Episode 413 - Vrihatkshatra


“Yang Mulia Paduka Raja, kubu Kurawa maupun kubu Pandawa sedang bergerak mengumpulkan kekuatan…” 

“Hmph…” Sang raja mendengus kesal, lalu bersandar pada kursi singasana. 

“Kepada pihak manakah kita akan memberi dukungan, wahai Yang Mulia Paduka Raja…?” lanjut sang penasehat. Sebuah pertanyaan yang sangat wajar diajukan saat ini, karena keberpihakan dapat menjadi salah satu faktor penentu kelangsungan kerajaan di kemudian hari. 

“Bagaimana dengan Kerajaan Kekaya…?” Sang raja mengalihkan pembicaraan. 

“Sebagaimana diketahui, wahai Yang Mulia Paduka Raja, bahwa penguasa sah Kerajaan Kekaya berada di pihak Kurawa. Akan tetapi, pangeran-pangeran yang diasingkan memihak kepada Pandawa.”

“Jadi, Vrihatkshatra berdiri di kubu Pandawa…?”

“Benar, wahai Yang Mulia Paduka Raja. Pangeran Vrihatkshatra memiliki hubungan sepupu dengan para Pandawa dari garis ibu.”

“Benar. Vrihatkshatra juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Basudewa Krishna.” Sang raja mengepalkan tinju, gemeretak jemarinya terdengar nyaring.

“Selain itu, wahai Yang Mulia Paduka Raja, Pangeran Vrihatkshatra juga merasa senasib dengan para Pandawa karena dia dan saudara-saudaranya hidup dalam pengasingan…”

“Berbeda.” Sang Raja menyondongkan tubuh ke depan, “Yudhistira merupakan Putra Mahkota yang sah, sedangkan Vrihatkshatra tidak. Posisi Vrihatkshatra sesungguhnya lebih mirip dengan Duryudhana. Sebuah ironi, bukan?”

“Demikian, Yang Mulia Paduka Raja, Pangeran Vrihatkshatra barangkali memiliki rencana terselubung.” 

“Tentu saja. Akan tetapi, terlepas dari siasat Vrihatkshatra untuk mengambil-alih kekuasaan Kerajaan Kekaya dengan memanfaatkan Pandawa dan Perang Kurukshetra, dia adalah ksatria yang tangguh. Pemanah yang handal.”

“Jadi, wahai Yang Mulia Paduka Raja, kepada pihak manakah kita akan memberi dukungan…?” Sang penasehat mengulang pertanyaan yang sebelumnya diabaikan. 

“Tidak kepada sesiapa pun!” Sang raja bangkit berdiri. “Aku, Rukmi Raja Vidarbha, enggan melibatkan diri dalam sengketa di antara orang-orang bodoh. Pasukanku tak akan mengotori zirah mereka dengan darah dari perang saudara yang tak berarti. Aku mengambil posisi di tengah!” 


===


Sang mentari belum hendak bangkit dari istirahat karena kelelahan setelah seharian menyinari dunia. Oleh sebab itu, angin jelang subuh bebas bertiup dingin sampai seolah mengiris dalam ke tulang-belulang. 

“Ayo! Semangat!” Lelaki dewasa muda bertubuh gemuk berujar sembari mengangkat tas panggul nan teramat besar ukurannya. Ia gantungkan tas itu di pundak. 

“Ehm… Tuan Buntal… Apakah isi tas ini…?” Pangeran Wyudaru pun memiliki tas yang senada, namun sedikit lebih besar ukurannya. Tokoh bertubuh kekar dan tampan itu sedikit kesulitan mengangkat tas dimaksud. 

“Perjalanan ini adalah kesempatan bagi kita…” timpal Tuan Buntal sembari melangkah gagah. 

“Tuan Buntal… Tasku terlalu berat…,” rintih lelaki dewasa muda di belakang. Tubuhnya ceking, sehingga walau tas panggul miliknya berukuran paling kecil, baginya masih sangatlah berat sekali. Bahkan untuk menyeret tas panggul tersebut, membuat ia terpaksa mengerahkan segenap kekuatan raga. 

Pangeran Wyudharu menoleh ke kiri dan ke kanan. Sedari tadi tokoh tersebut mencari-cari. “Ke mana perginya kereta kuda…? Apakah masih belum bangun para kusir dan prajurit…?”

“Kalian jangan manja!” Si Buntal menghardik kesal. “Kita akan berjalan kaki!” 

“Berjalan kaki…? Bukankah tindakan itu akan menyulut kecurigaan…?” Pangeran Wyudharu menyilangkan lengan di depan dada. 

“Tentu diriku tak menolak kesempatan berlatih,” Si Kumal menemukan celah. “Akan tetapi, bila ada ahli dari Negeri Dua Samudera yang menyaksikan Pangeran Wyudharu berjalan kaki dan memanggul beban berat, maka pastilah mereka akan menaruh curiga…”

“Hmph…” Tuan Buntal mendengus, lalu sebentuk senyuman menyungging di sudut bibir. Dari raut wajahnya itu, tercermin bahwa ia memiliki rencana yang sudah dipikirkan dengan amat sangat matang, bahwa pemikirannya berada empat-lima langkah di depan. “Aku sudah menyuruh kusir kereta kuda berangkat semalam. Tentu saja isi kereta kuda itu hanya prajurit biasa, karena bertujuan sebagai pengalih perhatian. Oleh sebab itu, tak akan ada yang curiga pada keberangkatan kita di subuh hari ini.”

“Tapi…”

“Akh!” Tuan Buntal melangkah garang menuju Si Kumal. Tak hendak menerima alasan, ia angkat tas panggul yang kemungkinan besar berisi bebatuan, kemudian ia sanggakan di pundak muridnya. 

Tubuh Si Kumal terhenyak bungkuk tatkala menerima beban berat itu. Terpaksa pula ia mengalirkan tenaga dalam ke sekujur tubuh agar dapat berdiri dan melangkah normal. Meski terlihat menderita, jiwa dan kesadaran Bintang Tenggara mau tak mau mengakui bahwa adalah wajar bagi Komodo Nagaradja yang dibalut dengan semangat membara. 

Perlu disadari untuk dimaklumi, bahwa Sang Super Guru sudah lama tak memiliki tubuh yang dapat bergerak leluasa. Sebelum ini jiwa dan kesadarannya mengikut ke mana sang murid bepergian, dan sebelumnya lagi selama ratusan tahun Komodo Nagaradja hanya tergolek di dalam liang nan gelap dan pengap. Oleh sebab itu, ketika jiwa dan kesadarannya menumpang di dalam tubuh Si Buntal, membuat siluman sempurna itu seolah terbebas dari kutukan berkepanjangan. Apalagi, adalah semacam tantangan bagi ahli sekelas Komodo Nagaradja ketika berada di dalam tubuh yang lemah. Dia berbahagia.

“Ayo!” Sergah Tuan Buntal yang sudah berada belasan langkah di depan. 

Si Kumal menghela napas panjang. Boleh saja sang Super Guru bersuka cita, akan tetapi mengapa perlu baginya berbagi derita…?

Perjalanan menuju Kerajaan Gandhara memerlukan waktu sekira satu pekan. Ralat: satu pekan bilamana menumpangi kereta kuda. Dibutuhkan waktu sekira dua belas sampai empat belas hari bila menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sembari memanggul beban nan berat. Perjalanan pun semakin lama akan semakin sulit, karena menyusuri jalur menanjak dan dingin. Hal ini dikarenakan Kerajaan Gandhara terletak di utara, yang berbatasan dengan ‘Tanah di atas Salju’. Oleh masyarakat setempat, wilayah tersebut dikenal dengan nama Pegunungan Himalaya. 

“Kerajaan-kerajaan di wilayah utara merupakan sekutu Kurawa,” ujar Tuan Buntal sembari membuka selembar gulungan kulit. Pada permukaannya, membentang peta wilayah Anak Benua. Terlihat banyak titik merah di sisi atas dan biru di sisi bawah. Perbatasan yang memisahkan antara titik biru dan merah adalah Padang Kurukshetra.

“Kecuali kerajaan di barat laut itu,” tanggap Pangeran Wyudharu sembari menyingsing kain yang menutupi hidung dan mulutnya. Jari telunjuknya lalu menunjuk pada satu titik di sisi kiri atas peta.

“Tidak… tidak…” Tuan Buntal menggelengkan kepala. “Penguasa sah di sana berada di pihak Kurawa.” 

“Sengketa di dalam keluarga juga berkecamuk di sana. Para pangeran yang hidup dalam pembuangan masih berupaya mengambil-alih kekuasaan, sehingga dapat dipastikan bahwa kerajaan terbelah antara mendukung Kurawa dan memihak kepada Pandawa…” Pangeran Wyudharu mengingatkan. Kedua tokoh tersebut sedang beristirahat di bawah pohon beringin nan rindang. 

“Hoi! Cepatlah melangkah!” Tetiba Tuan Buntal berteriak ke arah belakang. Terpisah sekira tiga puluh langkah, seorang lekaki dewasa muda seperti merangkak tertatih karena memanggul beban berat di atas kemampuannya. “Kalau kau selamban itu, nanti Perang Kurukshetra keburu selesai, sedangkan kita belum juga sampai di Gandhara!” tambahnya mencibir.

Si Kumal menghentikan langkah. Bunyi berdebam terdengar ketika ia menurunkan, atau lebih tepatnya membanting, tas panggul nan berat ke tanah. “Biarkan perang terkutuk itu selesai!” pekiknya marah.

“Apa!?” Tuan Buntal berdiri kesal. “Cepat angkat tas itu, sebelum aku menjemput ke sana!” lanjutnya sembari mengacungkan tinju. 

“Aku akan menetap di sini dan bertahan hidup. Aku akan memperoleh anugerah yang dijanjikan!” Si Kumal membangkang.

“Anugerah itu hanya tersedia bagi yang berjaya di medan perang, bukan bagi mereka yang menghindar dan bersembunyi!” 

Sudah berhari-hari Si Kumal melangkah sambil memanggul beban, sementara waktu istirahat yang diberikan sangatlah terbatas adanya. Tubuhnya tak sekuat Pangeran Wyudaru dan semangatnya tak sebesar Tuan Buntal. Ia kelelahan jiwa dan raga. “Persetan!” teriaknya lantang. 

Tuan Buntal melotot kepada Si Kumal. Gigi-giginya bergemeretak. Sebentar lagi ia akan menyerang dan menggebuki si murid yang berperilaku kurang ajar! 

“Jikalau melewati wilayah Kerajaan Madra, Kerajaan Bahlika dan Kerajaan Kamboja,” sela Pangeran Wyudharu, “maka perjalanan kita akan aman-aman saja…”

“Hahaha… Kau masih saja mencari jalur aman, heh?” ejek Tuan Buntal sembari menoleh ke peta. 

Upaya menengahi perselisihan antara guru dan murid membuahkan hasil. Perhatian Tuan Buntal teralihkan dengan mudahnya. Akan tetapi, tetiba sudut mata Pangeran Wyudharu menangkap sesuatu di arah perbukitan tak jauh dari tempat mereka beristirahat. Lengannya sontak menyikut bahu Tuan Buntal. Keduanya melotot, lantas berupaya sebisa mungkin berlagak tenang. 

Si Kumal, terpisah jarak di belakang, pada kenyataan masih sangat sebal. Dari sudut pandangnya, kedua tokoh di bawah teduh pohon beringin sedang menertawakan dirinya. Ia lantas berteriak, “Apa gunanya membuang-buang waktu!? Kerajaan Gandhara sudah pasti memihak kita!”

Di atas bukit, panji-panji berwarna ungu mulai terlihat menjulang tinggi seolah hendak membelah awan. Kemudian, sepasukan prajurit darat berbaris teratur. Dari atas pelana kuda, seorang tokoh memantau ke bawah sembari mengangkat sebelah lengan.

Tenggrokan Bintang Tenggara tersedak, dan seketika gelagatnya menjadi sangat waspada. Ingatan Si Kumal yang mengalir di dalam benaknya mengisyaratkan keadaan bahaya. Ia mengenal siapa tokoh di atas pelana kuda. Dia adalah pangeran terbuang dari Kerajaan Kekaya!

Di lain sisi, tokoh di atas pelana kuda telah mengambil keputusan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, lengannya yang diangkat tetiba menjulur lurus ke hadapan!

“Cih! Vrihatkshatra!” Tuan Buntal menurunkan tas panggul nan berat dan segera berlari ke arah Si Kumal. Kendatipun demikian, kecepatannya saat ini masih belum dapat dibanggakan. 

Terlambat! Mendapat aba-aba, anak-anak panah berdesing membelah angin. Ratusan jumlahnya melayang ibarat kerumunan burung elang yang mengawasi, lantas menukik tajam melibas mangsa!

Pangeran Wyudharu sigap bersembunyi di balik batang pohon beringin nan besar. Belum jauh dari pohon beringin, Tuan Buntal mau tak mau mengubah arah demi menjauh dari jangkauan anak panah. Sementara itu, Si Kumal berlindung di balik tas punggung. Sungguh sebuah ironi, tas berukuran besar yang sangat dibenci, kini malah menyelamatkan dirinya dari anak-anak panah yang menghujani. 

Serangan panah hanya berlangsung dalam satu gelombang sehingga cepat mereda. Namun belum sempat ketiga tokoh bernapas lega, derap langkah puluhan prajurit darat menuruni bukit terdengar bergemuruh. Berbatuan kecil berjatuhan dan debu mengepul tinggi. 

Tak pelak lagi, Pangeran Vrihatkshatra telah mengawasi sejak lama dan kemungkinan besar mengenali Pangeran Wyudharu. Kepada kubu Pandawa ia telah berikrar sebagai sekutu, lantas menempuh perjalanan di wilayah musuh untuk mengumpulkan para prajurit dan rakyat Kerajaan Kekaya yang setia. Siapa yang menyangka bahwa nasib mujur berpihak pada dirinya…? Ia berkesempatan menangkap dan menyerahkan salah satu Kurawa yang sudah barang tentu dapat menaikkan derajatnya di hadapan Putra Mahkota Yudishtira!

“Berpencar!” teriak Tuan Buntal. Di saat yang bersamaan, ia bergerak menghadang laju langkah prajurit yang menuruni bukit. Hanya ini tindakan yang dapat ia ambil dalam waktu yang sangat sempit. 

Pangeran Wyudaru menyadari bahwa keadaan teramat genting. Tanpa berpikir dua kali, segera ia melesat melarikan diri ke arah yang berlawanan. 

Tokoh di atas pelana merentangkan kedua lengan ke arah bawah. Sepasang pesuruh sigap mendatangi, yang di kiri membawa busur sedangkan di kanan menyerahkan anak panah. Dari atas bukit, Pangeran Vrihatkshatra bergerak lambat saat membidik. Sorot matanya dingin, sementara sasarannya berjarak sekira lima ratus meter dan berlari semakin menjauh.

“Duak!” 

Upaya Tuan Buntal menghadang puluhan prajurit berujung kesia-siaan belaka. Kekuatannya hanya mampu menjatuhkan beberapa prajurit, sebelum tubuhnya terpental kena hantaman. Ia roboh lantas diinjak-injak tiada berdaya. 

Si Kumal mengangkat kedua tangan tanda menyerah tanpa syarat. Beberapa prajurit melangkah maju untuk menyarangkan pukulan dan tendangan secara silih berganti. Ia pun roboh menahan nyeri di sekujur tubuh. 

“Swush!” 

Sebatang anak panah melesat dan bersarang tepat di paha Pangeran Wyudaru. Akan tetapi, tokoh tersebut tak terjatuh dan mampu meneruskan pelarian seolah tanpa kendala berarti. Raga keturunan Kurawa memang tiada dapat dipandang sebelah mata. 

Rangkaian kejadian ini membutuhkan waktu untuk digambarkan melalui kata-kata, namun pada kenyataannya berlangsung dalam sekejap mata. Sungguh tiada dinyana, di hadapan prajurit yang berjumlah tak seberapa, ketiga tokoh tersebut dapat ditaklukkan dengan mudahnya. 

Di atas pelana kuda, Pangeran Vrihatkshatra melemparkan busur kepada bawahannya. Tak ada perubahan pada raut wajahnya, sedingin salju di Pegunungan Himalaya. Ia melanjutkan memberi perintah hanya dengan aba-aba gerak tangan. 

Tergolek di tanah, sayup Si Kumal mendengar derap langkah pasukan berkuda yang tangkas menuruni bukit. Mereka menjalankan perintah memburu Pangeran Wyudaru, karena tokoh tersebut lebih bermanfaat dalam keadaan hidup sebagai tawanan. 

Di kaki bukit, seorang kepala prajurit membelah kerumunan prajurit darat. “Tinggalkan saja kuli panggul itu!” perintahnya. “Bawa yang gemuk, mungkin dia pejabat istana!”