Episode 415 - Chakra



Dua titik terbang menembus awan. Bila diperhatikan dengan mata telanjang, maka kedua titik tersebut bergerak dengan kecepatan seolah biasa-biasa saja. Padahal, pada keadaan sebenarnya terbang dengan tingkat kecepatan yang amat teramat sangat tinggi. Antara titik pertama dengan titik kedua, terpisah jarak yang semakin lama semakin lebar. 

“Hya!” Sosok yang melesat di belakang menghentakkan tenaga dalam, dan dalam satu kedipan mata kecepatannya meningkat berkali lipat. Dengan tambahan kecepatan itu pula, ia segera menyusul. 

“Aku tak ada urusan dengan kau…” terdengar suara jengah, bahkan dengan nada yang sengaja merendahkan. Datangnya dari sosok yang melesat di hadapan. 

Sosok yang mengejar menggeretakkan gigi, lalu mengerahkan tambahan tenaga untuk semakin mempercepat diri. Pengejaran ini telah berlangsung selama berhari-hari karena sang pengejar masih meragu, namun sepertinya ia sudah tak lagi sanggup menahan kesabaran. Demikian, ia melesat dan berhasil membalap. 

“Tunggu!” Kini terlihat seorang perempuan dewasa merentangkan tangan lebar di hadapan sosok yang dikejar. 

Mendapati hadangan di depan mata, lelaki setengah baya yang sedang melesat itu mengibaskan lengannya. Bersamaan dengan itu pula, sebuah serangan setengah kasat mata yang merupakan tenaga dalam murni bergerak melibas. Kecepatannya bak mengiris angin dan kekuatannya ibarat sebongkah gunung yang jatuh dari langit! 

Perempuan dewasa itu tak kalah tangguh. Ia menangkap mentah-mentah serangan tersebut dengan membuka kedua lengan di depan dada. Tubuhnya terbawa mundur, namun sama sekali tak terlihat kesulitan. Berhasil menyambut serangan, ia lantas menghentakkan tenaga dalam untuk melesakkan serangan tersebut kembali kepada sang empunya…

“DUAK!” 

Sasaran tak menghindar atau pun menangkis, bahkan tiada bergeming. Dengan sengaja tokoh tersebut membiarkan tubuhnya menerima serangan. Kini, terlihat melayang di tempat adalah seorang lelaki setengah baya yang berdiri tegap mengenakan baju zirah mewah layaknya bangsawan diraja. Rambutnya hitam mengkilap, dan diikat dalam gelungan di sisi atas. Kumis tipis dan janggut runcing yang menatap ke bawah menegaskan raut wajah yang kaku. “Kau sudah bosan hidup, Mayang Tenggara…?” ajunya pelan. 

“Yang Terhormat Amaure…” Mayang Tenggara tak hendak berbasa-basi. “Apa yang dikau perbuat di perahu Lancang Kuning tempo hari?”

“Aku bisa berbuat apa saja sesuka hati,” tanggap lelaki setengah baya itu. “Tapi, kau belum menjawab pertanyaanku…”

Aura tenaga dalam Mayang Tenggara meningkat cepat. Raut wajah kesal, ia berujar… “Amaure, jikalau memang waktunya aku mati, maka biarlah aku membusuk dimakan belatung… Akan tetapi, bila dikau sampai mencelakai putra-putraku, maka kupastikan bahwa seluruh isi Kemaharajaan Langit sekalipun tak akan mampu meredam…”

“Apa yang dapat engkau lakukan…?” potong lelaki setengah baya itu.

Mendengar jawaban yang semena-mena, Mayang Tenggara mengerahkan kemampuannya. Genggaman tangan raksasa setengah kasat mata sontak menggenggam tubuh lawan. Hal ini berarti wujud dari unsur kesaktian daya tarik bulan sedang mengunci gerakan lawan. Setelah itu, Mayang Tenggara melesat maju dengan tinju tangan kanannya mengepal erat. Ia lontarkan pukulan lurus ke wajah sasaran. 

Sang lawan hanya diam. Bukan karena tubuhnya terbelenggu, namun karena ia hendak menakar kekuatan dan kecepatan pukulan Mayang Tenggara. Pada detik-detik terakhir sebelum tinju mendarat, tetiba tubuhnya lenyap! 

Pukulannya luput, Mayang Tenggara segera memutar tubuh. Ia mengetahui bahwa sasaran sudah berpindah tempat di belakang. Ia pun menyadari bahwa sosok tersebut masih terbelenggu genggaman tangan sebagai wujud dari unsur kesaktian daya tarik bulan, karena tak ada petanda bahwa ia melepaskan diri. Mayang Tenggara dengan sigap memindahkan titik pusat daya tarik bulan ke telapak tangan kirinya sendiri. Demikian, tubuh lawan melayang tertarik paksa ke arahnya dan di saat yang bersamaan, tendangan sapuan melibas deras!

Hal yang sulit dicerna nalar berulang lagi. Pada detik-detik terakhir sebelum tendangan mendarat, tubuh lelaki setengah baya itu berpindah tempat bahkan ketika dia tak melepaskan diri dari belenggu unsur kesaktian daya tarik bulan! Perpindahan tempat ini bukanlah karena kecepatan gerak tubuh atau teleportasi jarak dekat, karena kedua kemampuan tersebut mesyaratkan lelaki setengah baya itu melepaskan diri dari cengkeraman daya tarik bulan terlebih dahulu. 

Uniknya lagi, tak ada perubahan pada raut wajah Mayang Tenggara. Ia seperti sudah dapat menebak bahwa jurus unsur kesaktian yang piawai dalam membelenggu gerak tubuh, tiada akan berguna. Namun demikian, ia tetap saja melesat ke arah lelaki setengah baya itu. 

Lagi-lagi, sesaat sebelum tinjunya mendarat, tubuh sasaran telah berpindah tempat…diikuti pula dengan tubuh Mayang Tenggara! 

Pada serangan pertama, ibunda dari Lintang dan Bintang Tenggara itu menempatkan titik pusat daya tarik bulan pada posisi di mana lelaki setengah baya itu berada, dan pada serangan kedua menempatkan titik pusat daya tarik bulan pada tubuhnya sendiri. Sedangkan pada serangan ketiga, Mayang Tenggara menempatkan titik pusat daya tarik bulan pada tubuh lawan. Jadi, kemanapun lawan pergi, serta-merta tubuh Mayang Tenggara akan mengikuti dengan sendirinya. 

Kali ini, tinju berubah menjadi serangan sikut kanan dan mendarat telak! 

“Tap!”

Telapak tangan lelaki setengah baya itu sedang menahan sikut yang memiliki kekuatan hantaman besar. Unsur kesaktian daya tarik bulan yang berwujud genggeman tangan pun sudah luluh… 

“Hanya setakat ini…?” ujar lelaki setengah baya itu. “Kemampuan picisan…” 

Mayang Tenggara mencermati tanggapan lawan dan memang belum mengerahkan segenap tenaga. Tujuan serangannya adalan menarik perhatian tokoh tersebut, sehingga ia pun menarik diri tatkala mendapat tanggapan. 

Keduanya melayang dan terpisah jarak sekira sepuluh langkah. “Apa yang Amaure lakukan terhadap kedua putraku!?” ajunya cepat. 

“Putra-putramu…?” cemooh lelaki setengah baya itu. “Yang kusaksikan di geladak perahu itu hanyalah sekelompok kutu… Mencelakai kutu…? Jangan kau merendahkan aku…”

Kendati mendapat jawaban, Mayang Tenggara tak mengendorkan kewaspadaan. Berdasarkan pengalamannya, ketika berhadapan dengan tokoh sekelas sang paman sebaiknya tetap siaga. Perkiraan yang terbukti benar…

Lelaki setengah baya itu membuka telapak tangan menghadap ke atas. Sesaat kemudian, terlihat gumpalan mirip udara panas yang membias di udara. Setengah kasat mata, ukurannya sekira satu buah jeruk namun menyibak aura yang sangat kental. Sebagaimana serangan pertamanya, tokoh tersebut memanfaatkan tenaga dalam murni, bukan tenaga dalam yang diimbuh dengan unsur kesaktian. Ini merupakan cara memanfaatkan tenaga dalam yang sangat sederhana bagi kebanyakan ahli, namun sangat digdaya bilamana dikerahkan oleh ahli nan perkasa. Ibarat kata, sebatang kayu di tangan anak kecil dengan sebatang kayu di tangan ahli pedang, tentu menyajikan hasil yang sangat jauh berbeda.

Tanpa perapalnya bergerak sedikit pun, gumpalan tenaga dalam murni itu melesat cepat ke arah perempuan dewasa di hadapan! 

Mayang Tenggara hendak mengelak, namun sudut matanya menangkap keberadaan sebuah kota nun jauh di bawah sana. Khawatir akan bencana yang mungkin menimpa bilamana tenaga murni tersebut mendarat di kota tersebut, terpaksa ia mengambil pilihan sulit, yaitu menerima lalu membelokan serangan yang datang… 

“DUAR!” 

Tenaga dalam murni itu meledak seketika bersentuhan dengan tangan perempuan dewasa itu. Gelombang ledakan menyibak sejauh puluhan kilometer ke segala penjuru. Gumpalan awan terpencar jauh bahkan sirna seketika, sedangkan tubuh Mayang Tenggara terdorong beberapa ratus langkah ke bawah. Walau tak menderita cedera, Mayang Tenggara merasa dijebak. 

Keduanya matanya hanya mampu mengantar sang paman yang sudah terbang jauh. Tak ada gunanya dikejar, karena kemungkinan besar akan berakhir pada pertarungan yang membinasakan wilayah sekitar. Bagi Mayang Tenggara, kini ia sudah bisa bernapas lega. Dapat dipastikan bahwa suaminya yang saat ini sedang dalam keadaan koma bukan disebabkan Kemaharajaan Langit, setidaknya bukan oleh perbuatan sang Amaure. Selain itu, kedua putranya di atas geladak Lancang Kuning pun tak dicelakai.

Mayang Tenggara menatap ke arah perginya sang Amaure sekali lagi, lantas melanjutkan perjalanan.


===


Petualangan Kumar bersama Vijay dan sang kakek tua berlanjut. Anehnya, setelah bermandikan darah binatang siluman ular sanca nan amis lagi lengket, proses penyembuhan tubuh lelaki dewasa muda itu berlangsung cepat. Sangat cepat. Keadaan memperoleh keberuntungan seperti ini bukan ak lazim, karena selalu ada hikayat tentang bagaimana binatang siluman memberi anugerah — walaupun sebelumnya Kumar sempat khawatir bahwa darah binatang siluman ular sanca mengandung racun.  

Walhasil, lelaki dewasa muda itu sudah dapat berjalan seperti biasa, meski bila memaksa berlari ia akan mengalami kesulitan. Rombongan kini sudah tiba di wilayah Gunung Girinagar. Perjalanan mulai mendaki. 

“Kakek, jikalau berkenan, bolehkah diriku mengetahui nama kakek…?” aju Kumar memulai percakapan. Ia menoleh kepada sang sapi, yang berada di antara dirinya dan si kakek tua. 

“Orang-orang menyapaku sebagai Govinda… Sang Penggembala Sapi…,” jawab lelaki tua itu ringan.

“Hm… Govinda…?” Bintang Tenggara menelusuri ingatan di dalam benak Kumar dan merasa pernah mendengar akan nama tersebut, namun sulit baginya mengingat secara utuh. Mungkin sesuatu yang Kumar pernah dengar, tak heran mengingat Kakek Govinda itu menawarkan jasa membajak ladang bersama dengan sapinya kepada dusun-dusun terpencil. 

Jauh di depan, terlihat Vijay yang sedang melangkah seorang diri. Agaknya ia tak hendak berpapasan lagi dengan binatang siluman di tengah jalan, sehingga terlihat sangat waspada selayaknya anggota pasukan pengintai. 

“Dari manakah Kakek Govinda memperoleh senjata pusaka itu…?” Sulit bagi lelaki dewasa muda itu menahan pertanyaan ini. Daripada terus-menerus membebani pikiran, maka ada baiknya dikeluarkan sahaja. 

“Senjata pusaka…?” Lelaki tua itu terlihat kebingungan. “Senjata pusaka apa…?”

“Itu… senjata yang seperti piringan… yang berdesing itu…” Kumar terlihat memperagakan gerakan cepat menggunakan tangannya. Ia seolah hendak menampar si sapi.

“Aku tak memiliki senjata…,” timpalnya polos. “Akau hanya memiliki sapi ini. Tidak. Ia adalah temanku, bukan juga milikku…”

“Lalu, apakah itu yang melesat dan memenggal kepala ular sanca raksasa beberapa hari yang lalu…?”

“Sanjay!” Tetiba sang kakek tua berseru. “Ke kiri! Ambil jalan ke kiri!” teriaknya tatkala Sanjay kelihatan kebingungan di persimpangan jalan setapak yang mereka tempuh.

Kumar memutuskan untuk menahan diri. Sedikit bersabar. Kakek Govinda itu kemungkinan merupakan ahli perkasa yang memilih hidup sederhana dalam pengembaraan, serta mengabdikan diri untuk membantu khalayak ramai. Jadi, ada baiknya tak terlalu memaksakan rasa ingin tahu kepadanya.

Satu hari dan satu malam waktu berlalu. Rombongan menghampiri wilayah tandus di bawah kaki Girinagar. Udara sangat dingin. Kumar yang berasal dari wilayah selatan Anak Benua, yang terbiasa dengan terik mentari sepanjang tahun, kelihatan sangat kesulitan mengusir suhu dingin. 

“Bersabarlah, Kumar… Tak lama lagi kita akan tiba di pondokku.”

Pada petang hari berikutnya, rombongan tiba di sebuah gubuk. Ukurannya sangat kecil, dan usianya sudah renta. Hanya terdapat satu dipan di dalam gubuk tersebut. 

“Hari ini terpaksa kalian beristirahat di lantai…” Kakek Govinda mengacu kepada permukaan tanah yang dikeraskan. “Besok pagi kita akan menambah luas pondok ini…”

Kelelahan dan proses penyembuhan tubuh yang berjalan dengan sangat cepat membuat Kumar terlelap.

“Jadi, Cakra Sudarshana bukan hanya satu…?” ujar Kumar sesantai dan sealami mungkin. Tangannya sedang menyusun jerami di atap gubuk yang diperlebar. 

“Cakra…? Cakra apa…?”

“Itu… senjata yang seperti piringan… yang berdesing itu…” Kumar terlihat memperagakan gerakan cepat menggunakan tangannya. Beberapa helai jerami terbang menyebar ke semerata penjuru.

“Vijay, jerami ini terlalu pendek… Kau harus memotong dari pangkalnya…” Kakek Govinda kembali mengalihkan pembicaraan. 

Petang hari tiba, Kumar membawa jerami-jerami yang terlalu pendek ukurannya ke kandang sapi. Tak jauh, di atas sebongkah batu setinggi pinggang, terlihat Kakek Govinda duduk bersila. 

“Kakek Govinda, apakah Cakra Sudarshana dijual di suatu tempat…? Ada pasar khusus, mungkin…?” Kumar demikian gigih. Ia tetap berpandangan bahwa memiliki senjata pusaka nan digdaya saat Perang Kurukshetra adalah keniscayaan.

“Kemanakah si Vijay…?” Kakek Govinda tetiba melongok, lantas menoleh ke kiri dan kanan. “Aku menyuruhnya mengambil air di sungai, jangan-jangan dia tercebur lagi… Kumar, coba kau susul dia…”

Setengah perjalanan menuju sungai, Kumar berpapasan dengan Vijay yang kesulitan membawa gentong air. Ia pun menawarkan bantuan. 

“Vijay… Apakah engkau mengetahui tentang Cakra Sudarshana…?”

Vijay menggelengkan kepala. 

“Itu… senjata yang seperti piringan… yang berdesing itu…” Kumar kali ini tak memperagakan gerakan cepat menggunakan tangan karena sedang bersama-sama menggotong gentong air. 

Vijay kembali menggelengkan kepala. 

Satu pekan waktu berlalu, dan tubuh Kumar telah pulih seperti sedia kala. Akan tetapi, sulit rasanya meninggalkan Kakek Govinda. Tidak sebelum dirinya memperoleh pengetahuan lebih lanjut tentang senjata pusaka itu. Hari ini aku akan mendapat jawaban, batinnya meneguhkan niat.

Jadi, pagi-pagi sekali Kumar sudah mencari-cari sosok yang dipenuhi misteri. Kendatipun demikian, baru pada petang hari ia menemukan Kakek Govinda sedang duduk bersila di atas batu seperti biasa, sedangkan di tanah terlihat duduk bersila adalah Vijay. 

Kumar mengambil posisi duduk di sebelah Vijay. Ketiganya menatap mentari yang sebentar lagi tenggelam. Demikian indahnya. 

“Kakek Govinda, kumohon sudi memberi pencerahan tentang senjata pusaka Cakra Sudarshana,” ujarnya tanpa berbelit-belit. Basa-basi hanya akan berujung pada si kakek tua menghindar dari pertanyaan. 

“Engkau sepertinya salah memahami antara ‘cakram’ dengan ‘chakra’…” Tetiba Kakek Govinda menanggapi. 

“Hm…?” Kumar menatap pada sang kakek, yang berujar sembari menutup kedua belah mata. 

“Cakram adalah benda yang bundar, pipih dan tajam sisi luarnya. Sedangkan chakra adalah tenaga dalam murni…”