Episode 408 - Kumal, Buntal, dan Wyudoru


Bernapas dirasa demikian sulit. Pemuda itu berdiri sambil menutup hidung dengan sisi dalam siku. Aroma udara yang lembab dan pengap, rasanya seperti dilemparkan masuk ke dalam sumur tua yang dalam. Semilir angin berhembut pelan, membawa bersamaan dengannya bau yang menyengat lebih mirip dengan bau bangkai yang sudah lama membusuk. Menyesakkan dada. 

Pantauan jalinan mata hati tiada dapat dikerahkan, sementara kabut bertumpuk tebal di permukaan tanah sehingga menghadang jarak mata memandang. Hanya sekira delapan atau sepuluh langkah saja yang terlihat, selebihnya adalah kabut gelap. Bukan hanya jarak pandang, bahkan berkas cahaya kesulitan menembus kabut. Menggantung lemah di atas langit, sang mentari mirip sebentuk bola kusam dan kumal, sehingga hanya mampu memancarkan sinar yang lemah. 

Tempat apakah ini…? Ingatan terakhir Bintang Tenggara menempatkan dirinya di atas geladak Lancang Kuning yang mulai berlayar. Kemudian, perahu perang itu melesat dengan kecepatan yang tiada dapat dicerna akal, ibarat ia melakukan teleportasi jarak teramat jauh. 

Sebagai catatan, teleportasi berbeda dengan menggunakan lorong dimensi ruang. Berteleportasi adalah berpindah tempat dalam jarak tertentu dalam sekejap mata, sedangkan menggunakan lorong dimensi ruang berarti bergerak dalam kecepatan normal namun dengan membuka celah dimensi untuk berpindah tempat.

Antara teleportasi dan lorong dimensi ruang memiliki dampak samping yang berbeda pula. Dalam teleportasi, dibutuhkan daya tahan tubuh yang sangat tangguh agar dapat bertahan dari gesekan udara saat berpindah tempat. Bintang Tenggara dapat mengatasi teleportasi jarak dekat dengan mudah karena otot-ototnya diimbuh otot siluman sempurna serta tubuhnya dilindungi Sisik Raja Naga. Sedangkan dampak samping dari lorong dimensi ruang adalah tubuh dan kepala yang limbung karena terombang-ambing saat berada di dalam celah dimensi. Dampak samping lorong dimensi dapat diadaptasi setelah berkali-kali melewati keadaan yang serupa. 

Kembali ke Lancang Kuning. Dengan kecepatan gerak dan gesekan udara yang ditimbulkan teleportasi dalam jangka waktu yang panjang, maka seharusnya tubuh para penumpang di atas geladak terlontar jatuh atau bahkan tercabik-cabik. Akan tetapi, setiap satu kelompok memiliki cara masing-masing untuk mengatasi hal tersebut. Rombongan dari Pulau Belantara Pusat, misalnya, melindungi diri dengan memanggil roh pohon raksasa yang seolah menancap tak bergeming di atas geladak perahu. Rombongan dari Sanggar Sarana Sakti mengeluarkan semacam alat yang kemudian menjadi benteng mini yang melindungi mereka. Sementara itu, Guru Muda Khandra lagi-lagi menunjukkan kepiawaian di atas rata-rata kebanyakan ahli. Seorang diri tokoh tersebut membangun formasi segel yang serta-merta melindungi rombongannya. 

Terdapat tak kurang dari seratus ahli Kasta Perak yang menumpang di atas geladak Lancang Kuning. Dengan kata lain, mereka adalah ahli-ahli piawai yang berhasil melampaui Ombak Tujuh Hantu. Bintang Tenggara baru hendak memperhatikan apa yang diupayakan tokoh-tokoh lain untuk bertahan di atas Lancang Kuning yang berteleportasi, namun perhatiannya teralihkan pada pemandangan di luar perahu perang tersebut. 

Bintang-bintang di langit tinggi bergeser dalam gerak lambat, akan tetapi lautan dan daratan bergerak sangat cepat, sehingga terlihat sangat kabur. Di antara pemandangan yang kabur itu, tetiba kedua bola mata pemuda itu menangkap titik cahaya yang mendekat. Tak lama berselang, terlihat keberadaan seorang lelaki setengah baya di balik cahaya tersebut. Tubuhnya tegap, mengenakan baju zirah mewah layaknya bangsawan diraja. Rambutnya hitam mengkilap, dan diikat dalam gelungan di sisi atas. Kumis tipis dan janggut runcing yang menatap ke bawah menegaskan raut wajah yang kaku.

Ketika tatapan mata keduanya bertemu, Bintang Tenggara mendapati bahwa tokoh tersebut sedang mendengus. Bukan karena dibalut amarah, namun seolah memendam rasa benci yang tiada terperi. Lebih dari itu, yang membuat benak pemuda itu sulit mencerna, adalah bagaimana tokoh itu dapat bergerak mengikuti kecepatan Lancang Kuning!? 

Lelaki setengah baya yang mengenakan pakaian zirah itu bergerak mendekat. Ia menjulurkan lengan, dan Bintang Tenggara menyadari akan hawa membunuh yang demikian kental membuat sekujur tubuh menjadi kaku. Di saat tokoh itu hendak mendarat di geladak, kekuatan Lancang Kuning untuk menolak ahli selain yang berada pada Kasta Perak dengan sendirinya bekerja. Lelaki setengah baya itu terdorong pelan dan raut wajahnya terlihat jengah. Bukan karena ia tak hendak memaksa masuk, namun lebih karena harga dirinya demikian tinggi sehingga berupaya lebih keras untuk menjangkau sesuatu yang tak berarti sama saja dengan merendahkan diri sendiri. Oleh sebab itu, lelaki setengah baya memutuskan untuk berhenti mengejar dan tubuhnya pun lantas melesat ke arah lain. 

Bintang Tenggara kemudian mendengar suara yang tak asing. Melalui jalinan mata hati, Balaputera Khandra berujar, “Kata kunci kita adalah: ‘Aku merana, karena bencana’. Ingat…” 

Adegan berikutnya, Lancang Kuning berhenti mendadak dan seluruh ahli di dalamnya terlontar ke semerata penjuru!

“Krek!” 

Di tengah padang kabut tebal, Bintang Tenggara mendengar suara langkah kaki. Sepintas saja terlihat bayangan hitam, kemudian lenyap menghilang. Suasana demikian angker, membuat pemuda itu belum bergerak barang selangkah pun. 

“Krak!” 

“Siapa di sana…?” ujar Bintang Tenggara sembari memutar tubuh, karena kali ini suara datang dari arah belakang. 

Tak ada jawaban, dan sepertinya antara suara pertama dengan suara kedua merupakan langkah kaki orang yang berbeda. Bintang Tenggara memutuskan untuk menuju ke arah datangnya suara terakhir. 

“KRAK!” 

Kaki kanan Bintang Tenggara mengginjak sesuatu yang rapuh sampai remuk seperti kerupuk. Kejadian itu membuat tubuhnya terhuyung, walau pemuda tersebut cukup tangkas untuk menjaga keseimbangan. Ia lalu membungkukkan tubuh, mencoba memastikan apakah yang sebelumnya terinjak. Tatkala menggeser kaki, ia melihat pecahan… tengkorak kepala!

“Hah!” Terkejut, Bintang Tenggara mundur beberapa langkah diikuti suara remuk yang beruntun. Terkejut, kali ini ia jatuh terjerembab duduk dan menyibak gumpalan kabut. Secara bersamaan pula, semilir angin yang berhembus ringan kembali membawa aroma tak sedap, serta turut menyibak kabut di permukaan tanah.

Tubuh Bintang Tenggara terkesiap. Sekujur rambut di tengkuknya seketika berdiri merinding. Dalam radius lima langkah dari dirinya, berserakan adalah kain-kain lusuh dan kumal yang rapuh di makan waktu. Kain-kain tersebut membungkus tulang-belulang manusia! 

“Jangan buang-buang waktu lagi!” Tetiba terdengar suara menghardik melalui jalinan mata hati. 

“Kakek Gin, tempat… tempat apakah ini!?” 

“Cepat! Cari pakaian zirah paling megah dan ambil tengkorak kepalanya!” 

Bintang Tenggara masih tercenung. Baru kali ini Ginseng Perkasa terdengar cemas sampai sedemikian rupa. “Tenggkorak kepala…?”

“Cepat! Lakukan saja!” 

Pemuda itu bangkit berdiri, sembari melangkah dengan sangat hati-hati agar tak menginjak tulang belulang yang berserakan. Di antara tulang-belulang manusia, kini dapat dicirikan pula tulang-belulang binatang berukuran besar. Kedua lengan mengibas kabut pada permukaan tanah, untuk mendapati bahwa tengkorak kepala dan tulang-belulang yang berserakan hanya mengenakan pakaian biasa-biasa saja. 

“Kakek, Gin… Apakah tujuan mencari tengkorak kepala manusia…?” 

“Jangan tanyakan sekarang. Lihat di hadapan sana!” 

Bintang Tenggara menyaksikan sepasang roda pedati besar yang tertimbun tumpukan tulang belulang. Roda tersebut menempel kepada sebuah kereta kuda yang unik bentuknya. Kala mendekat, semakin terlihat di sisi depan sebuah tempat duduk kusir tanpa atap, sedangkan di bagian belakang memiliki atap yang tinggi. Agaknya, siapa pun yang berada di belakang terpaksa berdiri karena tak tersedia tempat duduk. Secara umum, kereta kuda tersebut masih utuh dan terlihat megah dengan hiasan keemasan bertakhtakan emas permata. 

“Kereta kuda itu pasti milik tokoh ternama! Segera cari tengkorak kepala pemiliknya!” 

Bintang Tenggara meragu. Ia tak hendak membongkar tulang-belulang nan bertumpukan di kereta kuda. Selain itu, bagaimana pula dapat kiranya memastikan bahwa tengkorak kepala yang diambil adalah bekas pemilik kereta kuda!?

“Itu hanya tulang-belulang!” Ginseng Perkasa mengingatkan bahwa sebagai peramu, tak perlu merasa takut atau jijik di hadapan sisa-sisa makhluk hidup. Di saat itu pula, tokoh tersebut menebar jalinan mata hati. Dengan keterampilan khusus sebagai peramu, maka dapat dengan mudah ia mencirikan tengkorak kepala satu ahli dengan ahli yang lain. “Di bawah tumpukan! Di lantai kereta kuda! Segera ambil tengkorak kepalanya! Cepaaaaaaat!” 

Bintang Tenggara melompat maju mengenyampingkan perasaan tak nyaman. Ia tak tahu sedang berada di mana, namun Ginseng Perkasa pastilah mengetahui lebih jauh. Segera ia membongkar isi kereta kuda. Sebagian tulang-tulang belulang berpatahan dan remuk di tangannya, sebagian lagi ia lemparkan ke belakang. Pemuda itu mirip dengan seekor anak anjing yang mengais tumpukan sampah.

Pada lantai kereta kuda, tergeletak sebentuk mahkota serta tiga tengkorak kepala manusia…

“Swush!” 

Kali ini angin berhembus kencang. Terlalu kencang sampai mengangkat kabut serta lembaran-lembaran kain, turut pula beterbangan serpihan tulang-belulang. Bintang Tenggara mendongak kemudian berdiri menyaksikan perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba itu. Ia memandang sekeliling dan menyaksikan bentangan padang gersang sejauh mata memandang. Pada seluruh permukaannya berserakan tulang-belulang.

Sebuah perang besar pernah berkecamuk di tempat ini! batin pemuda itu menyimpulkan. Tulang-belulang tersebut adalah korban perang yang berjatuhan. Apakah ini terkait dengan celoteh Balaputera Khandra di atas bukit!?

Semakin kabut tebal menyibak, pemuda itu melihat ahli-ahli lain di berbagai tempat yang terpisah sedang berdiri diam. Mereka mengangkat tengkorak kepala manusia seperti hendak menyuguhkan tengkorak tersebut sebagai hadiah kepada seseorang, atau sesuatu. Bintang Tenggara mengenali mereka sebagai sesama penumpang Lancang Kuning…

Tak lama kemudian, kelebat-kelebat bayangan mengemuka. Tulang-belulang yang sebelumnya berserakan seolah merangkai membangun struktur tubuh. Organ-organ dalam terpasang dan daging seperti tumbuh lalu dibungkus kulit. 

Waktu sedang bergerak mundur dengan sangat cepat!

Bintang Tenggara terpana kala menyaksikan pasukan yang terdiri dari ribuan, bahkan jutaan manusia. Mereka berhadapan, saling bantai. Di antara mereka, terlihat lima ahli yang tampil paling perkasa. 

“Hei! Jangan melamun! Ambil tengkorak itu!” sergah Ginseng Perkasa. 

Bintang Tenggara tak tahu tengkorak mana yang dimaksud, sehingga segera ia raup saja tiga tengkorak yang tergeletak pada permukaan kereta kuda. 

“DUAR! 

Sebuah ledakan cahaya mengemuka dan waktu bergerak mundur semakin cepat. Sangat cepat, sehingga kini sulit dicerna kelebat-kelebat kejadian apa saja yang berlangsung. Di saat yang bersamaan, Bintang Tenggara merasakan tubuhnya terangkat perlahan… Melayang… 

Akan tetapi, sungguh ia terkejut ketika menyaksikan bahwa seorang pemuda tergeletak jatuh tak berdaya di bawah sana, karena adalah tubuhnya sendiri! 



Sebuah istana kemaharajaan nan megah. Setiap ruangan di dalamnya memiliki ragam hias hasil karya tangan-tangan terampil dari para pemahat dan pematung terkemuka di seantero negeri. Pepohonan besar rindang menaungi dan bebunga segar menghiasi. Air mancur di tengah taman berbaur dengan tiupan sepoi angin di siang hari. Suasana sejuk nian. 

Tepat di sisi taman, pada sisi satu pintu besar nan megah seorang pengikut terbangun dari tidur siangnya. Kepala peningnya bukan kepalang ketika ingatan masa lalu merasuki deras ke dalam benaknya. Ingatan tersebut bukanlah miliknya, melainkan milik seorang lelaki dewasa muda bertubuh kecil dan berkulit sangat gelap. 

Ia mengingat hari pertama bertolak dari kampung. Betapa kedua orang tuanya yang sudah renta menghalang niat tersebut, dan bagaimana saudara-saudarinya mencibir bahkan meludah penuh kebencian. Mereka berpandangan bahwa dirinya hanya hendak melarikan diri dari tanggung jawab di ladang dan bila mencapai ibukota negeri nantinya akan hidup sengsara. 

Kepergiannya bukan tanpa alasan. Ia menyadari bahwa tubuhnya yang kecil dan lemah tak cocok untuk bekerja di ladang, sedangkan pemikirannya beberapa langkah lebih maju daripada mereka di kampung. Dengan demikian, penghidupan yang lebih baik menanti di ibukota, bukanlah di kampung yang gersang dan tandus. 

Sesampainya di ibukota, nasib mempertemukan dirinya dengan seorang lelaki dewasa muda bertubuh gemuk pendek. Tiada disangka bahwa tokoh tersebut merupakan anak pembesar negeri, yang baru saja diangkat oleh ayahandanya sendiri pejabat istana. Singkat kata dan singkat ceritera, keduanya kemudian bahu-membahu dalam upaya melalui persaingan dan mencapai posisi yang cukup baik di istana. 

“Hei, Kumal! Sampaikan kepada junjunganmu bahwa Yang Dipertuan Agung Paduka Duryodana memanggil saudara-saudaranya berkumpul!” Seorang Kepala Prajurit yang dikawal beberapa prajurit lain terlihat menghardik. Dari sisi pangkat dan jabatan, ia lebih tinggi dan kiranya berasal dari istana utama. 

“He…?” Raut wajahnya keheranan. Siapa itu si Kumal…? Kepada siapakah mereka berujar…? batinnya penasaran.

“Hoahm…” Menguap lebar, bangkit dari tidur siang di sisinya adalah lelaki dewasa muda bertubuh gemuk sebagaimana dalam ingatan. 

“Sudah gila si Buntal ini! Berani-beraninya dia tidur siang!” Kata-kata Kepala Prajurit disambut gelak tawa bawahan yang ikut bersama dengannya. 

“Hm…? Apa kau bilang tadi!?” Si Buntal menghardik sebal. “Tidakkah kau tahu dengan siapa kau berhadapan!?”

“Hah!? Mimpi apa kau Buntal…?” sahut Kepala Prajurit itu kebingungan.

“Bangsat!” Si Buntal melangkah garang sembari menggenggam kepalan tangan. Kepada Kepala Prajurit yang dinilai berlaku lancang, ia layangkan tinju lurus ke hadapan!

“Brak!” 

Si Buntal jatuh terpental! Tidak hanya sampai di situ, karena tubuhnya berguling-guling di atas tanah sebelum dihentikan paksa oleh sebuah pilar batu nan menjulang tinggi. 

“Bangsaaaat!” Kendatipun tak piawai dalam persilatan dan kesaktian, tokoh yang satu ini dikenal memiliki daya tahan tubuh yang sangat baik. Kemampuan tersebut ia miliki karena sedari kecil dia tak pernah dapat memenuhi harapan sang ayahanda. Oleh sebab itu, ayahandanya memberi hukuman dengan gebukan demi gebukan. 

Si Buntal naik darah. Ia bangkit berdiri sembari berteriak, “Berani kalian di hadapan Ko…”

“Brak!” 

Belum selesai mengutarakan jadi diri, tubuh si Buntal kembali terpental. Kali ini menggelinding dan menghantam sepasang dauh pintu nan megah bertakhtakan emas. Akibat hantaman nan keras, pintu tersebut serta-merta membuka, dan di dalamnya seorang lelaki dewasa muda nan tampan sedang berkaca. Rambutnya hitam, halus dan panjang menyentuh pundak, sepasang bola mata besar dengan hidung mancung dihiasi kumis tipis di atas bibir. Tubuhnya tinggi dan tegap, dengan kulit putih lagi halus. 

“Yang Mulia Pangeran Wyudoru,” ujar Kepala Prajurit sembari membungkuk memberi hormat. “Maafkan kehadiran kami tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Akan tetapi, Yang Dipertuan Agung Paduka Duryodana mengharapkan kehadian Yang Mulia Pangeran Wyudoru di Istana Utama.”

“Oh…? Ada apakah gerangan…?”

“Adapun Sri Paduka Krishna datang berkunjung,” jawab Kepala Prajurit tanpa mengangkat kepala. 

“Hm…” Lelaki dewasa muda nan tampan itu lantas mengibaskan lengan demikian anggun. “Baik, baik… diriku akan memenuhi undangan. Kalian pergilah terlebih dahulu. Cus…”

Sepeninggalan para prajurit, si Kumal (lelaki dewasa muda berkulit gelap dengan tubuh lemah) memandangi si Buntal (lelaki dewasa muda bertubuh gemuk pendek) serta Yang Mulia Pangeran Wyudoru (lelaki dewasa muda yang gagah lagi tampan). Ketiganya bertukar pandang antara satu sama lain…

“Super Guru…,” ujar si Kumal kepada si Buntal. “Kakek Gin…?” lanjutnya kepada Yang Mulia Pangeran Wyudoru.