Episode 401 - Pemuda



“Kalian… kalian Lima Sekawan Penakluk Samudera!” sergah Bintang Tenggara nan terkesima. 

Setelah dilemparkan oleh Sari, tubuh anak remaja itu tiada tercebur ke lautan lepas. Hembusan angin deras datang menyambut dan membawa dirinya ke atas geladak perahu Phinisi Penakluk Samudera, padahal sebelumnya sama sekali tiada tanda-tanda keberadaan perahu layar tersebut. Sebuah perahu layar seolah muncul secara tiba-tiba dari dasar lautan! 

“Buahahaha…” Perut buncit Ammandar Wewang bergerak naik-turun, membuat sekujur perahu terombang-ambing. 

“Prang!” 

Tanpa sempat berbuat apa pun, kedua mata Bintang Tenggara hanya menangkap kelebat baling-baling Dayung Penakluk Samudera yang berada di sela jemari Atje Pesut. Di saat itu pula, belenggu di leher serta pergelangan tangan dan kakinya berserakan jatuh. Belum sempat serpihan-serpihan logam keras tersebut menyentuh geladak perahu, tendangan beruntun Keumala Hayath melemparkan serpihan-serpihan tersebut bertebaran ke lautan lepas. 

Bintang Tenggara terbebaskan!

“Formasi segel apakah ini…?” aju Bintang Tenggara yang kini menyadari bahwa sekujur permukaan perahu Phinisi Penakluk Samudera diselimuti oleh simbol-simbol nan tak lazim bentuk dan susunannya. Keberadaan formasi segel tersebut hanya dapat dicermati ketika dirinya telah berada di atas geladak perahu. 

“Ini adalah formasi segel nan khas…,” tanggap Zilaz Parare yang sedang bersantai di atas geldak.

“Siapakah kiranya yang merapal formasi segel ini…?” Bintang Tenggara mengingat pernah menyaksikan beberapa dari simbol unik yang disusun menyelimuti perahu Phinisi Penakluk Samudera, akan tetapi ia tak hendak mengambil kesimpulan terlalu cepat. 

Sebentuk senyuman menghias di sudut bibir Zilaz Parare ketika melanjutkan, “Cendera mata dari seorang ahli…”

“Buahahaha…,” gelak tawa Ammandar Wewang yang semakin membahana menghentikan niat Bintang Tenggara mengajukan pertanyaan susulan.

“Kita harus segera beranjak!” Nuku Tidore menyela. “Armada laut dari Pulau Kembang Nusa sudah mengangkat sauh!” 

Hari beranjak malam, namun kedua mata Bintang Tenggara menangkap cahaya terang menyala dari arah utara. Pulau Kembang Nusa seolah menyala terang dan di saat yang bersamaan terdengar sirine panjang berkumandang. Tak pelak lagi, para sipir sudah menyadari bahwa satu hal yang tak mungkin telah terjadi, yaitu seorang tahanan meninggalkan pulau! 

Bintang Tenggara menyipitkan mata, untuk selanjutnya menyaksikan titik-titik cahaya yang menyebar perlahan meninggalkan pulau. 

“Angkat sauh, kembangkan layar!” teriak Keumala Hayath. “Walaupun keberadaan kita tak terlihat, namun pergerakan ombak akan menunjukkan lokasi kita!” 

Demikian, perahu layar Phinisi Penakluk Samudera melesat deras membelah ombak. Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk tiba di dekat celah antara dua Pulau Utama di Negeri Dua Samudera. 

Zilaz Parare yang terlihat sedang bermalas-malasan tetiba bangkit berdiri. Ia melangkah ke tengah geladak perahu dan menempelkan telapak tangan pada permukaan lantai. Sebentuk simbol formasi segel berpendar dan seketika itu jua susunan formasi segel yang membungkus Phinisi Penakluk Samudera beserta isinya terurai. Demikian, perahu layar tersebut kembali kasat mata. 

“Di depan kita adalah Selat Krakatau, di mana terdapat gardu jaga terapung milik pemerintah di sana. Setiap perahu yang melintas diwajibkan bersandar dan melapor,” ujar Nuku Tidore sembari mengacungkan jemari. 

Para ahli di Negeri Dua Samudera sangat mengenal nama Selat Krakatau yang terletak di antara Pulau Barisan Barat dan Pulau Jumawa Selatan. Sampai saat ini tempat tersebut masih dipenuhi dengan misteri. 

“Bintang Tenggara, masuklah ke dalam palka.

Bintang Tenggara menuruti tanpa banyak tanya, walau ia sangat penasaran bagaimana Lima Sekawan Penakluk Samudera secara ‘kebetulan’ berada di perairan dekat Pulau Kembang Nusa, serta bagaimana mereka mengetahui bahwa adalah tubuhnya yang terlontar ke laut lepas. Mereka sepertinya telah sedia menanti. Selain itu, masih ada kata-kata terakhir dari Puan Sari yang masih terngiang di dalam benak anak remaja itu. 

Terpaksa menahan rasa ingin tahu, Bintang Tenggara menuruni anak tangga menuju ruang tempat penyimpanan barang-barang di dalam lambung kapal. Dirinya patut menyembunyikan diri karena menyadari status sebagai tahanan dalam pelarian. Terlebih lagi, ia tak hendak menyebabkan Lima Sekawan Penakluk Samudera menghadapi masalah serius karena membantu buronan yang melarikan diri dari Penjara Pulau Kembang Nusa. 

Perahu layar Phinisi Penakluk Samudera melambat dan merapat. 

“Lima Sekawan Penakluk Samudera, dari mana sajakah kalian?” 

Samar-samar, Bintang Tenggara mendengar pembicaraan di atas geladak. 

“Sebagaimana tuan-tuan ketahui, kami melewati Selat Krakatau sehari yang lalu. Setelah itu, kami menelusuri pantai selatan di wilayah barat Pulau Jumawa Selatan sebelum putar haluan.” Terdengar tanggapan Keumala Hayath yang tampaknya berperan sebagai juru bicara. 

“Apakah kalian melihat sosok pemuda yang mencurigakan di pesisir Samudera Selatan…?” 

“Sosok pemuda…?”

“Sepantaran dengan kalian… berusia sekira delapan belas atau sembilan belas tahun.”

Bintang Tenggara menyadari bahwa mereka yang di atas geladak sedang membahas dirinya, dan sebutan ‘pemuda’ memang sudah pantas ia sandang. Tanpa terasa, perjalanannya selama ini berlangsung panjang dan dirinya sudah menginjak usia delapan belas tahun.

“Dimanakah pemuda tersebut terakhir kali terlihat…?”

“Umm…” Para petugas gardu jaga di Selat Krakatau terdengar meragu. Sepertinya ada informasi yang terpaksa mereka tahan, atau memang sejak awal mereka tak memiliki informasi yang memadai. 

“Dengan senang hati kami akan ikut menelusuri.”

“Tiada mengapa, silakan melanjutkan perjalanan.” Para petugas hendak segera kembali ke gardu jaga terapung mereka.

“Tunggu, apa yang telah dilakukan pemuda itu?” Keumala Hayath memancing jawaban.

“Kami tak dapat membuka informasi yang bersifat rahasia dan terbatas sifatnya.”


===


Suasana lengang. Tiga ahli menanti. Seorang lelaki dewasa, seorang perempuan dewasa muda, serta seorang lelaki setengah baya menanti gelisah. Walau merupakan tokoh-tokoh nan digdaya, tak satu pun dari ketiganya memiliki petunjuk akan apa yang sedang berlangsung. Di hadapan mereka adalah sepasang daun pintu nan megah bertakhtakan emas berkilau.

Derak engsel nyaris tak terdengar, ketika salah satu daun pintu bergeser perlahan. Seorang perempuan dewasa melangkah ringan. 

“Bagaimana keadaannya…?” Ahli nan berpenampilan layaknya lelaki setengah baya berjanggut panjang segera mendatangi. Nada suaranya menyiratkan keprihatinan yang tiada disembunyikan. Agaknya penampilan tokoh tersebut senantiasa berubah-ubah sesuai dengan suasana hati. 

Perempuan dewasa itu menghela napas panjang. Mengabaikan pertanyaan dari Airlangga Ananta alias Resi Gentayu yang sedang berpenampilan layaknya lelaki setengah baya berjanggut panjang, ia menoleh ke arah lelaki dewasa. “Ceceb, terima kasih dan mohon maaf karena menempati ruang peraduanmu…,” ucap Mayang Tenggara pelan. 

“Jangan dipikirkan… Masih ada puluhan kamar lain di istana ini yang dapat kutempati. Keadaan suamimu jauh lebih penting, bagaimanakah keadaannya…?” ujar Raja Bangkong IV menunjukkan kesungguhan.

“Ia masih belum sadarkan diri…,” tanggap Mayang Tenggara sembari menoleh kepada Airlangga Ananta yang terlebih dahulu mangajukan pertanyaan. Jemari lentik ibunda dari Lintang Tenggara dan Bintang Tenggara itu secara naluriah menyentuh empat butir Liontin Lembayung Jiwa yang menggantung di leher. 

“Liontin itu tiada bereaksi…?” hardik perempuan dewasa muda yang berdiri terpisah jarak. “Ke mana suamimu berkelana kali ini…?”

“Sungguh aku tiada mengetahui…” 

“Aku telah memerintahkan ahli perapal segel untuk memeriksa lorong dimensi ruang yang muncul di ruang singasana. Akan tetapi, tiada seorang pun yang dapat menelusuri ke mana lorong dimensi ruang tersebut terhubung,” sela Raja Bangkong IV.  

“Andai saja kita mengetahui dari mana ia datang…” Airlangga Ananta alias Resi Gentayu menundukkan kepala. “Segera datangkan para perapal segel dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Mungkin dapat mereka menyelidiki…”

“Kurasa tiada akan banyak membantu,” tanggap Mayang Tenggara tenang. “Lagipula, kuyakin suamiku tak ingin seorang pun dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang mengetahui keadaannya.”

“Apakah ia mendatangi Kemaharajaan Langit!” tukas Putri Pinang Masak tanpa banyak berbasa-basi. 

“Ia tahu betul akan bahaya tempat itu… Tak mungkin. Suamiku tak akan bertindak ceroboh dengan menyambangi tempat itu…” 

Sebagaimana diketahui, selama beberapa waktu belakangan Balaputera Ragrawira mengunjungi dan mengumpulkan regu yang beranggotakan Mayang Tenggara, Putri Pinang Masak dan Airlangga Ananta di Kerajaan Siluman Gunung Perahu di mana Raja Bangkong IV berada. Di hari yang dijanjikan, kemudian Balaputera Ragrawira muncul dengan menggunakan lorong dimensi ruang. Namun demikian, tokoh tersebut hadir dalam keadaan lemah dan segera hilang kesadaran. Sudah tiga hari waktu berlalu sejak kejadian itu.

“Sungguh pelik…” Airlangga Ananta mengelus-elus janggut. “Tak ada tanda-tanda cedera atau keracunan pada tubuhnya. Tenaga dalamnya pun berangsur mengisi mustika. Namun mengapa Wira masih tak sadarkan diri…?”

“Hanya para ahli dari tanah moyangmu yang memiliki kemampuan di luar nalar dunia keahlian kita.” Lagi-lagi Putri Pinang Masak bersikeras. “Dengarkanlah kata-kataku, bahwa kemungkinan besar suamimu nekat mengunjungi Kemaharajaan Langit!” 

Mayang Tenggara menghela napas panjang. Dalam keadaan normal, maka saat ini dirinya dan Putri Pinang Masak kemungkinan sudah akan bertarung sebagai tindakan menyelesaikan perbedaan pandangan di antara mereka. Namun tidak kali ini, karena terdapat permasalahan yang jauh lebih mendesak. Ia melangkah ke arah pintu keluar… “Kita tak memiliki bukti apa pun, sehingga jangan mudah mengambil kesimpulan apalagi berprasangka.”

“Ke mana engkau akan pergi…?” Raja Bangkong IV segera menyusul. 

“Aku titipkan suamiku sejenak,” ujar Mayang Tenggara tanpa menoleh. “Aku akan mencari Yang Mulia Maha Maha Tabib Surgawi atau Yang Mulia Kutu Buku. Mereka pastinya dapat memberikan petunjuk.”

“Kau hendak mencari Ginseng Perkasa dan Mpu Tantular!?” sergah Putri Pinang Masak. “Apakah kau sudah gila!? Lebih mudah mencari jarum dalam tumpukan jerami daripada mencari para Jenderal Bhayangkara!” (1)

Tubuh Mayang Tenggara telah mengilang dari pandangan. Ia meninggalkan wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu.



Catatan:

(1) Mpu Tantular hidup pada abad ke-14 di Majapahit, merupakan seorang pujangga ternama pada masa pemerintahan R?jasanagara (Hayam Wuruk). Nama ‘Tantular’ terdiri dari dua kata: tan (‘tidak’) dan tular (‘tular’ atau ‘terpengaruhi’), yang berarti tokoh yang ‘teguh’. Sedangkan kata mpu merupakan gelar yang artinya adalah seorang pandai atau tukang.

Karya terkemuka dari tokoh ini antara lain kakawin Arjunawijaya dan kakawin Sutasoma. Bahkan, salah satu bait dari kakawin Sutasoma diambil menjadi semboyan ’Bhinneka Tunggal Ika’ atau berbeda-beda namun satu jua.

Sempat disinggung dalam Episode 333.