

Namun, pertarungannya dengan Biloth menyadarkan Andre sekali lagi. Dihadapan mereka yang istimewa, mereka yang biasa saja tidak akan pernah menang.

Andre sudah tahu itu, dia sudah sangat menyadari, bahkan sejak dulu. 

Tapi...

Meskipun begitu...

Andre berdiri tegap, di hadapannya berdiri Biloth masih diam dan memandang Andre tanpa ekspresi. 

"Aku tidak akan pernah menyerah!" teriak Andre sambil bergegas menuju Biloth. 

Dengan setiap langkahnya, otot-otot di tubuh Andre membesar dengan hebat. Mulai dari kaki, tangan, perut dan dadanya. Warna kulitnya juga berubah menjadi hijau dan wajahnya terlihat cukup menyeramkan.

"Jika serangan seperti sebelumnya tidak berhasil, maka aku akan menggunakan kekerasan saja." Pikir Andre.

Biloth mendekatkan seruling emasnya ke bibir lalu meniupnya. Alunan suara yang berat terdengar dan tiba-tiba saja sebuah penghalang tak kasat mata tercipta di depan Andre, mengehentikan langkahnya.

Andre tidak tinggal diam, dia mengepalkan tinjunya, seluruh otot tangannya menegang, lalu tanpa aba-aba sebuah pukulan lurus menghantam dinding tak kasat mata tersebut. 

Tinju itu membelah angin dan menimbulkan suara yang memekakkan telinga, lalu ketika tinju itu membentur tembok tak kasat mata itu, sebuah ledakan udara terjadi. Sungguh kekuatan yang sangat luar biasa. Namun, dinding itu masih tetap ada di depannya.

Sekali lagi, Andre melepaskan tinju dengan kekuatan yang dahsyat pada tembok tak kasat mata tersebut, tapi hasilnya masih sama. Dinding itu masih ada di sana. 

"Sialan! Aku tidak akan menyerah!" 

Bam.

Bam.

Bam.

Bam.

Bam.

Tinju Andre terus menghujani dinding tak kasat mata itu dengan ganas. Walaupun begitu, dinding tak kasat mata itu tetap berdiri dengan kokoh, menghadang Andre untuk bisa mendekati Biloth.

"Seharusnya tidak begini. Seharusnya hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha, bukan? Lalu kenapa? Kenapa terus begini? Hei, siapapun kau, tolong jawab! Kenapa begini!" Teriak Andre, seraya terus memukul dinding tak kasat mata di depannya.

Tinju itu tak sekuat sebelumnya, karena tidak ada tekad pantang menyerah di dalamnya, yang ada hanya emosi negatif dan rasa kesal juga putus asa. 

Biloth tidak menjawab pertanyaan Andre. Dia berhenti meniup seruling emas tersebut dan menatap Andre dengan nostalgia, dia seperti melihat dirinya di masa lalu yang ingin menyerah setiap saat. Tapi, sayabgnya, dia tidak punya hak istimewa untuk menyerah.

Kemudian Biloth kembali meniup seruling emasnya lagi, kini suara yang terdengar sangat rendah dan bernuansa misterius. Di saat yang sama, sebuah kekuatan tak kasat mata menghantam Andre dari depan dan mendorong jauh. 

Namun, tiba-tiba dia berhenti, karena sebuah kekuatan tak kasat mata juga menekannya dari arah belakang. Dia kini ditekan dari dua arah oleh dua kekuatan tak kasat mata.

Andre mencoba untuk memberontak, tapi itu semua sia-sia, dia tidak mampu untuk keluar dari sana.

Kemudian, dua kekuatan dari arah bawah dan atas menekan Andre dan membuatnya semakin tak berdaya. Namun, ini belum berakhir, kini dua kekuatan tak kasat mata menekannya dari arah kanan dan kirinya yang benar-benar membawa Andre ke lembah putus asa. 

Tidak ada yang bisa Andre lakukan, kini dia hanya bisa pasrah pada nasibnya.

Kemudian suara yang keluar dari seruling emas itu berubah dari rendah menjadi cepat dan keras. Dan bersamaan dengan itu, kekuatan tak kasat mata yang menekan Andre dari semua arah menjadi lebih kuat lalu akhirnya menghancurkan Andre.

Tidak, bukan hancur, tapi sirna tak bersisa. Jiwa Andre telah musnah dan kini tubuhnya telah di ambil alih oleh Biloth.

Sekali lagi, Andre mengalami kekalahannya, dan yang ini adalah yang terakhir kalinya.