Episode 403 - ‘Kesepakatan’



Seorang pemuda yang bertelanjang dada dan berorot alot melompat ke atas Phinisi Penakluk Samudera, bahkan sebelum perahu layar tersebut merapat di sisi dermaga. Ia memasang wajah sangar sembari melangkah garang di atas geladak perahu. Tentu perbuatan yang sembarangan ini menyinggung salah seorang ahli, sehingga membuat suasana seketika berubah tegang.

“Swush!” 

Keumala Hayath melompat tangkas. Ia berputar di udara sembari melepaskan tendangan sapuan dari kaki kanan nan jenjang. Sekali pandang saja, dapat disimpulkan bahwa selain memiliki kecepatan, tendangan tersebut mengandung kekuatan yang sangat besar. Kepala adalah incaran!

Panglima Segantang mengangkat lengan kiri nan kekar sebagai tindakan menangkis. Kendatipun demikian, tendangan Keumala Hayath terbukti memiliki bobot dan tenaga yang mematikan. Tubuh pemuda berbadan kekar dan besar dipaksa terpental beberapa langkah ke sisi perahu layar. 

“Jangan berbuat sesuka hati!” bentak Keumala Hayath segera setelah mendarat. 

Mengabaikan peringatan yang dilontarkan, Panglima Segantang merangsek maju. Sorot matanya tajam ibarat seekor binatang siluman Harimau Bara yang haus darah memburu mangsa. Tetiba ia merendahkan posisi tubuh, membuat lawan kesulitan membaca arah gerakannya. Tiba di hadapan sasaran, pemuda itu lantas mengibaskan lengan dari arah kanan bawah secara diagonal ke kiri atas. 

Keumala Hayath tiada terkecoh. Ia segera melompat mundur, lantas menendang dinding anjungan perahu sebagai pijakan untuk melecut maju. Kali ini gadis tersebut melancarkan tendangan menohok yang mengincar leher! 

Kedua lengan besar dan kekar Panglima Segantang menangkap pergelangan kaki Keumala Hayath, namun tiada mudah. Kekuatan dorongan tendangan membawa tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya dapat mengokohkan pijakan. Sebaliknya, Keumala Hayath tiada berkenan membiarkan pergelangan kaki kanannya tertangkap. Kaki kiri yang masih bebas, sontak menyapu ke arah kepala. Tindakan ini memaksa Panglima Segantang untuk kembali menangkis, sehingga terpaksa melepaskan cengkeramannya. 

“Zilaz!” seru Keumala Hayath sembari menjaga jarak. “Pinjamkan aku Dayung Penakluk Samudera!” 

Zilaz Parare terlihat meragu. Hari ini adalah hari di mana dirinya mendapat giliran membawa Senjata Pusaka Baginda mereka, sehingga permintaan Keumala Hayath tiada berdasar. Kecuali dalam keadaan terdesak yang membahayakan jiwa, barulah tukar-menukar penggunaan senjata berlaku bebas.

“Kita bertukar hari!” seru gadis tersebut memaksa. 

Bertukar hari penggunaan senjata pusaka bukan hal baru di antara Lima Sekawan Penakluk Samudera. Akan tetapi, permintaan kali ini merupakan keuntungan bagi Zilaz Parare. Setengah hari ini telah berlalu, sedangkan pada hari giliran Keumala Hayath yang ditukarkan nanti ia dapat membawa senjata digdaya tersebut selama sehari penuh. Setengah hari ditukar dengan satu hari adalah pertukaran yang menguntungkan bagi Zilaz Parare. Ia pun melemparkan senjata pusaka dimaksud.

Permintaan dipenuhi, Keumala Hayath menangkap dengan menjulurkan kedua lengan. Begitu tiba dalam genggaman, dayung tetiba patah menjadi dua bagian. Bagian bilah di tangan kiri membesar berbentuk perisai, sedangkan bagian pegangan di tangan kanan berubah menjadi pedang berukuran sedang. Sepasang pedang dan perisai tempur!

Di saat yang bersamaan, Panglima Segantang rampung berkomat-kamit. Di dalam genggamannya, telah menghunus perkasa parang besar Taring Raja Lalim! Pertarungan di atas perahu layar akan masuk ke babak berikutnya. 

Selama pertukaran serangan berlangsung di atas geladak perahu, anggota Lima Sekawan Penakluk Samudera yang lain menonton dengan penuh semangat, begitu pula dengan mereka yang menanti di atas dermaga. 

Hanya seorang ahli yang berdiri terperangah. Bintang Tenggara keheranan bukan disebabkan pertarungan yang berkutat tanpa alasan jelas, karena hal yang sedemikian sudah biasa terjadi di dalam dunia keahlian. Pemuda itu terpana lebih karena penampilan Panglima Segantang yang jauh berbeda dari kala terakhir mereka bersua. Perbedaan yang paling mencolok terletak pada tampilan rambut. Selama ini, Bintang Tenggara mengenal sosok tersebut dengan rambut cepak layaknya serdadu kerajaan, tetapi kini rambutnya hanya segaris di atas kepala dan berdiri tegak. Tak jelas apa nama potongan rambut yang sedemikian, namun penampilan Panglima Segantang berubah layaknya pemuda berandalan yang anti terhadap kemapanan! 

Keumala Hayath dan Panglima Segantang di atas geladak perahu layar Phinisi Penakluk Samudera merangsek maju secara berbarengan. Di lain pihak, Bintang Tenggara melompat ke atas dermaga. Tak ada gunanya melerai mereka, malah berisiko terjepit di antara jual-beli serangan. 

“Selamat bergabung!” sambut lelaki dewasa muda bernama Guru Muda Khandra alias Balaputera Khandra sembari membuka lebar-lebar kedua belah lengan. 

Bintang Tenggara berkelit, tak hendak ia dipeluk oleh tokoh yang sangat mencurigakan itu. Entah siasat apalagi yang sedang disusun…? 

“Bintang di langit tenggara…”

“Yo!” 

“Lama sekali…,” celoteh Canting Emas usai Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas menyapa. 

“Apa yang kalian lakukan di sini…?” aju Bintang Tenggara tanpa berbasa-basi. Setidaknya dari Canting Emas dirinya akan memperoleh jawaban yang singkat dan padat. 

“Guru Muda Khandra, Aji Pamungkas dan aku menjemput Kuau ke Pulau Belantara Pusat. Setelah itu kami menyambangi Panglima di Istana Danau Api. Selebihnya kuserahkan kepada Guru Muda Khandra untuk menguraikan.” 

“Perkara apa…?” Bintang Tenggara memutar tubuh. Kata-katanya kali ini ditujukan kepada saudara sepupunya itu.

“Kita akan segera bertolak ke wilayah pesisir pantai timur di tengah Pulau Barisan Barat…,” tanggap Guru Muda Khandra. 

“Bukan tempat tujuan, tapi untuk tujuan apa…?” Bintang Tenggara menegaskan pertanyaan. 

“Di Pekan Tua, ibukota dari Kerajaan Indera Giri, dalam waktu dekat akan berlangsung peristiwa nan langka…” 

“Aku tak ada waktu bermain teka-teki,” sahut Bintang Tenggara. “Aku hendak segera bertolak ke Ibukota Minangga Tamwan, kemudian ke Alas Roban.” 

“Kemarilah…,” Guru Muda Khandra mengangkat lengan hendak merangkul pundak Bintang Tenggara, sembari membawanya menjauh dari Canting Emas, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas. 

Sigap, Bintang Tenggara berkelit. Hubungan di antara mereka tak terlalu dekat walaupun merupakan saudara sepupu, sehingga Bintang Tenggara tangkas menepis lengan Balaputera Khandra sebelum menyentuh pundaknya. Akan tetapi, ia tetap mengikuti langkah tokoh tersebut. 

“Jadi engkau hendak menghubungi Ayahanda Sulung Rudra perihal Penjara Pulau Kembang Nusa, kemudian mengunjungi Pu’un Dangka di Alas Roban…?” 

Bintang Tenggara menyipitkan mata. Ia berhasil dengan baik memendam keterkejutan di hati. Entah dari mana Balaputera Khandra dapat menebak dengan jitu rencananya, tapi mengingat tokoh tersebut senantiasa mencurigakan maka tiada gunanya mempertanyakan. 

“Mendatangi Alas Roban belum tentu akan membuahkan hasil, sedangkan menghubungi Ayahanda Sulung Rudra dapat kita lakukan sekarang juga…” Guru Muda Khandra membuka penawaran. 

Bintang Tenggara tak bergeming. Sebagaimana yang ahli baca ketahui bersama, ada sesuatu yang sangat penting yang wajib pemuda itu telusuri sendiri. 

“Sebagai bonus, diriku akan memberi tahu di mana tubuh Yang Mulia Komodo Nagaradja disembunyikan…”

“Srek!” 

Kali ini Bintang Tenggara tiada dapat menahan diri. Dengan amarah yang seketika meluap, pemuda itu merangsek maju dan meraih kerah Balaputera Khandra. Ia menarik paksa tubuh lelaki dewasa muda itu sampai wajah mereka hampir menempel! “Kau… Jikalau engkau mengambil tubuh guruku…” Gigi-gigi Bintang Tenggara bergemeretak di kala ia menggeram. 

Sebaliknya, Balaputera Khandra tiada melawan. Ia membiarkan kerahnya ditarik dan kini postur tubuh sedikit membungkuk. Di luar perkiraan, tokoh tersebut malah tersenyum. “Tak ada gunanya bagi diriku mengambil tubuh beliau…”

Bintang Tenggara semakin mencengkeram kerah leher Balaputera Khandra. Ia mengetahui betul, bahwa tokoh-tokoh menjijikkan seperti Balaputera Khandra gemar menyusun siasat. Mereka selalu memiliki cara untuk ‘membujuk’ ahli lain demi sebuah kepentingan tersembunyi…

“Dikau mungkin tiada mudah mempercayai diriku, namun kupastikan bahwa tubuh Yang Mulia Komodo Nagaradja baik-baik saja… setidaknya untuk sementara ini…” 

“Katakan di mana… sekarang!” perintah Bintang Tenggara. 

“Tidak.” Balaputera Khandra menggelengkan kepala. “Akan kuberi tahu setelah urusan kita di Pekan Tua nanti selesai.” 

“Tidak!” Sergah Bintang Tenggara. “Aku tak akan terperosok dalam siasat busuk!” 

“Terserah… Namun apa pun yang dikau lakukan, tak akan dapat memperoleh keterangan dariku. Sedangkan waktu terus bergulir…”

Bintang Tenggara melonggarkan cengkeraman. Ia mengetahui betul betapa Balaputera Khandra tak mudah dipengaruhi atau diancam. Bahkan dengan racun sekalipun, sulit memperoleh keterangan darinya dan tentunya cara meracun tiada dapat ditempuh dua kali.

Balaputera Khandra merapihkan kerah lehernya yang mengkerut akibat dijenggut. “Kurasa dengan ini kesepakatan di antara kita resmi terjalin…” 

Bintang Tenggara mendengus kesal. 

“Pertama…” Balaputera Kandra merogoh ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi miliknya. Ia mengeluarkan sebuah tas punggung lantas menyodorkannya kepada saudara sepupunya itu. 

Bintang Tenggara menyerobot tas punggung yang memang miliknya. Tas punggung tersebut disita oleh Penyidik Johar yang sengaja menjebloskan dirinya ke dalam Penjara Pulau Kembang Nusa. Tak ada gunanya mempertanyakan bagaimana Balaputera Khandra memperoleh tas punggung tersebut, yang penting miliknya telah kembali. Memeriksa ke dalam tas punggung, Bintang Tenggara segera menemukan Sisik Raja Naga beserta beberapa barang lain. 

Balaputera Khandra kemudian merogoh ke dalam kantong dan melemparkan dua bentuk cincin Batu Biduri Dimensi. Sebagaimana diketahui, cincin Batu Biduri Dimensi tak dapat ditempatkan di dalam cincin Batu Biduri Dimensi lain karena akan bertumpang tindih. 

Bintang Tenggara menyambut dua bentuk cincin tersebut, yang sebelumnya juga disita oleh Penyidik Johar. Di dalam salah satu cincin, tersimpan Tempuling Raja Naga yang mana patah ujungnya.

“Kemudian…” Balaputera Khandra melanjutkan sembari mengeluarkan sebentuk lencana. Bintang Tenggara mengenal lencana tersebut sebagai Lencana Kemaharajaan Cahaya Gemilang dari Kadatuan Kesembilan. “Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kesembilan…,” ujarnya tatkala menebar jalinan mata hati. 

“Khandra…?” terdengar jawaban dari balik lencana. Bintang Tenggara cukup mengenali suara tersebut. 

“Ayahanda Sulung Rudra, ‘Yang Mulia Yuvaraja’ hendak menyampaikan titah…” 

Terdengar cibiran dari nada suara Balaputera Khandra ketika menyebut ‘Yang Mulia Yuvaraja’, namun Bintang Tenggara mengabaikan saja. Ia ikut menebar mata hati kepada lencana yang sama. “Ayahanda Sulung, mohon kesediaan menyambangi Penjara Pulau Kembang Nusa dan membebaskan tahanan bernama Bulian Tungkal di Lapas Batu serta Lahat Enim di Lapas Gleger. Keduanya merupakan korban salah tangkap.”

“Yang Mulia Yuvaraja, Penjara Pulau Kembang Nusa berada di bawah wewenang Pemerintah Negeri Dua Samudera. Tak mudah bagi Kemaharajaan Cahaya Gemilang meminta pembebasan tahanan tanpa sebab.” 

“Berikan keduanya kesempatan akan pengadilan yang layak. Nantinya akan terbukti bahwa mereka tak bersalah,” tanggap Bintang Tenggara cepat. 

“Kemaharajaan Cahaya Gemilang dapat mengirimkan pengacara dan meminta peninjauan ulang atas putusan pengadilan sebelumnya. Akan keteruskan hal ini kepada Yang Terhormat Maha Patih Balaputera Wrendaha.”

“Terima kasih, Ayahanda Sulung,” ujar Bintang Tenggara lega. 

“Tiada mengapa. Sungguh senang mendengarkan bahwa dua keponakanku bahu-membahu…”

Balaputera Khandra dan Balaputera Gara sontak saling pandang. Yang satu tersenyum ceria, sedangkan yang satunya lagi spontan memalingkan wajah. 

“Kami akan segera menuju Pekan Tua…”

“Oh, kalian akan ikut serta…? Semoga beruntung!” Demikian, kontak di antara kedua pihak berakhir. 

“Ikut serta apa…?” gerutu Bintang Tenggara. 

“Sebagai bagian dari ‘kesepakatan’ kita, diriku telah mengembalikan hak milik dikau yang disita, serta membantu menghubungi Ayahanda Sulung Rudra demi membebaskan teman-teman di Penjara Pulau Kembang Nusa. Nantinya diriku pun akan memberikan keterangan tentang keberadaan tubuh Yang Mulia Komodo Nagaradja…”

“Jangan berbelit-belit…” Bintang Tenggara jengah atas ‘kesepakatan’ yang dipaksakan kepada dirinya. Sudah waktunya Balaputera Khandra membeberkan apa pun itu rencana terkutuknya.

“Sahabat Bintang!” 

Tampaknya pertarungan di atas perahu rampung sudah. Panglima Segantang terlihat sedang berlari mendatangi, lantas melompat dan memeluk tubuh sahabatnya. Dalam rangkulan yang kiranya bertujuan meremukkan tulang-belulang, Bintang Tenggara menyaksikan perahu layar Phinisi Penakluk Samudera menjauh dari dermaga.