Episode 420 - Puisi



Perjalanan kembali ke Ibukota Hastinapura berlangsung lambat karena bergabung di dalam iring-iringan dua puluh ribu pasukan prajurit Sampshapataka. Jikalau sebelumnya Si Kekar dan Si Kumal berjalan kaki, kini keduanya ikut menumpang di dalam kereta kuda bersama Pangeran Wyudharu. Kereta kuda tersebut merupakan milik Kemaharajaan Gandhara yang bertugas mengantarkan sang pangeran.

“Jangan malas!” sergah Tuan Kekar menyentak pecut milik kusir kereta kuda. 

Si Kumal melangkah gontai di sisi kereta kuda. Pada pundak ia memanggul sepasang besar karung berisi gandum. Rupanya derita latihan tak mudah dielak karena dirinya memang tertinggal. Selama ketiganya berpisah, Tuan Kekar giat menempa diri di alam bebas sedangkan Pangeran Wyudharu berlatih di Kemaharajaan Gandhara. Pertumbuhan kekuatan kedua tokoh tersebut tiada dapat dipandang sebelah mata, bahkan bisa dikatakan melambung tinggi.

“Dikau terlalu keras…,” ujar Pangeran Wyudharu dari dalam kereta kuda. 

“Bukan urusanmu!”

“Berhenti… berhenti…,” sang pangeran memberi perintah kepada kusir yang asli, yang sejak beberapa saat lalu kesulitan memandu kuda karena cambuknya dirampas tokoh nan sangat mengerikan.  

Pangeran Wyudharu melompat turun dari kereta kuda dan melesat ke arah semak belukar. Sejumlah pengawal dari Kemaharajaan Gandhara sigap mengejar karena mereka memperoleh perintah mutlak untuk melindungi kemenakan Yang Mulia Raja Sangkuni. Tak terlalu jauh, Pangeran Wyudharu berhenti dan memetik beberapa lembar daun. Ia lantas melesat lagi, merunduk dan menggali tanah. Tak lama kemudian sang pangeran kembali ke dalam kereta kuda. 

“Kau pikir kau dapat meramu…?” celoteh Tuan Kekar sembari menyilangkan lengan di depan dada. 

“Tentu saja,” tanggap Pangeran Wyudharu ringan. “Diriku tetap memiliki pengetahuan akan tetumbuhan. Cara meramunya saja yang berbeda. Tanpa keterampilan khusus, diriku terpaksa meracik ramuan dengan cara biasa.”

“Apa yang hendak kau ramu…?”

“Rahasia…” Pangeran Wyudharu nan tampan tersenyum puas. 

Pintu gerbang menuju Ibukota Hastinapura terbuka lebar tatkala menyambut kedatangan para sekutu. Derap langkah pasukan Sampshapataka berbaur dengan sorak-sorai segenap penduduk negeri. Putra Mahkota Duryudhana terlihat berbangga hati. Lidahnya seolah mengecap kemenangan yang tak lama lagi disajikan di atas meja makan.

Secara khusus, sang Putra Mahkota juga tak lupa untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada adiknya yang kembali dari perjalanan penuh halang rintang pulang-pergi Kemaharajaan Gandhara. Di hadapan adik-adiknya yang lain, Putra Mahkota Duryudhana menyampaikan kata-kata sanjungan setinggi langit. 

“Wyudharu adikku… Kudengar dikau menderita cedera di tangan Vrihatkshatra, si pemberontak dari Kerajaan Kekaya.”

“Sungguh hanya luka gores, wahai Putra Mahkota,” tanggap Pangeran Wyudharu merendahkan diri. 

“Aku membaca langsung surat yang dikirimkan oleh Yang Mulia Paman Sangkuni Raja Gandhara. Selain menegaskan dukungan Kemaharajaan Gandhara, beliau juga menggarisbawahi keberanian dan kepiawaian dikau!” 

“Yang Mulia Paman Sangkuni Raja Gandhara sedikit berlebih. Diriku hanya menjalankan titah dari Yang Mulia Putra Mahkota.” 

“Kau terlalu merendah, wahai adikku. Sebagai imbalan atas jasa-jasamu, maka dua puluh ribu di hadapan kita, beserta delapan puluh ribu pasukan prajurit Sampshapataka yang sedang bergerak menuju Padang Kurukshetra, kesemuanya, akan berada di bawah panji-panji Pangeran Ke-100!”


“Prang!” Sebentuk gelas anggur yang terbuat dari emas dan bertakhtakan intan permata terpelanting setelah menghantam batu marmer nan dipoles mengkilap. Isinya yang merah membasahi permukaan lantai. 

“Yang Mulia Pangeran Ke-5, ada apakah gerangan…?”

“Seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka sepantasnya berada di bawah kendali aku, Jalasandha!”  

“Apakah sudah ditetapkan…? Bukankah seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka sebelumnya dijanjikan kepada Yang Mulia Pangeran Ke-5…”

“Bangsat! Wyudharu penjilat!” Pangeran Jalasandha mengepalkan tinju, terdengar jemarinya berderak. 

….


Di tempat yang lain, seorang lelaki dewasa duduk seorang diri merenungi keindahan sang rembulan malam. “Wyudharu…,” gumamnya pelan. “Sungguh aku tiada menyangka jikalau engkau pun mampu bersiasat…” 

“Yang Mulia Pangeran Ke-47…? Dikau memanggil…?” Tetiba, di balik sang penatap rembulan, sesosok tubuh mengemuka dari balik bayangan. Ia mengenakan pakaian serba hitam, hanya segaris celah yang menunjukkan sepasang mata nan merah.

“Seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka diserahkan kepada Wyudharu…” lanjut lelaki dewasa yang masih memandangi rembulan. 

“Apakah sudah ditetapkan…? Bukankah para Sampshapataka sepatutnya berada di bawah komando Pangeran Jalasandha…?” tanggap sosok serba hitam. 

“Dikau keliru, sahabatku. Komando seratus ribu pasukan prajurit Sampshapataka seharusnya dipilih oleh mereka sendiri. Para Sampshapataka berhak menentukan kepada siapa mereka akan mengabdi dalam upaya memenggal leher Arjuna. Dalam kaitan itu, Jalasandha memiliki kemungkinan tertinggi karena hubungan buruknya dengan Arjuna. Mereka tak pernah cocok, senantiasa cekcok.”

“Jadi, langkah apakah yang akan kita tempuh…?”

“Pasukan Sampshapataka secara khusus sangatlah ‘murah’. Sangat disayangkan…,” gumamnya pelan kepada diri sendiri.

“Jadi, langkah apakah yang akan kita tempuh, wahai Yang Mulia…?” ulang lawan bicaranya dengan sedikit menambah tekanan pada nada suara.

“Sejujurnya, aku tak tahu… Aku telah menyusun rencana untuk mengambil hati para Sampshapataka dari tangan Jalasandha, tetapi tidak dari Wyudharu. Sebaliknya, perubahan ini membuat aku sedikit bimbang…”

“Apakah kita akan ‘menyingkirkan’ Pangeran Wyudharu…?” Sepasang mata sosok serba hitam semakin memerah. Hasrat membunuh meningkat perlahan. 

“Tidak, tidak…” Pangeran Ke-47 mengibaskan lengan. “Menyingkirkan Wyudharu berarti membuka kesempatan bagi Jalasandha. Untuk sementara ini, kau pantau saja gerak-gerik si bungsu itu. Jikalau ada yang mencurigakan, segeralah melapor.”

Demikian, sosok serba hitam bermata merah kembali menghilang di balik bayangan malam.


“Apa rencana kita untuk seratus ribu Sampshapataka…?” aju seorang lelaki dewasa muda nan gagah lagi tampan. 

“Kita…? Kau ‘kan salah satu Jendral Bhayangkara… Sepantasnya kau tahu apa yang perlu dilakukan terhadap mereka…”

“Pasukanku dulu adalah para ahli penyembuh, kau tahu itu. Mereka dapat mengurus diri sendiri tanpa arahan. Sementara aku tak berpengalaman dalam mengurus pasukan serta kiat-kiat pertempuran…”

“Pangeran Wyudharu… Apakah… apakah mungkin dikau meminta aku memimpin pasukan Sampshapataka…?” Tuan Kekar menaikkan sebelah alis.

“Perlukah kutulis di atas kertas dan kububuh dengan cap darah…?”

“Jadi, kau mengakui keunggulanku…?” Sebentuk senyuman menghias di sudut bibir Tuan Kekar. 

“Dalam hal ini, iya…” 

“Hmph…” Tuan Kekar bangkit berdiri. “Pertama, memiliki pasukan tidaklah murah. Dengan apa kita akan memenuhi kebutuhan dasar mereka….? Kita berkewajiban menanggung pangan, sandang dan papan seratus ribu prajurit. Yang utama adalah pangan, karena pasukan Sampshapataka memiliki sandang dan papan mereka sendiri, dan tampaknya mereka tak terlalu menuntut banyak dalam kedua hal tersebut. Mereka adalah pasukan yang sangat mandiri.”

“Aku memiliki harta benda, dan Putra Mahkota Duryudhana dapat dimintai bantuan setiap saat…”

“Hmph… tak tanggung-tanggung…,” cibir Tuan Kekar. “Sepelosok negeri ini terlena sehingga mengakui dan mengagumi sepak-terjangmu. Tak lama lagi mereka akan mendendangkan tembang akan kepahlawananmu…”

“Bait-bait puisi akan menghiasi pentas-pentas seni…,” lanjut Pangeran Wyudharu mengabaikan cemooh. 

“Puisi…?” Tetiba Si Kumal, yang sedari awal terbaring di atas dipan karena kelelahan akibat siksa latihan sehingga hanya mendengarkan, bangkit berdiri. “Puisi!” pekiknya kepada dua tokoh yang sedang berbincang-bincang.

Keesokan harinya, sebuah puisi terpampang pada papan pengumunan tepat di hadapan Istana Utama di Ibukota Hastinapura. Sajak-sajaknya adalah sebagaimana berikut:

Tidak ada kekuatan yang begitu besar yang tidak bisa kita kalahkan.

Tidak ada ketidakadilan yang besar yang juga tidak bisa kita hancurkan. 

Karena ketidakadilan yang kecil pun dengan berlalunya waktu…

Dapat berubah menjadi besar. 

Aku merana, karena bencana.

Pada bagian akhir puisi tersebut, tercantum nama penggubahnya: “Pangeran Ke-100 Wyudharu”


Catatan: 

Bekerja dari rumah nyatanya tak mudah. Selain mengurus hal-ikhwal pekerjaan, maka wajib pula mendampingi putra dan putri dalam pembelajaran. Walhasil, hanya mampu merampungkan setengah episode. 

Kepada para ahli baca sekalian, hindari kontak dengan keramaian, selalu mencuci tangan, makan teratur, dan beristirahatlah yang cukup. Semoga kita semua dapat melewati wabah penyakit ini dalam keadaan sehat.

Tabik.