Episode 100 - Perjalanan Panjang



Bayangan Hitam ragu setelah mendengar kesepakatan yang diajukan pria di depannya. Di satu sisi, dengan menyetujui kesepakatan tersebut, maka dia pasti akan bisa menyelamatkan anaknya, karena pria tersebut adalah 'iblis' berbentuk manusia. Di sisi lain, jika dia menyetujui hal tersebut, maka dia sama saja membuang sisi manusianya yang tersisa lalu jatuh ke jurang bersama 'iblis' itu.

Meski begitu, keraguan tersebut hanya bertahan sesaat, ketika Bayangan Hitam kembali mengingat apa keinginan putrinya saat pesta ulang tahun kecil kemarin, Bayangan Hitam dengan tegas membuang semua kemanusiaannya dan kemudian rela mempersembahkan dirinya pada 'iblis' sebagai bagian dari kesepakatan.

"Baiklah, aku terima." Jawab Bayangan Hitam. 

Kemudian, tiba-tiba saja Bayangan Hitam sudah berada di belakang pria tersebut dengan jari telunjuknya sudah menekan tenggorokan pria itu.

"Namun, jika kau mencoba menipuku, aku tidak akan segan membunuhmu." Ucap Bayangan Hitam dengan suara yang dalam.

Pria itu tersentak kaget dengan kecepatan yang dimiliki Bayangan Hitam. Hanya dalam kedipan mata saja dia sudah menghilang dari pandangannya dan kemudian tiba-tiba muncul di belakangnya.

Darah mendidih gembira dan tanpa sadar senyum tipis terlukis di wajahnya. "Tentu saja, aku orang yang selalu menepati janjiku."

"Baiklah, aku pegang kata-katamu." Ucap Bayangan Hitam kemudian pergi meninggalkan pria itu.

Pria itu membuang nafas dengan berat lalu menoleh ke belakang, meskipun dia tahu bahwa pria itu tidak ada lagi di sana, tapi dalam pandangannya dia memiliki sebuah perasaan bahagia yang menggebu-gebu, seolah-olah dia sedang mendapat jackpot dari sebuah undian berhadiah.

Dia menoleh lagi dan melihat 5 orang yang tergeletak di tanah, empat orang adalah anggota geng kecil yang dia dapatkan dari geng kecil lalu menyewakan pada orang-orang yang membutuhkan, jadi dia tidak terlalu peduli dengan bagaimana mereka saat ini, kemudian seorang dokter yang selangkangannya dipenuhi dengan darah itu adalah salah satu pelanggannya dan juga orang yang membantu operasi pada rencananya.

Meskipun agak merepotkan untuk mencari orang baru lagi, tapi dia merasa orang tersebut tidak akan berguna, jadi tanpa ragu pria tersebut mengeluarkan pistol dari dalam jasnya dan menekan pelatuknya.

Dua peluru menembus dadanya dan menghilangkan nyawa dari raganya. Pria itu rasa, itu balasan yang setimpal dari semua kelakuan menjijikkan yang dia lakukan.

Kemudian pria itu berjalan ke depan dan melemparkan upah empat orang tersebut lalu pergi meninggalkan mereka.

"Haha, dengan uang dan kekuatan, akulah Tuhan di dunia ini." Gumamnya pelan lalu tertelan angin.

Tanpa sadar, sebuah balasan yang mengerikan sedang mengintainya.


°°°

Setelah bertemu kembali dengan Tuannya, kini Alsiel kembali melanjutkan pencariannya terhadap orang-orang yang mungkin menjadi wadah dari bawahan Tuannya. Sebelumnya, dia sudah berkeliling kota ini sambil menikmati makanan dari setiap restoran, karena itulah dia tidak bisa menemukan mereka, fokusnya menghilang karena makanan.

Namun, kali ini Alsiel bertekad tidak akan mampir ke sebuah restoran sebelum menemukan mereka. 

Dengan menggunakan sepeda motornya, Alsiel yang berwajah sangat biasa pergi tanpa arah dan tujuan seraya terus merasakan energi dari teman-temannya.

Dua jam kemudian. 

Sebuah suara terdengar dari perut Alsiel, sebuah tanda lapar berkumandang dengan gagahnya.

'Sial! Kenapa harus saat ini, aku sudah berjanji tidak akan mampir ke restoran sebelum menemukan mereka.'

Setengah jam kemudian.

Tangan kiri Alsiel memegangi perutnya yang kelaparan sambil terus menyetir motornya menggunakan tangan kanan.

'Aku sudah berjanji kepada Tuan untuk menemukan mereka secepatnya, jadi aku tidak boleh mengecewakan kepercayaan Tuan.'

Sepuluh menit kemudian.

Sebuah parkiran restoran di tepi jalan di hinggapi oleh sepeda motor sederhana, di dalam Restoran tersebut terdapat Alsiel yang sedang duduk dengan sabar sambil menunggu pesanan datang. Tidak lama kemudian datang pelayan yang membawa banyak hidangan menempatkannya di atas meja Alsiel.

Tanpa berterima kasih, Alsiel langsung menyantap hidangan di depannya dengan lahap. 

'Hmm, daging ini sangat lembut tapi gurih di luar, menakjubkan. Bagaimana caranya Koki membuatnya?'

'Wah, sayuran ini sangat segar, apalagi kuahnya juga sangat gurih.

'Huh, hah, sambal ini sangat pedas, tapi aku tidak bisa berhenti memakan, sialan kau manusia rendahan.'

'Hmm, jus semangka ini sangat nikmat di minum pada cuaca panas seperti ini.'

Sambil menyantapnya, Alsiel terus mengomentari di dalam hatinya. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan baginya.

Setelah selesai menyantap semua hidangan, Alsiel menepuk perutnya yang kekenyangan. 

Meskipun Alsiel terus makan dan makan, tapi tubuhnya tidak pernah menjadi gendut, karena dia menggunakan energinya untuk menghilangkan lemak yang ada di dalam tubuhnya, itulah alasannya dia memiliki energi yang sangat sedikit dan hanya mampu merasakan energi milik yang lain dalam jarak yang kecil, akan tetapi saat itu ketika Tuannya melepaskan energi yang sangat kuat, Alsiel  bisa merasakannya dan kemudian langsung pergi menemuinya.

Setelah memikirkan hal ini, tidak mungkin yang lainnya tidak mencati Tuanya setelah mengetahui keberadaan, jadi bisa dipastikan mereka berada di luar kota. Karena itulah kali ini perjalanan Alsiel tidak berada di kota ini lagi.

'Sialan! Aku tergoda lagi, dasar manusia rendahan, berani-beraninya kau membuatku lupa akan tugasku.' 

Setelah membayar semua pesanannya, Alsiel kembali mengendarai sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan panjangnya.

'Cukup sekali saja aku tergoda, aku tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi, Tuan.' Sambil membayangkan Tuannya, Alsiel bersumpah dalam hati.

Semilir angin menghantam wajah Alsiel, deru suara motornya dan kendaraan lain saling mengisi kekosongan jalan raya. Pemandangan baru membentang di hadapannya, kini Alsiel sudah meninggalkan kota yang telah lama dia temui.

Alsiel merasakan kembali perasaan itu, perasaan yang dulu dia miliki ketika pertama kali datang ke dunia ini, sebuah perasaan aneh yang sangat menggangu. Namun, kini dia mengenyampingkan perasaan itu dan berfokus kepada tujuannya, itulah tekad di hatinya.

Lima menit kemudian.

Di parkiran sebuah restoran, terparkir sepeda motor milik Alsiel. Di dalam restoran tersebut, duduk Alsiel dengan sabar menunggu datangnya pesanannya.

'Aku bukannya ingin mencoba makanan baru di kota yang lain ini, aku hanya ingin mengisi kembali tenaga setelah perjalanan jauh. Yap, benar, itulah alasannya, bukannya aku melalaikan tugas, tapi aku memang harus melakukan ini, Tuan pasti akan memaafkan aku.'

Tidak lama kemudian pelayan datang dan menyajikan semua pesanannya. Alsiel tidak bisa menyembunyikan air liur yang menetes dari ujung bibirnya, tanpa basa-basi dia langsung 'menghajar' semua hidangan di depannya.

'Sialan kau manusia rendahan, berani-beraninya membuat makan yang enak seperti ini.'


°°°


Banyak hal yang terjadi di kota ini, akan tetapi dari luar semuanya tetap tampak baik-baik saja. Energi para warga tetap terisi penuh dengan turnamen bela diri yang masih berjalan. Setiap harinya banyak pertarungan mendebarkan terus tercipta dan menghidupkan suasana kota ini.

Di grup A, Lin Fan seperti biasa bisa mengalahkan musuhnya dengan mudah, kali ini korbannya adalah Bambang yang dikalahkannya hanya dengan satu pukulan saja.

Selain itu, Hector dan Dirga juga berhasil mendapatkan kemenangan dari musuh yang harus mereka hadapi, yaitu Tri dan Naldy.

Kemudian di hari berikutnya, pada grup B. Andre lagi lagi kalah, meskipun dia sudah menggunakan banyak jurus seperti 'Chidori' dan 'kamehameha'. 

Namun, itu seperti yang sudah diduga oleh banyak orang, dia berasal dari perguruan bela diri paling lemah di antara mereka, di sana tidak ada yang mau, atau bisa dibilang tidak ada yang berani untuk mempermalukan dirinya untuk kalah dihadapan banyak orang, jadi Andre yang tidak peduli hal remeh seperti itu bisa menjadi perwakilan dari mereka.

Selain itu, Gary kembali melanjutkan tren kemenangannya meskipun dengan banyak usaha. 

Kemudian di hari berikutnya, pada pertandingan grup C. 

Angel berhasil menang mengalahkan musuhnya, selain dia, Dafi juga berhasil menang dan membuat para penonton wanita yang adalah fansnya menjerit memanggil namanya dan berteriak sesuatu seperti "Rahimku hangat" ketika dia melepas bajunya dan menunjukkan tubuhnya.

Lalu di hari selanjutnya, pada pertandingan grup D. 

Tomas masuk ke dalam arena dengan penuh percaya diri, tidak ada sedikit pun pikiran tentang kalah pada pertandingan kali ini. Bukan berarti Tomas meremehkan musuhnya, dia hanya terlalu percaya diri pada kekuatan dan jurus tinju tirani yang diajarkan kakaknya.

Setelah bertemu dengan musuhnya, Tomas langsung waspada dan memfokuskan perhatiannya pada orang di depannya. Musuhnya adalah seorang pria muda dengan kulit gelap, dia memasang kuda-kuda yang kokoh dan memandang Tomas dengan waspada.

'Hem, walaupun kau tahu bagaimana kekuatanku, tidak ada cara untuk bisa menghentikannya' pikir Tomas.

Seperti yang Tomas duga, dari pertandingan sebelumnya, musuh bisa mengetahui bagaimana cara bertarung seseorang lalu membuat strategi untuk menghadapinya. Namun, bagi Tomas, tidak ada yang bisa menghentikan kejutan absolute dari sebuah jurus sederhana bernama tinju tirani.

Dalam tas tinju tersebut tidak ada teknik mematikan atau gerakan tersembunyi, itu hanya memfokuskan semua kekuatan dalam satu tinju dan melemparkannya pada musuh dan pertandingan akan usai. Karena itulah jurus itu hanya bisa digunakan sekali dalam satu hari, pikir Tomas.

Jadi, semua strategi tidak akan ada gunanya.

Namun, meskipun begitu, Tomas menghargai orang di depannya yang tidak kabur seperti musuh sebelumnya.

Memang tidak ada gunanya melawan Tomas yang sangat kuat, tapi melarikan diri  bukanlah sebuah sikap yang boleh dimiliki oleh seorang pejuang bela diri.

Meskipun tidak ada kemungkinan menang, setiap kekalahan juga memiliki pembelajaran untuk pertandingan lainnya. Jadi, itu tidak sepenuhnya tidak ada gunanya.

Setelah wasit memberikan aba-aba dimulainya pertandingan, Tomas tidak membuang waktu dan langsung bergegas mendekati musuhnya, dalam waktu singkat dia sudah dalam jangkauan serangannya.

'Tinju Tirani' seraya meneriakkannya dalam hati, kepalan tangan Tomas langsung meluncur dengan cepat menuju musuhnya.

Bam.

Serangan tersebut menghasilkan suara yang keras. Musuhnya yang terkena serangan itu langsung terbang menjauh dari arena.

Sorakan penuh semangat dari penonton bergemuruh. Semua dalam satu nada.

"One Hit One Kill."