Episode 103 - Erwin


Erwin, dia adalah seorang siswa yang bersekolah di SMA yang sama dengan Danny, akan tetapi berbeda kelas dengannya. Rambutnya disisir rapi ke arah kanan dan memakai kacamata tebal di atas matanya yang tajam.

Tidak seperti murid lainnya, ketika waktu istirahat datang, Erwin segera melahap roti yang dia simpan di dalam tasnya lalu meminum air yang telah dia bawa dari rumah. Setelah itu Erwin berjalan cepat menuju perpustakaan tanpa memedulikan siapapun.

Duduk di kursi pojok ruangan, Erwin dengan tenang membaca buku yang berada di hadapannya. Dia tidak tertarik untuk bergaul dengan teman-temannya karena Erwin merasa hal itu hanya percuma saja.

Menertawakan omong kosong yang dia tidak tahu dibagian mana lucunya, bernyanyi tidak jelas dan tanpa makna, membicarakan acara tidak penting di televisi. Semua itu hanya membuang-buang waktu saja baginya. Daripada melakukan semua itu, Erwin lebih suka duduk dengan tenang seraya membaca buku dan menambah pengetahuannya.

Ketika bel tanda pelajaran dimulai kembali, Erwin bangkit dari duduknya dan menyimpan buku di tempat dia mengambilnya dan berjalan kembali ke kelasnya. Tidak ada satupun yang menyapanya, karena mereka tahu bahwa itu percuma, sebab Erwin selalu mengabaikan hal sapaan mereka.

Beberapa saat setelah seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas, dia segera mengumumkan bahwa mereka akan diberi tugas kelompok. Sementara teman-temannya sibuk mencari kelompok, Erwin dengan acuh membaca buku di depannya.

"Erwin, kamu sudah dapat kelompok?" tanya guru perempuan pada Erwin.

"Tidak." Jawab Erwin singkat.

Guru perempuan melihat ke sekeliling dan kemudian tatapannya tertuju pada kelompok yang masih beranggotakan empat orang, karena jumlah siswa di kelas ini adalah 30 orang, jadi hanya kelompok tersebut yang kekurangan 1 anggota.

Namun, tiba-tiba saja salah satu dari empat orang itu berkata. "Buk, kami tidak mau satu kelompok dengan dia."

Guru perempuan tersenyum kecut pada apa yang siswanya tersebut katakan. Dia sudah mengajar di kelas ini cukup lama, jadi dia sudah cukup paham bagaimana sikap sebagian siswanya. Walaupun Erwin memiliki nilai yang baik, tapi dia tidak memiliki satu pun teman karena sikapnya yang buruk.

"Saya tidak keberatan sendirian, saya malah keberatan jika berkelompok dengan orang-orang bodoh seperti mereka." Ucap Erwin dengan tenang.

Brak.

"Apa kau bilang!?" teriak siswa yang menolak Erwin tadi seraya memukul mejanya, raut wajahnya memerah karena marah.

"Dasar bodoh. Maknanya sama seperti yang aku katakan." Jawab Erwin dengan tenang seraya membenarkan posisi kacamatanya.

"Kau...!" siswa itu geram dan menatap tajam pada Erwin.

"Baiklah, cukup kalian berdua. Kalau Erwin tidak keberatan sendirian maka tidak apa-apa." Guru perempuan itu menyerah untuk membuat Erwin memiliki teman, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi ketika jam pelajarannya sedang berlangsung.

Pada saat pulang sekolah, sesaat setelah guru meninggalkan kelas, sekelompok siswa berdiri mengelilingi Erwin.

"Minggir." Ucap Erwin.

Namun, mereka tidak bergeming. Senyum jahat terlukis di wajah mereka dan kemudian dengan paksa menyeret Erwin ke belakang sekolah.

Kemudian, seraya memaki dengan kata-kata kotor, mereka semua mulai menghajar Erwin. Di sisi lain, Erwin diam dan tidak melawan, menerima semua pukulan serta tendangan pada tubuhnya, meskipun begitu Erwin tetap diam tak bersuara.

"Dasar kutu buku, beginilah akibatnya jika kau bersikap kurang ajar, renungkan sikapmu."

"Cih, ayo kita pergi saja."

Setelah puas, mereka meninggalkan Erwin yang babak belur dan kotor di sana sendirian. Meskipun begitu, tidak ada emosi marah atau dendam di matanya. Dia hanya menatap mereka seperti melihat binatang yang memang sudah sewajarnya melakukan hal-hal  kasar seperti barusan.

"Seperti yang aku pikirkan, mereka hanya orang bodoh." Ucap Erwin seraya berdiri dan membersihkan debu pada pakaiannya. Bersamaan dengan jatuhnya debu-debu dari pakaian Erwin, luka-luka pada wajah dan tubuhnya hilang tak berbekas, seperti tak pernah ada sebelumnya.

Erwin mengambil tasnya dan bergegas pulang.

Keesokan harinya, teman sekelas yang telah menghajar Erwin tercengang ketika melihat Erwin dalam keadaan baik-baik saja. Padahal kemarin mereka telah menyiapkan beberapa alasan jika Erwin mengadu pada guru atas apa yang terjadi. Namun, mereka juga merasa lega karena tidak ada bukti bahkan jika Erwin mengadu. 

Seperti biasanya, Erwin duduk sendiri di kelas seraya membaca buku. Tanpa memedulikan tatapan tajam orang-orang yang kemarin menghajarnya, dia tidak mau menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal sepele seperti balas dendam dan semacamnya.

Dari luar kelas, seorang pria kurus masuk sambil membawa banyak makanan ringan lalu memberikannya pada rombongan yang menghajar Erwin kemarin.

"Uhmm..." Pria kurus itu berdiri dengan gugup sambil menunggu mereka untuk memberikan uang, karena sebelumnya mereka berkata akan memberikan uang sebab semua makanan ringan itu dibeli menggunakan uangnya sendiri.

"Apa!? Cepat pergi." Bentak salah satu siswa sambil memakan makanan ringan.

"Tapi ... Uangnya." Ucapnya pelan dan takut.

"Aku tidak bawa uang, aku pinjam uangmu dulu." Ucap siswa itu enteng.

"Benar, aku juga tidak bawa uang, jadi cepat pergi." 

"Tapi..." Pria kurus itu tetap mencoba, karena dia membutuhkan uang itu untuk makan siangnya sendiri.

"Kau itu cuma merusak pemandangan, cepat pergi, dasar banci." Ucap seorang siswa sambil mendorong tubuh kurusnya.

Siswa itu menggigit bibirnya sambil menundukan kepala lalu diam-diam pergi meninggalkan mereka. Siswa disekitarnya tidak peduli dan hanya melihat kejadian itu terjadi, mereka sudah terbiasa dengan sikap siswa-siswa itu yang sangat tidak masuk akal.

"Segerombolan orang bodoh." Gumam Erwin yang sedari tadi melirik mereka dari kursinya.

Melihat kejadian itu membuat suasana hati Erwin menjadi buruk, karena itu dia beranjak dari tempat duduknya menuju toilet.

Erwin membasuh wajahnya lalu mengeringkannya menggunakan sapu tangan. Kemudian Erwin memasang kembali kacamatanya dan melihat pantulan dirinya di cermin.

Erwin membuka mulutnya dan meraih sesuatu dari dalam mulutnya. Itu adalah sebuah kepingan yang tidak dia tahu dari mana asalnya. Namun, kepingan tersebut dengan anehnya memberikan kekuatan yang besar pada Erwin.

Dengan kekuatan tersebut, seharusnya Erwin bisa dengan mudah mengalahkan orang-orang yang menghajarnya kemarin atau membela anak laki-laki yang di tindas di kelasnya. Namun, Erwin tidak melakukan hal tersebut.

Ada beberapa alasan, selain karena dia tidak peduli. Dia juga tidak memiliki ambisi dan keinginan. Dunianya sangat hambar, meskipun dia samar-samar merasa kepingan aneh itu akan membuat dunianya lebih berwarna, tapi sampai saat ini hal itu belum terjadi.

Erwin memasukkan kembali kepingan tersebut dan kemudian kepingan itu seakan mencair dan masuk ke dalam tubuhnya lagi. Energi besar mengalir ke seluruh tubuhnya dan dia merasakan kekuatan yang bergejolak di hatinya.

Erwin menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan gelora di dadanya lalu kembali menatap cermin di depannya. Kemudian Erwin mengambil sisir dari saku celananya dan membenarkan posisi rambutnya yang sedikit berantakan karena mencuci wajahnya barusan.

Setelah selesai, Erwin kembali ke kelasnya dengan hati yang sudah tenang dan damai.

Erwin duduk di kursinya dan menutup matanya, memikirkan apa yang harus dia lakukan dengan kekuatan yang telah dia terima dari kepingan yang meresap ke dalam tubuhnya. Dalam beberapa pilihannya, menggunakan kekuatan untuk memberikan pelajaran kepada teman-temannya tidak termasuk ke dalamnya, dia merasa kekuatan itu terlalu baik untuk digunakan pada hal tersebut.

'Membela keadilan? Jangan bercanda, dunia ini dari awal memang sudah tidak adil dan tidak mungkin aku bisa merubah dunia, meskipun aku memiliki kekuatan yang besar, aku bukan Tuhan yang maha segalanya.'

'Menumpas kejahatan? Itu adalah tugas kepolisian, aku tidak punya tanggung jawab untuk melakukan hal tersebut, dan meskipun ada yang bilang bahwa orang yang berbakat memiliki kewajiban untuk menggunakan bakatnya baik-baik, aku tidak akan peduli.'

'Mencari kekayaan? Meskipun aku tidak memiliki kekuatan ini, aku bisa melakukannya menggunakan kepalaku, jadi itu bukan jawabannya.'

Pada akhirnya, Erwin masih tidak tahu akan digunakan untuk apa kekuatan yang dia dapatkan tersebut.

Sempat terlintas di dalam kepalanya untuk membuang kepingan itu, akan tetapi dia mengurungkan niatnya tersebut.

Membuka matanya, Erwin melihat ke sekeliling kelasnya, teman-teman sekelasnya tertawa dan mengobrol dengan senangnya, sebuah kebahagiaan yang sederhana yang tidak pernah bisa Erwin mengerti.

Sejak kecil, Erwin di didik untuk menjadi orang pintar, setiap harinya dia harus menghadiri les-les yang telah orang tuanya daftarkan untuknya. Meskipun di tempat les tersebut Erwin bertemu dengan anak sebayanya, tapi mereka selalu kalah jika dibandingkan dengan Erwin.

Melalui doktrin orang tuanya juga Erwin jadi berpikir bahwa adalah hal yang percuma untuk bergaul dengan orang yang tidak selevel dengannya. Tidak ada kebahagiaan dari pembicaraan omong kosong. 

Setelah menjadi yang terbaik dari segalanya, Erwin merasa kosong. Tidak ada tantangan berarti yang bisa membuat dia merasa bersemangat. Bahkan meskipun tidak mendapatkan kepingan aneh itu, Erwin pasti bisa mengalahkan teman-teman yang menghajarnya karena dia juga memiliki kekuatan sabuk hitam.

Erwin menatap langit-langit kelasnya dan membuat kepingan itu berada di mulutnya. Tidak ada rasa pahit atau apapun pada kepingan itu, Erwin juga tidak tahu tercipta dari apa kepingan yang bisa mencair dan masuk ke dalam tubuhnya itu.

Namun, meskipun begitu, Erwin tidak peduli, dia hanya menantikan nasib apa yang akan dia lalui setelah mendapatkannya. Dia memiliki firasat, sebuah masalah pasti akan menghampirinya, tapi bukannya takut, Erwin malah menantikan masalah itu datang dan berharap masalah itu tak sederhana, karena dia ingin merasakan perasaan hidup seperti dulu lagi.

Di dunianya yang kelabu, Erwin menantikan pelangi yang akan mewarnai harinya.

Dan benar, sebuah kejadian besar akan menyeret Erwin ke dalam masalah yang tidak bisa dia selesaikan sendiri.

Namun, bukan saat ini, tapi di masa depan yang belum pernah Erwin bayangkan.

Harapannya terkabul dan dari kejadian itu pula Erwin akan menemukan teman pertamanya yang bisa bersaing dengannya.