Episode 104 - Andre



Mereka yang selalu tersenyum kadang menyembunyikan tangis paling keras. Merahasiakan semuanya agar tidak diketahui siapapun dan terus melangkah maju demi apa yang dicita-citakan.

Meskipun banyak rintangan dan halangan, mereka tidak menyerah dan terus menatap masa depan yang menyimpan sejuta kemungkinan.

Salah satu dari mereka adalah pria itu.

Terlahir disebuah keluarga biasa dengan satu orang Kakak perempuan, pria itu dengan sungguh-sungguh belajar bela diri untuk bisa menjadi lebih kuat.

Setiap hari dia akan melatih stamina dan menjaga pola hidupnya agar selalu sehat, kemudian di sore hari setelah pulang sekolah, dia dengan penuh semangat pergi ke sebuah bangunan tua tempat pelatihan bela diri di lakukan.

Memakai seragam sederhana berlogokan seorang pria yang sedang melakukan tendangan menyamping, dia dengan sabar mengikuti pola latihan yang diberikan oleh pelatih. Bersama dengan beberapa rekan yang masih setia untuk belajar bela diri di sana, dia terus menggerakkan tubuhnya mengikuti instruksi.

Setelah selesai, sesi yang terakhir dilakukan adalah pertarungan pura-pura antara sesama. Dia melangkah maju dan menatap pria yang menjadi lawannya, memberi hormat lalu memasang kuda-kuda, bersiap untuk pertarungan.

Setelah pertarungan dimulai, dia segera menendang lantai dan melaju untuk mendekati musuhnya. Tanpa keraguan dia segera melemparkan tinju dari tangan kanannya menuju bahu musuhnya seraya meneriakkan nama jurus yang tidak sesuai dengan namanya.

Musuhnya dengan mudah menghindari serangan itu dengan melangkah ke samping lalu menekan sikunya menuju dada. Tanpa mampu mengelak, sebuah rasa sakit mengalir dari dadanya menuju otaknya dan diwujudkan melalui batuk keras dari mulutnya.

Musuhnya tidak berhenti sampai di sana, dengan lihai dia mendekati pria itu dan membuat satu serangan lagi menggunakan telapak tangannya tepat pada titik dimana serangan sebelumnya disarangkan.

Sakit yang menyiksa diterima pria itu. Dengan buru-buru dia melangkah mundur untuk mengambil jarak dari musuhnya. Namun, musuhnya tidak akan memberikan kesempatan itu padanya. Dengan langkah cepat, musuhnya sudah tepat berada di depannya dan sebuah tinju mengalir dengan alami menuju perutnya.

Tinju itu bersarang pada ulu hatinya dan membuat dia jatuh ke lantai seraya mengerang kesakitan.

Siapa pemenang dan siapa pecundang bisa dengan jelas setelah melihat pertarungan itu, akan tetapi pada akhirnya yang menjadi perwakilan dalam turnamen adalah dia, sang pecundang dari pertandingan itu, Andre.

Sebenarnya Andre bukanlah yang terlemah di antara mereka, tapi juga bukan yang terkuat. Namun, tidak ada yang mau untuk menjadi perwakilan setelah mendapatkan kuota untuk 2 peserta tanpa seleksi, karena itulah Andre mengajukan diri untuk menjadi salah satunya.

Alasan kenapa tidak ada yang mau menjadi perwakilan adalah karena mereka sadar bahwa mereka adalah yang terlemah di antara semua yang mendapat kuota tanpa seleksi. Mereka tidak berani untuk mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang.

Juga, alasan kenapa mereka mendapatkan kuota tanpa seleksi adalah karena masa lalu gemilang yang diukir para pendahulu di perguruan bela diri itu. Mereka sangat kuat hingga ditakuti banyak ahli bela diri lainnya, akan tetapi dengan bertambahnya usia kualitas mereka semakin melemah dan tidak pernah terdengar lagi.

Selalu kalah dan kalah di setiap turnamen hingga semua orang bahkan akan terkejut jika mereka bisa menang karena terlalu terbiasa melihat mereka sebagai samsak tinju para ahli bela diri lain.

Dan alasan kenapa Andre mengajukan diri bukan karena dia tidak tahu malu, tapi karena dia ingin menantang dirinya melawan orang-orang yang jelas lebih kuat darinya.

Menurut Andre itu bukan tindakan yang bodoh dan ceroboh, tapi sebuah tindakan bijak agar dia tidak pernah berhenti berusaha menjadi lebih kuat dan menjadi seperti yang dia inginkan.

Itu adalah satu langkah lebih maju daripada orang lain. Meskipun langkah itu akan membawa dia ke dalam situasi yang bisa mengakibatkan rasa malu dalam hidupnya, dia tetap mengambil langkah tersebut. Semua itu demi mimpinya untuk sedikit lebih dekat pada mimpinya.

Pada saat turnamen berlangsung, semua sudah jelas. Pada pertandingan pertama, dia kalah telak meskipun dengan semangat bertarung sambil meneriakkan jurus-jurus yang sama sekali tidak ada hubungannya. 

Berbeda dari pertandingan lainnya, pertandingan di mana Andre muncul adalah satu-satunya yang tanpa ketegangan dan antisipasi karena semua orang tahu bahwa Andre pada akhirnya yang akan menjadi samsak tinju.

Meskipun begitu, mereka tidak merasa bosan dengan pertarungan tersebut, sebaliknya penonton malah sangat terhibur dengan tingkah bodoh Andre.

Pada pertandingan kedua hasilnya juga adalah kekalahan bagi Andre, dengan sangat mudahnya dia dibuat keluar dari arena pertandingan oleh musuhnya.

Meskipun begitu, senyum masih terselip pada wajahnya, tanpa ada putus asa yang terlihat. Pun begitu penonton, mereka merasa terhibur dengan tingkah bodohnya.

Pada pertandingan ketiga, seperti sebelum-sebelumnya, Andre dengan semangat menyerang sambil meneriakkan jurus-jurus yang tidak ada hubungannya dengan bela diri yang dia pakai. Namun, tidak ada serangannya yang mampu mengenai musuhnya dan akhirnya Andre dengan mudah dikalahkan.

Tiga kekalahan beruntun pada tiga pertandingan pertama. Di antara semua peserta, dia adalah yang terburuk. Bahkan para penonton sangat setuju jika dikatakan Andre adalah yang terlemah bahkan dari para peserta wanita.

Sebuah fakta yang sangat menyakitkan bagi Andre.

Meskipun begitu, senyum itu masih bisa dilihat semua orang.

Setelah pertandingan ketiga selesai, Andre bergegas pulang ke rumahnya. Sampai di sana, dia masuk dan bertemu Kakak perempuannya.

"Bagaimana pertandingannya?" 

Kakaknya tahu bahwa hari ini adalah hari pertandingan Andre, karena itu dia bertanya tentang hasilnya.

"Kalah." Jawab Andre sambil tersenyum.

Kakak perempuannya menatap Andre dalam-dalam dan mendekatinya. Dengan lembut dia memeluk Andre tanpa mengatakan apapun. Dan meskipun Andre merasa risih karena dua benda lembut yang menyetuh dadanya, tapi Andre tidak melepaskan pelukan tersebut.

Kakaknya melepaskan pelukan itu dan tersenyum manis di depannya. Sambil mengacak-acak rambut Andre dia berkata. "Kau sudah melakukan yang terbaik, cepat mandi dan istirahat."

"I-iya." Balas Andre sambil bergegas ke kamarnya.

Setelah mandi, Andre membuka laptopnya dan membuka file video anime yang telah dia unduh sebelumnya. Dia menontonnya tanpa tawa, meskipun genrenya adalah komedi.

Andre membesarkan volume video tersebut lalu memeluk lututnya. Wajahnya yang terkubur di antara lutut tak bisa dilihat oleh siapapun. Dalam ruangan itu hanya ada suara dari video yang Andre putar dan sebuah Isak lembut.

Andre menutup matanya kuat-kuat, tapi air mata tidak bisa berhenti mengalir. Pikirannya yang kacau terus meneriakkan semua keluhannya.

'Padahal aku sudah berjuang dengan keras, kenapa aku tidak menjadi lebih kuat?'

'Padahal aku adalah seorang laki-laki, tapi kenapa aku lebih lemah dari perempuan?'

'aku tidak pernah bolos latihan, tapi kenapa aku masih lemah?'

'Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa hanya aku?'

'Kenapa aku tidak bisa menjadi seperti yang aku inginkan?'

'KENAPA?'

Tiba-tiba sensasi hangat mengalir dari belakangnya. Dua tonjolan lembut bisa dia rasakan dari balik punggungnya, tanpa perlu di tanyakan lagi orang yang memeluk Andre dari belakang adalah Kakak perempuannya.

Mereka tetap begitu dalam waktu yang cukup lama, hingga akhirnya Andre cukup tenang.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan" Ucap Andre dengan gugup.

"Yah, aku merasa adikku yang sok kuat sangat imut ketika menangis, jadi aku tidak tahan dan ingin memelukmu." Balas Kakaknya dengan riang.

"A-apa yang kau katakan, aku tidak menangis." Ucap Andre.

"Haha, jelas-jelas amkau menangis tadi." 

"Aku tidak menangis." Meskipun Andre sebenarnya tidak suka berbohong, tapi kali ini demi harga dirinya Andre mengatakan kebohongan yang sangat jelas.

"Kalau kau tidak menangis coba lihat ke sini." Ucap Kakaknya yang berdiri di belakang Andre.

Andre cepat-cepat menghapus bekas air matanya dan berbalik.

"Lihat, aku tidak- Uwaahh, ke-kenapa kau berpakaian seperti itu, cepat ganti." Ucap Andre terburu-buru setelah melihat penampilan Kakaknya.

Dia memakai hotpant dan kaos tanpa lengan dengan belahan dada yang sangat dalam Hinga Andre bisa melihat sedikit bra yang sedang Kakaknya gunakan. Pantas saja tadi terasa sangat dekat, pikir Andre.

"Haha, memangnya kenapa? Kita kan saudara." Balas Kakaknya.

"Kita memang saudara, tapi aku masih laki-laki dan kau adalah perempuan, tidak pantas menggunakan seperti itu di depan orang lain." Balas Andre dengan wajah yang memerah. 

Meskipun Andre mengatakan seperti itu, tapi dia masih diam-diam mengintipnya.

"Heh, jadi kau merasa tergoda, padahal kau sering melihat yang lebih tidak senonoh di dalam laptopmu." Ucap Kakaknya dengan senyum tipis di wajahnya.

"A-apa yang kau katakan?" Andre bertanya dengan gugup.

Memang benar Andre menyimpan beberapa video seperti itu, tapi dia sudah dengan hati-hati menyimpannya dalam folder rahasia agar tidak ada seorangpun yang tahu.

"Hehe, jangan kira aku tidak tahu." Ucap Kakaknya seraya tersenyum tipis.

"Argh, sial! Cepat keluar." Ucap Andre sambil mendorong kakaknya agar keluar dari kamarnya.

"Hehe, kau mau menonton 'itu' ya." 

"Tidak, aku cuma mau sendiri." Balas Andre sambil masih mendorong Kakaknya.

"Baiklah, baiklah, aku keluar." Ucap Kakaknya seolah menyerah.

"Dan jangan pernah buka-buka laptopku lagi." Ucap Andre dengan wajah yang memerah karena kesal dan malu.

Kakaknya berjalan keluar dari kamar, tepat sebelum menutup pintu dia berbalik dan melihat Andre.

"Apa lagi?" tanya Andre kesal.

"Jangan pernah menyerah." Ucap Kakaknya dengan senyum yang merekah.

"Siapa yang menyerah, aku tidak akan pernah menyerah." Balas Andre tegas.

Kakaknya hanya tersenyum setelah mendengar balasan Andre kemudian menutup pintu. Sementara itu setelah pintu tertutup sempurna, sebuah senyum terlukis di wajah Andre, tangannya mengepal dan tampang menyedihkannya ketika menangis tadi sudah hilang.

"Aku pasti tidak akan pernah menyerah." Gumamnya pelan.

Tekad itu bukan hanya demi dirinya sendiri, tapi demi semua orang yang mendukungnya, dan semua orang yang memandang rendah dia. Sebuah tekad untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.