Episode 106 - Awal Dari Terungkapnya Kebenaran



"Seperti yang aku pikirkan, rencana ini tidak akan berhasil, mereka berdua tidak bisa diandalkan." Ucap Dalpos dengan suaranya yang melengking seperti biasanya. Dia adalah pemimpin pasukan iblis yang baru, seorang Iblis dengan pakaian bulu berwarna hitam yang tampak mengerikan.

Di sebelah Dalpos duduk seorang pemimpin pasukan iblis lainnya, yaitu Egor, seorang iblis dengan penampilan seperti seorang ksatria yang tampak sangat menawan, di tambah dengan ular berwarna pelangi di bahunya membuat dia sangat memesona.

"Yah, tapi mau bagaimana lagi, sangat berbahaya melakukan serangan tanpa sebuah informasi di tangan." Balas Egor sambil mengangkat bahu dan alisnya.

Pada pertemuan sebelumnya Egor lah yang membuat saran ini, jadi dia merasa bertanggung jawab pada masalah ini. Namun, meskipun begitu, jika Egor diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan lagi dia pasti akan melakukan hal yang sama.

Baginya, hal yang tidak diketahui itu sangat mengerikan.

Di hadapan mereka berdua adalah Biloth, seorang pemimpin pasukan iblis lainnya yang seluruh tubuh kecuali matanya tertutup oleh pakaian hitam. Dia masih mempertahankan diamnya sambil terus berpikir tentang bagaimana caranya masuk ke dalam percakapan antara mereka berdua. Namun, dia tidak tahu harus kapan dan bagaimana melakukan hal tersebut.

"Tapi kita tidak punya banyak waktu lagi, segel itu tidak akan bertahan lebih lama, kita harus segera menemukan kepingan pedang itu." Ucap Dalpos dengan emosi yang menggelegar.

Mereka memang tidak punya banyak waktu lagi. Ini semua berawal dari kejadian dimana seorang pemimpin pasukan iblis mencuri pedang yang adalah segel untuk naga yang pernah menjadi bencana sebelumnya. Pedang itu dia gunakan untuk membuka paksa gerbang helx yang menghubungkan antara dunia iblis dan dunia manusia, meskipun begitu pedang itu hanya mampu membuka sedikit celah dan kemudian hancur berkeping-keping.

Sebagian dari kepingan itu jatuh ke dunia manusia dan sebagian lainnya dibangun kembali menjadi pedang yang baru dan digunakan untuk menyegel naga itu kembali, akan tetapi karena itu bukan pedang yang seutuhnya kekuatan segelnya menjadi lebih lemah dan mungkin bisa hancur kapan saja. 

Karena hal ini mereka yang adalah pemimpin pasukan iblis yang baru diberikan misi untuk mencari kepingan tersebut demi menghindari bencana yang mungkin akan dilakukan oleh naga itu kembali. 

Sebelum ini, berkat saran dari Dalpos, mereka telah mengirim dua iblis untuk menjadi pelopor dan mencari tahu tentang dunia manusia yang asing bagi mereka. Namun, sampai saat ini masih belum ada kabar dari mereka berdua yang membuat diadakan pertemuan ini.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika ada musuh di sana maka tinggal kita hancurkan saja." Dalpos berkata dengan berani. Namun, dengan suaranya yang melengking membuat ucapan itu terdengar aneh.

"Tapi kita masih tidak tahu apa-apa tentang dunia manusia. Akan sangat berbahaya untuk pergi ke sana tanpa mengetahui apapun. Dan mereka berdua tidak lemah, tapi sampai sekarang masih belum kembali, itu menjadi bukti bahwa kita tidak bisa meremehkan kekuatan manusia." Balas Egor tenang.

Seperti manusia yang tidak mengetahui banyak tentang iblis, iblis juga tidak mengetahui banyak tentang manusia.

"Jika kita terlambat maka bencana itu bisa terulang lagi!" pekik Dalpos sambil menatap tajam pada Egor.

"Tapi jika kita dengan ceroboh pergi ke sana dan gagal maka bencana itu tidak bisa dihindarkan." Balas Egor tajam.

"Sial!" Dalpos menoleh ke arah Biloth dan bertanya. "Bagaimana menurutmu?"

Setalah tiba-tiba ditanya oleh Dalpos, otak Biloth dengan cepat bereaksi dan mencari jawaban paling tepat untuk pertanyaan itu, tapi karena terlalu banyak hal yang dia pikirkan membuat Biloth bingung dengan apa yang harus dia lakukan dan akhirnya hanya mengatakan satu kata. 

"Ya."

Jawaban Biloth membuat Dalpos dan Egor bingung karena mereka tidak tahu maksud dari 'ya' yang Biloth katakan. Apakah dia setuju untuk menunggu dua pelopor datang dan memberikan informasi atau setuju untuk langsung pergi tanpa informasi seperti sekarang ini.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mengabaikan jawaban Biloth.

Kemudian perdebatan itu kembali berlanjut antara Egor dan Dalpos. Mereka berdua memiliki pemikiran yang berbeda meskipun dengan tujuan yang sama. Ego mereka yang sangat tinggi membuat Egor maupun Dalpos berpegang teguh pada pemikiran masing-masing dan membuat ini menjadi pembicaraan yang sia-sia saja.

Tidak ada yang mau mengalah dan membuat jalan tengah agar sebuah resolusi dapat lahir.

Pun begitu dengan Biloth yang tetap bungkam dan terlalu banyak berpikir tentang apa yang harus dia katakan, pada akhirnya dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk bicara meskipun dia memiliki pendapat juga.

Pada akhirnya Egor dan Dalpos berdiri dan mengambil posisi bertarung karena telah dimakan oleh api emosi yang membuat keputusan menjadi lebih tidak jelas dan pemikiran yang tumpul. Dalam pikiran mereka hanya ada satu hal, jika dia tidak ada maka ini semua akan berakhir. Sebuah pemikiran yang sangat sederhana.

Namun, tiba-tiba saja seseorang menyelinap masuk ke dalam ruang pertemuan tersebut. Mereka secara serempak menoleh dan langsung terkejut dengan kedatangan tamu yang tak diundang.

Dia adalah Raon, pemimpin pasukan iblis lainnya, meskipun memiliki posisi yang sama, tapi Raon telah menjadi pemimpin iblis lebih dulu dan membuat dia memandang rendah mereka bertiga.

"Jadi, kenapa kalian masih tetap di sini?" tanya Raon sambil mengangkat dagunya. 

"Kami masih menunggu dua iblis yang kami tugaskan untuk mencari informasi terlebih dahulu." Balas Egor dengan cepat.

"Aku berpikir untuk langsung pergi tanpa perlu mencari informasi, tapi si pengecut ini tidak mau mendengarkannya!" pekik Dalpos sambil menunjuk Egor.

"Hmmm..." Raon menatap tajam pada Egor dan bertanya. "Apa yang kau takutkan? Kita iblis lebih kuat, lebih baik, lebih segalanya dari pada manusia." Ucap Raon dengan wajah menantang.

"Benar." Ucap Dalpos setuju dengan pernyataan Raon.

Sial, dia adalah orang bodoh yang terlalu sombong, pikir Egor.

"Tapi, kita masih tidak tahu apa-apa tentang mereka, akan sangat berbahaya melakukan hal ceroboh seperti itu." Sanggah Egor.

"Kita tidak perlu mencari tahu, karena yang pasti kita lebih unggul dari mahluk lemah itu. Jadi sudah jelas bukan." Ucap Raon dengan bangga.

"Tapi..."

"Tidak perlu banyak tapi-tapian lagi, kita harus menemukan kepingan itu secepatnya atau segel itu akan hancur dan bencana besar itu akan bangkit kembali. Oh, iya, aku akan ikut dalam misi ini juga, untuk itulah aku datang kemari." Ucap Raon lalu melangkah pergi.

Dalpos mendengus keras pada Egor dan mengikuti langkah Raon untuk keluar dari ruangan.

Sedangkan itu, sambil terus mempertahankan bungkamnya, Biloth juga keluar dari ruangan tersebut dan hanya menyisakan Egor sendiri.

Egor meremas tinjunya erat-erat dan menggertakan giginya untuk menekan emosi yang meluap-luap di dalam dadanya.

"Sialan! Dasar bodoh, cepat atau lambat kalian pasti akan mati dalam ketidaktahuan dan saat itu aku pasti akan menjadi orang yang tertawa paling keras." Gumam Egor penuh kebencian.

Egor menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya bersama dengan semua emosinya. Dia tidak punya pilihan lain selain menerima misi ini, tapi sebelum itu dia akan membuat persiapan untuk memastikan keselamatannya sendiri.

Dengan tujuan di dalam pemikirannya, Egor melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut juga.

Keesokan harinya, mereka berempat telah berkumpul di depan gerbang helx, gerbang raksasa yang memisahkan antara dunia manusia dan dunia iblis. Di gerbang tersebut terdapat celah kecil akibat serangan pedang yang saat itu hancur berkeping-keping dan beberapa kepingnya hancur dan jatuh ke dunia manusia. Kepingan itu pula yang menjadi tujuan kedatangan mereka berempat menuju dunia manusia yang seharusnya tidak boleh Mereke datangi.

"Segera setalah kita sampai di sana, kita harus berkumpul terlebih dahulu." Ucap Raon pada ketiga lainnya.

"Kenapa kita harus berkumpul?" tanya Dalpos bingung. Dalam pikirannya mereka harus segera mencari secara terpisah agar semua kepingan bisa terkumpul lebih cepat.

"Seperti yang Egor katakan kemarin, kita tidak tahu apa-apa tentang manusia, jadi kita harus menkonfirmasi semuanya terlebih dahulu dan menentukan strategi apa yang kita lakukan." Balas Raon dengan tenang.

Egor sedikit terkejut dengan kalimat Raon dan mengoreksi kesannya tentang dia.

"Baiklah kalau begitu." Balas Dalpos patuh.

"Oke, kalian sudah siap, kan?" 

"Ya." Jawab Dalpos.

Egor dan Biloth hanya mengangguk tanda setuju.

"Sebelumnya kalian harus ingat, ketika kita di sana jangan membuat gerakan yang berlebihan dan lakukan dengan setenang mungkin, jika tidak, mungkin saja akan ada sedikit masalah yang datang." Ucap Raon sambil menatap mereka.

"Masalah apa?" tanya Dalpos.

"Kalian mungkin belum tahu, tapi jika kita ketahuan menyusup ke dunia manusia, malaikat akan turun dan itu akan membuat kita semakin sulit mencari kepingan pedang itu. Ingat, kita harus membuat sukses misi ini untuk menyelamatkan dunia iblis dari kehancuran." Jelas Raon.

"Kalau begitu kenapa kita tidak meminta bantuan malaikat itu, kedengarannya mereka sangat kuat." Ucap Dalpos.

Egor mengerutkan dahinya atas informasi baru ini, sedangkan Biloth, dia masih diam seperti biasanya, bahkan mereka sampai lupa bahwa dia ada di sana.

"Malaikat tidak peduli dengan nasib iblis, jadi mustahil mereka akan membantu kita." Balas Raon atas ucapan Dalpos.

"Sial!" Gerutu Dalpos.

"Oke, karena kalian sudah tahu ini, maka jangan sampai membuat gerakan yang mencolok. Baiklah, ayo kita berangkat." Ucap Raon sambil menatap gerbang itu.

Kemudian mereka berempat berubah menjadi bola api yang adalah jiwa mereka dan masuk melalui celah di gerbang helx dan menyusup ke dunia manusia.

Mencari kepingan pedang untuk menyegel naga yang akan menjadi bencana untuk dunia mereka.

Kedatangan mereka ke dunia manusia pula menjadi awal kekacauan yang lebih hebat di kota Danny dan membuat hidupnya menjadi lebih berat. 

Juga menjadi awal terbukanya masa lalu Dan yang selalu dia sembunyikan dari Danny. Sebuah kebenaran yang menjadi alasan kedatangannya ke dunia manusia dan menjadi pelengkap dari fragmen ingatan yang dulu pernah Danny lihat ketika terperangkap dalam api hitam.