Episode 417 - Turun Gunung


Saat kekuatan kalah, berarti kita harus mampu beralih pada muslihat. Aku bisa menyerang Ibukota Hastinapura dengan kecerdasanku, hingga seluruh Kemaharajaan itu hancur berkeping-keping…

Aku tidak menghargai kewajiban apapun juga yang akan membahayakan masa depan adik kesayanganku, bahkan meskipun harus melakukan perbuatan yang paling menjijikkan sekalipun. Dengan senang hati aku akan menerima neraka, tapi tidak akan kubiarkan masa depan adikku tersayang menjadi gelap dan tidak akan pernah aku biarkan Gandhari menikah dengan seorang lelaki yang buta sejak lahir!

Takdir ini tidak bisa dipercaya, layaknya judi. Karena itulah aku tidak mau berdampingan dengan takdir, kecuali dengan judi. Setidaknya sebelum dadu-dadu ini jatuh ke bawah, dadu-dadu ini ada di tanganku. Aku melempar mereka ke atas, tapi tidak ada yang melempar untukku. Sekarang Ayahanda telah memberikan dadu hidup kita ke tangan Bhisma. Gandhari telah mengalami ketidakadilan yang sangat besar. Dan kebenaran dari Gandhari ini telah menusuk hatiku seperti sebuah belati…

Begitu sebuah kolam mulai kering, katak-katak di sana harus pergi menuju kolam yang lain. Seekor bangau berkata, ‘Percayalah padaku wahai katak-katak, aku akan membawa kalian ke kolam yang lain. Duduklah kalian di dalam paruhku…’ Para katak yang terpedaya tidak akan pernah sampai di kolam yang lain, karena mereka masuk ke perut bangau itu…

Kakek kalian, Bhisma yang agung, hanya teringat pada kebenaran, saat dia mendapatkan sesuatu yang tidak benar. Kerena itulah, saat dia meracuni hidup seorang pelayan, dia tidak punya perasaan menyesal…

Roh jahat yang kau sebut itu menawarkan yang terbaik, tapi roh jahat yang terburuk bisa menawarkan yang terburuk pula. Hari ini keinginanku terkabul. Hari ini keponakanku akan dinobatkan sebagai Putra Mahkota di Ibukota Hastinapura, dan tak lama lagi, Kuru akan berubah menjadi Gandhara. Aku tak akan menghancurkan Hastinapura. Tidak. Aku hanya akan menghancurkan kesombongan dan nilai-nilai yang buruk dari tempat ini. Kemaharajaan ini boleh disebut sebagai Kemaharajaan Kuru, tapi nanti ia lebih pantas disebut sebagai Gandhara. Karena tidak lama lagi, aturan pemerintahan kemaharajaan ini akan sesuai dengan prinsip-prinsip Gandhara. Karena pertarunganku akan selalu dengan Bhisma Putra Gangga. Semua kesombongan saat dia datang ke Gandhara akan hancur-lebur. Hari ini Bhisma Putra Gangga akan kalah, selamanya!

Kebohongan akan selalu menang. Kebohongan sama seperti peperangan, yakni sebuah pertempuran di dalam pikiran. Jangan menganggap kebohongan sebagai buruk. Mereka yang terluka karena tindak kita, itulah yang disebut kebohongan.

Mereka yang mendapat keuntungan, maka untuk itulah kita bisa menyebutnya sebagai siasat. Dalam permainan kehidupan ini, Pangeran Pandhu telah menggulirkan dadunya dengan sempurna dan mengalahkan kita, bahkan aku tidak punya perasaan lain kepada Maharaja Pandhu selain kebencian. Tapi sekarang kita harus menjaga pikiran tetap tenang. Kendalikan kemarahan. Munculkanlah sebuah permainan yang baru. Dan pasti kita bisa mengalahkannya…

“Yang Mulia Sangkuni Raja Gandhara,” sang pelayan membungkukkan tubuh. “Seorang utusan memohon izin menghadap…” 


===


Kumar menemukan dirinya terbaring lemah di atas dipan di dalam gubuk. Yang pertama ia saksikan adalah sinar mentari nan menyilaukan, lalu disusul siluet tubuh Sanjay yang melangkah masuk membawakan air dan makanan seadanya. 

“Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri…?” aju Kumar tanpa berbasa-basi. Baik di Negeri Dua Samudera maupun di negeri dongeng sekalipun, kehilangan kesadaran adalah hal yang sangat awam dialami. 

Sanjay mengangkat lengan, dan mengacungkan jari telunjuk, jari tengah serta jari manis secara bersamaan. 

“Tiga hari…?” Perlu diakui bahwa dampak dari hentakan balik tenaga dalam murni tidaklah ringan. 

Sanjay menggelengkan kepala. Ia lantas membuka telapak tangan kiri ditambah dengan jemari telunjuk dan tengah di tangan kanan, kemudian membuka tutup susunan tersebut sebanyak tiga kali. 

Kedua mata Kumar melotot. “Tiga pekan!?” serunya tak percaya. 

Sanjay membalas dengan anggukan cepat. 

“Tiga… pekan…,” ulang Kumar yang sulit mempercayai lamanya waktu ia tak sadarkan diri. Kendatipun demikian, ia melanjutkan, “Bagaimana dengan latihanmu, apakah ada kemajuan…?”

Raut wajah Sanjay terlihat kecut. Tampaknya selama tiga pekan Kumar tak tak sadarkan diri, tak ada pula kemajuan bagi remaja itu dalam menguasai jurus tanpa nama yang diajarkan oleh Kakek Govinda. 

Di lain sisi, Kumar perlahan menyeruput air dan kesegaran seketika merambat ke sekujur tubuhnya. Ia memejamkan mata, kemudian bersandar perlahan pada dinding gubuk. Tubuhnya masih lemah dan aliran tenaga dalamnya simpang-siur, kendatipun demikian benaknya dapat berpikir jernih. Siapakah sesungguhnya jati diri Kakek Govinda…? Mengapa ia bersedia memberi tunjuk ajar…? Demikian, mencuat rangkaian pertanyaan sederhana yang selama ini terbenam karena dibayangi kemampuan nan digdaya. Lelaki setengah baya itu tentulah bukan penggembala sapi biasa… Penggembala sapi mana yang dapat melepaskan serangan yang dalam seketika memenggal kepala binatang silumah ular sanca raksasa…? 

Hari berikutnya, Kumar memaksakan diri keluar dari gubuk. Tertatih ia menemani Sanjay mengumpulkan jerami bekal makanan sapi, walau sesungguhnya tak banyak yang dapat ia kerjakan mengingat keadaan tubuhnya yang lemah. Padahal, lebih baik baginya beristirahat dan mengatur aliran tenaga dalam di dalam gubuk. 

Petang hari tiba, lelaki setengah baya yang biasa duduk bertapa di atas batu tiada terlihat. 

“Kemanakah Kakek Govinda…?” aju Kumar perlahan. Suaranya lemah. 

Sanjay mengatup kedua telapak tangan, dan menempelkan ke pipi sembari memiringkan kepada. 

“Tidur…?” aju Kumar. “Tidur di mana…?” 

Sanjay mengangkat kedua belah bahu. Ia tak mengetahui di mana Kakek Govinda berada. Di saat yang sama, Kumar segera menyadari akan sesuatu yang tak lazim. “Sejak kapan…?” ajunya cepat. 

Sanjay menunjuk kepada Kumar, lalu melakukan gerakan-gerakan lain sebagai upaya memberikan penjelasan lanjutan. Sementara itu, Kumar mencoba mencermati secara seksama. Sungguh komunikasi di antara mereka sangatlah sulit sehingga berlangsung lambat. 

“Sejak diriku tak sadarkan diri!?” Akhirnya Kumar dapat membayangkan rangkaian kejadian setelah dirinya jatuh tak sadarkan diri. 

Menurut bahasa isyarat sederhana yang diperagakan Sanjay, dampak hentakan balik tenaga dalam murni mengancam jiwa. Saat itu terjadi, Kakek Govinda terpaksa melakukan sesuatu agar Kumar tak meninggal dunia. Upaya menyelamatkan jiwa tersebut membuat sang kakek lemah sehingga terpaksa beristirahat di suatu tempat. Benang merah mulai terangkai, dan hal ini pula yang menjadi penyebab mengapa tak ada perkembangan pada kemampuan Sanjay, karena dia ditinggal pergi Kakek Govinda. 

“Sanjay, maafkanlah aku…,” ujar Kumar murung. “Karena kecerobohanku, kau pun terkendala menguasai chakra…”

Sebentuk senyuman menghias di sudut bibir Sanjay. Ia sepertinya tak ambil pusing, malah terlihat santai-santai saja. 

Hari silih berganti, sedangkan Kakek Govinda tak kunjung kembali. Kesadaran Bintang Tenggara di dalam tubuh Kumar mulai gelisah. Ia sudah tak lagi dapat mengulur waktu. Tinggal tiga purnama menjelang Perang Kurukshetra, dan ia perlu mencari dan berkumpul dengan Tuan Buntal dan Pangeran Wyudharu.

“Siapa di sana!?” tetiba Kumar menyergah. Di saat yang sama, Sanjay bersikap waspada. 

Hari jelang petang, dari balik semak-semak muncul sekelompok lelaki. Lima jumlah mereka, mengenakan pakaian kumal yang senada dengan raut wajah setiap satu dari mereka. Menilik dari penampilan, kemungkinan besar mereka berasal dari salah satu dusun di kaki Gunung Girinagar. 

“Tiada disangka, tak jauh dari tempat tinggal kita…”

“Sungguh sapi yang sehat!” 

Kumar dan Sanjay saling pandang. Keduanya menyadari bahwa bagi penduduk dusun kebanyakan, sapi merupakan barang langka dan sangat berharga. Akan tetapi, sapi yang dimaksud adalah milik Kakek Govinda yang sedang tak berada di tempat, sehingga tanggung jawab merawat dan menjaga sapi tersebut berada di tangan pemuda dan lelaki dewasa muda itu. 

“Belakangan ini, dusun kami kerap menjadi sasaran maling… Rupanya di sini kalian bersembunyi…,” ujar salah seorang tamu yang tak diundang. Ukuran perutnya paling besar dan wajahnya seperti sedang menderita sembelit. Dari lagaknya, kemungkinan dia merupakan pimpinan kelompok. 

“Wahai, Tuan sekalian,” tanggap Kumar santun. “Sungguh kalian salah alamat. Kami tiada pernah mencuri…”

“Hmph! Jangan berdalih!” sergah lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit itu. “Apa buktinya bahwa kalian bukanlah pencuri yang kerap menyambangi dusun kami!?”

Kumar menghela napas panjang. Ia mengenal betul lakon sandiwara ini. Mereka melempar tuduhan tanpa dasar, lantas memaksa membuktikan diri tak bersalah, yang pada akhirnya akan menjurus kepada pemerasan. Dalam keadaan tubuh masih lemah, dirinya tiada akan mampu bertarung melawan para tamu nan tak diundang, sementara seorang diri Sanjay pasti kewalahan menghadapi mereka. 

“Karena kalian adalah pencuri, maka kami akan menyita sapi itu!” lanjut salah seorang rekan lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit.

“Benar!” tukas lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit sembari memberi aba-aba kepada rekan-rekannya. Serempak mereka bergerak menuju kandang sapi. 

“Tidakkah kalian mengenal siapa pemilik sapi itu…?” cegah Kumar. “Sebaiknya jangan bertindak gegabah bilamana tak hendak mengalami nasib yang sama dengan kami…”

Kelompok tersebut serempak menghentikan langkah. Setiap satu dari mereka mengamati sekeliling dengan lebih seksama. Kekhawatiran terbersit dari sorot mata mereka. 

“Sebelum kalian salah langkah, maka ketahuilah bahwa sapi tersebut milik seorang petapa bernama Govinda…?”

“Hahaha… Maksudmu kakek tua yang katanya suka menawarkan jasa membajak ladang…?”

“Benar. Beliau…” Kumar mengangguk.

“Kakek tua itu adalah dongeng belaka!”

“Oh, ya…? Silakan saja ambil sapi itu…,” tanggap Kumar sembari mengangguk kepada teman yang berdiri di sebelah. 

Sanjay, di lain pihak, dapat mencerna maksud Kumar. Ia melangkah ke kandang, membuka pagarnya, dan menarik tali kekang sang sapi. Ia kemudian menawarkan tali kekang tersebut kepada lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit. 

“Ambilah…” Kumar kembali mempersilakan.

“Tunggu…,” salah satu rekan lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit mencegah. “Kakek tua itu memang dikatakan menetap di wilayah ini.”

“Betul, betul…,” tanggap seorang lelaki kecil berambut ijuk anggota kawanan lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit. “Menantu dari iparnya sepupu tetanggaku pernah menerima bantuan beliau, dan sejak saat itu ladangnya menjadi subur… Sedangkan tetangga dari sepupu tiga kali mertuanya adikku pernah suatu hari mencela kakek tua tersebut, sejak saat itu pula hidupnya menderita…”

Baik Kumar dan Sanjay, maupun lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit terpana seketika. Sungguh hubungan kekerabatan yang disampaikan lelaki kecil berambut ijuk terlalu rumit untuk dicerna. 

“Betul itu!” Sergah Kumar yang tak hendak memberi ruang berpikir bagi lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit. “Kami berdua berada di sini karena melakukan hal yang tercela… dan untuk menebus dosa-dosa, kami mengabdikan diri kepada Petapa Govinda.”

“Jadi, di mana petapa itu, hah! Kau hendak mengelabui aku!?”

“Jikalau kalian datang hendak mengambil sapi itu, seperti yang kukatakan sejak awal, silakan saja. Tapi kuperingatkan, bahwa kalian akan hidup dalam penderitaan… dalam kutukan!”

Mendengar kata-kata Kumar, kelima lelaki dewasa di hadapan sontak mundur selangkah. Tak ada satu pun dari mereka yang bersedia menerima tali kekang di tangan Sanjay, tak satu pun dari mereka mau hidup dengan predikat sebagai terkutuk. Lelaki kecil berambut ijuk adalah yang pertama melangkah mundur dan menjauh, diikuti oleh tiga yang lain. Sementara itu, Dalam keadaan terpaksa, pun lelaki berperut besar dan berwajah derita sembelit ikut angkat kaki dari hadapan Kumar dan Sanjay. 

“Sanjay, kita tak bisa berlama-lama menetap di sini. Kali ini kita berhasil mengusir mereka, namun khabar akan menyebar dan kelompok-kelompok lain akan datang mengincar sapi ini. Mereka tak akan mudah dikelabui…”

Sanjay menggelengkan kepala. Raut wajahnya mengisyaratkan bahwa ia tetap akan menanti kepulangan Kakek Govinda. Tak peduli berapa lama. 

“Aku terpaksa turun gunung dan kembali bergabung bersama rekan-rekanku. Ikutlah…,” ajak Kumar. 

Sekali lagi Sanjay menggelengkan kepala. Namun demikian, ia menyodorkan tali kekang sapi dan mulai menggunakan bahasa isyarat sederhana sebagaimana biasa. Intinya, Sanjay mengutarakan bahwa Kumar akan menempuh perjalanan yang berat, terlebih dengan kondisi tubuh yang masih lemah. Bahwasanya, hanya dengan menunggang sang sapi maka Kumar dapat menuruni lereng gunung.

Kumar mengangguk. Ia tak lagi dapat menunggu, apalagi tanpa kepastian. Dalam keadaan tubuh lemah, ia pun sudah melepas angan-anang menguasai kemampuan yang dipertontonkan Kakek Govinda. Di lain sisi, dengan dirinya membawa sang sapi, maka Sanjay akan terlepas dari bahaya perampasan. 

“Bilamana Kakek Govinda telah kembali, maka temui aku di Ibukota Hastinapura.”

Demikian, Kumar menuruni lereng Gunung Girinagar. Bersama sang sapi, ia menempuh perjalanan ke arah barat.