Episode 108 - Pedang dan Pedang



Itu adalah hari membosankan lainnya bagi Erwin. Di sekolah, dia menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca buku. Pada saat jam pelajaran, dia akan menyimak apa yang guru katakan dan akan mencatat beberapa bagian yang dia anggap penting. Tidak ada yang spesial, sama seperti hari-hari biasanya.

Setelah pulang sekolah, Erwin memiliki jadwal les piano dan kursus komputer. Tidak ada waktu untuk bermain-main baginya.

Setelah senja berpamitan, Erwin menginjakan kakinya ke rumah. Mandi dan makan malam bersama keluarganya. Makan malam itu begitu sepi, tidak ada yang boleh berbicara. Hanya suara sendok yang menyapu piring yang terdengar.

Setelah makan, orang tua Erwin mulai menanyakan tentang pelajaran hari ini dan di tutup dengan apakah ada PR yang diberikan oleh guru. Erwin menjawab dengan jujur bahwa ada PR, setelah itu orang tua Erwin segera mengatakan kepada Erwin untuk segera mengerjakannya. Dengan patuh Erwin mengiyakan perintah tersebut dan menuju kamarnya.

Setengah jam kemudian PR tersebut telah dengan sempurna Erwin kerjakan, dia sekali lagi melihatnya dan mengangguk dengan sedikit senyum percaya diri dengan jawaban yang telah dia tuliskan.

Erwin menoleh ke arah jam di dinding dan melihat bahwa sudah cukup larut. Dia mematikan lampu kamarnya dan menuju kasur, menarik selimut dan memejamkan matanya.

Tapi tiba-tiba saja dia berada di sebuah kota yang sepi. Erwin melihat ke sekeliling tapi tidak bisa menemukan tanda-tanda kehidupan apapun. 

"Apakah ini mimpi?" gumam Erwin pelan.

Untuk membuktikan kecurigaannya, Erwin mencoba untuk mencubit pipinya, meskipun dia bisa merasakan perasaan itu, tapi dia tidak merasakan sakit. Kemudian Erwin mencoba untuk menyentuh tiang listrik di dekatnya, dia bisa merasakannya, tapi ketika dia memukul tiang listrik tersebut Erwin tidak merasakan sakit. 

Situasi yang sangat aneh bayinya, tapi begitulah kenyataannya.

Erwin terus menelusuri jalanan dan memasuki beberapa bangunan, semuanya tampak nyata, tapi juga tidak nyata.

"Ini mimpi yang sangat nyata." Gumamnya sambil melihat ke sekeliling.

Erwin belum menyadari, bahwa ini adalah dunia jiwanya. Dunia yang tercipta berdasarkan dari jiwa masing-masing.

Sebagai contohnya, dunia jiwa milik Alice adalah sebuah tempat yang tercipta seluruhnya dari ice cream, yang menggambarkan betapa dia sangat menyukai ice cream. Sedangkan itu, dalam kasus Erwin, dunia jiwanya adalah kota tempatnya tinggal tanpa ada seorangpun di sana, ini menggambarkan tentang sifat tidak pedulinya dengan orang lain dan bukti bahwa dia seperti hidup seorang diri.

Di waktu yang sama, jiwa salah satu pemimpin iblis, Dalpos, memasuki dunia jiwa Erwin. Untuk bisa mengambil alih seutuhnya, dia harus bisa menghilangkan jiwa Erwin, dengan begitu dia mulai mencari-carinya.

Sebuah senyum tercipta di wajahnya, Dalpos bisa merasakan energi dari kepingan pedang yang sedang dia cari.

"Hahahaha, aku sangat beruntung." Ucap Dalpos sambil mempercepat pencariannya.

Sayap yang berada di pundaknya mengepak dan membawa tubuh Dalpos melesat melewati gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Tidak lama kemudian, Dalpos bisa melihat Erwin yang sedang berada di tepi jalan. 

"Hahaha, aku benar-benar beruntung." 

Suara Dalpos yang melengking bergema dengan keras, membuat Erwin langsung mengetahui Dalpos yang sedang mendekatinya dengan cepat. Tapi, itu bukan masalah bagi Dalpos, dari awal dia percaya bahwa iblis lebih unggul dari manusia.

"Siapa kau?" teriak Erwin.

"Kau tidak perlu tahu, kau hanya perlu mati dan menyerahkan tubuh ini padaku." Ucap Dalpos sambil melesat menuju Erwin sambil membawa pedangnya.

"Sial!" Erwin dengan cepat mencoba melarikan diri dari Dalpos.

Otak Erwin cepat berpikir, dalam beberapa detik dia mampu menyimpulkan bahwa dia tidak mungkin bisa menang jika melawat monster bersayap itu tanpa senjata sedangkan monster itu memakai pedang. 

Kemudian, tanpa ragu Erwin langsung menerobos sebuah restoran di sampingnya. Dia yakin tidak akan ada masalah melakukan hal itu. Meskipun terasa sangat nyata, tapi ini bukan kenyataan, begitulah yang Erwin pikirkan.

Erwin dengan cepat berlari menelusuri restoran tersebut dan keluar menggunakan pintu belakang. Mencoba kabur dari monster bersayap yang mengejarnya.

Dalpos kehilangan jejak dari Erwin, tapi dia tidak khawatir. Dalpos mengangkat pedangnya ke langit, lalu tiba-tiba api berwarna merah menyelubungi pedang tersebut, dan dengan cepat Dalpos menurunkan pedangnya. Gelombang api terbang cepat menuju restoran yang baru saja Erwin masuki dan membumi hanguskannya.

Sebuah senyum licik terlukis di wajahnya, kemudian dengan sabar Dalpos menunggu buruannya untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

Di sisi lain, Erwin sangat terkejut ketika melihat restoran yang baru saja dia masuki telah hancur berkeping-keping. Untung saja dia sempat keluar dan tidak bersembunyi di dalam sana. 

"Hei, bukankah kekuatan itu sangat curang." Gumam Erwin sambil terus melarikan diri.

Senyum yang sebelumnya ada di wajah Dalpos menghilang karena buruannya yang tak kunjung terlihat. Dia sangat kesal dengan banyaknya bangunan di tempat ini yang menghalangi jarak pandangnya meskipun dia terbang di langit. Karena itu, dia memutuskan untuk menghancurkan semuanya saja.

Dalpos mengangkat pedangnya ke langit lalu api merah menyelubungi pedang tersebut, dengan cepat dia menurunkan pedang itu dan sekali lagi gelombang api yang sangat dahsyat langsung menghancurkan salah satu bangunan.

Boom. 

Boom.

Boom.

Boom.

Boom.

Satu persatu bangunan di kota luluh lantah oleh gelombang api yang Dalpos lakukan, membuat kota terlihat seperti neraka. Di mana-mana hanya ada puing-puing bangunan yang hancur dan terbakar.

Sekali lagi, Dalpos menaikkan pedang tinggi ke langit dan dan api merah dengan cepat menyelubunginya, akan tetapi kali ini Dalpos tidak langsung menurunkan pedang tersebut, dengan sabar Dalpos menunggu kekuatannya terkumpul.

Api berwarna merah yang menyelubungi pedang itu berkobar dengan kuat, lalu tidak lama kemudian warna api itu berubah menjadi biru. Kemudian dengan cepat Dalpos menurunkan pedangnya dan sebuah gelombang api berwarna biru langsung turun dan menghancurkan banyak bangunan sekaligus.

BOOMMM.

Ledakan yang terjadi lebih besar dari sebelumnya dan kali ini tidak ada sisa sedikit pun dari bangunan yang hancur, yang ada hanya tanah yang hangus, seperti tidak ada bangunan sebelumnya.

"Hei, itu sangat brutal bukan." Erwin yang menonton dari jauh sangat terkejut dengan ledakan tersebut. Namun, tidak ada rasa takut pada raut wajahnya, yang ada hanya sebuah senyum tulus yang sangat jarang dia tampilkan.

Kehidupan Erwin selalu hambar, dia tidak pernah merasakan takut, bersemangat, bimbang, senang, sedih, dia selalu mengatur hidupnya dalam emosi yang stabil. Akan tetapi kali ini dia tidak bisa melakukan hal tersebut, kejadian tiba-tiba ini adalah sebuah kejutan yang membangunkan emosi manusia yang selalu dia tekan sebelumnya.

"Bukannya ini sangat curang, dia memiliki senjata dan kekuatan aneh, tapi aku tidak memiliki apapun." Erwin menggerutu sambil terus memperhatikan Dalpos yang terus-menerus menghancurkan bangunan.

Erwin sangat mengerti apa tujuan Dalpos melakukan hal tersebut, dengan menghancurkan semua bangunan yang ada, maka tidak akan ada lagi tempat untuk Erwin bersembunyi dan saat itulah Erwin pasti akan kalah.

"Andai saja aku punya senjata," gumam Erwin. "Sesuatu seperti pedang misalnya."

Lalu sebuah pedang tercipta pada genggaman tangan Erwin. Dia sangat terkejut dengan kemunculan pedang berwarna abu-abu tersebut.

"Eh?" Erwin terus memperhatikan pedang di tangan kanannya tersebut dan kemudian sebuah pikiran melayang di dalam otaknya.

"Pedang." Ucap Erwin.

Kemudian sebuah pedang berwarna merah tercipta di tangan kirinya. Lalu sebuah senyum tercipta pada wajahnya dan sebuah tatapan percaya diri Erwin arahkan pada Dalpos.

Sementara itu, Dalpos masih terus menghancurkan bangunan di sekitarnya, akan tetapi kota ini terlalu besar dan terlalu banyak bangunan tinggi di sekitarnya yang membuat tugas untuk menghancurkan semua bangunan menjadi seperti mustahil.

"Sial! Keluar kau tikus. Jangan terus bersembunyi." Teriak Dalpos dengan suaranya yang melengking.

Dalpos kembali mengangkat pedangnya ke langit dan menurunkannya dengan cepat, lalu gelombang api menghancurkan sebuah bangunan di depannya lagi.

"Ini tidak ada habisnya." Dalpos mengerutkan kening dan turun ke jalan.

Dia membuang pikiran idenya untuk menghancurkan semua bangunan dan menggunakan cara lain. Dalpos menaikkan pedangnya ke langit, lalu pedang tersebut di selubung api merah. Tidak seperti sebelumnya, api itu terbakar dengan lembut dan tidak berkobar dengan kuat. 

Dalpos menurunkan pedangnya dan menancapkannya ke tanah. Gelombang api tipis langsung menyebar ke seluruh kota. Ini adalah salah satu kemampuan Dalpos untuk mendeteksi keberadaan musuhnya, meskipun dia tidak terlalu mahir dengan kemampuan ini, akan tetapi karena target yang dia cari hanya satu dan tidak ada orang lain selain dia di sini membuat ini tidak terlalu sulit.

"Hahahaha, ketemu." Sebuah senyum mengerikan merayap di wajahnya dan kemudian Dalpos merentangkan sayapnya dan terbang cepat menuju arah Erwin.

"Sial! Seharusnya aku melakukan hal ini sejak awal." Dalpos menggerutu.

"Apakah dia tahu keberadaanku?" Erwin bertanya-tanya sambil melihat Dalpos yang terbang cepat menuju arahnya. Namun, Erwin tidak panik, tidak seperti sebelumnya di mana dia tidak memiliki senjata apapun, kini dia memiliki dua pedang.

"Hahaha, tikus sialan, akhirnya ketemu juga kau." Teriak Dalpos dengan suaranya yang melengking ketikan melihat Erwin.

Erwin menendang tanah dan melesat cepat ke arah Dalpos yang melayang di langit. Sesuatu seperti tidak mungkin bisa dia lakukan di dunia nyata, tapi ini bukanlah dunia nyata, jadi hal itu tidak mustahil.

Dalpos sedikit kejutan dengan serangan mendadak dari Erwin, namun dengan cepat dia tenang dan dengan mudah menghalaunya dengan dengan pedangnya.

Kedua pedang berbenturan dengan keras, tapi tiba-tiba pedang abu-abu milik Erwin patah karena benturan tersebut, namun sedetik kemudian sebuah ayunan pedang dari tangan lainnya datang. Pedang merah itu menebas tubuh Dalpos dan memotong tubuhnya.

Erwin jatuh dan melihat ke arah Dalpos, meskipun dia yakin telah memotong tubuh musuhnya itu, tapi yang ada hanya segaris tipis berwarna hitam, dia tidak terpotong sama sekali.

"Berani-beraninya kau tikus rendahan menyerangku." Dalpos yang murka langsung melesat turun menuju arah Erwin.

"Pedang." Ucap Erwin. Lalu sebuah pedang berwarna kuning tercipta dan menggantikan pedang abu-abu yang patah.