Episode 406 - Lancang Kuning


Lelaki dewasa muda itu mengenakan pakaian terusan berwarna biru muda yang ditenun menggunakan jalinan benang sutera nan halus dan lembut. Pada permukaan pakaian, terlihat sulaman benang keemasan yang menampilkan ragam hias seekor naga geni yang meliuk di sela awan-awan tipis. Tak ada seberkas debu pun yang berani hinggap ke pakaian dimaksud. Penampilannya ini mencirikan pribadi yang mewakili keluarga bangsawan besar dan tenar. Daripada dirinya mengemuka pula semerbak aura nan terpelajar selayaknya para pujangga nan tersohor oleh karya-karya seni yang membangun peradaban. Siapa saja sosok yang memandang tokoh nan mulia ini, pastilah dibuat silau. 

Akan tetapi, tidak bagi Guru Muda Khandra serta Bintang Tenggara. Keduanya cukup mengenal tokoh dimaksud. 

“Sungguh sebuah kehormatan dapat hadir di hadapan…” Balaputera Khandra menahan kata-katanya untuk tak menyebutkan nama tokoh tersebut. Sengaja ia hendak mencermati terlebih dahulu gelagat lawan bicaranya. 

“Itu… Beliau adalah seorang bangsawan besar dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” 

“Adalah sebuah kehormatan berada di dekat tokoh nan mulia.” 

Bisik-bisik terdengar dari para ahli yang berada di sekeliling. Sedangkan Bintang Tenggara malah mencibir. Sungguh mereka tak mengetahui bahwa yang disanjung-sanjung itu merupakan tokoh yang berasal dari Partai Iblis sekaligus buronan yang dijuluki sebagai Petaka Perguruan! 

Lintang Tenggara menyeka rambutnya yang panjang, lebat dan mengkilat hitam serta sangat klimis. “Sungguh diriku, Balaputera Lintara dari Kadatuan Kesembilan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tiada menyangka akan bertemu muka dengan Guru Muda Khandra dari Perguruan Gunung Agung,” ujarnya sembari melontarkan sebentuk senyuman yang kiranya dapat meluluhkan batu karang sekalipun.

Balaputera Khandra menjawab balik senyuman Lintang Tenggara dengan senyuman ramah. Dengan tokoh tersebut menekankan diri sebagai ‘Balaputera Lintara dari Kadatuan Kesembilan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang’, maka dapat dipastikan bahwa dia sengaja hendak menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. Oleh karena itu, sebelum dapat sepenuhnya mencerna apa tujuan Lintang Tenggara kali ini, maka ia akan ikut dalam permainan sandiwara untuk sementara waktu. Jikalau keberadaan Lintang Tenggara dirasa mengancam, barulah ia akan membongkar jati diri Bupati Selatan dari Pulau Lima Dendam di Partai Iblis serta Petaka Perguruan dari Pulau Dewa itu. 

Pandangan yang senada juga diamini oleh Bintang Tenggara. Berada di tengah ribuan ahli aliran putih maka Lintang Tenggara pastilah tak hendak bertingkah gegabah. Yang menjadi perhatiannya kini adalah lima sosok dengan berbagai model jubah hitam di balik Lintang Tenggara. Salah satu dari tokoh tersebut diketahui sebagai… Kum Kecho!

“Aku akan mengakhiri nyawa adikmu saat ini juga…” Jalinan mata hati terhubung antara tokoh di balik jubah dengan tokoh berpenampilan jumawa. 

“Kita tak dapat bertindak gegabah,” tanggap Lintang Tenggara. “Tidak di hadapan sekian banyak ahli aliran putih… dan yang paling penting, tidak di hadapan Balaputera Khandra.”

“Siapa Balaputera Khandra…?” Kum Kecho mengambil selangkah maju.

“Balaputera Khandra alias Guru Muda Khandra dari Perguruan Gunung Agung merupakan anak didik ayahandaku. Gerak-geriknya sulit dibaca, kemampuannya tak dapat dipandang sebelah mata.”

“Maka dari itu, kita wajib mengenyahkan mereka secepat mungkin!” 

“Bersabarlah sejenak… Ingat tujuan kita,” cegah Lintang Tenggara masih menggunakan jalinan mata hati. (1)

Bintang Tenggara melirik kepada Guru Muda Khandra. Ketika tatapan mata keduanya bertemu, terdapat kesamaan pandangan di antara mereka. Dari gelagat Lintang Tenggara dan Kum Kecho saat ini, sepertinya sedang terjadi pertikaian. Sampai dapat diketahui sepenuhnya apa rencana Partai Iblis, maka sebaiknya tidak mengambil tindakan terlebih dahulu. Jangan memancing di air keruh. 

“Yang Mulia Balaputera Lintara dari Kadatuan Kesembilan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, izinkan kami meneruskan perjalanan…,” ujar Guru Muda Khandra santun, walau tebersit cemooh dengan ia menyebut nama dan asal lawan bicaranya. 

“Yang Terhormat Guru Muda Khandra, dalam waktu dekat ini, mari kita duduk sembari menikmati tuak. Entah sampai berapa cangkir dikau dapat bersulang…” Kata-kata balasan Lintang Tenggara tampil dengan nada menantang.

“Sungguh sebuah kehormatan… Diriku akan sangat menantikan kesempatan tersebut…”

Demikian, Guru Muda Khandra dan rombongannya meneruskan langkah mendaki, sedangkan Balaputera Lintara bersama rombongannya menuruni wilayah perbukitan. 

“Bukankah itu kakakmu, si Petaka Perguruan…?” bisik Canting Emas. 

“Benar.”

“Kita wajib melaporkan keberadaanya kepada pihak berwenang!” Canting Emas terlihat gusar.

“Tidak sebelum kita mengetahui apa maksud dan tujuan mereka di tempat ini…,” Bintang Tenggara menanggapi tenang. Di saat yang sama, dirinya pun teringat bahwa belum memiliki pengetahuan mengenai apa yang mereka lakukan di bantaran Sungai Sari Madu.

“Kau lihat gadis-gadis dalam rombongan kakakmu tadi…?” Aji Pamungkas menyela. 

“Ada apa dengan mereka!?” Canting Emas mencium gelagat berbau busuk. 

“Empat gadis itu…” Aji Pamungkas mengabaikan Canting Emas dan segera menarik lengan Bintang Tenggara. “Kesemuanya memiliki ciri yang berbeda-beda. Sungguh merupakan mimpi terindah bila diriku dapat bermalam satu kemah bersama mereka…”

“Kau hendak bermalam dengan dayang-dayang Kum Kecho…?” Bintang Tenggara cukup mengenal kekejian gadis-gadis tersebut dalam pertempuran. “Silakan saja…”

“Benarkah…? Apakah engkau dapat memintakan izin kepada kakakmu…?”

“Jangan gila!” hardik Canting Emas sembari mengayunkan tinju.

Namun demikian, Aji Pamungkas cukup waspada sehingga dengan mudahnya melompat gesit ke sisi Guru Muda Khandra. Selama perjalanan ini, ia sudah dapat menyimpulkan bahwa Canting Emas menyimpan perasaan kepada sang guru muda. Oleh sebab itu, di hadapan Guru Muda Khandra maka Canting Emas senantiasa berupaya tampil semanis mungkin. 

Sesuai perkiraan, Canting Emas tiada mengejar. Menelan kekesalan, gadis tersebut melontar pandang ke arah bantaran sungai. Di bawah sana terlihat Lintang Tenggara yang sedang melakukan tawar-menawar dengan sekelompok ahli. Negosiasi berlangsung singkat di antara mereka, dan Lintang Tenggara mengeluarkan sekantung kepingan. Bersama dengan rombongannya, ia lantas menempati kemah yang sangat strategis di bantaran sungai. 

Bintang Tenggara menyaksikan pemandangan yang sama, dan sontak menoleh kepada Balaputera Khandra. Terlihat tokoh tersebut melangkah tanpa beban. “Kita dapat membeli tempat…,” cibirnya pelan. 

“Hmph…,” dengus Balaputera Khandra. “Dari atas perbukitan ini, kita dapat menikmati pemandangan yang lebih indah…” Terdengar jawaban tenang. 

Bintang Tenggara tak meneruskan upaya. Ia membaca rencana Balaputera Khandra yang berniat mengawasi keadaan, di mana wilayah perbukitan merupakan tempat terbaik. Kendatipun demikian, perlu disadari bahwa jawaban Balaputera Khandra setengahnya merupakan dalih belaka. 

“Hei!” Tetiba seorang gadis terlihat melangkah cepat ke arah Bintang Tenggara. Kehadirannya menarik perhatian banyak ahli, yang mana kesemuanya memelototi raut wajah dan pembawaan nan demikian anggun.

“Lampir!” teriak Aji Pamungkas sembari membuka kedua lengan. Ia lantas bergerak cepat hendak mendekap tubuh ramping gadis tersebut. Namun, pada detik-detik terakhir, ia menyaksikan gadis lain lagi. “Citra!” 

Lampir Marapi terlihat salah tingkah, sehingga membiarkan saja Aji Pamungkas yang hendak memeluk tubuhnya. Akan tetapi, Aji Pamungkas rupanya tak mudah puas karena hendak memeluk Citra Pitaloka juga. Bila dapat memeluk kedua gadis belia dari Sanggar Sarana Sakti secara bersamaan, maka pencapaiannya sebagai seorang lelaki akan naik ke tingkatan yang lebih tinggi lagi! Akan tetapi, jarak yang memisahkan Lampir Marapi dan Citra Pitaloka cukup jauh, sehingga pada akhirnya Aji Pamungkas hanya merentangkan lengan dan gagal memeluk keduanya. 

“Apa yang kau lakukan di sini!?” Lampir Marapi tiba di hadapan Bintang Tenggara dan seperti biasa ia terlihat manja. 

“Sungguh aku tak tahu…,” jawab Bintang Tenggara jujur. “Mungkin sama dengan apa yang hendak kalian lakukan…”

“Kalian juga menunggu Ombak Tujuh Hantu…?” Citra Pitaloka menyela. 

“Tentu saja,” tetiba Aji Pamungkas datang dan hendak merangkul pundak kedua gadis. Raut wajahnya penuh gairah. “Akh!” 

Cengkeraman jemari Canting Emas sudah menjambak rambut Aji Pamungkas. Ia memisahkan pemuda tersebut dengan kedua gadis. 

“Dikau pastilah Canting Emas,” tanggap Citra Pitaloka santun. “Perkenalkan, diriku adalah Citra Pitaloka dan ini rekanku Lampir Marapi.” 

“Salam kenal wahai Yang Mulia Citra Pitaloka dan Lampir Marapi. Sungguh kalian berbeda dengan gambaran yang pernah disampaikan Aji…”

“Oh…? Seperti apakah Aji menggambarkan kami…?” gerutu Lampir Marapi.

Aji Pamungkas berhasil melepaskan diri. “Anggun dan juwita tentu saja!” teriaknya setengah panik.

“Srash!” 

Rangkaian ombak raksasa kembali bergulung perkasa di tengah sungai. Ribuan ahli Kasta Perak sontak berduyun ke bantaran sungai, ada yang berlari tak sedikit yang melayang. Mereka terlihat menantikan kehadiran sesuatu yang telah lama dirindu 

“Hm… Sudah enam gelombang…?” Citra Pitaloka mencermati. 

“Benar,” tanggap Canting Emas cepat. 

“Baiklah, kami akan turun terlebih dahulu. Singgahlah ke kemah kami bila ada waktu.”

“Pasti!” Aji Pamungkas yang menanggapi. 

Demikian, rombongan dari Sanggar Sarana Sakti yang dipimpin oleh seorang guru muda belum dikenal menuruni wilayah perbukitan. Sungguh acuh tak acuh guru muda tersebut, selayaknya seseorang yang menjalani tugas biasa saja. Terlepas dari itu Bintang Tenggara dapat bernapas lega, karena Maha Guru Kesatu dari perguruan tersebut tak ikut serta. Apa jadinya jikalau Balaputera Khandra, Lintang Tenggara serta Sangara Santang berkumpul di satu tempat yang sama…? Kiamat Sudah dekat!

Di bawah, terlihat rombongan tersebut mendatangi salah satu kemah. Para pemilik kemah membungkukkan tubuh, kemudian beranjak pergi penuh hormat. Menyaksikan pemandangan tersebut, Bintang Tenggara kembali menoleh kepada Guru Muda Khandra. “Mengapa Perguruan Gunung Agung tak mengirimkan utusan terlebih dahulu untuk mengambil tempat…?” ujarnya dengan nada setengah mengejek. 

“Kita tak akan terlambat bila seseorang tak lelet dalam merangkai mustika baru…,” cibir Guru Muda Khandra pelan. “Yak! Kita akan mendirikan kemah di sini!” lanjutnya puas. 

Siang berganti malam. Bintang-bintang bertebaran di langit cerah ibarat ribuan kunang-kunang di padang rumput luas. Rembulan purnama bercahaya terang, seolah mengambil tempat sebagai pusat tata surya. Bintang Tenggara duduk menatap langit nan tanpa batas, sesekali ia menoleh ke arah ratusan kemah di bawah kaki bukit. Kini ia sadari, bahwa kemungkinan besar setiap perguruan, kalangan bangsawan, bahkan ahli tanpa perguruan yang kesemuanya masih berada pada Kasta Perak datang berkumpul. Jadi, tak heran bila dirinya akan bertemu sejumlah ahli Kasta Perak yang pernah dikenal. 

Kendatipun demikian, masih terngiang di dalam benaknya… Apakah gerangan maksud dan tujuan mereka…? Tentu bukan karena hendak menikmati keindahan gelombang semata…

“Kemah mana tujuan kita malam ini…?” Tetiba wajah Aji Pamungkas muncul di dekat lehernya. Pemuda tersebut berbisik pelan, dan bibirnya hampir menyentuh telinga Bintang Tenggara yang sedang hanyut dalam lamunan. 

“Hei!” Bintang Tenggara sontak mengelak dan menjaga jarak. 

“Kemah mana…?” ulang Aji Pamungkas penuh semangat. 

“Tidak sekarang. Banyak ahli yang masih terjaga…”

“Huehehehe… Sasaranmu adalah kemah Padepokan Kabut bukan…?”

Bintang Tenggara tak menjawab, sehingga Aji Pamungkas bebas membawa benaknya berkelana. “Jikalau aku… maka yang pertama kulakukan adalah melucuti kemben ungu itu. Lantas kubenamkan wajah di antara sepasang payudara ranum… Setelah itu, akan kujilati setiap bagiannya. Tak akan ada bagian yang tersisa! Terakhir, akan ku…” Aji Pamungkas berhenti sejenak, ia menatap dalam ke arah rekannya itu.

“Apa…?” Bintang Tenggara terpancing

“Akan kusedot…”

“Sedot apa!?” Canting Emas melangkah garang mendatangi.

“Air kelapa! Air kelapa!” Aji Pamungkas gelagapan. Jemari telunjukkan mengacung kepada pepohonan kelapa yang tubuh subur di bantaran sungai. “Segar…”

“Kalian hendak minum air kelapa di malam hari…?” Canting Emas berujar penuh curiga. 

“Apa salahnya…?” bela Bintang Tenggara. 

“Kalau kalian menyusun rencana cabul, maka…”

“Maka apa…?” Bintang Tenggara tak senang dicurigai.

 “Sudahlah! Guru Muda Khandra memanggil kita.” 

Canting Emas bersama Bintang Tenggara dan Aji Pamungkas melangkah masuk ke dalam kemah. Dari luar, ukurannya kemah terbilang kecil sehingga hanya cukup untuk menampung tak lebih dari enam ahli. Akan tetapi, ketika melangkah masuk, Bintang Tenggara merasakan kehadiran lorong dimensi ruang. Mereka lantas tiba di dalam sebuah ruangan luas. Di sisi kanan, terdapat deretan empat kamar, demikian pula di sisi kiri. Di tengah ruangan, Guru Muda Khandra duduk bersama Panglima Segantang dan Kuau Kakimerah. Sebentuk lencana tergeletak di atas meja kecil. 

Bintang Tenggara melangkah tenang, walau dalam benak cukup takjub karena Balaputera Khandra memiliki kemah yang terhubung dengan dimensi ruang khusus. Sepertinya, kemah-kemah milik ahli lain juga memiliki kemampuan yang serupa.

“Duduklah…” Balaputera Khandra mempersilakan. 

Kelima Murid Utama Perguruan Gunung Agung menempati di kursi yang ditata setengah lingkaran. Guru Muda Khandra berada di hadapan mereka. 

“Ombak Tujuh Hantu hanya datang dalam seratus tahun sekali,” buka Guru Muda Khandra. “Oleh karena itu, kita perlu menyusun rencana dalam menyambut kedatangannya.” 

Bintang Tenggara menyimak dengan seksama. Akhirnya ia akan memperoleh jawaban atas pertanyaan yang sulit diajukan langsung. Malu rasanya bilamana terus bertanya kepada Balaputera Khandra. 

“Sebagaimana yang telah kalian ketahui, hanya ahli Kasta Perak yang dapat naik ke ‘sana’…”

Ke ‘sana’ mana…? batin Bintang Tenggara. Ke atas ombak…? Akan tetapi, ia menahan rasa ingin tahu dan menanti kelanjutan penjelasan. 

“Di atas sana, banyak anugerah yang dapat diraih oleh ahli Kasta Perak seperti kita. Namun demikian, persaingan untuk memperoleh anugerah tersebut pun sangatlah berat. Ribuan ahli akan berebut untuk mendapatkan anugerah yang terbatas jumlahnya…”

“Brrrttt…” Di saat penjelasan hendak dilanjutkan, lencana di atas meja bergetar kencang. 

“Sudah waktunya!” Guru Muda Khandra sontak bangkit berdiri. Ia bergegas menuju pintu keluar, diikuti oleh lima muda-mudi. 

Enam ahli dari Perguruan Gunung Agung melangkah ke luar dari kemah. Dari atas bukit, mereka menyaksikan ombak raksasa bergulung. Tujuh jumlahnya ombak. Kendatipun demikian, kali ini yang membuat terpana bukanlah Ombak Tujuh Hantu, melainkan sesuatu yang datang bersamaan dengan ombak tersebut.

Suasana hiruk-pikuk berbaur dengan teriakan riuh-rendah. 

Segenap ahli di bantaran sungai sudah mulai bergerak. Dengan tangkas dan gagah mereka maju menantang ombak raksasa. Bintang Tenggara masih terpana karena sedang menyaksikan sebuah perahu layar. Ukurannya maha besar dengan layar-layar menyala kuning yang berkibar perkasa! 

“Cepat! Cepat naik!” 

“Jangan tertinggal!”

“Lancang Kuning sudah datang!” (2)



Catatan:

(1) Episode 384

(2) Dalam hikayat melayu (Riau, Kepulauan Riau, Johor, Melaka, dll.) perahu yang khusus dipergunakan untuk berperang dinamai ‘Lancang’. Lancang juga sering digunakan oleh kalangan diraja sebagai kapal komando di antara armada angkatan laut kerajaan.

Lancang Kuning adalah perahu yang melambangkan kebesaran, kejayaan, kekuasaan, serta kepahlawanan. Lancang Kuning diabadikan dalam nyanyian rakyat, dijadikan salah satu unsur utama dalam upacara adat serta dituangkan dalam ceritera dan tarian.