Episode 398 - Membangunkan



Ruangan membujur nan sangat luas. Di ujung jauh, di atas panggung dengan latar belakang semak belukar, terdapat dipan nan megah. Akan tetapi, sang penguasa tiada duduk bersandar di singasana tersebut. Sembari melipat sebelah lengan ke belakang pinggang, ia berdiri di sisi ruangan. Tatapan matanya memandang jauh ke luar jendela, melewati tebing kawah batu alam yang mengelilingi kerajaan. 

Di belakang lelaki dewasa itu, terdapat tiga buah kursi yang masing-masingnya ditempati oleh tiga ahli dengan penampilan layaknya dua perempuan dewasa serta seorang remaja lelaki. 

Suasana di dalam ruang singasana itu hening. Keempat ahli tersebut terlihat seperti baru saja usai membahas panjang dan lebar akan suatu persoalan yang teramat rumit. Kendatipun demikian, tak satu pun ada yang menunjukkan kekhawatiran, sebaliknya mereka terlihat tenang-tenang saja. Bila seorang ahli telah mencapai derajat keahlian sebagaimana keempat ahli ini, maka tak akan ada barang sesuatu yang dapat menjadi halang rintang nan berarti. 

“Aku berpandangan bahwa kita memerlukan kehadirannya…” Tetiba ahli yang berpenampilan layaknya remaja lelaki berujar pelan. 

Lelaki dewasa yang sedang menatap ke luar jendela hendak memutar tubuh dan memberikan tanggapan, namun menahan diri. Ia hendak mendengarkan pandangan dari dua perempuan dewasa terlebih dahulu. 

Salah satu dari perempuan dewasa itu sedang menyeruput seduhan dauh teh. Ia menikmati setiap tetes sajian, sehingga tiada terburu menanggapi. Perlahan ia meletakkan cangkir ke atas meja kecil di sisi, kemudian berujar, “Dari keterangan kalian, saat ini dia masih merupakan remaja yang sama sebagaimana saat menghilang ratusan tahun silam. Bahwasanya selama ini dia berada di dalam perlindungan formasi Segel Sutra Lestari sehingga tiada menua serta tiada pula keahliannya bertumbuh…”

“Benar.”

“Jikalau demikian, dia hanyalah seorang anak remaja…,” lanjut perempuan dewasa itu dengan nada datar. “Sangat berbakat tentunya, namun tak akan dapat berbuat banyak… bahkan hanya akan menjadi beban.”

Lelaki dewasa yang menatap ke luar jendela memutar tubuh, akan tetapi sebelum ia angkat suara perempuan dewasa itu sudah menyajikan pembelaan atas kata-katanya, “Aku mengutarakan fakta.”

“Aku memahami bahwa tak ada jalan pintas dalam menumbuhkan keahlian. Akan tetapi, terdapat banyak cara untuk menumbuhkan keahlian dengan cepat,” akhirnya lelaki dewasa itu menyampaikan pandangannya. 

“Selain itu, kita juga dapat memanfaatkan dimensi ruang dengan alur waktu yang lambat,” lanjut remaja lelaki bersemangat karena pandangannya memperoleh dukungan.  

Raut wajah perempuan dewasa itu tiada menunjukkan perubahan, dan sepertinya ia enggan menenggelamkan diri ke dalam debat kusir. Oleh karenanya, ia menoleh kepada perempuan dewasa lain yang sedang duduk di sebelah, yang sedari tadi hanya berdiam diri. “Kau jangan mematung saja…,” gerutunya. 

Sosok yang dimintai pandangan tiada bergeming. Di dalam benak, sesungguhnya ia sependapat dengan si remaja dan lelaki dewasa — bahwa ia sangat berkeinginan agar regu mereka tampil secara lengkap berlima. Akan tetapi, dirinya pernah berhadapan langsung dengan tokoh yang sedang diperbincangkan. Dari pertemuan yang tiada disengaja dan berlangsung sangat singkat itu, dirinya menyaksikan dan menyimpulkan bahwa tokoh yang dimaksud sudah sangat berbeda dengan dahulu. Jalan keahlian yang ditempuh serta tujuan yang hendak dicapai tidak lagi sama. Pertanyaan besar yang perlu dijawab bukan bagaimana menumbuhkan keahliannya, melainkan… apakan dia ‘mau’ kembali bergabung ke dalam regu? (1)

Tiba-tiba, hanya beberapa langkah dari tempat di mana keempat ahli yang sedang berbincang-bincang, sebuah lorong dimensi ruang membuka dengan sangat cepat. Berukuran setara dua daun pintu, di dalamnya gelap dengan percikan petir yang sesekali berderak menerangi. Dari sisi lain lorong dimensi ruang tersebut, melangkah keluar seorang lelaki dewasa. 

Secara tiba-tiba pula, salah seorang perempuan dewasa yang sebelumnya hanya diam, menggenggam jalinan liontin yang menggantung di leher. Raut wajahnya berubah seketika. Tanpa bangkit berdiri, ia sudah melesat lebih cepat daripada kilat. Teleportasi jarak dekat! 

Pada langkah kedua, tubuh lelaki dewasa dari dalam lorong dimensi ruang itu terhuyung ke depan. Wajahnya pucat, dengan keringat yang mengucur membasahi sekujur tubuh. Namun demikian, tepat sebelum ambruk ke lantai, tubuhnya disambut oleh perempuan dewasa yang telah menyadari gejala tak lazim. 

“Kakanda…,” bisik Mayang Tenggara sembari merebahkan tubuh sang suami perlahan ke lantai. “Apakah yang terjadi…?”

“Mereka… semakin… mendekat…” Balaputera Ragrawira memejamkan mata. Kesadarannya memudar perlahan. 


===


Satu pekan berlalu. Bintang Tenggara tak lagi sanggup menjaga kesadaran tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana. Bukan karena dirinya terkendala dalam memberi pasokan tenaga dalam, melainkan karena sang benalu tersebut telah kenyang sehingga kembali tertidur. Walhasil, anak remaja itu saat ini kembali merasakan dampak dari Penjara Pulau Kembang Nusa, yaitu tiada dapat menebar mata hati dan memanfaatkan tenaga dalam, serta terbebani berat tubuh yang berkali lipat.  

Selama beberapa hari ke belakang, Bintang Tenggara sudah menyimpulkan bahwasanya Sari sangatlah berbeda dengan Tameng. Sari berwujud manusia, tentu saja, dan oleh karenanya tiada dapat digunakan sesuka hati sebagaimana Tameng yang sedia berwujud Keris Tameng Sari walaupun patah di ujungnya. Di samping itu, Tameng memang gila bertarung sesuai dengan rangkaian kata-kata yang siluman sempurna itu senantiasa serukan. Demikian, dalam kaitan di mana Sari menyampaikan kesediaan memberi bantuan, Bintang Tenggara tak sepenuhnya yakin dalam bentuk apa bantuan yang dapat dipinta. 

Luka sayat di paha Lahat Enim sudah membaik. Lelaki setengah baya tersebut sudah dapat berjalan seperti sedia kala, bahkan Sudah mampu berlari jikalau terpaksa. 

“Kakek Enim…”

“Beberapa hari belakangan ini, Yang Mulia terlihat murung…” Lahat Enim seolah dapat membaca pikiran anak remaja di hadapannya. “Apakah dikarenakan Puan Sari…?”

“Sepertinya beliau tak bersedia turun dalam pertarungan, sehingga diriku tak tahu bantuan seperti apa yang dapat dipintakan kepadanya…”

“Tidakkah Yang Mulia sadari bahwa Puan Sari tiada mengenakan belenggu di leher maupun pada kedua lengan dan kaki…?”

Bintang Tenggara menatap dalam kepada Lahat Enim. Sungguh dirinya lalai menyadari sesuatu yang teramat penting…

“Dengan kata lain, beliau bukan merupakan tahanan di Lapas Gleger…,” lanjut Lahat Enim. “Mungkinkah beliau mengetahui rahasia tentang Penjara Pulau Kembang Nusa? Mungkinkah beliau memiliki kemampuan atau mengetahui cara untuk keluar-masuk secara leluasa?”

“Mungkin saja!” Sorot mata Bintang Tenggara berbinar penuh semangat. Anak remaja itu membuka kemungkinan bahwa Pulau Kembang Nusa sudah sejak lama melepaskan predikat tiada dapat diterobos baik dari luar maupun dalam. Bahwanya, kabar angin yang beredar tentang penjara tinggkat tinggi itu merupakan upaya untuk menakut-nakuti belaka. Bergegas ia melangkah pergi meninggalkan lelaki setengah baya itu.

“Puan Sari…”

“Apakah engkau telah memutuskan bantuan seperti apa yang dapat kami berikan…?” Perempuan dewasa muda berambut lebat pirang keemasan berujar bahkan tanpa menoleh kepada lawan bicaranya. 

“Apakah Puan Sari sudi mengungkapkan rahasia di balik Penjara Pulau Kembang Nusa..”

“Rahasia…? Tak ada rahasia di pulau ini…”

“Lantas, bagaimanakah kiranya Puan Sari dapat menyelinap masuk ke Lapas Gleger…?”

“Kami tak menyelinap. Kami datang karena kami berkehendak, dan kami akan pergi bilamana kami berkehendak pula.”

Bintang Tenggara tertegun. Setiap kata-kata yang dirinya sampaikan ditanggapi dengan nada datar, bahkan tanpa menunjukkan ketertarikan sama sekali. Baru kali ini ia sadari, bahwa kemampuan bersilat lidah juga merupakan salah satu prasyarat penting untuk menekuni jalan keahlian. Bagaimanakah kiranya cara mengambil hati tokoh yang satu ini…?

“Sudi kiranya Puan Sari dapat berbagi petunjuk dalam membangkitkan kesadaran tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana…” Tetiba Bintang Tenggara mengalihkan pokok pembicaraan.

“Apakah jawaban dari pertanyaan ini merupakan bantuan yang kau pinta? Aku hanya bersedia memberikan satu bantuan. Pikirkan dengan matang.”

Sempat terlihat ragu, akhirnya Bintang Tenggara meneguhkan hati. Anak remaja itu mengangguk penuh harap. 

“Akar Bahar Laksamana yang menempel pada mustika retak di ulu hatimu merupakan cabang dari Akar Bahar Laksamana yang menempel pada mustika retak di ulu hati tuan kami. Kami mengenal baik tumbuhan siluman itu tatkala kami bahu-membahu.” 

Sari menoleh kepada Bintang Tenggara. Ia mengamati apakah anak remaja itu menyimak penjelasan yang disampaikan. “Sifat dasar dari Akar Bahar Laksamana adalah naluri melindungi diri, serta induk semangnya bilamana berhadapan dengan mara bahaya.”

Sampai di tahap ini, Bintang Tenggara sudah memaklumi. Bahwasanya, adalah Akar Bahar Laksamana yang terbangun disebabkan ancaman jiwa. Adalah Akar Bahar Laksamana pula yang menjagal Ipul dan Rian beserta rekan-rekan mereka. 

“Selain itu, salah satu kemampuan Akar Bahar Laksamana adalah menyebabkan dampak tertentu yang bersifat melemahkan kepada lawan,” lanjut Sari. “Dalam kaitan belenggu dan formasi segel Penjara Pulau Kembang Nusa yang membatasi kemampuan menebar mata hati, memanfaatkan mustika tenaga dalam, serta melipatgandakan berat tubuh, Akar Bahar Laksamana mengangggap hal-hal tersebut sebagai tindakan lawan di dalam pertarungan. Oleh karena itu, Akar Bahar Laksamana mampu membatasi bahkan membatalkan kemampuan tersebut.” (2)

Kedua bola mata Bintang Tenggara berbinar sekaligus mulutnya menganga. Sungguh ia bersemangat menyerap pengetahuan baru. Uraian Sari mengingatkan pada saat berada di Pulau Belantara Pusat. Melalui Rajah Roh, kala itu dirinya memperoleh kemampuan Roh Nyaru Menteng yang mampu meningkatkan unsur kesaktian yang menjadi dasar dari jurus. Singkat kata, Roh Nyaru Menteng meningkatkan kemampuan diri sendiri, sedangkan Akar Bahar Laksamana melemahkan kemampuan lawan. Luar biasa sekali! 

“Apakah ada prasyarat atas kemampuan ini…?” aju Bintang Tenggara, sepenuhnya mengetahui bahwasanya senantiasa terdapat keterbatasan dalam dunia keahlian. 

“Ada, tetapi bukan itu permasalahan yang engkau hadapi saat ini…”

Bintang Tenggara menanti. 

“Saat ini, jangankan memanfaatkan kemampuan Akar Bahar Laksamana, membangunkannya saja engkau belum mampu.”

Bintang Tenggara tertegun. Sejauh ini dirinya tiada dapat membangunkan Akar Bahar Laksamana karena memang tiada mengetahui bahwa tumbuhan siluman tersebut dapat dibangunkan… Selain itu, tanpa kemampuan menebar jalinan mata hati, maka bagaimana mungkin dirinya dapat berkomunikasi dengan tumbuhan siluman tersebut…?

“Membangunkan Akar Bahar Laksamana tiada perlu menggunakan jalinan mata hati…,” dengus Sari seolah dapat membaca pikiran lawan bicaranya.

Bintang Tenggara baru hendak membuka mulut ketika Sari melanjutkan…

“Bantuan yang akan kami beri… adalah berlatih untuk membangunkan Akar Bahar Laksamana.”


Catatan: 

Episode 112, Episode 113

(2) Di dalam dunia game MOBA atau MMORPG, kemampuan sebuah item yang dapat memberikan dampak negatif tertentu kepada lawan dikenal sebagai ‘Debuff’. Secara umum, Debuff terdiri atas: Stun, Move Slow, Attack Slow, Reduce Armor, Reduce Resistance, Silence. Lawan dari Debuff adalah Buff, yang mana penjelasan tentang Buff terdapat dalam Episode 299. 


Selamat merayakan Natal dan menyambut tahun baru!