Episode 105 - Berlian



Peringatan konten: terdapat adegan pembunuhan dan kekerasan.

Namaku Berlian, dari pandangan orang lain mungkin aku adalah wanita normal seperti yang lainnya, tapi aku sadar aku sedikit berbeda. 

Aku ... Agak sedikit gila.

Pada saat aku masih kecil, pernah suatu ketika aku sedang sendirian di rumah dan kedua orang tuaku pergi bekerja. Tiba-tiba saja aku mendengar sesuatu dari dapur, aku yang penasaran pergi ke sana untuk memeriksanya dan menemukan seekor ular berwarna hitam legam.

Dengan panik aku berteriak sambil mengambil sapu yang berada di dekatku untuk memukul ular itu.

Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam.

Setelah sekian lama aku memukuli ular itu, kini dia telah menjadi seonggok daging mati. Nafasku tidak beraturan, jantungku berdegup dengan kencang, tapi ketika aku memeriksa wajahku, sebuah senyuman ada di sana. Aku tidak tahu mengapa.

Ketika orang tuaku pulang, aku menceritakan bahwa ada ular masuk ke rumah. Mereka menjadi panik dan memeriksa keadaanku, tapi ketika aku mengatakan bahwa aku telah membunuhnya, mereka mengela nafas dan memelukku.

Ternyata aku tidak dimarahi karena telah membunuh ular tersebut, berarti apa yang aku lakukan bukan kesalahan, aku melakukan sesuatu yang benar.

Setelah itu aku pergi mandi, tapi ketika aku melepas celana dalamku, aku menemukan ada cairan aneh di sana, aku yang saat itu masih belum mengerti apa itu.

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, aku langsung mengganti bajuku dan pergi ke belakang rumah. Seingatku, di salah satu pohon di sana terdapat rumah semut. Dan ternyata ingatanku benar, rumah semut itu masih ada di sana.

Itu adalah pohon mangga dengan tinggi sekitar 2 meter, tapi bagiku yang waktu itu pohon mangga itu sangat tinggi.

Menoleh ke sekeliling, akhirnya aku menemukan sebuah kayu yang cukup panjang. Aku mengambil kayu itu dan berdiri di bawah pohon mangga. Dengan tongkat itu aku memukul rumah semut itu, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi.

Banyak semut yang jatuh ke tanah dan banyak juga yang jatuh ke tubuhku. Seperti kemarin, degupan jantungku menjadi lebih cepat. Aku yang saat itu tidak tahu nama perasaan yang sedang aku rasakan, tapi itu sangat menyenangkan, aku tidak bisa berhenti.

Meskipun tubuhku digigit banyak semut, tapi aku tidak menyesalinya. Karena ini sangat menyenangkan. 

Melihat semut yang berada di tanah berlarian ke sana kemari, tanpa sadar senyum lebar terlukis di wajahku. Menggunakan tongkat kayu tadi, aku memukuli semut-semut.

Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi.

Entah kenapa, aku tertawa lepas meskipun aku tidak begitu mengerti apa yang lucu dari hal ini. Tapi, satu yang pasti ... Ini menyenangkan.

Seperti kemarin, ketika aku mandi dan melepas celana dalamku, salah satu sisinya basah. Aku yakin itu bukan pipisku, tapi, yah, aku yang saat itu tidak terlalu peduli dengan hal itu dan menaruhnya di tempat cucian.

Lalu, pada suatu hari, aku diajak ke tempat pamanku di pasar untuk membeli ayam, kebetulan pamanku memiliki toko ayam potong di sana. Setelah sampai di sana, bau tidak nyaman langsung menusuk hidungku. Juga, suara berisik dari ayam-ayam dan orang yang sedang belanja sangat berisik.

Ibuku membawaku ke dalam toko ayam potong. Selagi ibuku berbicara dengan pamanku, aku melihat ayam-ayam yang masih hidup, lalu tiba-tiba saja aku mendengar teriakan ayam. Penasaran, aku berjalan menghampiri arah suara yang berasal dari belakang toko.

Di sana, aku melihat dua orang pria dewasa, salah satunya memegang ayam dan salah satunya sedang menggerek leher ayam tersebut dengan pisau yang tampak sangat tajam. Setelah digerek, ayam itu tampak berteriak kesakitan bersama dengan mengalirnya darah dari luka pada lehernya, lalu tidak lama kemudian ayam itu berhenti mengeluarkan suara tanda ayam itu telah mati.

Jantungku berdegup dengan kencang. Pipiku memerah seperti gadis yang telah menemukan pangeran impiannya. Sebuah senyuman terlukis di wajahku yang terus menatap pada ayam itu.

Kemudian, salah satu dari pria itu yang menawarkan aku untuk mencobanya. Sebuah kegembiraan langsung masuk ke dalam dadaku dan mengalir ke seluruh tubuhku. Tanpa penundaan sama sekali aku langsung menganggukan kepala atas tawarannya.

Kini di tanganku ada sebuah pisau yang telah ternoda darah ayam sebelumnya, aku mencoba menyentuh darah itu dan terasa sangat menyegarkan. Kemudian pria tadi mengatakan tentang bagaimana caranya memotong ayam.

Salah seorang yang lainnya membawa seekor ayam putih yang cukup gemuk, ayam itu terus memberontak dari pegangan pria itu, tapi dengan tubuhnya yang kuat pria itu mampu mempertahankannya. Dengan perlahan aku mendekatinya dan mengarahkan bagian tajam pisau ke leher ayam itu.

Sebuah sensasi seperti tersetrum listrik menjalar ke selesai tubuhku tatkala ketempelkan pisau itu ke lehernya. Lalu, dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk mengiris leher dari mahluk hidup tersebut, sebuah kebahagiaan meluap ketika teriakan ayam bergema di telingaku dan darah mengalir deras dari bekas luka yang kubuat dengan pisau.

Merasakan kebahagiaan karena semua ini, aku masih normal, bukan?

...Kau sudah gila.

Semua jeritan dan darah itu adalah mahakarya.

...Itu bukan mahakarya.

Semua orang pasti merasakan apa yang aku rasakan.

...tidak mungkin.

Terserah apa yang orang pikirkan, lagipula siapa yang menentukan apa itu normal dan tidak normal. Semua orang berhak bahagia.

...Kau tidak bisa diobati lagi.

Sebuah suara terdengar dalam kepalaku, menyangkal semua pemikiranku. Tapi, aku tidak peduli, selama aku bahagia, aku akan tetap melakukannya. Begitulah besarnya keegoisan manusia.

Pria itu tersenyum manis sambil memberikanku dua jempol. Dia berkata aku melakukannya dengan baik.

Seperti yang aku duga, aku tidak salah, aku melakukan hal yang benar. 

Kemudian aku menoleh ke arah pintu masuk dan melihat ada ibuku di sana, dia juga tersenyum padaku dan memujiku karena berhasil memotong ayam tadi. Pun begitu dengan pamanku, dia bahkan berkata bahwa pekerjaan yang aku lakukan sangat baik.

Lihat, aku tidak salah, aku melakukan hal yang benar.

Ketika pulang ke rumah, aku segera melangkahkan kaki ke kamar mandi. Aku melapas pakaianku, dan ketika aku melihat pakaian dalamku, kini salah satu bagian lebih basah daripada sebelumnya. Tapi, karena aku sudah terbiasa melihat ini, aku tidak memedulikannya dan segera menaruhnya ke tempat cucian.

Kemudian, insiden itu terjadi. Itu terjadi pada malam hari, sebuah suara berisik terdengar. Aku keluar dari kamarku dan melihat ayahku telah tertusuk sebuah pisau, dengan cepat aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.

Di salah satu sisi ruangan, seorang pria juga tergeletak dengan kepalanya yang memiliki luka dari benda tumpul. Dia memakai pakaian berwarna hitam dan menyembunyikan wajahnya, kemungkinan besar adalah seorang pencuri. Di dekat pencuri itu ibuku terduduk sambil memegang sebuah tingkat kayu yang ujungnya dilumuri oleh darah.

Sebuah pemandangan yang sangat...

Aku mendekati ibuku yang terlihat masih syok, dengan cepat aku memeluknya. Kemudian air mata dan Isak tangis seakan meledak ketika aku membawa kembali ibuku ke dalam kenyataan ini.

Lalu tiba-tiba tangis itu berhenti ketika Ibu menyadari bahwa pencuri itu masih hidup. Dengan keras Ibu memegang tongkat kayu di tangannya dan mendekati pencuri itu. Dia mengangkat tongkat kayu itu tinggi-tinggi ke langit lalu menghantamkannya ke tubuh pencuri.

Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam. Bam.

Ah ... Aku merasa sebuah perasaan nostalgia yang dalam. Seperti ketika aku pertama kali bertamu dengan ular. Perasaan itu mengalir ke dalam tubuhku dan membuat aku merasa sangat ... sangat bergairah.

Permintaan dari pencuri itu untuk berhenti tidak dipedulikan oleh Ibu. Dengan sekuat tenaga Ibu terus menghantamkan kayu itu ke pencuri.

Benar, Ibu tidak melakukan hal yang salah. Dia adalah orang jahat, jadi itu adalah hal yang wajar.

...tidak.

Berisik, menghilang dari pikiranku.

... tidak mungkin.

Diam! Sebenarnya siapa kau sebenarnya?

 ...aku adalah kau.

Bohong! Jika kau adalah aku maka kau pasti menikmati perasaan yang aku rasakan ini.

...aku tidak.

Ah, berisik. Aku tidak akan peduli lagi dengan semua yang kau katakan.

Tidak lama kemudian pencuri itu sudah tidak bergerak lagi dan Ibuku langsung jatuh terduduk.

Kemudian, pintu rumahku didobrak dan tetangga-tetanggaku masuk dan melihat pemandangan yang seperti mahakarya ini. Mereka menutup wajah mereka dan berteriak ketakutan bahkan ada yang langsung keluar lagi untuk muntah.

Tidak sopan, ini adalah mahakarya ibuku.

Setelah kejadian itu, ayahku dinyatakan meninggal karena kehabisan darah dan begitu pula pencuri itu. Dan untuk ibuku, dia masuk ke dalam penjara karena melakukan 'pembersihan'. Aku tidak terlalu mengerti bagaimana cara hukum berlaku, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan untuk melawan hukum.

Saudara-saudaraku berkata akan menampungku ke rumah mereka. Tapi aku langsung menolaknya. Sejak saat itu, aku tinggal sendiri di rumah ini. Uang makan dan segala keperluan lainnya aku dapatkan dari Bekerja di tempat pemotongan ayam pamanku.

Hidupku lancar seperti sebelumnya. Meskipun kadang-kadang aku kesepian karena kehilangan dua sosok penting dalam hidupku, aku mengalihkan semua pemikiranku pada momen itu, momen dimana sebuah 'mahakarya' yang begitu menakjubkan sedang diciptakan oleh ibuku.

Suara kayu yang menghantam tubuh itu sangat mendebarkan.

Teriakan penuh derita karena sebuah luka tumpul yang tak langsung membunuh itu begitu menggairahkan.

Darah kental yang mengalir dari bekas luka itu sangat menakjubkan.

Aku tidak pernah bosan untuk mengingatnya kembali. Bahkan, ketika aku sedang dalam mood yang buruk, mood ku langsung baik ketika aku mengingat semua momen mendebarkan tersebut.

Dari luar, aku adalah seorang wanita cantik seperti lainnya. Tapi, aku menyadarinya, aku ... Agak sedikit gila.

...ya.

Hahaha, akhirnya kita sepahaman.

...benar.

Aku senang.

... baguslah.

Ahhh, aku sangat iri.

...kepada siapa kau iri?

Ibuku.

...kenapa kau iri?

Aku juga ingin membuat mahakaryaku sendiri.