Episode 405 - Ombak Tujuh Hantu



Rombongan yang dikomandoi Guru Muda Khandra mencari tempat di bantaran sungai nan membentang panjang. Kehadiran ribuan ahli, lelaki dan perempuan, yang sebagian besarnya berusia dewasa muda namun masih berada pada Kasta Perak, membuat bantaran sungai terlihat sesak. Apakah sedang berlangsung pertemuan besar ahli Kasta Perak…? Apakah gerangan yang membuat mereka berkumpul..?

Canting Emas dan Kuau Kakimerah melangkah berdampingan, diikuti Bintang Tenggara dan Panglima Segantang. Paling belakang adalah Aji Pamungkas yang senantiasa menebar jalinan mata hati mengawasi. Tentunya pemuda di urutan terakhir itu bukan hendak berjaga di sisi belakang, melainkan sedang mencari-cari gadis belia di antara ribuan ahli, yang kiranya dapat menjadi incaran kata-kata manis kemudian diharapkan berujung pada pergumulan di mana ia dapat mengerahkan jurus persilatan Beulut Darat!  

“Sepertinya kita terlambat…,” keluh Guru Muda Khandra sembari melirik kepada Bintang Tenggara. Ia lantas melangkah menjauh dari aliran sungai. 

Telah diketahui bahwa sungai tersebut terletak di Pulau Barisan Barat, namun bukanlah Sungai Kepetangan Hari. Ukuran lebarnya sedikit lebih kecil dan airnya tenang ibarat permukaan cermin. Jumlah kemah yang berdiri di bantaran sungai sudah dalam bilangan ratusan, sehingga sudah tak mungkin mendapat posisi yang dekat dengan aliran sungai. 

“Dengan dukungan formasi segel dari Yang Terhormat Guru Muda Khandra, bagaimana mungkin engkau lambat beranjak naik ke Kasta Perak Tingkat 4…?” timpal Canting Emas tanpa menyembunyikan kekagumannya kepada sosok guru muda nan mempesona.

“Sahabatku sengaja hendak memantapkan pijakan! Apa gunanya terburu, jikalau pada akhirnya kurang piawai dalam pertempuran…?” bela Panglima Segantang sembari menyindir Canting Emas yang tampil paling cepat dalam merangkai mustika baru.

“Oh…? Kau sudah mulai dapat bermain kata-kata…? Bagaimana kalau kita lihat siapa yang lebih ‘piawai’ dalam pertarungan…?”

“Kau jual, aku beli!” 

Canting Emas memasang kuda-kuda dan Panglima Segantang menyibak kembangan. Aura tenaga dalam keduanya meningkat pesat. Pertarungan akan segera pecah di tengah khalayak ramai!

“SRASH!” 

Tetiba suara bergemuruh mengemuka bersamaan dengan gugusan gelombang pasang raksasa yang bergulung di tengah sungai. Ribuan ahli sontak bergerak mendekat. Mereka mengetahui bahwa gelombang pasang tersebut sesungguhnya merupakan suatu peristiwa alam yang terjadi akibat pertemuan arus pasang air laut dengan arus sungai dari hulu menuju muara di hilir sungai. Dengan kata lain, ada tiga arus yang masing-masing berasal dari Selat Malaka, Samudera Utara dan aliran sungai itu sendiri yang berbenturan. 

Dalam kajian ilmu alam, gelombang semacam ini merupakan salah satu peristiwa alam yang teramat langka, di mana gelombang raksasa yang layaknya terjadi di tengah lautan dapat berlangsung di aliran sungai air tawar. Sebagai tambahan, dampak benturan aliran air di muara sungai itu menimbulkan gelombang yang mencapai ketinggian enam sampai delapan meter, yang kedatangannya ditandai dengan suara gemuruh nan hebat! 

Sunggguh peristiwa alam yang mengagumkan, membuat ribuan ahli yang bersiaga di bantaran sungai mengingat betapa digdaya alam raya ini. Ratusan ahli lantas melompat sigap menghindar dari wilayah bantaran yang dilibas gelombang deras. 

Pemandangan yang mencengangkan itu serta-merta menghentikan pertarungan yang baru akan dimulai antara Canting Emas dan Panglima Segantang. Dari raut wajah keduanya, dapat diperkirakan bahwa mereka dapat menyimpulkan perihal gelombang pasang raksasa itu. 

“Kita berada di bantaran Sungai Sari Madu!” Canting Emas menoleh kepada Guru Muda Khandra. Raut wajahnya seolah tak percaya. 

“Itu… itu adalah Ombak Tujuh Hantu!” sergah Panglima Segantang. Sorot matanya penuh semangat, lebih bersemangat daripada kesempatan bertarung dengan Canting Emas. (1) 

Guru Muda Khandra mengangguk kepada Canting Emas, lantas kepada Panglima Segantang ia menggelengkan kepala. “Belum,” ujarnya pelan. “Gelombang raksasa itu belum mencapai Ombak Tujuh Hantu, karena jumlah ombaknya baru lima sahaja.” 

“Bila demikian…” Canting Emas melompat-lompat girang selayaknya anak gadis yang menanti hadiah dari kekasih hati. 

“Benar, kita belum sepenuhnya terlambat…” 

“Terlambat untuk apa!?” Akhirnya Bintang Tenggara yang mencuri dengar dan hanya memiliki pengetahuan sangat terbatas seputar Pulau Barisan Barat, angkat suara. 

Gelombang pasang di Sungai Sari Madu mereda. Guru Muda Khandra meneruskan langkah tanpa menanggapi. Karena sudah tak memiliki tempat di dekat aliran sungai, mereka terpaksa membangun kemah lebih ke arah darat. 

“Bintang di langit tenggara…” Tetiba terdengar suara menyapa. Datangnya bukan dari Kuau Kakimerah, melainkan dari seorang pemuda bertubuh mungil bila dibandingkan dengan Panglima Segantang.

“Eh…?” Bintang Tenggara membalikkan tubuh, lantas terkejut sangat. Ia mengamati sorang pemuda yang memiliki sejumlah rajah pada permukaan tubuhnya. 

“Pahari Ije Tatu Kuau,” lanjut pemuda itu membungkukkan tubuh kepada Kuau Kakimerah. (2)

“Puyuh!” tanggap Bintang Tenggara akhirnya mengenali Puyuh Kakimerah, putra dari Mama’ Tiong Kakimerah, sepupu lelaki dari Kuau Kakimerah. Perawakan tubuhnya kecil, pun wajahnya mirip sekali dengan Kuau Kakimerah.

“Apa yang dikau lakukan di sini…?” 

“Sama dengan ikeu…,” jawaban terdengar dari seorang pemuda bertubuh tegap yang mengenakan ikat kepala. 

Bintang Tenggara mengenali pemuda tersebut, bahkan dirinya pernah kalah telak dalam pertarungan menghadapinya. Oleh sebab itu, pemuda itu hanya mengangguk menjawab teguran Djata Pangkalanbun. (3)

“Kaayat Kapuas!” Canting Emas melompat ke arah seorang gadis berusia sepantaran dengan perawakan yang mirip dengan dirinya. Mereka lantas berdekapan selayaknya gadis-gadis yang sudah lama tiada bersua. 

“Bakena Amuntai!” tanggap Panglima Segantang melangkah maju. Ia lantas menjabat lengan seorang gadis berparas cantik. 

“Yo! Simpei Kahung!” sapa Aji Pamungkas. Kendatipun demikian, pandangan matanya menunjukkan rasa iri nan besar yang tertuju kepada Panglima Segantang. 

“Mawinei Sarempaka mengucapkan salam kenal kepada Guru Muda Khandra.” Terakhir, seorang perempuan dewasa muda mendatangi Balaputera Khandra. Ia berada pada Kasta Perak Tingkat 8. 

“Oh… Kumohon jangan berlebihan,” tanggap Balaputera Khandra menyibak senyuman ramah. “Nama dan kepiawaian Pangkalima Muda Mawinei Sarempaka dari Rumpun Dayak Gunung harum tercium sampai Pulau Dewa.” 

Senyuman di wajah Balaputera Khandra membuat muak Bintang Tenggara. Kendatipun demikian, mendengar istilah Rumpun Dayak Gunung, pemuda itu segera menyadari bahwasanya mereka yang jauh-jauh datang dari Pulau Belantara Pusat merupakan perwakilan dari keenam rumpun, yaitu: Rumpun Dayak Hulu, Rumpun Dayak Tanah Datar, Rumpun Dayak Hilir, Rumpun Dayak Laut, Rumpun Dayak Rawa serta Rumpun Dayak Gunung. Canting Emas, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas mengenali mereka karena pernah bergabung ke dalam masing-masing kelompok pada saat upacara adat Goa Awu-BaLang. 

“Guru Muda Khandra yang terlalu berlebihan…,” tanggap perempuan dewasa muda itu santun. 

“Jadi, mereka ini adalah muda-mudi yang menunjukkan kebolehan dalam upacara adat Pulau Belantara Pusat tahun lalu…?” lanjut Balaputera Khandra. 

Tukar-menukar kata sanjungan membuat jengah, sehingga perhatian Bintang Tenggara kembali beralih kepada Puyuh Kakimerah. “Selamat, dikau telah memperoleh Rajah Kinyah…”

Puyuh Kakimerah nan bertelanjang dada terlihat salah tingkah atas pujian Bintang Tenggara. Sebagaimana diketahui, para ahli di Pulau Belantara Pusat memiliki jalan keahlian yang berbeda dengan ahli di pulau-pulau lain di Negeri Dua Samudera. Mereka membangun hubungan dengan roh, demi meminjam kemampuan. Pada tahap awal, pemanfaatkan roh bersifat sementara melalui Rajah Roh. Jikalau sudah melalui ujian kedewasaaan, maka pemuda dan pemudi dayak berhak memperoleh Rajah Kinyah yang bersifat permanen karena melekat dalam wujud tatto di permukaan tubuh mereka. 

Demikian, adalah penyebab mengapa Bintang Tenggara dan rekan-rekannya yang tak berdarah dayak tiada dapat mengerahkan Rajah Roh di luar Pulau Belantara Pusat. Hanya yang memiliki Rajah Kinyah yang berhak membawa roh keluar bersama dengan mereka. (4)

“Kami mendirikan kemah tak jauh dari bantaran sungai,” ujar Mawinei Sarempaka. “Silakan bila Guru Muda Khandra dan rekan-rekan hendak menempati bersama. Masih tersedia cukup ruang.”

“Terima kasih, wahai Pangkalima Muda. Akan tetapi, kami memutuskan untuk menanti di tempat yang lebih tinggi.” Balaputera Khandra menolak dengan halus sembari mengacu kepada wilayah perbukitan tak jauh dari bantaran sungai.

“Baiklah, bilamana demikian.” Pangkalima Muda Mawinei Sarempaka terlihat keberatan, sudut matanya tertuju kepada Kuau Kakimerah. Sejenak kemudian, perempuan dewasa muda itu menganggukkan kepala kepada muda-mudi dayak yang berada di bawah pengawasannya. Mereka pun undur diri untuk kembali ke kemah. 

Balaputera Khandra meneruskan langkah. “Tampaknya Dewan Dayak telah mengangkat status pengkhianat dari Dayak Kaki Merah…,” bisiknya pelan. 

Kuau Kakimerah mengangguk pelan. 

“Dan sebagai kunci menuju dimensi dunia Goa Awu-BaLang, tampaknya Dewan Dayak ingin mencegah sesuatu yang buruk agar tak menimpa dikau. Sampai mengirimkan utusan sebagai pengawal…,” lanjut Balaputera Khandra sembari mendaki bebatuan.

Bintang Tenggara yang senang mencuri dengar, selalu penasaran dengan bagaimana Balaputera Khandra dapat memiliki pengetahuan yang demikian mendalam terkait banyak hal. Dalam kesempatan yang sama, kini ia sadari bahwa satu-satunya cara untuk mengungguli tokoh tersebut, adalah dengan memiliki pengetahuan yang lebih luas lagi.  

“Enyah kalian!”

“Ini adalah tempat kami! Jangan berbuat sesuka hati!”

Keributan tetiba pecah di salah satu lokasi strategis di bantaran sungai. Enam ahli, yang mana kesemuanya merupakan lelaki dewasa muda pada Kasta Perak Tingkat 4 dan Tingkat 5, terlihat murka dan berupaya mencegah agar wilayah perkemahan yang ditempati tak dirampas. Di hadapan mereka, berdiri lima ahli yang masing-masing mengenakan jubah gelap. Seorang lelaki tua dan renta terlihat berdiri kepayahan di barisan paling belakang. 

“Kalian hendak cari mati!” Seorang lelaki dewasa muda melangkah maju. Dari pembawaannya, terlihat jelas bahwa ia akan mempertahankan wilayah perkemahan serta harga diri mereka sampai ke tetes darah penghabisan. 

Dari kejauhan, Bintang Tenggara menyaksikan banyak ahli-ahli lain menyingkir dari pusat keributan. Mereka tak hendak terlibat, apalagi terperangkap dalam pusaran pertarungan. Pemandangan yang berikutnya mengemuka, membuat Bintang Tenggara menganga…

Meski sang mentari bersinar terik, tetiba turun kabut pekat berwarna ungu mengepung keenam lelaki dewasa muda. Di saat yang bersamaan pula, empat ahli berjubah ungu melompat maju. Gerak-gerik mereka mencerminkan langkah perempuan-perempuan muda nan gemulai sekaligus tangkas. Adegan berikut tersamar, karena tak ada jalinan mata hati yang dapat menembus masuk ke dalam wilayah kabut. Seketika kabut ungu menipis, enam lelaki dewasa muda yang berada pada Kasta Perak Tingkat 4 dan Tingkat 5 telah meregang nyawa. Wilayah perkemahan telah diambil alih! 

“Cih! Perempuan-perempuan jalang dari Padepokan Kabut,” cibir seorang ahli tak dikenal di dekat Bintang Tenggara. 

“Hus! Jaga congormu! Kau mau kita mati konyol!?” tanggap rekannya gusar. 

Selama penjagalan dingin di bantaran sungai berlangsung, tatapan mata Bintang Tenggara tak lepas dari salah satu sosok berjubah ungu yang hanya berdiam diri di tempat. Pemuda itu sangat mengenali jubah yang dikenakan tokoh tersebut, serta lekuk molek tubuh yang tersamarkan di baliknya jubah. 

“Jangan sekarang…,” cegah Balaputera Khandra sembari menangkap pergelangan tangan pemuda yang hendak melompat turun ke bantaran sungai. 

Bintang Tenggara spontan menyentak lengan, namun cengkeraman Balaputera Khandra tak lepas semudah itu. Matanya hanya dapat melotot kepada sang saudara sepupu ketika mereka saling tarik. Sungguh pemandangan yang tersaji tak enak dipandang mata. 

“Ingat bahwa engkau adalah Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung!” sergah Guru Muda Khandra dengan suara pelan. “Kendalikan diri, jangan menunjukkan bahwa engkau mendukung perbuatan tercela Padepokan Kabut!”

Bintang Tenggara tak bergeming, namun cengkeraman pada pergelangan tangannya tiada mengendor.

“Masih ada kesempatan lain untuk bersua dengannya, tapi bukan sekarang…” Balaputera Khandra melepaskan cengkeraman pergelangan tangan secara perlahan. Tatapan matanya seolah mengingatkan bahwa pengendalian diri merupakan sesuatu yang diwajibkan bagi murid-murid dari perguruan tersohor.  

Menyadari bahwa dirinya hampir melakukan kesalahan yang dapat mencemarkan nama baik Perguruan Gunung Agung, Bintang Tenggara sedikit malu, apalagi adalah Balaputera Khandra yang berperan mengingatkan. Melontar pandang sekali lagi ke bawah, pemuda itu menyaksikan rombongan Padepokan Kabut menyingkirkan mayat dan mendirikan kemah baru. Pemuda itu lantas meneruskan langkah mendaki, benaknya memutuskan bahwa setelah sang mentari tenggelam baru ia akan menyambangi Embun Kahyangan,.

Beberapa puluh langkah kemudian, rombongan melewati ahli-ahli yang kiranya terlambat tiba sehingga terpaksa mendirikan kemah jauh dari bantaran sungai. Sesampainya di atas bukit, tetiba Guru Muda Khandra menghentikan langkah. Raut wajah yang sebelumnya tenang, berubah siaga. Bintang Tenggara, sedikit terlambat menyadari, namun segera bersikap waspada! 



Catatan: 

(1) ’Ombak Tujuh Hantu’ merupakan sebutan masyarakat setempat kepada gelombang atau ombak Bono yang terjadi di Muara Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Kehadirannya banyak dinanti oleh para peselancar. 

(2) Pahari Ije Tatu = Saudara sepupu

(3) Episode 290.

(3) Episode 290 dan 291.