Episode 400 - Penumpang



Langit berwarna jingga. Di antara irisan awan yang bergerombol maha besar, terlihat kilatan keemasan. Demikian indah sekaligus megah, membuktikan bahwa manusia dan siluman sempurna sekalipun merupakan makhluk hidup yang teramat kecil dan fana di hadapan sang pencipta semesta alam. 

Ombak laut berayun damai, mengayunkan bersamaan dengannya sebuah perahu layar nan berukuran ramping. Tak terlihat ada bendera yang menunjukkan jati diri perahu. Sebagaimana diketahui umum, perahu armada perang pastilah memasang panji-panji kebesaran kerajaan sementara perahu dagang memasang umbul-umbul serikat dagang di mana perahu tersebut bernaung. Lain lagi halnya dengan perahu bajak laut, yang mana seringkali memasang panji-panji kerajaan atau umbul-umbul serikat dagang tertentu sebagai upaya penyamaran. 

Namun demikian, perahu layar yang sedang menjadi pembahasan kali ini tiada menunjukkan gelagat sebagai perahu bajak laut. Hal ini mudah diketahui karena perahu layar tersebut sedang melempar sauh di lautan lepas. Tindakan seperti ini tiada akan dilakukan oleh para bajak laut karena dapat menjadi sasaran empuk di wilayah terbuka. Perahu bajak laut senang berlindung di balik gugusan pulau. Terlebih lagi, tindakan ini tergolong sebagai sangat nekat karena laut lepas yang dimaksud tak lain adalah Samudera Selatan yang merupakan salah satu samudera yang mengapit Negeri Dua Samudera. Sekedar mengingatkan, Samudera Selatan merupakan wilayah yang banyak dihuni oleh kaum binatang siluman bahkan siluman sempurna nan digdaya. Bahkan armana perang pemerintah Negeri Dua Samudera sangat berhati-hati bila berada di wilayah ini.

“Sampai berapa lama lagi kita akan menunggu di sini…?” ujar seorang gadis di atas anjungan perahu tersebut. 

“Huahahaha…,” gelak seorang remaja lelaki bertubuh bulat dan besar. “Apakah kau gentar…?” Ia menyeringai sembari mengangkat sebelah alis. 

“Apakah kau hendak cari mati…?” Gadis tersebut membelalakkan mata, di saat yang bersamaan ia mengangkat sebelah kaki hendak melepaskan tendangan. 

“Ammandar… Keumala… bertenanglah! Jangan sampai posisi kita terungkap!” Seorang remaja lelaki berkulit tubuh gelap melompat ke dalam anjungan perahu. Raut wajahnya cemas. 

“Huahahaha….” gelak tawa Ammandar Wewang semakin membahana. 

“Nuku, tak akan ada yang dapat mengendus keberadaan kita. Tidak perahu lain, tidak pula siluman sempurna sekalipun…,” tukas Keumala Hayath. “Phinisi Penakluk Samudera telah dilengkapi dengan formasi segel maha digdaya.”

“Bukan berarti kita diperbolehkan bertindak gegabah… Kita berada di perairan terlarang bahkan bagi armada perang kerajaan, dan Phinisi Penakluk Samudera tiada terkecuali. Kau tahu apa artinya bila kita sampai tertangkap…?” Nuku Tidore memantau ke kiri dan ke kanan, mencermati arah depan dan belakang.

Di saat yang bersamaan, Ammandar Wewang menghentakkan tenaga dalam. Hembusan angin tetiba mengisi layar, yang mana membuat perahu Phinisi Penakluk Samudera mulai bergerak perlahan ke arah utara. 

“Apa yang kau lakukan…? Jangan terlalu dekat dengan daratan!” Nuku Tidore mengingatkan. 

“Kau terlalu khawatir, Nuku!” tanggap Ammandar Wewang. “Telah kau saksikan sendiri betapa Siteppa Teppangeng melengkapi Phinisi Penakluk Samudera dengan formasi segel tak kasat mata. Tak akan ada yang dapat menangkap keberadaan kita baik dengan mata telanjang maupun mata hati!” (1)

“Ya, itu aku tahu…”

“Dan oleh sebab itu kita patut membalas kebaikan beliau…,” sambung Ammandar Wewang.

“Tapi kita tak memiliki banyak waktu…”

“Dia akan datang.” 

Dan apakah kalian sadar bahwa kita melanggar hukum…? Kita yang sepantasnya menegakkan keadilan…?”

“Hukum dan keadilan adalah dua hal yang berbeda… Hahaha…”

“Zilaz, apakah ada tanda-tanda…?” Keumala Hayath mengabaikan perbincangan antara Ammandar Wewang dan Nuku Tidore. Ia berujar kepada seorang remaja lelaki lain yang sedang duduk santai di geladak perahu. 

“Tak tahu. Kau tanyakan sana kepada Atje…” terdengar jawaban sekenanya dari Zilaz Parare.

Semua mata di atas anjungan beralih memandang ke arah haluan perahu. Di sana, seorang gadis cantik berkulit putih mendekati pucat dengan rambut sepirang jagung, berdiri menghadang angin. Pada pergelangan tangannya melingkar semacam baling-baling dengan dua bilah. Tak pelak lagi, hari ini adalah jatahnya untuk mengerahkan salah satu Senjata Pusaka Baginda.

“Bagaimana Atje!? Apakah sudah ada tanda-tanda!?” teriak Keumala Hayath. 

“Ombak berkata… sejenak…” Terdengar jawaban ringan yang dibawa hembusan angin. 


===


Tiga hari sudah waktu berlalu sejak Bintang Tenggara mengajukan pertanyaan kepada sang peramal. Akan tetapi, bukannya memberikan jawaban, Bocah Kecil Badung malah melarikan diri!

Walhasil, selama tiga hari dan tiga malam pula Bintang Tenggara sibuk mengejar sosok tersebut. Karena Bocah Kecil Badung tiada mengenakan belenggu pada kedua lengan dan kaki serta leher, maka kecepatannya tiada terhambat. Untunglah bagi Bintang Tenggara karena dirinya telah membiasakan diri dengan tubuh yang terbebani berat berkali lipat. 

Terlepas dari itu, pekerjaan mengejar adalah jauh lebih rumit daripada melarikan diri. Dalam mengejar, seorang ahli perlu menyesuaikan diri dengan pergerakan sasaran yang seringkali sulit dibaca. Oleh karena itu, Bintang Tenggara menekankan pada satu tujuan utama, yaitu terus menempel agar jangan sampai terpisah jarak terlampau jauh. Dalam keadaan ini, ia menanti sasaran melakukan kesalahan dalam berlari. 

Andai saja dirinya dapat membangunkan Akar Bahar Laksamana, maka pengejaran sudah sepantasnya berakhir sejak sehari sebelumnya. Apa mau dikata, tumbuhan siluman benalu itu terlalu pongah.

Bocah Kecil Badung berbelok ke kiri. Kecepatannya berkurang, namun sejenak kemudian kembali tangkas. Bintang Tenggara menanggapi dengan menyerong arah, sehingga ia berhasil untuk sedikit memperpendek ruang di antara mereka. 

Tetiba, Bocah Kecil Badung menikung ke kanan sebagai upaya mengecoh. Sebaliknya, Bintang Tenggara mengabaikan perubahan arah secara mendadak tersebut. Ia terus mengejar lurus. 

Tak lama kemudian, Bocah Kecil Badung berhenti di tempat. Ia terlihat terengah dan gelagapan, setelah menoleh cemas ke arah kiri dan kanan baru dapat ia melanjutkan pelarian. Di lain sisi, sebentuk senyum menghias di sudut bibir Bintang Tenggara. Anak remaja itu cukup mengenal wilayah di mana mereka berada kini karena merupakan tempat di mana dirinya sudah terbiasa berlatih menghindar dari binatang siluman. Ia pun sudah dapat memperkirakan bahwa sasaran terpaksa berhenti karena di hadapannya terdapat sarang binatang siluman buas.

Menempuh jalur yang baru, Bocah Kecil Badung kemudian semakin waspada karena pengejarnya sudah berada sekira sepuluh langkah di sisi kiri. Dalam keadaan terjepit, antara pengejar dan sarang binatang siluman, Bocah Kecil Badung terpaksa kembali mengubah arah. Yang tak ia sadari, sesungguhnya sang pengejar cukup memahami medan sehingga mampu mengarahkan sasarannya…

“Srek!” 

Bocah Kecil Badung berhenti mendadak. Kali ini ia berhadapan dengan tebing nan sangat tinggi sehingga tak dapat berkutik. Tampaknya, walaupun sebelumnya merupakan ahli nan digdaya, agaknya sang peramal itu bukanlah petarung yang mumpuni. Sejenak kemudian, Bintang Tenggara telah tiba dan mencegat di sisi belakang…

“Kumohon…,” pinta Bintang Tenggara dengan wajah memelas. “Diriku tak mengetahui cara lain untuk mengatasi permasalan ini…”

“Aku bukan penyedia layanan pencarian!” Napas terengah, ahli yang berpenampilan layaknya anak kecil itu terlihat sebal. 

“Bukankah dikau peramal…?”

“Aku menyampaikan apa yang aku lihat! Pekerjaan meramal bukan berarti dapat mengetahui masa depan secara pasti. Aku hanya melihat kepingan-kepingan kejadian yang datang tanpa diduga, sisanya bergantung kepada penafsiran yang belum tentu tepat!”

Bintang Tenggara melongo. Sungguh ia tiada mengetahui bagaimana cara kerja peramal. Sedari awal ia berharap kiranya seorang ahli dengan kemampuan meramal dapat memberi tahu siapa pencuri dan di mana tubuh Komodo Nagaradja disembunyikan. Harapan tersebut tenggelam bersamaan dengan sang mentari yang sebentar lagi terbenam.

“Arkh!” Tetiba Bocah Kecil Badung meremas kepalanya. Mata terpejam, raut wajah menyeringai kesakitan! “Batu… Bebatuan…,” rintihnya pilu.

Menyaksikan perubahan yang datang secara mendadak, Bintang Tenggara menderu ke arah anak kecil tersebut. Ia memegang, lantas mengguncang pundaknya. “Batu apa!? Bebatuan di mana!?” 

Bocah Kecil Badung merunduk layaknya menahan rasa sakit yang teramat sangat, seolah sebuah gada baja nan keras mendentam-dentam di dalam batok kepalanya. Ia pun berupaya menelusuri kepingan-kepingan kejadian yang sedang berkelebat deras di dalam benaknya. Sembari menahan rasa sakit, tak mudah baginya mencermati.

Bintang Tenggara memperkirakan bahwa Bocah Kecil Badung sedang mendapat semacam ‘petunjuk’. Sebagaimana diketahui, petunjuk perlu ditafsirkan. Semakin banyak petunjuk yang diperoleh, maka semakin lengkap penafsiran disusun. “Apa lagi!? Apa lagi!?” teriaknya berupaya mencari tahu.

“Waktumu sudah habis…” Tetiba dan entah dari mana, terdengar suara menegur dengan nada datar. 

Bintang Tenggara mengenali suara tersebut. Ia menoleh dan mendapati sosok siluman sempurna yang dapat berubah wujud menjadi senjata pusaka Keris Tameng Sari bertengger di salah satu dahan pohon. Di saat yang bersamaan pula, ia merasakan tubuhnya dibalut tenaga dalam kemudian terangkat perlahan. 

“Puan Sari!” pekik Bintang Tenggara. “Tunggu! Tunggu sejenak!”

Perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan itu tiada mengindahkan. Ia lantas melesat, membawa bersamanya tubuh anak remaja yang dibuat tiada berdaya. 

“Puan Sari, kumohon!” ronta Bintang Tenggara. “Lepaskan diriku!”

Di bawah kendali sosok nan maha digdaya, upaya Bintang Tenggara ibarat seekor tikus yang masuk ke dalam perangkap. Tatapan matanya hanya mampu menatap Bocah Kecil Badung yang menggeliat kesakitan di tanah. Semakin lama, semakin jauh jarak memisahkan mereka. 

Kecepatan Sari melesat sungguh di luar nalar. Tak lama, semak belukar berubah menjadi pepohonan kelapa nan menjulang tinggi-tinggi. Bau garam menyibak di udara serta terdengar pula deru ombak laut menghantam karang. 

Sari melompat ke atas salah satu batu karang nan besar. Masih membawa paksa seorang anak remaja bersamanya, ia lantas melesat terbang di atas permukaan laut sehingga membuat airnya seolah terbelah ketika keduanya melintas. Bintang Tenggara menyaksikan bahwa di depan mereka membentang perkasa formasi segel yang membentengi Penjara Pulau Kembang Nusa. 

Kejadian yang berlangsung berikutnya sungguh di luar nalar anak remaja itu. Sampai ke batas lutut, kaki kanan Sari serta-merta berubah menjadi bilah keris berwarna keemasan. Perempuan dewasa muda itu lantas menerjang, atau lebih tepatnya menebas, permukaan formasi segel!

“Srash!” 

Sebuah celah teriris lebar pada permukaan formasi segel Penjara Pulau Kembang Nusa. Sari lantas mengibaskan lengan, dan tubuh Bintang Tenggara berayun deras sebelum terlontar jauh melewati celah pada formasi segel tersebut! 

“Puan Sari, tunggu!” pekik Bintang Tenggara yang tubuhnya dilontarkan secara semena-mena. 

Sungguh, yang lebih mengkhawatirkan anak remaja itu adalah kenyataan bahwa belenggu di leher serta kedua lengan dan kakinya masih terpasang! Dengan kata lain, meski sudah terbebas dari beban tubuh nan berkali lipat, ia masih tak bisa menebar mata hati dan menyalurkan tenaga dalam. Dilontarkan ke lautan, anak remaja tersebut berarti dipaksa berenang di lautan tanpa mengandalkan keahlian! 

Sebelum tercerbur di laut, telinga Bintang Tenggara mendengar kata-kata nan dingin. “Sampaikan ke ayahmu, bahwa dengan ini telah lunas utangku padanya…” 

Hari beranjak malam. 

“Itu… dia…” Atje pesut yang berdiri di haluan perahu Phinisi Penakluk Samudera berbisik pelan tatkala menyaksikan formasi segel nan megah teriris. 

“Huahahaha…” Dari atas anjungan perahu, Ammandar Wewang tergelak penuh suka cita. Ia lantas meniupkan angin demi menambah kecepatan perahu.

“Akhirnya…” gerutu Nuku Tidore sembari menghela napas. 

Keumala Hayath menyipitkan mata demi memastikan. “Penumpang Phinisi Penakluk Samudera telah tiba. Mari kita jemput!” 



Catatan:

(1) Episode 166 dan Episode 183


Selamat Tahun Baru!