Episode 109 - Kesatria dan Iblis



Dalam hidupnya yang hambar dan membosankan, ada beberapa hal yang membuat Erwin tetap optimis pada masa depan. Salah satunya adalah novel.

Selain belajar dan les, Erwin akan menghabiskan waktunya untuk membaca novel. Dari jutaan novel yang ada di bumi ini, Erwin sangat suka dengan kisah peperangan abad pertengahan, mereka tidak menggunakan bom atau pun senjata api, melainkan senjata tradisional seperti pedang, tombak, dan panah.

Darahnya selalu terpacu dengan cepat ketika para kesatria pemberani menyatakan duel sebelum perang akan dimulai. Mereka bertarung satu lawan satu dengan adil dan penuh keberanian.

"Pedang." Sebuah pedang berwarna hijau tercipta, menggantikan pedang yang patah karena serangan dari Dalpos.

Akan tetapi Dalpos tidak berhenti sampai di situ saja, dengan ayunan yang sangat kuat, pedang di tangannya yang dibalut oleh api kembali mengarah pada Erwin.

"Mati." Teriak Dalpos dengan suaranya yang melengking.

Erwin menggunakan kedua pedangnya untuk menghentikan serangan tersebut, akan tetapi dengan sangat mudah kedua pedang tersebut patah dan tidak mampu membuat ayunan pedang Dalpos berhenti. 

Pedang yang di selimuti oleh api tersebut menebas tubuh Erwin, tapi tidak ada luka yang tercipta, hanya saja bagian tubuh yang di tebas oleh pedang itu berubah menjadi seperti bayangan hitam.

Erwin melompat mundur dan memeriksa tubuhnya yang terkena tebasan pedang Dalpos dan menemukan bahwa itu sama seperti yang terjadi pada Dalpos. Tidak ada darah, yang ada hanya bayangan hitam.

Saat Erwin memeriksa 'luka'nya, Dalpos tidak berhenti untuk menyerang Erwin. Dengan langkah yang kuat, Dalpos menghampiri Erwin dan mengayunkan pedangnya lagi. Sebuah garis miring berwarna hitam tercipta di tubuh Erwin lagi.

Dengan sigap Erwin melompat mundur dan mengabaikan 'luka'nya, dia kembali memfokuskan pikirannya tentang bagaimana cara mengalahkan monster di depannya. 

"Pedang, pedang." Ucap Erwin, lalu dalam sekejap dua pedang masing-masing berwarna hitam dan putih berada dalam genggaman tangannya.

Tepat setelah dua pedang tercipta, serangan Dalpos kembali datang. Alih-alih mengehentikannya, Erwin memilih untuk mengubah alur serangan dari pedang Dalpos dan memungkinkan dia untuk menghindari serangan itu.

Namun, meskipun begitu, pedang yang Erwin gunakan setengah meleleh karena bersentuhan dengan pedang Dalpos yang di selimuti oleh api.

"Sial, itu curang." Pikir Erwin dengan kesal.

Serangan pedang Dalpos datang lagi, kali ini Erwin berhasil untuk mengubah jalur serangan itu dengan dua pedangnya, akan tetapi hasilnya adalah dua pedang yang setengah meleleh tersebut patah dan tidak mungkin digunakan lagi.

"Pedang, pedang." Sekali lagi, dua pedang berwarna biru dan kuning tercipta menggantikan dua pedang yang sebelumnya telah hancur.

Sambil tertawa dengan suaranya yang melengking, Dalpos terus mengayunkan pedangnya dengan gila. Tidak butuh waktu lama, dua pedang baru Erwin hancur berkeping-keping.

"Pedang, pedang." Dua pedang berwarna hitam dan putih tercipta menggantikan yang hancur.

"Sial, ini tidak akan ada habisnya." Pikir Erwin tertekan.

Dari pertarungan ini, Erwin menyadari dia tidak merasakan sakit atau pun lelah. Juga, Erwin tidak mampu untuk menyerang balik dan hanya mampu untuk bertahan sambil terus menghindar. Karena stamina tidak akan mempengaruhi pertarungan, maka pertarungan ini adalah tentang kesabaran dan konsentrasi.

Namun, Erwin tidak mau situasi tidak menguntungkan ini terus terjadi. 

"Perisai." Sebuah perisai berwarna merah dengan gambar singa di tengahnya tercipta di tangan kiri Erwin. Dengan perisai tersebut, Erwin menghalau ayunan pedang Dalpos. Kali ini, Erwin berhasil menghentikan serangan itu dan hanya membuat sedikit goresan di atas perisai itu.

"Kesempatan." Pikir Erwin.

Erwin mengayunkan pedangnya dan menebas tubuh Dalpos. Dari serangan itu, sebuah garis miring berwarna hitam tercipta dari bekas tebasan tersebut. Dalpos merasa marah setelah terkena serangan itu dan dengan gila mengayunkan pedangnya. Namun, sebuah perisai merah dengan cepat menghalau serangan tersebut lalu sebuah tebasan pedang datang dan Dalpos tidak mampu untuk menghindarinya.

Dalpos yang selalu berpikir bahwa iblis lebih baik dan memandang rendah manusia merasa sangat terhina karena berhasil dilukai oleh mahluk yang dia anggap lemah. Dalam murkanya, Dalpos terbang mundur, lalu menusukkan pedangnya ke dadanya.

"Devil heart." 

Erwin merasa bingung dengan apa yang Dalpos lakukan, kenapa dia tiba-tiba mundur lalu menusuk dirinya sendiri? Apakah dia gila? Mungkin saja, tidak ada orang waras yang tanpa alasan menyerangmu dengan membabi buta. 

Namun, Erwin segera terbelalak, tepat setelah pedang itu menembus dada Dalpos, api merah yang membara dan berkobar-kobar tercipta di sekeliling Dalpos dan menyelimutinya. Api itu berkobar dengan sangat ganas dan menghancurkan bangunan-bangunan dan di sekitarnya.  Lalu api itu mulai menuju ke arah Dalpos dan seperti di tekan oleh kekuatan tak terlihat dan terkonsentrasi dalam tubuh dan pedangnya.

Pakaian Dalpos yang sebelumnya tidak ada lagi, menggantikannya adalah api merah yang meledak-ledak. Pedang miliknya yang sebelumnya berwarna hitam dan hanya di selimuti oleh api menjadi api itu sendiri. Perubahan yang sangat mencengangkan bagi Erwin.

"Sekarang, saatnya binasa, mahluk rendahan." Ucap Dalpos lalu tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang melengking.

Erwin tahu bahwa musuhnya tidak lagi seperti sebelumnya, dia dengan kuat memegang perisai dan pedangnya.

Dalpos dengan bangga turun secara perlahan dan mendekati Erwin. Melihat bahwa ada kesempatan, Erwin memilih untuk menyerang terlebih dahulu dari pada terus bertahan. Namun, tepat sebelum pedangnya bisa mengenai tubuh Dalpos, pedang Dalpos sudah menghalaunya dan menghancurkan pedang Erwin. Tidak butuh waktu lama, tebasan pedang Dalpos datang kembali, kali ini pedang itu mengarah ke perisai Erwin dan menghantamnya.

Akibat hantaman tersebut, Erwin dibuat terbang mundur puluhan meter dan berhenti setelah menabrak sebuah rumah. Perisai yang dia gunakan untuk menahan serangan itu penuh retakan lalu kemudian hancur berkeping-keping. Dari ini Erwin bisa tahu bahwa situasi ini sangat buruk. Musuhnya menjadi lebih kuat dan perisai yang dia yakini bisa menjadi kartu as nya untuk memenangkan pertarungan ini dengan mudahnya hancur hanya dengan satu serangan. Kini, Erwin harus memikirkan cara lain untuk bisa menang.

"Tidak ada gunanya melawan, cukup terima saja kematianmu." Ucap Dalpos secara perlahan seraya berjalan mendekati Erwin. Kali ini Dalpos tidak terburu-buru, dengan kekuatannya saat ini, dia yakin bisa dengan mudah menghancurkan Erwin. Namun, untuk kesenangannya, Dalpos ingin Erwin merasakan putus asa dengan kekuatannya yang dahsyat.

Akan tetapi, apa yang Dalpos harapkan tidak akan datang. Erwin yang selalu hidup dengan perasaan hambar dan kosong sangat menikmati situasi ini. Sebuah tantangan yang tidak bisa dia hadapi dengan mudah membuat jantungnya berdebar dengan irama bahagia. 

Ambil contoh ketika teman-temannya menghajarnya, Erwin tahu dengan pasti dia bisa mengalahkan mereka, akan tetapi dia membiarkan mereka karena itu tidak menyenangkan. Sesuatu yang mudah di dapat kadang terasa tidak berharga. Namun, kali ini berbeda, monster di depannya jelas lebih kuat darinya. Jadi, kemenangan bukan sesuatu yang bisa dia dengan mudah sebutkan.

Sesuatu yang jauh, sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dijangkau, terasa lebih memuaskan.

Melihat kesombongan monster di depannya yang dengan sengaja berjalan secara perlahan tidak membuat Erwin marah, dia menganggap ini akan menguntungkannya karena mendapat sedikit kesempatan untuk berpikir.

Erwin mencoba untuk menyentuh bagian tubuhnya yang telah berubah menjadi bayangan hitam, tapi dia tidak merasakan apapun, seolah-olah itu tidak ada. Dari ini dia bisa mengerti apa yang Dalpos maksud dengan 'binasa'. Mungkin saja setelah semua bagian tubuhnya menjadi bayangan hitam, maka dia akan benar-benar binasa. 

Pemikiran ini membuat jantung Erwin berdebar lebih kencang, ini artinya pertarungan ini mempertaruhkan nyawanya.

Meskipun begitu, hal ini tidak membuat nyali Erwin menciut, karena tidak ada cara untuk menghindarinya, Erwin hanya harus memikirkan cara untuk menang.

Lalu bagaimana? Pedangnya akan patah hanya dengan berbenturan dengan pedang Dalpos, perisainya akan hancur hanya dengan menahan satu serangan. Lalu opsi untuk menghindar juga tidak mungkin karena kecepatan Dalpos yang sangat dahsyat. Dengan kata lain, situasi ini benar-benar buruk.

Karena tidak ada cara untuk menghindarinya, maka langsung hadapi dari depan saja, seperti seorang kesatria.

"Armor." Ucap Erwin. Tidak lama kemudian sebuah baju besi menutupi seluruh tubuhnya dan hanya wajahnya saja yang bisa terlihat. Sebuah baju besi berwarna perak yang berkilau indah karena pantulan cahaya matahari.

Dalpos sedikit terkejut dan langsung menyipitkan matanya. Dia tidak membuang-buang waktu lagi dan terbang cepat mendekati Erwin. Pedangnya mengayun cepat menuju Erwin tapi di halangi oleh perisai.

Perisai itu hancur dan tebasan pedang tetap berlanjut dan mengenai tubuh bagian samping dari Erwin. Serangan dahsyat itu membuat sedikit retakan pada baju besi Erwin, tapi tidak sampai mengenai tubuhnya.

Tapi, di saat yang sama juga, Erwin mengayunkan pedangnya dan menebas tubuh Dalpos. Serangan itu berhasil melukai Dalpos tapi pedang itu langsung hancur. Meskipun begitu, Erwin tidak terkejut, dengan tenang dia berkata.

"Pedang, perisai, armor."

Pedang berwarna hitam menggantikan pedangnya yang patah, perisai berwarna emas menggantikan perisainya yang hancur, dan baju besi yang menutupi seluruh berganti menjadi baju besi berwarna putih.

Kali ini pertarungan mereka sampai pada tahap siapa yang akan hancur duluan. Dan yang hancur pertama adalah pecundangnya. Bentrokan sengit itu menghasilkan suara yang memekakkan telinga. Bangunan di sekitar mereka tak luput dari sasaran kehancuran. Namun, itu tidak menghentikan pertarungan itu, mereka terus jual beli serangan. 

Setiap kali pedang, perisai, atau baju besi Erwin hancur. Dia akan selalu menggantikan dengan yang baru. Di sisi lain, Dalpos tidak mampu untuk terus mempertahankan kondisinya, batas kekuatan devil heart miliknya selesai dan saat itu pula keuntungan Erwin menjadi berlipat ganda. Hingga pada akhirnya hanya satu orang yang berdiri di sana.

Seorang pria dengan baju besi dan pedang juga perisai di tangannya. Erwin memenangkan pertarungan tersebut. Iblis yang sangat sombong dengan kekuatannya kalah melawan manusia yang tidak pernah menyerah pada kemungkinan.