Episode 410 - Basudewa Krishna



Sebuah aula nan maha megah membentang luas. Cahaya berkilau memantul dari pilar-pilar berukir emas dengan ragam hias batu permata, yang menjulang tinggi seolah menyangga langit. Hamparan batu alam pada lantainya licin, mengkilap ibarat melangkah pada permukaan cermin raksasa. 

Suasana di dalam aula lengang. 

Melangkah masuk, berjajar sembilan puluh sembilan podium tinggi. Di belakang setiap satu podium, berdiri sepuluh ahli perkasa yang merupakan pengikut masing-masing Kurawa. Ingatan Bintang Tenggara sejenak kembali kepada suasana di Istana Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Susunan ini sangat mirip, walau di sana hanya terdapat sembilan keluarga sahaja, dibandingkan dengan sembilan puluh sembilan di tempat ini.

Jajaran podium menghadap kepada sebuah panggung singasana nan megah. Di hadapan para tetua kemaharajaan, seorang lelaki dewasa bertubuh besar dan kekar terlihat berdiri gagah di atas panggung singasana itu. Kumis yang bertengger di atas bibirnya maha tebal, yang mana melingkar ke bawah sampai menjangkau dagu. Selintas pandang, maka kumis itu lebih pantas disebut sebagai binatang liar yang bersarang pada wajah. Bila membandingkan ukuran dan bentuk kumisnya dengan kumis Adipati Jurus Pamungkas, maka kumis ayahanda Aji Pamungkas itu terlihat seperti masih bayi sahaja. 

Berkat ingatan si Kumal di dalam benaknya, maka Bintang Tenggara mengenali sosok di atas panggung singasana itu. Dia adalah Putra Tertua dari Dhrastrarastra, Kurawa Pertama sekaligus salah satu penerus Wangsa Candra. Bersama-sama dengan adik-adiknya Kurawa yang lain, dia berhasil mengalahkan kelima saudara sepupunya para Pandawa melalui permainan judi dadu, dan karenanya mengirimkan Yudhistira, Arjuna, Bhima, Nakula dan Sahadewa ke dalam pengasingan selama tiga belas tahun lamanya. Setelah itu, ia menyatukan Ibukota Hastinapura dan Ibukota Indraprastha dan menampuk diri sebagai Putra Mahkota Kemaharajaan Kuru… Dia adalah Pangeran Pertama Duryudhana!

“Wyudoru!” Pada podium pertama di depan panggung singasana, seorang lelaki dewasa nan gagah dengan kumis yang juga maha tebal menghardik. “Kau terlambat!” 

Jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa yang menempati tubuh Pangeran Ke-100 Wyudoru terlihat salah tingkah. “Kakak Dursasana…,” ujarnya sembari menggaruk-garuk kepala dan melangkah cepat ke belakang podium. Gelagat yang ia tampilkan sangat alami sekali. 

Pangeran Ke-100 Wyudoru akhirnya mencapai podium ke-99, di mana ia menaiki beberapa anak tangga lantas berdiri gagah. Sepanjang perjalanan Bintang Tenggara menyaksikan betapa segenap Kurawa lain di atas podium masing-masing melotot kepada Wyudoru. Dari ujung jauh tempat Pangeran Kedua Dursasana, deretan kumis mereka terlihat semakin lama semakin menipis. Kumis seolah mencerminkan urutan lahir, sehingga tak heran bila Duryudhana berkumis paling tebal, dan Wyudoru memiliki kumis paling tipis. 

“Hmph!” Putera Mahkota Pangeran Duryudhana mendengus. Seluruh perhatian para Kurawa dan pengikut mereka kembali ke atas panggung singasana. 

Suasana hening seketika. 

“Super Guru…,” bisik Bintang Tenggara. 

“Bocah Tengik! Kau mau kita mati konyol!?” geram Komodo Nagaradja. “Sudah kukatakan, kita harus memainkan lakon ini sebaik mungkin. Panggil aku Si Buntal!” 

“Jadi, di antara para tokoh di tempat ini, hadir jiwa dari ahli-ahli lain dari Negeri Dua Samudera…?” Si Kumal menoleh ke kiri dan kanan, mengamati setiap tokoh dalam jangkauan pandangan matanya. 

“Tergantung… Bila beruntung maka ada yang menumpang di tubuh para Kurawa atau pembesar lain di kubu Pandawa maupun Kurawa. Akan tetapi, bila bernasib sial, mereka menempati tubuh prajurit biasa, atau pesuruh seperti aku ini…” Terdengar cibiran dari nada suara Si Buntal. Jelas bahwa ia masih sangat kesal karena terpaksa menempati tubuh tokoh rendahan yang lemah.

“Bagaimana mencirikan mereka…?” lanjut Si Kumal. “Maksudku, bagaimana mengetahui mereka berasal dari Negeri Dua Samudera…?”

“Sangat sulit. Ingatan tokoh yang ditumpangi mengalir ke dalam benak si penumpang, sehingga dapat bertingkah laku sealami mungkin. Bagi yang sudah merencanakan dengan amat matang, maka biasanya memiliki kata sandi untuk saling mengenali.”

“Diriku memiliki kata sandi!” ujar Si Kumal. Ia mengingat kata-kata yang diutarakan Balaputera Khandra saat masih berada di geladak Lancang Kuning. “Aku merana, karena bencana…,” ulangnya pelan.

“Sstt…” Si Buntal mendesis sembari melotot. “Apakah sudah tumpul otakmu!? Jangan sembarang mengumbar kata sandi!”

“Hm…?”

“Gunakan hanya bila kau sudah seratus peratus yakin bahwa tokoh yang kau hadapi adalah benar-benar rekanmu! Bila tidak, kau hanya akan membuka kedok kepada musuh! Bodoh!”

“Sstt…” Si Kumal balik mengingatkan agar Si Buntal tak terlalu keras berujar.

“Aku tahu!” 

“Hm… Buntal, apakah kehadiran kita pada alur waktu ini tak mengubah sejarah masa lampau…?”

“Akh ‘kan sudah dijelaskan! Kita tak menembus dimensi waktu maupun ruang. Dunia paralel ini hadir dan akan berulang terus. Tapi, dengan keberadaan kita, sudah barang tentu wiracarita ini akan berakhir berbeda daripada kisah aslinya…

“Sungguh dunia paralel yang unik…”

“Masih sebuah misteri tentang keberadaannya, tapi dipastikan ada suatu kekuatan yang sengaja membangun dunia ini…”

“Sstt…” Kini Pangeran Wyudoru alias Ginseng Perkasa yang mendesis. Percakapan antara Komodo Nagaradja dan Bintang Tenggara terdengar sampai ke telinganya. Sebentar lagi, perhatian tokoh-tokoh lain pun akan tertuju kepada mereka. 

“Sring!” 

Tetiba, dari balik pintu masuk nan megah, terlihat berkas cahaya nan bersinar terang. Segera setelah itu, seorang lelaki dewasa melangkah pelan ke dalam aula. Ia mengenakan dhoti (semacam kemben) berbahan sutra berwarna kuning keemasan, sebagai perlambang cahaya yang melenyapkan kegelapan. Sisi atas kepalanya bertengger mahkota berhias bulu merak, melambangkan pusat alam semesta yang berwarna-warni namun dikelilingi oleh kegelapan.

Semakin dekat lelaki dewasa itu melangkah, semakin terlihat raut wajahnya yang Mulus berseri. Pembawaannya tenang dan lembut, bahkan terasa anggun. Bintang Tenggara menganga, karena ingatan Si Kumal yang berputar di dalam benaknya. Ia mengenal tokoh tersebut sebagai sepupu Kurawa dan Pandawa, seorang raja dari Kerajaan Surasena, namun membangun kerajaan sendiri dengan nama Kerajaan Dwaraka dengan armada perang yang teramat tangguh. Ia merupakan tokoh bijak sekaligus sakti! 

“Basudewa Krishna!” seru Pangeran Duryudhana. “Jikalau kedatanganmu hendak menghentikan perang, maka kau datang ke tempat yang tak tepat!” 

“Benar, wahai Pangeran Duryudhana, kedatanganku sebagai juru damai. Aku datang kepada Pandawa dan aku datang kepada Kurawa demi mencegah perang saudara yang nantinya memakan banyak jiwa tak bersalah.” Basudewa Krishna berujar pelan. 

“Jadi, kau Basudewa Krishna, menginginkan agar kami para Kurawa menelan mentah-mentah ketidakadilan!? Ayahanda kami berhak atas takhta, namun haknya direnggut karena bermata buta! Bukankah itu ketidakadilan yang nyata!? ”

“Setiap orang memiliki hak untuk melawan ketidakadilan, wahai Pangeran Duryudhana. Namun sebagaimana yang telah digariskan, hak atas takhta adalah milik Yudhistira, tertua dari Pandawa.”

“Hmph!” 

“Hanya kemurahan hati para Pandawa saja mereka belum memulai pertempuran denganmu sampai saat ini. Mereka menghormati Yang Mulia Paduka Maha Raja di dalam setiap keputusan.” Basudewa Krishna menatap sopan kepada salah satu tetua yang berada di balik tubuh Pangeran Duryudhana. Ia memberi hormat kepada Dhrastrarastra.

Pangeran Duryudhana melotot, namun sebelum sempat ia menanggapi, Basudewa Krishna melanjutkan, “Akhir dari sebuah kemaharajaan bisa dipastikan dari hal yang sangat awal. Sebuah pohon mimba tidak akan pernah berbuah mangga. Yang Mulia Paduka Maha Raja, bahkan bila pertempuran dimulai hari ini juga, seperti saat Maha Raja Pandhu meninggal di dalam keterasingan, demikian pula putra-putranya akan tiba di Hastinapura… Andai saja Yang Mulia Paduka Maha Raja mengumumkan bahwa Pangeran Yudhistira merupakan Putra Mahkota pada hari itu, maka semua ini tidak akan terjadi bila dikau mampu mengatasi keterikatan diri sendiri atas takhta kemaharajaan…”

“Lancang!” teriak Pangeran Duryudhana sembari menudingkan jemari ke arah Basudewa Krishna. Betapa berang ia mendengar penghinaan terhadap dirinya serta sang ayahanda. “Tangkap dia!” 

Puluhan jumlah prajurit sigap mematuhi perintah Pangeran Duryudhana. Serempak mereka merangsek maju hendak membekuk sasaran. 

Basudewa Krishna menghela napa panjang, sorot matanya mencerminkan kekecewaan. Ia kemudian mengangkat lengan kanan dan mengacungkan jemari telunjuk ke atas. Di saat itu pula, sebuah cincin seukuran piring nan bercahaya mengemuka sembari berdesing. Bila saja senjata pusaka tersebut tak berputar deras, maka dapat dilihat seratus delapan gerigi pada sisi luarnya. Lagi-lagi ingatan dari Si Kumal menunjukkan kepada Bintang Tenggara tentang kelebihan senjata pusaka tersebut, yang sangat dikenal dengan nama… Cakra Sudarshana! 

“Perang saudara tak terelakkan lagi. Aku memberi pilihan yang sama kepada Kurawa maupun Pandawa karena kalian adalah saudara-saudaraku. Aku atau pasukanku, satu pihak hanya berhak atas salah satu…” 

“Sring…”

Cakra Sudarshana menghentakkan tenaga dan berkas cahaya menyilaukan memenuhi ruang aula. Gelombang angin yang tercipta atas hentakan tersebut serta-merta melontarkan tubuh para prajurit yang hendak meringkus sang empunya. Demikian, Basudewa Krishna menghilang dari pandangan mata. 


Pertemuan para Kurawa berlangsung singkat. Hanya mereka yang berada pada jajaran atas yang melanjutkan pertemuan secara tertutup. Si Kumal, Si Buntal, dan tuan mereka Pangeran Ke-100 Wyudoru kembali ke istana kediaman mereka. 

“Bagaimana ini!?” Si Kumal terlihat cemas. 

Si Buntal terlihat jengah, sehingga ia menanggapi malas, “Bagaimana apanya…?” 

“Bagaimana caranya memperoleh Cakra Sudarshana!?” 

“Apakah kau sudah gila, hai bocah tengik!?”

“Nak Bintang… Ehm… Si Kumal, benar. Bagi kita untuk berhasil di dalam Perang Kuruksethra, kita membutuhkan senjata pusaka nan digdaya…”

“Kalian sama gilanya! Kalau kita memperoleh Cakra Sudarshana, maka Kurawa yang akan mengalahkan Pandawa! Mustahil” 

“Dikau sendiri yang mengatakan bahwa akhir wiracarita ini dapat berbeda dengan apa yang terkandung di dalam Maha Kitab Mahabharata. Tak ada yang mustahil!” sahut Pangeran Wyudoru. 

“Kalau ini mendarat di mukamu, baru tak mustahil!” ancam Si Buntal sembari mengacungkan tinjunya ke depan. 

“Jaga mulutmu! Jangan lancang kepada junjunganmu!” 

“Apa!? Berani kau ya!?” Si Buntal merangsek maju. Ia lantas melepaskan tinju lurus ke wajah Pangeran Wyudoru. 

“Brak!” 

Bogem mentah mendarat telak di wajah, akan tetapi Pangeran Wyudoru tetap berdiri gagah. Sebaliknya, malah tubuh Si Buntal yang terlontar dan menghantam dinding!

“Bangsat!” Tergopoh ia bangkit. 

“Tenanglah…” Si Kumal menengahi. “Sekarang bukan saatnya berkelahi di antara kita!”

“Dia yang memulai!” hardik si Buntal. 

“Kau yang meninju wajahku…”

“Kita harus menemukan cara untuk dapat bertahan dalam Perang Kuruksethra. Di dalam dunia ini, nyatanya kemampuan persilatan dan kesaktian berbeda dengan kita. Bahkan, hanya kaum bangsawan yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk menekuni keahlian,” lanjut Si Kumal. 

“Heh! Sudah pandai kau rupanya sekarang…?” 

Bintang Tenggara tak menanggapi. Bukanlah dirinya sok pandai, namun pada kenyatannnya Si Kumal kendati bertubuh lemah menampung banyak pengetahuan di dalam benaknya. Sebagaimana diketahui, pertempuran tak dimenangkan oleh kekuatan semata, namun juga melalui pengetahuan. 

“Aku akan membangun keahlian,” seru Si Buntal. “Perang Kuruksethra akan berlangsung enam purnama dari hari ini. Baik para Pandawa dan para Kurawa sedang mengumpulkan sekutu, sedangkan kita akan berlatih dengan keras!”

“Aku tak perlu berlatih…,” gerutu Ginseng Perkasa. Sebagaimana diketahui, Jenderal Bhayangkara ini tak terlalu mengedepankan kemampuan persilatan dan kesaktian. Ia mengutamakan dua keterampilan khusus yang dimiliki. Di saat yang sama pula, tubuh Wyudoru sudah cukup tangguh.

“Kau juga ikut! Aku tak mau kau menyeret kita ke jurang kematian!” sergah si Buntal. 

“Kita juga akan mencari senjata pusaka,” tambah Si Kumal.