Episode 414 - Govinda


Beberapa tulang rusuknya patah, sementara sendi peluru di bahu kanan yang menghubungkan tulang belikat dengan lengan atas terlepas. Selain itu, pergelangan kaki kirinya pun terkilir. Kepala memar. Akan tetapi, ia tak mengetahui keadaan tubuh tersebut, yang ia rasakan hanya kepala pening dan tubuh sangat kelelahan.

Ia mengangkat kepala, menghirup udara seadanya sembari mencoba melihat sekeliling. Pandangan matanya kabur. Ia berupaya bangkit, namun tak memiliki cukup tenaga untuk mengangkat tubuh. Satu hal yang ia ketahui, bahwa dirinya ditinggal untuk menjemput ajal. Kesadaran sirna perlahan. 

Ketika Hiranyaksa telah menenggelamkan bumi di lautan kosmik. Aku datang sebagai inkarnasi Varaha dan menyelamatkan bumi ini. Dalam wujudku sebagai Narasimha, aku telah membunuh Hiranyakasiku. Dalam penjelmaanku sebagai inkarnasi Vamana, aku telah mengirim Raja Bali menuju ke akhirat. 

Setiap kali manusia lupa pada prinsip kebenarannya, setiap kali hati mereka sudah melupakan kebajikan. 

Ketika persaingan di antara cinta dan kesombongan hadir dan meninggalkan ajaran kebaikan, serta raja mulai semena-mena terhadap rakyatnya dan mulai menganggap pemerintahan lebih penting dari kebenaran, aku akan lahir di bumi ini. Hari ini sekali lagi aku terlahir dan menjelma sebagai inkarnasi. 

Kalian berdua telah melakukan banyak pengorbanan atas nama kebenaran. Setelah melihat penderitaan kalian, bahkan para dewa di langit ikut merasakan kesedihan. Tetapi melalui kalian berdua, dunia akan mendapatkan kebenaran dan perdamaian sebagai anugerah. Aku akan terlahir sebagai anak dan bermain di atas pangkuan kalian. Di saat yang baik ini, aku akan masuk ke rahim. Aku Deva Vishnu yang melindungi seluruh alam semesta datang untuk memberikan anugerah padamu. Aku mohon terimalah aku sebagai anakmu, ibu…

Suara melenguh itu pelan dan bernada rendah, namun arah datangnya sangat dekat sehingga membagunkannya. Ia berupaya mengangkat kepala, namun hanya mampu menghembuskan napas, membuat debu-debu terangkat dari tanah dan kembali ke wajahnya… 

“Angkat dia…” Suara pelan dan serak, namun entah mengapa sangat menenangkan. 

Hasrat, harapan, keinginan, ambisi adalah kekuatan penggerak bagi seluruh umat manusia… Kalau seseorang menanyakan jati dirimu, lalu kemudian, seperti apakah jawabanmu? Kau akan segera menyadari bahwa keinginanmu akan menentukan hidupmu. Keberhasilan setelah mencapai sesuatu dan kegagalan setelah tidak berhasil mencapai sesuatu akan menggambarkan jati dirimu. 

Banyak orang menjalankan hidupnya dan mereka ingin mencapai banyak hal, tapi hasrat mereka sendiri tidak pernah benar-benar mati. Keinginan membuat mereka menembus berbagai hal untuk mengejar cita-cita. Tapi di dalam kandungan semua keinginan itu terdapatlah cahaya pengetahuan. Bagaimana bisa? Saat keinginan kita yang tidak terpenuhi hancur, maka dari tempat yang sama cahaya pengetahuan pun masuk ke dalam hati manusia. Tidak. Ini bukanlah kisah tentang pergulatan keinginan, ini juga bukan kisah betapa mengerikannya kelahiran dari setiap ambisi. Ini adalah kisah mengenai pengetahuan yang bangkit dari dalam keinginan.

Kilau sinar mentari mengikuti dalam diam, kehangatannya memberikan dorongan bagi tubuh untuk menyembuhkan diri. Sesekali cahayanya mentari menyeruak dari sela-sela dedaunan. Silau. Sangat menyilaukan sehingga menyadarkan. 

“Di… di mana ini…?” Lelaki dewasa muda itu, meski belum dapat bergerak bebas, dapat menolehkan kepala perlahan. Ia menemukan dirinya terbaring di antara dua batang kayu kasar yang berukuran setara dengan lengan orang dewasa. Sepasang batang kayu itu menyangga kain karung nan kotor, lusuh dan berdebu. 

“Beristirahatlah, Nak…” Terdengar jawaban pelan. Suara serak dan menenangkan itu tak terasa asing. 

Lelaki dewasa muda itu berupaya mencari sumber suara, sehingga mendongak pelan. Ia menyaksikan bokong seekor sapi, yang mana pada kedua sisi tubuhnya menyangga sepasang kayu. Karena sosok asal suara tak terlihat di atas, kedua matanya mencari ke bawah dan mendapati bahwa ujung sepasang kayu sedang terseret pada permukaan tanah. Kini ia sadari, bahwa tubuhnya berada di atas tandu yang dibuat seadanya untuk ditarik oleh seekor sapi. 

Hari beranjak siang. Di bawah pohon beringin nan rindang sapi penarik tandu beristirahat. 

“Kau tertidur selama dua hari dan dua malam…” Suara serak datang mendekat. Di saat yang sama, terlihat seorang kakek tua yang melangkah menghampiri. Tubuhnya berwarna gelap dan berwujud mungil, karena hanya kulit yang membalut tulang. Janggut yang berwarna putih menggantung panjang sampai ke ulu hati, lantas rambutnya yang juga putih terlihat digelung pada sisi atas kepala. Kendatipun penampilannya yang tua, tak terlihat kesan uzur dari sang kakek. Sebaliknya ia terlihat segar, di mana sorot matanya dipenuhi nuansa kehidupan. 

Tetiba kakek tua itu menoleh dan menjulurkan lengan ke samping. Ia menerima sesuatu yang dibungkus dedaunan dari seorang pemuda, yang mungkin kiranya berusia sembilan belas atau dua puluh tahun. Raut wajah dan ukuran tubuhnya seperti orang kebanyakan. Tak ada yang khas dari penampilannya kecuali ia tak mengenakan alas kaki. 

Kepada pemuda tersebut, si kakek tua lantas memberi perintah menggunakan gerakan tangan. “Bantu dia…,” ujar kakek tua itu kemudian. 

Si pemuda sigap menuruti perintah. Ia membantu lelaki dewasa muda di hadapan mereka untuk bangkit. 

“Siapakah namamu…?” ujar si kakek tua. 

“Kumar… Namaku Kumar,” jawab lelaki dewasa muda itu usai tubuhnya dibantu duduk bersandar pada batang pohon. 

Sebagai catatan, adalah benar bahwa nama aslinya merupakan Kumar, sedangkan panggilan ‘Si Kumal’ tak lain merupakan plesetan sekaligus ejekan yang dilontarkan oleh orang-orang di ibukota karena dirinya berasal dari perkampungan kumuh dan keluarga miskin. Nama panggilan ‘Si Kumal’ kemudian melekat sampai dirinya pun hampir terlupa akan nama asli yang dianugerahi sejak lahir.

“Kumar…? Hm... yang berarti ‘pangeran’… sungguh nama yang baik,” tanggap si kakek tua.

Si Kumal menjawab dengan anggukan. Walau di dalam benak, Bintang Tenggara menganggapnya sebagai sebuah ironi… Ataukah mungkin sebaliknya, yaitu sebentuk harapan? Seorang anak lelaki dari perkampungan kumuh dan keluarga miskin diberi nama ‘pangeran’ agar kelak dapat hidup makmur…

“Ini adalah Sanjay,” sambung si kakek tua menunjuk kepada pemuda di sisinya. “Dialah yang membuatkan tandu serta mengangkat tubuhmu yang tergeletak tak sadarkan diri…”

“Terima kasih, Sanjay…,” ucap Kumar. 

Sanjay kemudian menyodorkan sesuatu yang dibungkus daun, persis seperti apa yang sebelumnya ia berikan kepada si kakek tua. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. 

Kumar hendak menerima bingkisan sederhana itu, namun ketika mengangkat lengan kanan bahunya terasa sangat nyeri. Karena mengetahui akan cedera pada bahu kanan tersebut, Sanjay segera bergerak maju dan meletakkan bungkusan daun ke tangan kiri Kumar. Siapa nyana, isi di dalamnya bungkusan tersebut adalah sepotong roti.

“Terima kasih…” Kembali Kumar berujar, namun tak ada kata tanggapan dari Sanjay. Pendiam sekali tokoh ini, batin Bintang Tenggara.  

“Mohon dimengerti,” sela si kakek tua seolah terlupa akan sesuatu yang penting. “Walaupun tak ada gangguan pada pendengarannya, namun Sanjay tak bisa berkata-kata. Ia gagu…”

Kumar terlihat terkejut sejenak, namun segerapa menatap dan mengangguk kepada sanjay, dan ditanggapi dengan anggukan pula. Padahal, sebagaimana yang disampaikan oleh sang kakek tua, Sanjay adalah tuna wicara, bukan tuna rungu. 

“Dimanakah tempat ini?” lanjut Kumar kepada si kakek tua. 

“Saat ini kita berada di wilayah barat dari tempat di mana engkau kami temukan…”

“Barat…?”

“Ya, sebentar lagi kita akan tiba di kaki Gunung Girinagar…”

“Diriku harus bergegas kembali…,” tanggap Kumar cepat sekaligus cemas. Di dalam benak ia membayangkan nasib Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa. Ingatan terakhirnya kepada dua tokoh tersebut adalah Si Buntal tertangkap sementara Pangeran Wyudharu tertembak panah dan sedang melarikan diri. 

“Apakah engkau mengkhawatirkan teman seperjalanan…?” aju si kakek tua seolah dapat membaca pikiran. Sebentuk senyuman menghias bibirnya, “Engkau belum dapat banyak bergerak. Ikutlah bersama kami ke Gunung Girinagar. Di sana engkau bisa beristirahat. Setelah sembuh nanti dapat engkau menyusul mereka…”

Kumar tak memiliki jawaban. Cedera tubuh yang ia alami tak ringan. Oleh karena itu, memang lebih baik untuk memulihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, baru ia akan menelusuri keberadaan dua tokoh dimaksud.

Satu pekan waktu berlalu. Perjalanan berlangsung lambat. Dari sebelumnya diseret di atas tandu, Kumar kini menunggangi pundak sang sapi. Kurang adil rasanya menyaksikan si kakek tua melangkah sambil memegang tali kekang sapi, sementara dirinya duduk santai menikmati pemandangan. Lebih tak adil lagi bagi sang sapi, karena tubuh kurus dan berkeriputnya dipaksa membawa beban. Renta sekali kelihatannya sapi ini. 

Telah diketahui bahwa kakek tua itu merupakan seorang penggembala sapi. Sapi ini adalah satu-satunya harta benda yang ia miliki. Selama musim bercocok tanam, sang kakek akan mengunjungi dusun-dusun kecil demi menawarkan jasa membajak ladang. Imbalan yang diterima adalah seadanya saja, karena dusun yang tak memiliki sapi untuk membajak, merupakan dusun yang teramat miskin. 

Musim bercocok tanam sudah lewat, dan oleh karenanya sang kakek berniat pulang ke tempat tinggalnya. 

Sanjay tak terlihat. Pemuda itu gemar melangkah jauh di hadapan sembari mencari persediaan makanan yang ditawarkan oleh alam. Bila berpapasan dengan dusun kecil, maka ia akan mendatangi dan menawarkan diri untuk mengerjakan apa saja. Imbal hasil yang ia terima, biasanya dalam bentuk sepotong roti, akan dibagi bertiga. 

Kehidupan rombongan ini dari hari ke hari adalah mencari makanan untuk bertahan hidup sampai ke hari berikutnya. 

“Hah… hah… hah…” Siluet tubuh Sanjay yang membelakangi sinar mentari petang tetiba muncul dari balik semak belukar. Napasnya terengah dan keringat bercucuran membasahi wajah. Sigap ia menarik tali kekang, berupaya untuk memutar tubuh si sapi nan renta.  

“Ada apakah, Sanjay…?” ujar sang kakek. 

Sanjay menelan ludah, kemudian menggerak-gerakkan lengannya. Ia menempelkan tangan, lantas merentangkan lengan lebar dengan sangat cepat. Tindakan ini ia lakukan beberapa kali…

“Panjang…?” tebak sang kakek tua masuk ke dalam permainan tebak kata. 

Sanjay mengangguk lantas mengatup kedua telapak tangan, kemudian meliuk-liukkan lengan dan tubuh. Petunjuk berikutnya, yang dari sudut pandang si kakek tua terlihat pemuda itu sedang berupaya menari namun tak menemukan irama yang tepat.  

“Ular!” teriak Kumar dari atas pundak sapi. Bukan karena ia berhasil menebak gerak tubuh Sanjay, namun berkat posisi duduk yang lebih tinggi ia menyaksikan langsung betapa seekor ular sanca raksasa melintang di jalan setapak yang akan mereka lalui. Melihat dari ukurannya, maka sudah barang tentu bukan ular biasa, bahkan dapat digolongkan sebagai binatang siluman buas!

Sang ular menyadari keberadaan rombongan yang terdiri dari kakek tua, dewasa muda, pemuda, serta sapi renta. Ia menarik leher, tegak ibarat sebuah menara nan menjulang tinggi. Lidahnya yang bercabang mendesis. Satu kedipan mata kemudian, sang ular melesat ke arah bakal mangsa! 

“Dia bergerak ke arah kita!” kini raut wajah Kumar berubah cemas. Sementara itu, Sanjay mendorong dan memaksa si sapi agar mau memutar tubuh. Kumar pun membantu dengan menepuk pundak si sapi berkali-kali. Keduanya berupaya agar sang sapi segera memutar arah dan membawa mereka melarikan diri. Namun demikian, sang sapi terlihat malas menanggapi. 

Keadaan yang sebelumnya biasa-biasa saja kini berubah genting! 

Si kakek tua, sebaliknya terlihat sangat tenang ketika Sanjay dan Kumar panik. Ia menarik napas panjang, seolah bukan kali pertama berhadapan dengan ular, bahkan ular raksasa sekalipun! 

“Kakek, jangan pasrah!” sergah Kumar di atas pundak sapi. 

Di saat yang bersamaan, Sanjay sudah menyerah kepada sang sapi. Ia menarik lengan si kakek tua, sembari menepuk lutut Kumar. Ia lantas membelakangi dan menepuk belakang pinggangnya sendiri. Dengan kata lain, Sanjay mengisyaratkan bahwa ia akan menggandeng sang kakek dan menggendong Kumar. Sungguh niat dari hati yang sangat mulia. Koreksi, Sanjay berniat membawa kakek tua dan lelaki dewasa muda, namun meninggalkan si sapi sebagai tumbal kepada ular sanca raksasa itu.

“Ayo!” Kumar tak berpikir dua kali. Ia beringsut turun dari pundak sapi. Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika menyaksikan Sanjay yang sedang kepayahan. Kendati lengannya menarik keras, tetapi tubuh si kakek tua sama sekali tiada bergeming. Mana mungkin seorang pemuda tak mampu menarik tubuh kurus kerempeng seorang kakek…

“Ayo, Kek!” sergah Kumar. Sudut matanya menyaksikan betapa panjangnya taring-taring ular sanca raksasa itu. Gerakan meliuknya sangat cepat, sehingga sebentar lagi akan tiba di hadapan mereka. “Ularnya sudah dekat, Kek!” 

Si kakek tua masih saja berdiam diri seolah tak mendengarkan peringatan, sementara raut wajahnya terlihat murung. Apakah ia bersedih karena akan menjemput ajal, ataukah berduka karena akan membawa mati bersama dengannya seorang pemuda dan lelaki dewasa muda…?

Di lain sisi, Sanjay pun kini terdiam. Ia tak dapat memutuskan. Pilihannya sangat terbatas, namun menyelamatkan diri sendiri tampaknya bukan bagian dari pilihan tersebut. 

Si kakek terlihat mengangkat lengan kanan secara perlahan, sembari mengacungkan jemari telunjuk lurus ke atas. Tak ada perubahan pada raut wajahnya. 

“Zingggg!” 

Dengan jemari telunjuk sebagai titik pusat, mengemuka semacam cincin berwarna lembayung. Berdesing, ukurannya cincin kemudian membesar sampai seukuran piring. Benda tersebut mengapung ringan, bahkan indah, di ujung jemari. 

“Itu… itu…” Kumar terbata-bata ibarat menelan biji kedondong. Beberapa waktu yang lalu ia pernah menyaksikan pemandangan serupa di dalam Istana Utama Kemaharajaan Kuru! 

“Swush!” 

Piringan itu berkelebat, mustahil mengikuti kecepatannya dengan pandangan mata. Adegan berikutnya sangatlah mencengangkan. Kepala sang ular sanca raksasa sudah jatuh tergolek, sedangkan badannya hanya meliuk-liuk menyemburkan darah merah segar ke arah rombongan. 

Bermandikan darah binatang siluman ular sanca, Sanjay melongo dan terpaku di tempat. Sementara itu, Kumar yang tak luput dari semburan darah merosot dari pundak sang sapi. Walaupun demikian, sebelum jatuh ke tanah, sempat ia berteriak, “Cakra Sudarshana!?”


Catatan:

Govinda: Penggembala Sapi.

Drakor yang patut ditonton adalah ‘Memories of the Alhambra’.