Episode 402 - Berkumpul Lagi



“Dia tak pernah berubah! Selalu berbuat seenak jidatnya!” gerutu Putri Pinang Masak. 

“Suaminya dalam keadaan koma tanpa alasan yang jelas,” tanggap Airlangga Ananta. “Sudah sepantasnya ia khawatir…”

“Sudah kukatakan bahwa akar permasalan adalah dianya sendiri. Kita semua ketahui bahwa pihak Kemaharajaan Langit sudah berkali-kali menyuruhnya kembali. Apa salahnya memenuhi kemauan mereka sejenak… Apakah perlu kuingatkan bahwa permasalahan yang suami-istri itu hadapi senantiasa karena ulah mereka sendiri!?”

“Pinang Masak… Tak bisakah engkau berempati barang sedikit saja?” Raja Bangkong IV menimpali. “Mayang tak dilahirkan di Kemaharajaan Langit, tak pernah menghabiskan waktu di sana, dan tak pula mengenal baik seorang pun di sana. Tambahan lagi, ibundanya pun menghilang…”

“Justru itu maksudku! Mengapa dia menolak mentah-mentah undangan mereka!? Menginjakkan kaki di Kemaharajaan Langit saja tak pernah, dari mana ia menyimpulkan bahwa mereka memiliki niat buruk!?”

“Sudahlah…” Airlangga Ananta tak hendak meneruskan pembahasan tentang Mayang Tenggara serta keputusannya.

“Dan bukankah Kemaharajaan Langit dapat menjadi sekutu yang berharga!? Bayangkan betapa besar keuntungannya bila kita mendapatkan dukungan mereka…”

“Pembahasan terakhir kita adalah perihal Elang Wuruk…” Raja Bangkong IV mengalihkan pembicaraan. “Apakah kita sepakat untuk meningkatkan keahliannya…? Ananta, kau pernah bertemu dengannya, bagaimana pandanganmu…?”

Airlangga Ananta alias Resi Gentayu mengangkat bahu. 

“Baiklah, kita putuskan saja,” Raja Bangkong IV kembali angkat suara. “Pinang Masak akan menelusuri jejaknya, lantas mengajaknya untuk menunaikan ikrar kita dahulu. Setelah itu, bersama-sama kita akan membantu meningkatkan keahliannya…”

“Mengapa aku!?” Putri Pinang Masak terlihat jengah. “Mengapa bukan Mayang!?”

“Karena Mayang berpandangan bahwa Elang akan menolak, sedangkan engkau percaya bahwa kita memerlukan kehadirannya.


===


Seorang perempuan dewasa mendarat ringan tepat di hadapan sebuah gedung yang unik. Berbeda dengan kebanyakan bagunan yang terbuat dari kayu dengan atap mirip tanduk kerbau, gedung tersebut terbuat dari batu putih yang megah dan tinggi.

Sebelumnya, perempuan dewasa itu melesat terbang dengan kecepatan penuh dari wilayah barat Pulau Jumawa Selatan dan kini berada di wilayah barat Pulau Barisan Barat. Sungguh perjalanan yang teramat panjang, namun bagi seorang ahli Kasta Bumi perjalanan tersebut memerlukan waktu setengah hari sahaja. 

Tanpa mengucapkan salam, ia mendorong pintu besar di depan. Melewati wilayah serambi, ruangan yang berikutnya dimasuki sudah beralih fungsi sebagai pustaka. Kitab dan buku yang tak terbilang jumlahnya tertata rapi pada rak-rak bertingkat nan menjulang tinggi sampai hendak menyentuh langit-langit gedung. Selintas pandang, tak sulit untuk menyimpulkan bahwa sebagian kitab dan buku yang tertata merupakan barang-barang langka serta mahal harganya. 

“Hei! Siapakah engkau lancang masuk ke dalam tempat usahaku!?” hardik seorang lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun dari balik meja besar di kejauhan.

“Di mana tokoh yang menempati gedung ini…?” Mayang Tenggara berujar datar.

“Tidakkah engkau tahu aku sedang bekerja!?” Sedetik yang lalu, Saudagar Senjata Malin Kumbang sedang sibuk menghitung untung-rugi, namun kedatangan tiba-tiba perempuan dewasa itu membuat ia terlupa akan hitungan sehingga terpaksa mengulang dari awal lagi. 

Mayang Tenggara melotot, membuat ciut nyali. 

Kendatipun demikian, Saudagar Senjata Malin Kumbang memiliki harga diri sebagai ahli Kasta Emas Tingkat 1. Selain itu, sekali memberi perintah maka akan datang berduyun ahli-ahli perkasa yang akan melindungi dirinya. “Enyahlah! Jangan sampai aku datang ke sana dan menyeretmu keluar!”

“Brak!”

Mayang Tenggara mengibaskan lengan, dan tubuh tambun Saudagar Senjata Malin Kumbang serta-merta terpental menghantam salah satu rak di belakangnya. Bersamaan dengan robohnya rak, puluhan buku dan kitab kemudian berjatuhan mengubur dirinya.

“Jikalau kau masih sayang nyawa, maka katakan di mana ahli yang sebelumnya berdiam di gedung ini…” perintah Mayang Tenggara. 

Sebagaimana diketahui, pada suatu waktu di masa lalu, Saudagar Senjata Malin Kumbang menyita gedung tersebut dan mendapatkan seorang kakek nan tua renta berdiam di dalamnya. Tanpa mengetahui jati diri tokoh tersebut, Saudagar Malin Kumbang ibarat menemukan harta terpendam karena si kakek tua renta senantiasa jitu dalam menelaah dan menaksir peluang usaha. Oleh karena itu pula, permintaan si kakek tua renta akan kitab dan buku mahal lagi langka selalu dipenuhi.

“Puan… Puan Ahli…” Saudagar Senjata Malin Kumbang berupaya keluar dari timbunan kitab dan buku. Darah segar mengalir di sudut bibir dan dada terasa amat sesak. Meskipun tiada piawai dalam persilatan dan kesaktian, setidaknya ia tahu bilamana berhadapan langsung dengan ancaman jiwa. “Mohon maaf atas kesalahpahaman hamba…”

“Katakan!”

“Jikalau Puan Ahli mencari kakek tua renta itu, maka ia telah lama pergi…?”

“Kemana?”

Tergopoh bangkit, Saudagar Senjata Malin Kumbang berupaya mengatur napas yang tersengal. “Sungguh hamba tiada mengetahui… Dia, dia pergi begitu saja bersama dengan seorang gadis…”

“Siapa?”

“Embun… Embun Kahyangan nama gadis tersebut…”


===


Gelegar suara halilintar membuat pemuda tersebut terperanjat, membelakkan mata! Pandangannya kabur, namun masih cukup terjaga untuk menyaksikan formasi segel yang membatasi ruang dan waktu. Di antara ada dan tiada, berkelebat ibarat lapisan kaca tipis dan ringkih yang mengkilap memantulkan cahaya, formasi segel tersebut menyibak aneka simbol dan susunan yang tak dapat dikenali… 

Di manakah dirinya berada…? 

Di balik formasi segel tersebut, antara ada dan tiada, terhampar gurun nan teramat luas. Pusaran angin bertemu dan menyebabkan badai, halilintar bergemeretak dan memangsa apa pun yang masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. 

Tak terlalu jauh, bayangan-bayangan besar menaungi daratan… Deretan patung-patung batu nan maha besar tersusun berjajar ibarat prajurit yang berbaris akan berangkat perang. Tinggi setiap satu patung seolah menopang langit. Sulit menghitung berapa jumlah patung secara akurat, karena pandangan disamarkan oleh peristiwa alam nan pelik.

“Krak!”

Wajah salah satu patung tetiba meretak! Dari celah merekah yang tercipta, udara nan lembab dan pengap merembes keluar. Di saat yang bersamaan pula, semilir angin membawa suara nan sayup…

Antara ada dan tiada… Keberadaan aura yang dirasa dekat namun tak dikenal… 

Bintang Tenggara membuka mata. Pandangannya kabur, kepala pening dan sekujur tubuh dingin berkeringat. Kejadian yang dialami dirasa semakin nyata, bahkan seolah benar-benar berlangsung baru-baru ini. Sebagai catatan, bukan kali pertama ini ia mengalami mimpi tersebut, namun biasanya mimpi datang ketika ia tertidur atau hilang kesadaran. Akan tetapi, kali ini mimpi datang ketika dirinya sedang dalam keadaan terjaga dan bersembunyi di dalam ruang palka perahu layar Phinisi Penakluk Samudera. 

Anak remaja yang sudah pantas disebut sebagai pemuda itu meniti tangga dan naik ke anjungan perahu. Angin segar dan cahaya mentari segera menyapa, membuat dirinya selesa. Ia lantas menatap jauh ke belakang, di mana terlihat menjauh sebuah gardu jaga terapung di Selat Krakatau yang mengalun bersamaan dengan irama ombak. Reputasi Lima Sekawan Penakluk Samudera dapat dengan mudah menyeludupkan dirinya melewati gardu jaga tersebut. Bahkan, petugas gardu jaga tiada menyempatkan diri untuk memeriksa Phinisi Penakluk Samudera untuk mencari seorang buronan yang melarikan diri dari Penjara Pulau Kembang Nusa. 

Kendatipun demikian, yang lebih menarik perhatian seorang pemuda bernama Bintang Tenggara adalah keberadaan pulau kecil di samping gardu jaga. 

“Itu bukanlah pulau biasa…” Tetiba seorang gadis muda berdiri di sisi Bintang Tenggara. “Terlihat seolah pulau kecil, namun sesungguhnya merupakan puncak dari gunung berapi nan buas….” 

Bintang Tenggara mengangguk kepada Keumala Hayath. “Gunung Krakatau…,” ujarnya pelan. 

Sesiapapun yang lahir di wilayah Negeri Dua Samudera pasti mengenal nama gunung misterius tersebut. Ribuan tahun silam Gunung Krakatau meletus dahsyat, menelan korban tiada terhingga, memporak-porandakan semesta, lalu terbenam ke dasar lautan. Sejak itu, berbagai versi hikayat dan kisah banyak berkutat tentangnya, namun yang pasti adalah kenyataan bahwa tak seorang pun ahli dapat memasuki wilayah pulau tersebut. 

Bintang Tenggara terus mengamati puncak Gunung Krakatau. Walau kesempatan ini merupakan kali pertama ia melihat dan berada berdekatan dengan pulau tersebut, terdapat perasaan tak asing. Bahkan, dirinya merasa sangat akrab.

“Bagaimana kalian mengetahui bahwa diriku akan berada di lautan lepas Pulau Kembang Nusa…?” Bintang Tenggara mengajukan pertanyaan yang sejak sehari sebelumnya mengganjal di benak. 

“Rahasia dapur!” Tetiba Ammandar Wewang menyela. “Huahahaha… Tentu seorang koki handal tak akan sembarang membagikan ramuan terbaiknya…” 

“Ammandar… sungguh diriku berterima kasih atas bantuan kalian untuk yang kesekian kalinya. Akan tetapi, kumohon untuk tak berkelakar…”

“Apakah ini sebuah tantangan, wahai Sapposiseng…?” gelak Ammandar Wewang. Baginya, segala sesuatu sepantasnya diselesaikan melalui pertarungan. 

“Kau tak dapat menantangnya karena giliran Dayung Penakluk Samudera hari ini jatuh kepada Zilaz…” Keumala Hayath menengahi. Ia lantas menoleh kepada Bintang Tenggara, “Tugas kami adalah mengantarkan penumpang istimewa. Kami tak dapat mengungkap siapa yang menyerahkan tugas tersebut.”

Bintang Tenggara bersungut, namun tiada memaksakan jawaban karena memiliki cara lain untuk memperoleh petunjuk. “Siapakah yang memberikan hadiah formasi segel perlindungan kepada Phinisi Penakluk Samudera…?” lanjutnya datar. 

Ammandar Wewang dan Keumala Hayath saling pandang. Raut wajah mereka kecut. Tentu keduanya dapat menjawab pertanyaan nan sangat mudah itu, di saat yang bersamaan mereka pun dapat memperkirakan bahwa Bintang Tenggara sudah menebak jawabannya. Pemuda di hadapan mereka sesungguhnya hanya menginginkan kepastian. 

“Tentu saja diberikan oleh ayahandamu…,” sela Nuku Tidore sembari melangkah mendekat.

Ammandar Wewang kembali tergelak, sedangkan Keumala Hayath melotot kesal. 

“Dan sebagai balasan, kalian memenuhi permintaannya untuk menjemput diriku…?” sambut Bintang Tenggara. 

Kini pemuda itu dapat menarik benang merah antara kata-kata Sari di kala mengantarkan kepergiannya dan pertemuan dengan rombongan penjemput. Ternyata benar bahwa adalah sang ayahanda, Balaputera Ragrawira, yang mengatur agar dirinya dapat keluar dari Penjara Pulau Kembang Nusa. Kendatipun demikian, atas pengetahuan ini muncul pula rangkaian pertanyaan lanjutan. Dari mana beliau mengetahui kesulitan yang anaknya hadapi…? Bagaimana beliau dapat melakukan perkiraan dengan demikian matang…? Demi tujuan apa…?

“Dan oleh karenanya, engkau jangan banyak bertanya,” lanjut Nuku Tidore sebelum Bintang Tenggara dapat menyuarakan rangkaian pertanyaan yang berkutat di dalam benaknya. “Banyak hal yang sebaiknya dibiarkan tanpa penjelasan… Nikmati saja perjalanan ini.”

Bintang Tenggara mengela napas panjang sambil melangkah meninggalkan ketiganya. Hari beranjak siang ketika dirinya beralih ke haluan perahu. Di sana, seperti kali terakhir pemuda itu menumpang Phinisi Penakluk Samudera, berdiri menantang angin adalah seorang gadis peranakan siluman.

“Penjemputan… telah menanti…” gumam Atje Pesut.

“Penjemputan…? Bukankah kalian yang ditugaskan menjemput diriku.…?” 

“Bukan… Kami hanya pengantar… Penjemputmu adalah pihak lain lagi…”

Sebagai seseorang yang menekuni keahlian, Bintang Tenggara mulai merasa kesal. Dirinya diperlakukan bak barang dagangan. 

“Kemanakah tujuan kita…?”

“Ke sana…” Lengan Atje pesut menunjuk lurus jauh ke hadapan. Dari sudut pandang Bintang Tenggara, yang terlihat hanyalah daratan yang membentang seolah tanpa batas. Diketahui bahwa itu adalah pesisir Pulau Barisan Barat.

“Ke sana mana…?” tukas Bintang Tenggara. 

Suasana lengang. Hanya debur ombak dan semilir angin yang terdengar kentara. Atje Pesut sama sekali tak memberi jawaban, sehingga Bintang Tenggara memutuskan untuk undur diri. Bilamana berlama-lama dengan Lima Sekawan Penakluk Samudera, maka dirinya bisa menjadi gila dalam hitungan hari!

“Dayung Penakluk Samudera…” Tetiba terdengar kata-kata melalui jalinan mata hati. “Kelompok yang unik…”

“Kelompok yang mengesalkan..,” balas Bintang Tenggara kepada Ginseng Perkasa. 

“Sungguh ayahandamu senang menyimpan rahasia…”

“Kakek Gin mengenal beliau…?”

“Aku tak mengenalnya secara pribadi, tapi aku pernah mendengar tentang sepak terjangnya…”

“Apa saja yang beliau lakukan di kala muda dahulu…?”

“Sebagaimana yang kukatakan, banyak menyimpan rahasia…” 

Hari menjelang petang, dan Bintang Tenggara memutuskan untuk menyendiri di geladak perahu. Ia berupaya memejamkan mata, namun khawatir akan mimpi aneh yang sesekali datang mengisi tidurnya. 

“Dermaga di hadapan!” Tetiba terdengar Ammandar Wewang berteriak penuh semangat. “Kurangi kecepatan!”

Bintang Tenggara bangkit dan bergegas melangkah ke haluan perahu untuk mengetahui ke mana dirinya dibawa. Matanya menyipit, kemudian mulut menganga. Di atas dermaga jauh di hadapan sana, dapat ia menyaksikan seorang tokoh yang sangat tiada diduga sekaligus salah satu yang paling menyebalkan. Sosok tersebut melambaikan tangan sembari memajang senyuman nan lebar. 

“Cih! Balaputera Khandra!” gerutu Bintang Tenggara. 

Kemudian, raut wajah pemuda tersebut berubah seketika. Karena sejenak kemudian, dapat ia memastikan bahwa Balaputera Khandra tiada menanti seorang diri. Bersama dengannya terlihat Canting Emas, Aji Pamungkas, Panglima Segantang, serta Kuau Kakimerah!


Catatan:

(1) Episode 335