Episode 102 - Dua Orang



Danny merasa kesal dengan dirinya yang terlalu terpengaruh terhadap sorakan penonton hingga akhirnya dia tidak mampu bertarung dengan baik. Meskipun dia tidak akan mendapatkan kerugian apapun bahkan jika kalah, tapi dia hanya tidak mau kalah setelah membayangkan apa yang mungkin akan Angel lakukan. 

Karena alasan tersebut, di tengah pertarungan Danny bertukar tempat dengan Dan. Hasilnya seperti yang sudah dia duga, Dan mampu mengalahkan musuhnya dengan mudah. Sebuah kemenangan telak.

Ketika Danny sudah keluar arena dan berjalan pergi, dia masih mendengar sorakan untuknya, atau tidak, lebih tepatnya mungkin untuk Dan, walaupun nama yang di sorakan adalah Dina. Untuk beberapa alasan, Danny menampilkan senyum pahit di wajahnya.

"Huh..." Desahan berat keluar dari mulut Danny.

"Ada apa?" tanya Dan dalam pikirannya.

"Tidak, bukan apa-apa." Jawab Danny sambil membuang yang ekspresi sebelumnya.

"Hmm, baiklah." Balas Dan.

Meskipun Dan bisa menebak apa yang sedang Danny rasakan, dia lebih memilih untuk menyingkirkannya saja. Seperti besi yang masuk ke dalam tungku api, akan terasa panas jika kau langsung memegangnya, pilihan terbaik adalah menunggunya lebih dingin terlebih dahulu. Yah, walaupun ada pilihan untuk menuangkan air di atasnya, tapi bagi Dan itu adalah sesuatu yang merepotkan, jadi dia membuang pilihan tersebut.

Keluar dari sana, Danny sudah di tunggu oleh seorang gadis seksi yang memakai pakaian ketat, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Angel. Dia menyipitkan matanya pada Danny yang berjalan mendekatinya.

"A-ada apa?" tanya Danny gelisah.

"Aneh." Hanya satu kata yang Angel katakan, untuk orang lain mungkin akan berdampak banyak, akan tetapi untuk Danny yang sering dikatakan seperti itu membuat kata itu tidak memiliki banyak dampak.

"Apa maksudmu?" tanya Danny, perasaan gelisah karena tatapan Angel menghilang, yang menggantikannya adalah perasaan kesal.

"Huh." Angel menghembuskan nafas berat. "Kau yang sekarang bukan kau yang aku kenal." Lanjutnya seraya melihat ke kejauhan.

Apa? Bagaimana bisa? Apakah Dan memberitahunya? Tidak, bukan itu. Ataukah karena sikapku yang terlalu jauh berbeda dari saat Dan yang mengambil alih tubuh ini. Sial! Ini adalah kesalahan, seharusnya dia yang menghadapi wanita ini, tapi karena kebiasaan lama, aku yang selalu melakukannya. Tapi ini tidak masalah, Yap, bukan masalah, bertambah satu orang lagi yang mengatakan aku aneh bukan masalah. Tapi, meskipun begitu ... Ugh ... Aku merasa seperti mendengar suara retak dari hatiku. 

"Kenapa kau berpikir seperti itu?" 

Baiklah, itulah cara terbaik, tidak perlu memikirkan banyak kemungkinan, lebih baik tanyakan langsung pada orangnya.

"Intuisi wanita." Jawab Angel dengan tenang.

Intuisi wanita katamu? Apa-apaan itu? Apakah itu benar-benar tepat? Kenapa kau mengandalkan sesuatu yang tidak pasti seperti itu. Tidak, banyak intuisi yang Ibuku katakan benar adanya. Jadi, aku sedikit yakin akan kebenarannya. Tapi, ya ampun, apakah intuisi adalah semacam cheat yang hanya Tuhan berikan kepada wanita? Kenapa sangat tepat?!

Dengan pikiran yang campur aduk, wajah Danny terdistorsi menjadi semakin kesal. Ya, dia merasa kesal, karena beberapa alasan.

"Terserah saja kau mau berpikir seperti apa, aku tetaplah aku." Ucap Danny seraya berjalan pergi.

Dalam pikirannya Danny berteriak kegirangan, yeah, kalimat yang telah aku susun jauh-jauh hari akhirnya bisa aku katakan.  

Pada awalnya dia ingin mengatakan kalimat itu kepada orang-orang yang menganggapnnya aneh karena berbicara sendiri, meskipun sebenarnya dia sedang berbicara dengan Dan. Namun, Danny tidak pernah menemukan kesempatan yang tepat untuk mengatakannya. 

Lalu, seketika saja kalimat itu muncul, dan tanpa penundaan Danny mengeluarkannya, membuat sebuah beban kecil di hatinya terangkat.

"Yah ... Kau benar." Balas Angel seraya mengikuti langkah Danny.

Danny menoleh ke arah belakang sesaat lalu kembali berjalan lagi.

"Ada apa?" tanya Angel penasaran, dia berpikir Danny menoleh karena ingin mengatakan sesuatu padanya.

"Tidak, tidak ada apa-apa." Balas Danny tanpa menoleh.

Angel berjalan lebih cepat dan menyusul ke samping Danny, matanya menyipit lalu berkata, "Seperti yang kuduga, aneh!"

"Katakan apapun yang kau suka." Balas Danny tidak berdaya.

Di sebuah tempat tidak jauh dari Danny dan Angel, seorang pria bersembunyi seraya memperhatikan mereka berdua, tidak, lebih tepatnya hanya pada Danny. Matanya menatap tajam pada punggung yang semakin menjauh tersebut lalu tidak lama kemudian menjadi sebuah tatapan yang dingin. "Sungguh mengejutkan aku bisa bertemu lagi denganmu, tapi ini belum saatnya, aku tidak perlu terburu-buru, aku harus menyelidiki kekuatannya terlebih dahulu." 

Monolognya yang pelan segera berlalu bersama hembusan angin, sosoknya yang bersembunyi berjalan menjauh menuju suatu tempat.

Danny singgah terlebih dahulu ke rumah Angel untuk membersihkan make up dan mengganti pakaiannya, kemudian setelah menolak tawaran untuk minum teh terlebih dahulu, dia segera pulang.

Setelah sampai di rumahnya, masih belum ada siapa pun, Ibunya belum pulang bekerja. Saat seperti ini, biasanya Danny akan berkunjung ke rumah tetangganya dan sekaligus sahabatnya, akan tetapi dia sudah tidak ada di sana lagi.

Membuka pintu kamarnya, Danny di suguhkan dengan pemandangan seekor kucing hitam sedang berbaring seraya membaca sebuah buku. Danny merasa khawatir jika ada orang yang akan dirugikan oleh kucing hitam yang bertekad untuk menguasai dunia tersebut, jadi dia membawanya ke rumah dan mengurungnya di kamar.

Tidak seperti sebelumnya, kucing hitam itu sudah tidak memiliki kekuatan supernya lagi, meskipun begitu dia masih bisa berbicara seperti manusia.

Pada awalnya, kucing hitam itu banyak memberontak dan mencoba kabur dari sana, akan tetapi setelah mendapatkan sedikit 'hukuman' dari Dan, kucing hitam itu berhenti bersikap nakal dan patuh. 

Setelah beberapa kali mencoba kabur, akhirnya kucing hitam sadar dan mulai memperbaiki sikapnya. Dia tahu dia sudah kehilangan kekuatannya, jadi dia mencoba untuk menggunakan cara lain yaitu pengetahuan, dan begitulah ceritanya bagaimana pemandangan seperti sekarang muncul di hadapan Danny.

Kucing hitam itu ingin menguasai dunia bukan dengan kekuatan, akan tetapi dengan pengetahuan. Sebuah angan-angan kosong yang terus dia pertahanankan.

"Oh, selamat datang." Ucap kucing hitam sambil terus membaca buku di depannya setelah mendengar pintu kamar terbuka.

"Heh, kau benar-benar membaca ya." Ucap Danny tanpa membalas sambutan darinya.

"Tentu saja, dengan pengetahuan, apapun bisa diwujudkan." Balas kucing hitam dengan nada serius.

"Selama kau tidak melakukan sesuatu yang berbahaya aku tidak masalah." Ucap Danny sambil memperhatikan pemandangan aneh di depannya tersebut.

"Baguslah. Oh, iya, tolong gorengkan beberapa ikan, aku sudah lapar." Ucap kucing hitam seraya menatap Danny.

"Tidak, tahan saja, kau tidak akan mati bahkan jika tidak makan malam." Balas Danny cepat.

"Hei, apa-apaan itu, kau mengurungku di sini tanpa memberikan makanan, apakah kau iblis." Teriak kucing hitam tidak terima dengan jawaban Danny.

"Lagipula, tadi pagi aku sudah menyediakan banyak ikan untukmu, kau saja yang terlalu rakus dan menghabiskan semuanya." Balas Danny.

"Itu sedikit, mana mungkin aku kenyang hanya dengan ikan segitu." Balas kucing hitam lagi.

"Sudah tidak ada ikan lagi dan aku tidak punya uang untuk membeli ikan." Ucap Danny.

"Huh ... Bilang langsung kalau kau tidak punya uang. Huh, mungkin aku akan mati kelaparan malam ini." Kucing hitam itu mengelus perutnya dengan tampang menyedihkan.

"Baiklah, akan aku sediakan lubang yang pas untuk kuburanmu." Balas Danny sambil tersenyum.

"Sialan! Dasar iblis kejam." Teriak kucing hitam.

"Hahahaha." Danny tertawa senang melihat raut wajah kucing hitam yang sedang marah.

Sebuah pemandangan yang akan orang sebut aneh terjadi di dalam kamar Danny, seorang manusia yang sedang berbicara dengan akrab pada seokor kucing berwarna hitam. Walaupun kucing hitam tersebut memang bisa berbicara.


°°°


"Kami sudah mendapatkan informasi tentang sebuah tempat yang kemungkinan adalah markas geng tersebut, Bos." Ucap seorang pria dengan hormat.

Pria di depannya yang membalut tubuhnya dengan pakaian serba hitam membalas. "Baiklah, katakan pada yang lainnya untuk bersiap-siap, kita akan segera membersihkan tempat itu."

"Baik Bos." Balas orang tersebut dengan tegas.

"Apakah senjata baru dari wanita itu sudah datang?" tanya Iblis Hitam.

"Belum, tapi sepertinya akan sampai malam hari ini." Jawabnya.

"Baguslah, suruh beberapa orang untuk mengambil semua senjata tersebut." Ucap Iblis Hitam.

"Baik Bos." Balasnya cepat.

"Baiklah, apakah ada yang lain?" 

"Tidak Bos, hanya itu saja." 

"Kalau begitu, silakan pergi." 

"Baik, selamat malam Bos." Ucapnya lalu pergi dari ruangan tersebut.

"Huh." Iblis Hitam membuang nafas dengan berat lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Ada apa?" tanya sebuah suara di kepalanya.

"Kau tahu, sebenarnya aku masih dalam usia remaja." Balas Iblis Hitam seraya melihat langit-langit.

"Yah, mungkin." Balas suara tersebut.

"Aku seharusnya menghabiskan waktu untuk belajar dan mempersiapkan masa depanku." Ucap Iblis Hitam.

"Kau benar." Balas suara itu.

"Tapi, di sinilah aku, memimpin banyak orang dan memburu geng." Ucap Iblis Hitam lirih.

"Apakah kau menyesal?" tanya suara itu.

"Tidak, bukan seperti itu, aku hanya merasa ... Aku tidak pada tempatnya." Jawab Iblis Hitam samar.

"Maksudnya?" Tanya suara itu lagi.

"Yah, aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengatakannya ... Baiklah, lupakan saja apa yang sudah aku katakan barusan." Ucap Iblis Hitam.

"Tentu, tapi jika ada yang kau pikirkan, katakan saja padaku." Balas suara tersebut.

"Heh, tidak kusangka ternyata kau cukup lembut." Ucap Iblis Hitam dengan senyum mengejek.

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku, tapi yang jelas kita mahluk yang tidak jauh berbeda." Balas suara itu.

"Yah, kau mungkin benar." Balas Iblis Hitam.

Iblis Hitam bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela, dia melihat keluar jendela dan menyaksikan bintang-bintang di langit yang gelap. Beberapa awan menutup sebagian langit, sedangkan itu sebuah bulan sabit bersinar di sisi lain dari langit, sebuah pemandangan yang sangat romantis.

"Aku harap ini akan cepat selesai." Ucap Iblis Hitam.

"Ketika ini selesai, kau harus memenuhi janjimu." Ucap suara di kepalanya.

"Yah, aku tahu." Balas Iblis Hitam tenang.